OUR NETWORK

Jokowi Merangkul Dangdut

Alih-alih serupa dengan pemilu sebelumnya, Jokowi tidak hanya merangkul musisi rock dan pop—sebagaimana basis referensi musik pendukungnya di tahun 2014—, melainkan musik yang digadang sebagai musiknya Indonesia, dangdut.

Pada 17 April 2019, masyarakat Indonesia akan menentukan pilihannya untuk presiden dan wakil presiden lima tahun mendatang. Di tengah kontestasi yang ‘keruh’ dari politik Indonesia, tim pemenangan untuk pasangan calon nomor satu, Jokowi-Mar’ruf perlu memutar otak untuk mendapatkan dukungan masyarakat.

Hal yang cukup menarik, dari gelagat tindakan Jokowi belakangan, ia mulai merangkul kembali musik. Alih-alih serupa dengan pemilu sebelumnya, Jokowi tidak hanya merangkul musisi rock dan pop—sebagaimana basis referensi musik pendukungnya di tahun 2014—, melainkan musik yang digadang sebagai musiknya Indonesia, dangdut.

Mendekati Dangdut

Jokowi memang tidak secara terang-terangan mendeklarasikan dangdut sebagai referensi musikalnya, laiknya pernyataan kegemarannya atas musik metal. Namun, usut punya usut, relasi Jokowi dan genre musik dangdut dapat ditelusuri dari pelbagai interaksi yang ia lakukan. Seperti halnya dukungan biduanita dangdut pada konser salam dua jari, semisal Inul Daratista, Zaskia Gothik, Siti Badriah, Fitri Carlina, dan lain sebagainya. Walau dangdut di pemilu 2014 tidak mendapatkan porsi yang dominan di konser tersebut.

Alih-alih serupa, Jokowi pun disinyalir mulai menunjukkan interaksi pada dangdut setahun silam. Diawali dengan interaksinya yang fenomenal yakni ‘goyang dayung’, sebagai respons Jokowi ketika mendengarkan lagu “Meraih Bintang” yang bernuansa dangdut dan dinyanyikan biduanita, Via Vallen dalam gelaran Asian Games 2018.

Agaknya goyang tersebut tidak dapat dilihat sebagai respons semata, pasalnya Jokowi ibarat mendayung dua tiga pulau terlalui. Di mana goyang tersebut tidak hanya ditunjukkan sebagai selebrasi pembuka Asian Games, tetapi juga dilakukan guna menunjukkan kedekatannya dengan dangdut—sekaligus berimbas pada penggemar musiknya.

Tidak hanya itu, beberapa minggu silam (15/2/19), Jokowi turut menjamu kedatangan ‘gerombolan’ LIDA 2019—kepanjangan dari Liga Dangdut, sebuah program kompetisi bernyanyi antar provinsi yang diselenggarakan oleh stasiun televisi swasta, Indosiar. Acara pertemuan tersebut diberi tajuk Dangdut Bareng Presiden. Di dalam acara tersebut, Jokowi seakan ingin menggambarkan bahwa dirinya adalah pribadi terbuka, kekeluargaan, dan pengayom.

Sebagai ilustrasi acara, sejumlah 34 kontestan dari seluruh Indonesia bertemu Jokowi dan Iriana di Istana Kepresidenan di Bogor. Pada pertemuan tersebut para kontestan dan penyelenggara beramah-tamah, bertanya jawab, hingga melakukan permainan.

Pun Jokowi turut menunjukkan pengetahuannya tentang dangdut ketika games dilakukan. Beberapa tema keluar dari bibir Jokowi untuk dinyanyikan para juri, semisal “Mati Lampu” yang dinyanyikan oleh Nasar. Selain itu Jokowi seraya menirukan gerak bibir ketika lagu tema LIDA, “Seni Menyatukan Kita” dinyanyikan secara bersama-sama.

Lebih lanjut, Jokowi juga menekankan bahwa dirinya selaras dengan musik dangdut. Di dalam percakapan Jokowi menautkan beberapa hal, yakni: pertama, Jokowi bangga dengan musik dangdut. Lebih lanjut, Jokowi mengungkapkan kebanggaannya pada LIDA 2019 karena telah melestarikan musik asli Indonesia. Bahkan Jokowi berpesan agar dangdut jangan sampai hilang dan tergerus budaya asing.

Kedua, Jokowi menekankan persatuan kendati memiliki perbedaan suku, adat, tradisi, dan bahasa daerah. Singkat kata, keanekaragaman merupakan kekayaan, dan dangdut telah mengakomodasi hal tersebut. Ketiga, Jokowi mendukung acara LIDA karena memberikan peluang untuk setiap daerah. Berulang Jokowi memuji acara tersebut karena telah memberi kesempatan kepada setiap daerah untuk pentas di panggung nasional (baca: Jakarta). Keempat, seni mempersatukan. Lebih lanjut, Jokowi berucap “dengan seni kita bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.”

Dari poin di atas, kita tidak dapat melihat pertemuan tersebut sebagai perjumpaan semata, melainkan adanya tendensi dan maksud politis. Namun yang menarik, antara pimpinan negara dan dangdut tidak bersifat satu arah, melainkan mutualis. Di mana keuntungan untuk dangdut adalah dukungan penuh dari pimpinan tertinggi negara, Presiden dan keuntungan buat Jokowi adalah ruang bicara akan agenda persatuan, yang secara implisit merupakan perangkat pelanggeng kuasa.

Menggandeng Dangdut

Empat hari pasca acara Dangdut Bareng Presiden, tim kampanye nasional (TKN) paslon nomor satu mendeklarasikan salah satu lagu bernuansa dangdut menjadi theme song. Adalah “Meraih Kemenangan”, lagu yang diadaptasi dari lagu “Meraih Bintang”—theme song Asian Games 2018. Menurut pengakuan TKN Jokowi-Ma’ruf, lagu tersebut didonasikan oleh pencipta lagu.

Pengadaptasian lagu “Meraih Bintang” merupakan siasat yang menarik, pasalnya selain selalu bergaung dan dikenal secara luas karena Asian Games, penyanyi lagu tersebut mempunyai basis massa yang luas. Maka penerimaan masyarakat akan lebih terbuka karena pengalaman visual dan aural yang ramah.

Ramahnya aural tersebut juga didukung dengan tidak banyaknya perubahan yang dilakukan, seperti struktur lagu, elemen musik, dan penyanyi, yang adalah biduanita dangdut koplo, Via Vallen. Sedangkan perubahan hanya terjadi pada lirik lagu, di mana pesan memilih nomor satu dilakukan secara eksplisit, semisal: pertama, merujuk pada nomor paslon. Yang semula adalah //terus fokus satu titik// hanya itu, titik itu//tetap fokus kita kejar//dan meraih bintang// menjadi //terus pilih nomor satu// hanya itu, satu itu//mari kita pilih satu//Indonesia maju//.

Kedua, perubahan subjek. Pada versi asli menggunakan terma ‘aku’ menjadi terma ‘kita’. Ketiga, narasi tentang pemilu. Di mana menautkan terma suara, pilih, dan semangat. Keempat, menyampaikan pesan nomor satu, yakni tentang optimis, solidaritas, Indonesia maju, dan persatuan.

Memecah Massa

Di tengah iklim politik menuju pemilu 2019, dengan hoax dan konflik identitas yang semakin tajam, mendekati masyarakat melalui seni—dalam hal ini dangdut—adalah langkah yang cukup strategis. Pasalnya, ketika pendekatan dengan tujuan basis masyarakat ekonomi—atau kelas ekonomi—dibuat kabur, maka pendekatan identitas dapat menjadi langkah jitu.

Namun Jokowi dan timnya paham bahwa sang raja dangdut, Rhoma Irama—dan banyak penggemarnya—memihak ke paslon nomor dua. Bahkan Rhoma turut duduk di barisan pendukung calon Presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto ketika acara debat calon presiden yang dihelat pada hari minggu, 17 Februari 2019.

Dalam hal ini, kita dapat melihat bahwa pelbagai interaksi yang dilakukan Jokowi dengan beberapa biduan-biduanita ditujukan untuk memecah perhatian massa pencinta dangdut. Alhasil entitas penggemar dangdut tidak lagi diproyeksikan tunggal dalam mendukung paslon, melainkan lebih tegas tersebar.

Pendekatan ini dirasa jitu, melihat konflik kelas ekonomi—kelas bawah atau masyarakat yang minim akan akses produksi, yang lazim ditautkan pada dangdut—bukan lagi narasi yang digaungkan, melainkan isu akan perbedaan identitas antar kelompok. Dan kiranya petahana memerlukan dangdut untuk ‘menerjemahkan’ [kembali] tujuan mereka ke masyarakat—semisal dengan acara Dangut Bareng Presiden—dan meretas hoax di era post-truth ini.

Peneliti, kritikus, penulis yang bergiat dalam ranah seni pertunjukan, musik populer, tari kontemporer, dan budaya. Lulus dari UGM, baik strata satu dari Antropologi Budaya, dan strata dua dari Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bekerja di Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Juga menjadi editor Jurnal Kajian Seni UGM. Menerbitkan buku kritik yang bertajuk Merangkai Ingatan Mencipta Peristiwa: Sejumlah Tulisan Seni Pertunjukan (2018).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…