Senin, April 12, 2021

Kalau Bukan Mereka, Jadi Siapa?

Responsifitas Islam di Indonesia Terhadap Radikalisme

Situasi mutakhir kehidupan sosial, politik dan kebudayaan bangsa-bangsa Timur tengah saat ini mencerminkan telah banyaknya krisis sosial, konflik, pergolakan dan perang yang mengikis psikis...

Selebriti di Langit

Belum lama ini, sambil chat di Whatsup dengan seorang teman yang lagi makan di angkringan, katanya sambil membayangkan suasana Jogja. Keajaiban teknologi memungkinkan kita...

Babak Baru Ketegangan AS-Iran, Perang Dunia III?

Sudah puluhan tahun berlalu sejak meletusnya Perang Dunia II yang konon menewaskan 60 juta jiwa. Sejak saat itu, eskalasi konflik di beberapa belahan dunia...

Pènèkan

“Minuman berasal dari pucuk tangkai daun yang dipetik di pegunungan, kemudian dikeringkan, diseduh dengan air panas dalam sebuah teko. Dinikamati dengan menambah sedikit gula,...
Filippo Sengkey
Pencinta manga dan anime yang juga suka mengikuti berita dan informasi politik negeri ini

Kabar bohong ataupun kabar yang tidak disertai dengan data yang valid, tentu akan menimbulkan kontroversi bahkan kehebohan. Dari kubu capres-cawapres nomor urut 2, telah beberapa kali terdengar kabar bohong ataupun informasi yang tidak disertai data valid.

Misalnya saja yang sangat menghebohkan, terkait kabar penganiayaan aktivis Ratna Sarumpaet. Mengaku dipukuli dan dipercaya banyak rekannya, kabar tersebut tersebar sangat cepat. Para politisi di koalisi mereka ada yang jarinya langsung mengetik di sosial media, adapun yang langsung bicara di depan wartawan.

Tak lama setelah itu, berkat kerja keras polisi, diketahui Ratna tak dianiaya siapa pun, melainkan wajahnya lebam merupakan efek, karena baru saja melakukan operasi sedot lemak di Rumah Sakit Bina Estetika. Wanita 70 tahun itu juga mengakui, bahwa ia adalah pembuat hoaks terbaik.

Selain kabar bohong di atas, juga ada terdengar informasi yang menjadi kontroversi, yang faktanya diragukan, bahkan setelah dicek sejumlah pihak rupanya tak benar. Hal tersebut tentang pernyataan cawapres nomor urut 2, Sandiaga Uno, perihal tempe yang setipis ATM, juga soal nasi ayam di Singapura lebih mahal harganya dibandingkan nasi ayam di Jakarta.

Tak sampai di sana saja, pun masih dari kubu mereka, pernyataan prestasi Prabowo oleh Mardani Ali Sera dalam salah satu program populer di televisi, bahwa Prabowo adalah orang pertama dari Asia Tenggara yang sukses menaklukkan gunung Everest. Tak sampai 2 hari setelah Mardani berkata begitu, terbongkar bahwa itu ternyata tak benar. Orang pertama dari Asia Tenggara yang berhasil menaklukan gunung Everest adalah wanita bernama Clara Sumarwati.

Setelah menyebarkan kabar bohong soal Ratna yang dipukuli, mereka ramai-ramai minta maaf. Setelah itu, dengan lantang bicara kepada orang-orang, agar jangan lagi menggoreng kasus tersebut. Padahal, siapa yang mulai? Mereka yang mulai sendiri, minta maaf sendiri, setelah itu heboh sendiri.

Soal pernyataan-pernyataan kontroversial Sandiaga Uno juga tampaknya mereka sudah malas membahasnya, karena telah dibuktikan sejumlah pihak itu tak benar. Begitu juga soal prestasi Prabowo mendaki Everest, mereka juga tak mau lagi menyinggung itu, karena kebenaran sudah diketahui.

Hoaks dan pernyataan tanpa data valid agaknya sudah menjadi hal biasa bagi mereka. Entah karena kurangnya prestasi yang bisa dibanggakan guna menarik suara, hal-hal yang seperti di atas atau yang aneh-aneh seperti menyamakan Mohammad Hatta dan Sandiaga Uno yang mereka suarakan. Unik juga membahas soal pernyataan Dahnil yang mengatakan bahwa Sandiaga adalah sosok baru dari Bung Hatta. Padahal, keduanya secara fundamental saja sudah berbeda, dan pernyataan Dahnil malah mendapat protes dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta.

Yang terbaru, yang juga cukup menggelitik, adalah ucapan Faldo Maldini, salah seorang juru bicara dari kubu Prabowo-Sandiaga, yang dengan keras berkata “Itu bukan kami” kala menanggapi ucapan Adian Napitupulu soal kubu mereka yang gemar menebar kebohongan. “Itu bukan kami,” kata Faldo.

Padahal Adian dalam acara yang dipandu Najwa Shihab itu berujar tentang kata-kata Sandiaga soal tempe setipis ATM, nasi ayam di Jakarta lebih mahal dari nasi ayam di Singapura, dan soal kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet yang awalnya diyakini Prabowo CS adalah kebenaran.

Adian meminta agar para penonton mengecek, siapa pengelola hoaks, contoh-contohnya seperti yang ditulis sebelumnya, yang tentu merujuk pada koalisi Prabowo-Sandiaga. Entah karena yakin kubu mereka bukan pengelola hoaks, atau Faldo sedang lupa bahwa hoaks memang kerap terdengar dari mereka, ia berkata “Itu bukan kami”.

Jika bukan mereka, lantas siapa yang menyebar kabar penganiayaan Ratna Sarumpaet? Siapa yang mengetik dan siapa yang bicara di depan media? Siapa yang bilang tempe setipis ATM dan nasi ayam di Singapura lebih murah dibanding di Jakarta kalau bukan Sandiaga Uno? Siapa yang bicara soal saat tak ada seorang pun dari Asia Tenggara yang sukses menakulukkan Everest dan Prabowo dan juga timnya dulu berhasil menjadi yang pertama dengan berapi-api kalau bukan Mardani Ali Sera? Apakah Faldo tidak tahu, atau pura-pura tak tahu?

Dibandingkan berkata “Itu bukan kami”, ada baiknya ia lebih bijak dalam menanggapi. Harusnya Faldo bangun kembali kepercayaan yang mungkin telah rusak karena hal-hal tersebut, dengan cara yang lebih baik, yang mungkin saja bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah terjadi.

Berkata “Itu bukan kami” juga dapat kita artikan sebagai hoaks yang baru lagi dari mereka. Seakan tak bosan dengan hal-hal macam itu, sampai-sampai jarang terdengar mereka menyuarakan prestasi Prabowo maupun Sandiaga. Ada memang, tapi tak banyak. Kalau bukan kabar hoaks atau pernyataan provokatif yang beberapa kali terdengar, jika muncul di televisi, mereka terlalu sibuk mengkritik pemerintahan Jokowi.

Memang betul mengkritik rezim yang berkuasa adalah tugas oposisi, tapi harusnya bisa dibagi rata antara mengkritik lawan dan menyuarakan prestasi serta visi-misi capres-cawapres yang didukung.

Tiga kata yang diucap Faldo mencerminkan bahwa, menyangkal adalah hal yang lebih baik daripada mengakui dan menjanjikan perubahan. Tiga kata itu bagi saya justru malah menambah koleksi hoaks milik mereka.

Dari serangkaian kabar bohong dan informasi yang tak berdasar pada data valid seperti di atas itu, tentu membuat orang-orang menjadi kehilangan kepercayaan pada mereka. Jelas orang-orang yang saya maksud adalah para swing voter, bukan para pendukung setia, yang mau ada apa pun juga, mau bagaimanapun, tetap akan setia mendukung.

Semoga saja ke depannya, yang akan mewarnai hari-hari jelang pilpres adalah hal-hal yang baik, yang dapat mengedukasi publik, dan yang bisa menarik hati pemilih, bukan kabar bohong atau pernyataan yang kontroversial karena tak berdasar data valid dan tak bisa dipertanggungjawabkan.

Filippo Sengkey
Pencinta manga dan anime yang juga suka mengikuti berita dan informasi politik negeri ini
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.