Minggu, Februari 28, 2021

Kala Anggota ISIS Minta Pulang

Elit Partai Khianati Slogan “Suara Golkar, Suara Rakyat”

Buntut dari bocornya draft surat dukungan Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar kepada Ridwan Kamil – Daniel Muttaqin, telah menyulut polemik di internal partai berlambang...

Pertemuan di MRT Sinyal Reposisi?

Paska putusan Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan Joko Widodo–Ma’ruf Amin tidak terbukti melakukan pelanggaran Pemilu seperti apa yang dituduhkan kubu Prabowo-Sandi, seketika tensi politik perlahan...

Agama dalam Pergulatan Politik Praktis di Indonesia

Tahun 2018 adalah tahun politik. Khususnya di Jawa Timur, pada tahun 2018 akan diselenggarakan pemilihan gubernur dan wakil gubernur.  Pada tahun yang sama, dari...

Belajar dari Mikhail Bakunin tentang Konsep Tuhan dan Negara

Sehari lalu terjadi perbincangan yang cukup seksi di grup WA kampung saya. Grup yang biasanya hanya berisi candaan-candaan biasa, hari itu terjadi perbincangan yang...
Lutfi Awaludin Basori
Freelance Journalist

Sekujur tubuh perempuan itu tertutup rapat dibalut kain hitam. Hanya tatapan matanya yang sayu terlihat jelas akibat diterpa nasib tak menentu. Meski nada bicaranya lancar tapi bercak putih di kain penutup wajahnya menyiratkan bagaimana kondisi kehidupannya kini di Kamp pengungsian kelompok ISIS di Al-Hol, Provinsi Al-Hasakah, Suriah. Kota yang berjarak sekitar 20 km dari pusat kota Al-Hasakah.

Bersama dengan keempat anaknya, perempuan yang mengaku bernama Mariam ini memohon ke Pemerintah agar dapat kembali ke Bandung, Jawa Barat seperti dalam video yang dirilis Tirto.ID, pada akhir Maret lalu. Mariam mengaku suaminya bernama Saifuddin raib bersama dengan kekalahan ISIS di berbagai wilayah di Suriah. Kini nasib dirinya bersama anak-anaknya berada ditangan Pasukan Demokratik Kurdi (SDF), yang dimotori milisi Kurdi.

Sementara itu, ribuan kilometer dari tempat Mariam dan perempuan anggota ISIS lain yang memohon pulang, di Sibolga, Sumatera Utara, seorang perempuan simpatisan ISIS meledakan diri beserta anak balitanya. Perempuan 30 tahunan bernama Marnita Sari Boru Hutauruk alias Solimah ini ogah menyerahkan diri meski rumahnya telah dikepung aparat.

Meski suaminya, Asmar Husain alias Abu Hamzah yang dicokok Densus 88 duluan memintanya untuk menyerah, tapi tak ia gubris. Alih-alih melemah, Solimah melempar beberapa bom dari atap rumahnya hingga mengakibatkan seorang polisi terluka. Berikutnya, “boom!”, rumahnya ia ledakan beserta dirinya dan dua anaknya.

Ledakan itu, mampu meruntuhkan rumahnya dan tiga rumah di sekitarnya. Kejadian itu tepat 15 hari sebelum Mariam muncul dengan permohonannya untuk diboyong pulang ke Indonesia.

Peristiwa Sibolga membayang di benak masyarakat Indonesia betapa mematikannya para simpatisan ISIS ini meskipun mereka adalah kaum hawa. Belum lagi peristiwa berdarah di Surabaya periode Mei tahun lalu, yang pelakunya juga kaum hawa.

Akibatnya, sebagian masyarakat Indonesia menolak keras permohonan Mariam dan sekitar 50 lainnya untuk pulang. Masyarakat khawatir, akan muncul Solimah-Solimah lain dari perempuan pro-ISIS yang di Suriah saat ini, jika pulang ke Indonesia. Artinya, Indonesia akan rawan terjadi bom bunuh diri.

Pada posisi ini Pemerintah bak memakan buah simalakama. Yaitu memboyong mereka pulang, salah. Jika membiarkan mereka menanggung derita di negara orang. Toh berangkat ke Suriah itu pilihan mereka sendiri sejak awal bukan?

Tapi jika membiarkan mereka menderita di negara lain, akan muncul pertanyaan di mana rasa kemanusiaan bangsa Ini? Mengapa tak memperdulikan warganya? Toh para pekerja migran ilegal tetap dipulangkan jika bermasalah?

Namun, masalah lain lebih serius juga mengancam keamanan negeri ini, jika memboyong mereka pulang. Gambar dan frakmen-frakmen mengerikan tentang bom di Surabaya dan Sibolga membuat shock masyarakat Indonesia. Betapa gila dan mengerikannya perempuan-perempuan yang membawa anak-anak mereka meledakan diri. Apalagi bagi mereka yang sudah bertekad ke Suriah.

Maka, menghadapi persoalan Mariam dan yang lain itu pemerintah harus melakukan hitung-hitungan serius.

Bila Pemerintah ingin memboyong Mariam dan yang lain pulang, maka lebih dulu wajib memastikan jika mereka benar-benar adalah warga Indonesia. Ini tentu saja tak mudah dilakukan. Sebab kemungkinan besar mereka sudah tak memengang passport kewarganegaraannya. Pemerintah pun akhirnya harus melacak kerabatnya di Indonesia guna memastikan.

Lebih penting lagi, Pemerintah wajib menjamin jika mereka pulang tak akan melancarkan aksi teror seperti kasus di Surabaya dan Sibolga. Mengingat peran perempuan di ISIS saat ini sudah mulai mengalami pergeseran. Dari yang awalnya hanya sebagai pendidik, kurir, propaganda dan penyandang dana, kini mereka juga ikut menjadi pengebom.

Pergeseran peran perempuan pendukung ISIS ini disebut dalam laporan terbaru Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), sebuah lembaga tangki pemikiran di Jakarta. Pada laporan berjudul “The Ongoing Problem of Pro ISIS Cell” itu, selain mencontohkan peran perempuan dalam kasus Surabaya dan Sibolga, IPAC juga mencatat kasus di Sri Langka baru-baru ini. Di mana para pelakunya juga melibatkan kaum hawa dan anak-anak.

Tapi bukan berarti tak ada keuntungan sama sekali jika Pemerintah memulangkan perempuan Indonesia dari kamp Al-Hol. Sebab ada contoh bagus terkait pemulangan warga Indonesia dari Suriah. Kasus pemulangan keluarga Dwi Djoko dari Batam yang bergabung dengan ISIS di Suraih kemudian diboyong pulang, menjadi kemenangan besar Pemerintah dan warga Indonesia.

Sebab setelah pemulangan keluarga Dwi Djoko, Pemerintah memiliki bukti kongkrit untuk mematahkan propaganda pendukung ISIS di Indonesia. Begitu pun dengan Mariam dan perempuan Indonesia lainnya yang tinggal di kamp Al-Hol. Jika mereka benar-benar pulang ke Indonesia, maka mereka harus bisa membantu Pemerintah untuk memerangi propaganda pendukung ISIS di Indonesia.

Mereka bisa menjadi obat mujarab untuk menghambat berlanjutnya peristiwa Surabaya dan Sibolga  menjalar ke wilayah lain di Indonesia. Kebutuhan ini menjadi sangat penting terutama setelah kemunculan kembali Khalifa ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi pada sebuah video berdurasi 18 menit yang dirilis oleh jaringan media Al Furqan.

Sebab dengan kemunculan pimpinan ISIS ini, timbul kekhawatiran akan membakar semangat para pendukungnya melancarkan aksi sendiri (lone wolf). Terutama aksi seperti yang diterjadi di Surabaya dan Sibolga. Apalagi kemunculan orang nomor satu di ISIS ini bertepatan memasuki bulan Ramadhan. Bulan Suci yang mereka yakini sebagai bulan ladang amal untuk ber”jihad” dengan melancarkan aksi teror.

Maka, jika dengan memboyong perempuan Indonesia di Kamp Al-Hol pulang mampu meredam penyebaran ISIS di Indonesia, tentu sangat layak untuk diperjuangkan.

Tak harus semua diboyong pulang. Cukup mereka yang dipastikan mau membantu Indonesia melawan propaganda ISIS. Meski lebih baik jika mereka semua dapat berpindah barisan bersama Pemerintah melawan kelompok ISIS.

Guna mewujudkan hal itu tentu bukan kerja mudah bagi Pemerintah. Sebab artinya Pemerintah harus lebih dulu benar-benar yakin jika mereka 100 persen berpihak ke Pemerintah. Apalagi kasus mereka berbeda dengan keluarga Dwi Djoko yang melarikan diri dari kelompok ISIS. Mereka ingin pulang karena ISIS kalah perang.

Tapi bagi mereka yang tak mau bersama Pemerintah dan kekeuh mengabdi ke Al-Baghdadi, maka selayaknya juga Pemerintah mengharamkan mereka untuk pulang ke Indonesia. Sebab itu sama saja mereka memilih keluar dari Indonesia. Jika tetap memboyong mereka pulang, bukankah itu artinya membawa bom waktu ke rumah?

Bagi kasus terakhir ini, pemerintah tak perlu bersusah-susah mengeluarkan keringat dan dana untuk mengurusnya.

Lutfi Awaludin Basori
Freelance Journalist
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.