Senin, April 12, 2021

Kader Demokrat Belot, ‘Kado’ Balas Dendam SBY Buat Prabowo?

Prototipe Persaudaraan ala Nabi Saw

Pada sekitar tahun 622 M, para Muslim Makkah generasi awal (al-sâbiqûn al-awwalûn) bergerak meninggalkan tanah kelahiran mereka menuju Yatsrib—kelak bernama Madinah. Mereka mengikuti arahan...

Masa Depan Program BBM Satu Harga

Masa Depan Program BBM Satu HargaKabar mengenai kerugian Pertamina sebesar Rp 12 Triliun pada semester pertama Tahun 2017 ini menimbulkan pertanyaan: bagaimanakah kelanjutan program...

Peraturan Kapolri dan Ancaman Bagi Satwa Liar

Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan olahraga tidak bisa dijadikan landasan untuk melakukan jerat hukum....

Kurdishtan, Ironi Bangsa Terbesar Tanpa Negara

Menjelang akhir tahun lalu, konflik Kurdi yang melibatkan berbagai kepentingan dan negara sekitar kembali menguat. Berbagai pemberitaan internasional menyorot hal ini. Al Jazeera (2/12)...
Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal

Saya menduga kuat bahwa pembelotan berjamaah kader DPD Demokrat (Papua, Sumatera Utara, Jawa Barat, Banten dan Sulawesi Utara) ke kubu Jokowi, memang sudah direncanakan secara matang oleh SBY. Bahkan, sayup-sayup terdengar, kader DPD Demokrat di sejumlah propinsi lainnya siap menyusul. Mereka tinggal menunggu momen yang tepat dan sinyal dari SBY.

Dalam analisis saya, pembelotan kader Demokrat yang dilakukan secara terang-terangan ini merupakan ‘kado’ balas dendam SBY terhadap Prabowo yang telah mengkhianati ‘kesepatan politiknya’. Bukan hal yang mustahil dalam hitungan waktu yang sangat cepat, seluruh kader Demokrat akan segera pindah ke Jokowi.

Balas dendam yang dilakoni SBY dan kader Demokrat merupakan tindakan cerdas. Apa sih untungnya bagi Demokrat membelot ke Kubu Jokowi? Kalau Demokrat tetap memaksakan diri mendukung Prabowo, Demokrat tidak akan mendapat keuntunan politik apapun karena AHY lenyap dalam kubu oposisi. Para caleg Demokrat juga akan tenggelam, bila tetap bertahan di kubu opisisi. Sebaliknya, bila SBY dan kader Demokrat mendukung Jokowi, elektabilitas caleg dan parpol Demokrat bisa meningkat di mata rakyat.

Dalam mewujudkan balas dendam ini, SBY dan seluruh kader Demokrat menerapkan teori psikologi Klasifikasi Emosi yang digagasi Krech dalam Minderop (2010). Intisari dari teori ini ialah individu maupun kelompok akan sangat membenci bila dikhianati, baik secara terbuka maupun terselubung. Akibatnya, individu maupun kelompok yang dikhianati akan melakukan tindakan balas dendam secara frontal.

Despacito Politik

Untuk menghindari tekanan dari kubu oposisi, Demokrat sengaja memainkan skenario pembelotan ini secara despacito alias berpolitik secara perlahan atau pelan-pelan. Pembelotan total mungkin akan mencapai klimaksnya, setelah penetapan capres dan cawapres oleh KPU. Jadi, adanya komentar sejumlah pengamat politik yang menyebutkan bahwa Demokrat bermain politik di dua kaki, salah besar. Menghadapi situasi ‘darurat’ dukungan politik dari Demokrat ini , Prabowo pasti panik. Sebaliknya, SBY dan kader Demokrat justru tertawa renyah melihat kubu oposisi dan Prabowo kalang-kabut.

Munculnya pernyataan sejumlah elit politik Demokrat yang mengatakan bahwa para kader Demokrat yang membelot tidak akan mendapatkan sanksi apapun dan hanya diberikan dispensasi, itu cuma akal-akalan politik Demokrat untuk menutupi balas dendam. Pertama dalam sejarah kehidupan berpolitik di Indonesia, istilah dispensasi politik muncul. Jujur saja, tidak ada istilah dispensasi dalam sistem politik. Ini sangat memalukan dan aneh bin ajaib.

Lantas, pertanyaannya ialah pengkhianatan apa sih yang dilakukan Prabowo sehingga membuat SBY begitu ‘sakit hati’dan nekad melakukan balas dendam. Dalam pandangan saya, ada tiga penghianatan yang dilakukan Prabowo terhadap SBY yaitu:

Pertama, Prabowo mengingkari komitmen politik rahasia (Prabowo dan SBY) dari hasil pertemuan pertama mereka berdua. Kemungkinan besar, Prabowo saat pertemuan itu sudah sepakat di hadapan SBY untuk menjadikan AHY sebagai cawapresnya. Tapi faktanya, Prabowo justru memilih Sandiaga Uno. Pilihan Prabowo terhadap Sandiaga Uno ini, bukan hanya mengkhianati SBY, tetapi juga PKS dan PAN yaitu Prabowo menolak rekomendasi cawapres yang dihasilkan oleh ijtima ulama.

Kedua, munculnya nama Joko Santoso untuk menjadi Ketua timses/tim pemenangan/kampanye di kubu oposisi, membuat SBY semakin kecewa berat. Padahal, SBY mengharapkan AHY menempati posisi itu. Lagi-lagi Prabowo berkhianat. AHY bukan hanya gagal menjadi cawapres, tetapi juga ditolak menjadi Ketua timses Prabowo-Sandi. Sakit hati SBY pun semakin lengkap.

Ketiga, ‘nyanyian’ Waksekjen Demokrat Andi Arif di twitter soal uang mahar Sandiaga Uno sebesar Rp 1 triliun untuk PKS dan PAN, menambah kesempurnaan sakit hati SBY. Ayah AHY ini merasa dirinya ‘ditusuk’ dari belakang oleh Prabowo. Bahkan, kabarnya, uang Rp 1 triliun itu sengaja digelontorkan Sandiaga Uno untuk PKS dan PAN agar mereka membegal pencalonan AHY sebagai cawapres Prabowo.

Rakyat Cerdas

Pengkhianatan Prabowo jelas menjadi salah satu alasan penting bagi rakyat untuk tidak memilih Prabowo dalam pilpres 2019 mendatang, karena Prabowo dinilai sebagai sosok yang tidak amanah. Sungguh sangat berbahaya bila seorang pemimpin mempunyai sifat pengkhianat.

Di sisi berbeda, elektabilitas Prabowo-Sandi mungkin akan anjlog. Rakyat semakin cerdas dan tidak bisa lagi dibohongi dengan berbagai ‘gaya dan pernyataan’ politik mereka. Prabowo-Sandi acapkali mengatasnamakan rakyat ketika mengeritik pemerintah. Contohnya ialah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar (politisasi rupiah). Padahal, melemahnya kurs rupiah terjadi secara global dan bukan hanya menimpa Indonesia. Selain itu, celoteh berkepanjangan soal harga telor, cabe dan tempe yang disebut-sebut dikeluhkan oleh emak-emak merupakan bentuk generalisasi  isu. Faktanya, sampai hari ini, rakyat termasuk emak-emak adem-ayem saja dan masih enjoy berbelanja di pasar.

Wawan Kuswandi
Pemerhati komunikasi massa, founder blog INDONESIAComment, mantan editor Newsnet Asia (NNA) Jepang dan penyuka sambal
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.