Sabtu, Januari 16, 2021

Kala Kekerasan Menjadi Agama

Berpikir Radikal tentang PKI

Belakangan bapak presiden, Joko Widodo bersama para inteletual dari berbagai kampus mendeklarasikan Indonesia melawan radikalisme. Padahal radikal berasal dari kata radix (mengakar), artinya ketika menganalisis...

Wujud Islam ‘Rahmatan Lil Alamin’ [Gus Nadir: Islam Wasathiyah]

Pernyataan Nadirsyah Hosen atau biasa disapa Gus Nadir tentang ‘Islam Wasathiyah itu Moderat’ yang dimuat media online Gatra.com (27 Mei 2019) sangat menarik sekaligus...

Memecah Kebisuan Korban Kekerasan Seksual

Geoffrey Parrinder, dalam bukunya Teologi Seksual (2004) mengatakan, seks dan agama merupakan dua keprihatinan fundamental manusia. Keduanya sering kali dipertentangkan sebagai yang fisikal melawan...

Dakwah Virtual, Politik Kesalehan, dan Demokrasi

Masyarakat Indonesia telah bergerak dari sistem tradisional menuju sistem yang berpusat kepada informasi. Kondisi ini tentu mempengaruhi pembentukan sistem tata nilai, pengetahuan, keagamaan, ‎tradisi,...
Aksin Wijaya
Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo

Sebagai orang beragama, ada kegelisahan di benak saya melihat fenomena kehidupan keberagamaan akhir-akhir ini. Tuhan mempunyai sifat salam, ada surga namanya dar al-salam, dan Islam itu adalah agama yang mengajarkan salam (kedamaian), tetapi justru banyak orang Islam melakukan kekerasan dengan menggunakan bahasa agama. Mereka menggunakan berbagai argumen untuk menjustifikasi tindakannya itu. Bagaimana kekerasan agama itu terjadi?

Dalam bahasa agama, manusia dicipta dari dua unsur: tanah-jasadiyah yang merupakan simbol kehinaan, dan ruh ilahi yang merupakan simbol kemulyaan. Dengan dimensi tanah-jasadiyahnya, manusia bisa lebih rendah dari hewan, tetapi dengan dimansi ruhaniyahnya, manusia bisa lebih mulia dari malaikat. Dengan kedua unsur itu, manusia mempunyai dua perasaan dalam hubungannya dengan yang lain: perasaan memusuhi yang lahir dari dimesi tanah-jasadiyahnya dan perasaan mencintai yang lahir dari dimensi ruhiyahnya.

Perasaan memusuhi mendorong orang untuk melakukan agresi sehingga melahirkan kekerasan, sedang perasaan mencintai mendorong orang untuk saling mencintai sehingga melahirkan kedamaian. Kedua perasaan manusia itu mengalami pergumulan terus menerus, dan manusia senantiasa ditarik untuk lebih condong pada salah satu dari kedua perasaan itu.

Dilihat dari sisi kekerasannya, manusia mempunyai dua watak agresi –dorongan melakukan kekerasan–: pertama, agresi lunak, yakni dorongan yang adaptif secara biologis dan berkembang secara revolusioner, yang bertujuan mempertahankan individu dan spesies dari serangan pihak lain; kedua, agresi jahat, yakni agresi destruktif yang bertujuan untuk menyakiti dan membunuh pihak lain.

Perspektif neurologi dalam melihat akar kekerasan yang dilakukan manusia penting karena watak seseorang mempengaruhinya dalam berfikir. Jika seseorang mempunyai watak agresi lunak, dia akan berfikir manusiawi dan tidak akan melakukan kekerasan terhadap pihak lain kecuali dalam keadaan terpaksa, yakni membela diri dari serang agresi pihak lain.

Sebaliknya, dia akan berfikir kaku, keras dan tidak manusiawi jika dia mempunyai watak agresi jahat. Apapun dilakukan untuk menyerang pihak lain, baik mengatasnamakan rasionalitas, agama maupun Tuhan. Selain karena watak manusia itu sendiri, kekerasan juga bisa dipengaruhi oleh faktor eksternal, bisa budaya, ekonomi, politik dan juga bisa agama. Hal itu berhubungan erat dengan bentuk-bentuk kekerasan itu sendiri.

Pada dasarnya ada dua bentuk kekerasan: kekerasan wacana dan kekerasan fisik. Kedua bentuk kekerasan itu saling berhubungan. Yang pertama biasanya sebagai unsur yang mempengaruhi munculnya kekerasan fisik.

Kekerasan fisik bisa lahir dari penguasa dalam bentuk tindakan represif demi mengamankan kekuasaan atau kebijakannya (bisa juga disebut kekerasan struktural), juga bisa lahir dari masyarakat umum yang menuntut keadilan dari penguasa yang menindas dengan melakukan berbagai upaya yang diperkirakan mampu melawan kebijakan yang tidak adil itu, termasuk dengan kekerasan.

Itu berarti, kekerasan bersifat melingkar dan akumulatif (Sunardi). Suatu tindakan kekerasan merupakan rangkaian dari kekerasan lain yang mendahuluinya. Tidak ada kekerasan yang berdiri sendiri.

Selain bersifat melingkar dan akumulatif, fenomena kekerasan ternyata juga mengalami pergeseran. Ketika kekerasan itu menjadi biasa, dan semua orang menjadikannya sebagai pilihan utama dalam menghadapi setiap persoalan yang muncul, maka kekerasan mengalami pergeseran, yakni dari “lingkaran kekerasan ke budaya kekerasan”.

Pada yang pertama, kekerasan pada awalnya sebagai reaksi terhadap aksi sehingga terjadi kekerasan yang melingkar, maka pada yang kedua (budaya kekerasan), kekerasan itu sendiri menjadi aksi dan kreasi yang dipilih dan dilakukan dengan kesadaran oleh masyarakat.

Sejak awal, kekerasan dijadikan sebagai metode, sarana solusi dan kreasi, bukan sebagai reaksi atau pilihan terakhir dalam menyikapi persoalan. Kekerasan dipelajari sebagai cara yang paling efektif untuk mengatur pola hubungan antar manusia dan antar kelompok. Kekerasanpun pada akhirnya mejadi nalar. Bisa dikatakan nalar kekerasan (Abdul A’la).

Jika melihat berbagai peristiwa kekerasan seperti bom bunuh diri yang dilakukan teroris dan ISIS, kekerasan mulai bergeser lagi. Dari nalar kekerasan pada agamaisasi kekerasan, karena mereka melakukan itu atasnama agama. Agama dan masyarakat sebenarnya saling berhubungan. Agama tidak akan ada artinya tanpa masyarakat, karena agama hadir untuk kepentingan masyarakat.

Sementara itu, masyarakat bisa ada tanpa adanya agama, kendati secara faktual, tidak ditemukan adanya masyarakat tanpa agama. Masyarakat tidak hanya menerima agama sebagai pijakan teologis dan sosiologisnya. Masyarakat juga mengatur dan mengendalikan agama sehingga esensi dan eksistensi agama bergantung pada nalar masyarakat. Jika masyarakat terbiasa menggunakan nalar kekerasan, begitu juga agama.

Hubungan simbiosis-mutualistis itu membuat agama tidak hanya hidup dan terjebak dalam “lingkaran kekerasan” dan “budaya kekerasan”, tetapi juga terjebaka ke dalam nalar kekerasan. Sejak awal, agama dijadikan sarana aksi dan kreasi kekerasan. Itu berarti, kekerasan mengalami pergeseran lagi, dari “budaya kekerasan” ke “agamaisasi kekerasan”, yakni kekerasan yang dijustifikasi dengan menggunakan agama dan Tuhan, baik kekerasan wacana maupun kekerasan fisik.

Pada gilirannya, kekerasan agama akan menjadi cara berfikir (nalar), karena nalar merupakan bagian dari budaya yang dibentuk oleh masyarakat (Muhammad Abid al-Jabiri. Jadi, agamapun terjebak ke dalam nalar kekerasan. Agama bukan lagi sebagai penebar kedamaian dan pencegah kekerasan (amar ma’ruf dan nahi mungkar secara bersama-sama). Agama justru menjadikan kekerasan sebagai bagian dari agama.

Kalau sudah begitu, lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Agama menjadi alat kekerasan. Amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak lagi berjalan beriringan. Amar ma’ruf melalui cara-cara yang damai digantikan oleh nahi mungkar melalui cara-cara kekerasan.

Aksin Wijaya
Direktur Pascasarjana IAIN Ponorogo
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.