Sabtu, Januari 16, 2021

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Terbongkar, Drama Percintaan Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil

Ini hanya analisis Politik yang saya kemas dalam cerita drama. Karena Menarik sekali mencermati langkah Dedi Mulyadi, Ridwan Kamil dan tentu saja Partai Golkar...

Menjaga Kultur Digital Corona

Peraturan pembatasan sosial (social distancing) dan phisik (physical distancing), menerbitkan realitas baru, yaitu jagat digital. Segala aspek kehidupan seperti politik, bisnis, dan pendidikan secara...

Persoalan PJJ Tahun Ajaran Baru 2020/2021

Tahun ajaran baru 2020/2021 telah dimulai, sekolah umumnya masih tutup dan masih menerapkan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Untuk siswa-siswi kelas 7 dan kelas 10...

Memaknai Pandemi, Sinyal Revolusi!

“Sebuah revolusi bukanlah taman mawar. Sebuah revolusi adalah pertarungan sampai mati antara masa depan dan masa lalu.” —Fidel Castro Sebagai seorang pejuang yang mendambakan perubahan...
Rita Puspita Rachmawati
Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran yang hobi mendengarkan musik K-Pop dan gemar mempelajari beragam budaya.

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut kalau penggemar K-Pop itu alay, buang-buang waktu, suka mendewakan idolanya, dan suka menghamburkan uang hanya untuk memberi beragam merchandise idolanya.

Di samping itu, kita bisa melihat bagaimana seorang penggemar K-Pop punya loyalitas terhadap idolanya. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton video musik yang idolanya rilis. Penggemar K-Pop juga bisa menghabiskan uangnya untuk membeli beragam merchandise yang harganya tak masuk akal. Contohnya saja satu t-shirt bergambar sang idola, bisa dibandrol dengan harga di atas lima ratus ribu rupiah. Padahal jika kita pikirkan kembali, biaya produksi untuk satu t-shirt tidak mungkin semahal itu.

Praktisnya, kita akan berpikir hal ini dilakukan karena kecintaan yang besar terhadap sang idola semata. Coba saja perhatikan bagaimana idola-idola Korea mengemas musik yang mereka bawakan dengan sangat menarik. Wajah tampan dan cantik sang idola dipadukan dengan musik dan tarian yang enerjik, seakan menjadi paket komplet untuk memikat hati penontonnya. Namun pernahkah terpikirkan apa yang menyebabkan K-Pop bisa punya pengaruh besar terhadap seseorang?

Masifnya dominasi industri K-Pop tidak bisa dilepaskan dari globalisasi dan perkembangan teknologi. Kemudahan akses ini memungkinkan K-Pop bisa dinikmati di berbagai belahan dunia. Musik-musik K-Pop bisa dengan mudah ditemukan di berbagai platform seperti YouTube dan Spotify. Tak sampai di situ, aplikasi lain seperti V LIVE yang menyediakan fitur khusus siaran live idola dari negeri ginseng itu pun bisa kita unduh dengan mudah.

Teknologi sungguh punya peran penting atas berkembangnya musik K-Pop di berbagai negara, salah satunya di Indonesia. Penggemar K-Pop seakan dimanjakan dengan beragam kemudahan untuk mengakses budaya Korea termasuk membeli barang-barang yang diproduksi oleh agensi idola Korea.

Kita pasti pernah menemukan seorang penggemar K-Pop membeli barang-barang yang berkaitan dengan idolanya. Beberapa di antaranya ada album, photocard, lightstick, pakaian, dan masih banyak hal lainnya. Salah satu situs resmi yang menjual K-Pop stuffs ini adalah Ktown4u. Di website ini, kita bisa menemukan berbagai merchandise dari beragam grup K-Pop yang dijual secara global. Namun, jangan kaget ketika melihat bandrol harga yang tertera di sana. Meski mayoritas dijual dengan harga yang tinggi, K-Pop stuffs selalu laku terjual di pasaran.

Hal ini mengingatkan saya pada konsep industri budaya yang diusung oleh Theodor W. Adorno dan Max Hokheimer dalam “Culture Industry Reconsidered” (1975). Budaya dijadikan sebagai komoditas dengan sistem produksi massal yang kemudian direproduksi dan disebarkan dengan motif keuntungan layaknya dalam sistem industri lainnya.

Industri budaya ditandai dengan tiga karakteristik, yaitu standarisasi, massifikasi, dan komodifikasi. Komoditas industri budaya cenderung memiliki kemiripan yang sama. Dalam konteks musik, Adorno melihat bagaimana musik maupun lirik yang diproduksi cenderung sama. Karya identik ini kemudian membentuk sebuah standar yang dianggap sebagai salah satu faktor pembentuk selera masyarakat. Jadi, pada hakikatnya selera tidak terbentuk secara alamiah tapi melibatkan campur tangan industri budaya dengan tujuan mengontrol dan mendominasi pasar.

Kita bisa melihat bagaimana budaya Korea atau Korean Wave ini bisa mendominasi pasar internasional. Sebut saja grup BTS yang berhasil memuncaki beragam tangga lagu internasional. BTS juga berhasil menjual album bertajuk MAP OF THE SOUL : 7 sebanyak 2,6 juta keping di hari pertama penjualannya. Kita juga sering menemukan fakta bagaimana idola K-Pop menggunakan barang-barang branded yang kemudian selalu habis terjual. Secara sederhana, fenomena ini bisa diartikan sebagai bentuk kecintaan penggemar pada sang idola. Ada rasa kebanggaan tersendiri ketika kita memiliki merchandise K-Pop apalagi memiliki barang yang sama dengan idola.

Di situlah industri budaya berhasil mengambil perannya. Industri budaya memunculkan kebutuhan dan kepuasan yang semu. Alih-alih menikmati musik, secara sadar atau pun tidak, penggemar K-Pop justru sedang membeli “citra” sang idola yang dikomodifikasi menjadi sebuah komoditas industri. Butuh atau pun tidak, penggemar K-Pop seperti punya kewajiban untuk membeli barang-barang yang terkait dengan idolanya sehingga jatuh pada fetisisme komoditas yang menumbuhkan budaya konsumeris.

Keberhasilan ekspansi budaya Korea (Hallyu) juga tidak bisa dipisahkan dengan dukungan penuh dari pemerintah Korea Selatan. Tae Young Kim dan Dal Young Jin dalam jurnalnya “Cultural Policy in The Korean Wave: An Analysis of Cultural Diplomacy Embedded in Presidential Speeches” menuliskan bahwa Korea Selatan berhasil membuat budaya menjadi komoditas ekspor yang berkaitan dengan kepentingan politis. Konsep ini dijelaskan Joseph Nye sebagai soft power atau status kesuksesan Korea Selatan memperlihatkan kedigdayaan negaranya melalui daya tarik. Soft power suatu negara didasarkan pada tiga sumber utama, yaitu kebudayaan (culture), nilai politik (political values) dan kebijakan luar negeri (foreign policies).

Hallyu mulai menunjukkan kepopulerannya dengan beragam produk budaya yang diekspor ke berbagai negara. Julia Valeiva dalam tulisannya berjudul “Cultural Soft Power Korea” menyebutkan komoditas industri budaya Korea sangat menyeluruh dengan istilah  “from Kimchi to K-Pop”. Produk-produk tersebut memadukan gaya khas kultur Korea dan kultur Barat yang menjadi keunikan tersendiri sekaligus mempermudah proses penyebarannya. Jika kita lihat, lirik-lirik lagu K-Pop di era sekarang kerap mencampurkan bahasa Korea dengan bahasa Inggris yang dipadukan dengan musik modern. Musik-musik itu juga dikemas dengan berbagai versi bahasa seperti Mandarin dan Jepang untuk memperluas target pemasaran.

Korea Selatan bisa dikatakan sebagai negara yang menaruh perhatian besar di sektor budaya. Dalam hal ini, industri K-Pop hanya satu dari sekian banyak industri budaya yang ada di sekitar kita. Secara sadar atau tidak, para pelaku industri budaya telah berhasil mengobjektifikasi manusia untuk memperoleh keuntungan.

References

Adorno, T. W., & Rabinbach, A. G. (1975). Culture Industry Reconsidered. JSTOR.org.

Kim, T. Y., & Jin, D. Y. (2016). Cultural Policy in the Korean Wave: An Analysis of Cultural Diplomacy Embedded in Presidential Speeches. International Journal of Communication.

Suryani, N. P. (2014). KOREAN WAVE SEBAGAI INSTRUMEN SOFT POWER UNTUK MEMPEROLEH KEUNTUNGAN EKONOMI KOREA SELATAN. GLOBAL Vol 14.

Valieva, J. (2018). Cultural Soft Power Korea. Journal of History Culture and Art Research, 209.

Identitas diri:

Rita Puspita Rachmawati, Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran.

08381005844/ritarachma42@gmail.com

Rita Puspita Rachmawati
Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran yang hobi mendengarkan musik K-Pop dan gemar mempelajari beragam budaya.
Berita sebelumnyaHitam Putih Gemerlap Media Sosial
Berita berikutnyaFlu Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.