Senin, April 12, 2021

Jokowi Naik KRL ke Bogor: Keren

Pilgub 2018, Momentum NTT Mengubah Nasib

Tahun 2018, usia Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai provinsi telah memasuki 60 tahun. Usia yang sudah cukup renta, namun ironisnya NTT belum bisa melepaskan...

Relasi Historis Jawa, Majapahit dan Republik

Pada suatu malam yang mendung, secangkir kopi panas, dan alunan simphoni dari rintik hujan yang menyerbu bumi. Balutan sarung melilit tubuh menambah hangat malam...

Getir Realitas Pendidikan Di Toli-Toli Sulawesi

Cerita tentang sebuah lembaga pendidikan sekolah dasar di tempat terpencil yang sangat minim tenaga pendidiknya, jumlah pendidik dalam satu sekolah dasar bisa dihitung dengan...

Menerka Keemasan Pemuda Abad XX dengan Pemuda Milenial

Letupan sumpah pemuda 90 tahun silam dari para pemuda sepanjang Sabang sampai Merauke mengkiaskan spirit persatuan yang amat kekar. Menyembul organisasi kepemudaan semacam Tri...
Abraham Fanggidae
Mantan Birokrat Negara, kini Pengamat Kebijakan Publik, Tinggal di Jakarta Selatan

Presiden Joko Widodo Rabu sore pukul 17.45, 6 Maret usia kerja naik KRL dari Tanjung Barat, Jakarta Selatan menuju Bogor. Bukan tanpa alasan naik KRL ke Bogor di jam sibuk. Dari hasil desak-desakan, Jokowi mendapat bekal dasar untuk kebijakan.

“Mau bergerak saja tidak bisa, terutama yang dari Jakarta ke Depok itu…” Dalam gerbong banyak yang menyampaikan kepada Jokowi “Pak, tambah keretanya, Pak, atau “Pak, tambah gerbongnya, Pak” (detiknews Rabu, 6/3/2019).

Presiden Joko  Widodo tidak dikawal secara ketat sat naik KRL Jakarta-Bogor. Jokowi hanya dikawal Komandan Paspampres, Mayjen Maruli Simanjuntak. “Cuma berdua”, ujar Maruli kepada jurnalis yang menghubunginya. Permintaan langsung Jokowi naik KRL tanpa pengawalan ketat Paspampres, karena ingin berbaur dengan masyarakat.

Ini bukan pertama kali Jokowi naik KRL. Saat menjabat Gubernur DKI, juga pada hari Rabu, 28/8/2013, Jokowi naik commuter line tidak eksklusif dari stasiun Manggarai sampai stasiun Jatinegara (Tribunnews.com). Sudah sejak gubernur, Jokowi memang suka blusukan, dan merakyat. Siapa yang melihat dengan mata dan kepala, membenarkan. Siapa yang berpikir tentang Jokowi naik KRL mencari-cari alasan untuk memberi komentar “miring” lagi nyinyir.

Di atas KRL Jokowi bisa berbincang dengan rakyat seperti itu. Jokowi menerima informasi utuh, langsung, apa adanya. Inilah hasil dekat dengan rakyat. Inilah presiden yang merakyat. Bukan pertama kali Jokowi berbincang bersama rakyat dengan kondisi asli. Jokowi pernah bersama rakyat sambil berbincang Jokowi bersama rakyat yang berpakaian sederhana duduk di atas akar pohon, mendengar bagaimana kehidupan mereka yang tinggal di Kabupaten Belu. Kabupaten Belu merupakan kabupaten terdepan, berbatasan langsung dengan negara Timor Leste.

Jokowi turun langsung ke tengah sawah (berlumpur). Jokowi menggulung kaki celana, mencopot sepatu kets, berbicara dengan petani yang sedang bekerja. Ini pun merakyat, bukan pencitraan. Jokowi di Semarang, saat banyak orang sedang enak-enak tidur pada tengah malam, dengan ditemani sopirnya Jokowi langsung bertemu dengan para nelayan yang tinggal di Utara Semarang. Merakyat seperti ini, bisa memperoleh masukan asli, utuh, jujur dari rakyat.

KRL bertingkat, suatu saat

Teringat ketika pertama kalinya kereta api uap komersial dibuka di Inggris tahun 1825, di mana kereta api uap telah memicu sebuah revolusi transportasi melintasi dunia. Kuda besi baru ini tiba-tiba mengubah industri. Dalam waktu beberapa puluh tahun, kereta api mengubah baik wajah kota maupun perdesaan untuk selamanya. Ketika sistem kereta listrik diperkenalkan pada akshir abad ke-19, penduduk di kota-kota besar dapat bepergian jauh dan lebih cepat daripada sebelumnya.

Tetapi, begitu mobil pribadi tersedia secara luas, mobil mengalahkan kereta api. Di Amerika Serikat, perubahan itu berlangsung dalam satu generasi. Pemerintah-pemerintah negara lainnya mulai menggenjot anggaran membangun jalan raya. Menjelang tahun 1970an-1980an terjadi semacam “perlombaan” dunia untuk mempunyai mobil, termasuk di negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Padahal kemampuan masyarakat dilihat dari daya beli membeli mobil, tidak merata, alias mobil hanya mampu dibeli kalangan elite.

Satu hal penting untuk diingat. Tanpa investasi yang memadai untuk membangun infrastruktur perkeretaapian, banyak pemerintah melewatkan peluang kondusif dan penting untuk menguatkan perekonomian negaranya, dan melindungi lingkungan (ekologi). Amerika Serikat mengubah 5 (lima) persen mengemudi di jalan raya menjadi perjalanan menggunakan kereta listrik antarkota, ternyata mampu menghemat 160 juta barel minyak setiap tahun.

Di Inggris, setiap ton barang yang dipindahkan dari jalan raya ke jalur kereta api, jumlah karbon yang dikeluarkan per kilometer akan turun sebanyak 88 persen. Ini berarti Inggris turut menyumbang untuk menurunkan pemanasan global.

Selain efek positif pada dimensi ekonomi dan ekologi, kereta api memiliki manfaat-manfaat sosial. Pelayanan kereta api menyenangkan. Tepat waktu berangkat dan tiba. Naik kereta api penumpang merasa tenang. Kereta api dapat meningkatkan mutu kehidupan di kota-kota besar dan memberikan kesempatan bepergian kepada orang-orang yang tidak mampu menyetir mobil (Lester R Brown, at all: 1999).

Pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, jalan tol, fasilitas perkeretaapian, pelabuhan, lapangan terbang, bendungan/irigasi amat hebat pada era Jokowi-JK selama tahun 2014-2019. Pembangunan infrastruktur perkerataapian di Sulawesi, Kalimantan, merehabilitasi fasilitas di Sumatera, agar terus digenjot. Besar manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungannya dari ketersediaan fasilitas kereta api.

Kereta api penumpang bertingkat telah beroperasi di Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Kereta api double decker, mirip bus malam double decker yang melayani penumpang antarkota dan antarpovinsi di pulau Jawa dan pulau Sumatera. Penumpang bus di Jawa dan Sumatera nampaknya makin tertarik dengan bus malam bertingkat.

KRL bertingkat, bisa segera hadir. KRL melayani penumpang antarkota dan antarprovinsi. KRL beroperasi dari Jakarta hingga ke Bogor, Bekasi, Serpong, Parung. Terutama pada jam sibuk pagi hari dan sore hari, khususnya hari kerja suasana yang dialami Jokowi, itulah kondisi KRL kita sejak beberapa saat ini. Penumpang berdesak-desakan, tapi tidak terasa kepanasan (sumuk) terbantu oleh pengatur udara (AC) sentral lumayan sejuk.

Sebagian penduduk di kota-kota yang disebut di atas dengan status karyawan/karyawati, siswa, mahasiswa, pedagang nampak semakin memilih kereta api sebagai alat transpor ke Jakarta dari kota asalnya. Mereka meninggalkan sepeda motor,mobil, memarkir di area sekitaran stasiun untuk naik KRL menuju Jakarta.

Abraham Fanggidae
Mantan Birokrat Negara, kini Pengamat Kebijakan Publik, Tinggal di Jakarta Selatan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.