Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Jokowi Membuka Ruang Publik Milineal Membatasi Status Quo

Bakso: Legacy, Identitas, dan Diplomasi Kuliner

Ketika sedang berada di luar negeri, umumnya mahasiswa dan masyarakat Indonesia tetap mengidolakan Bakso sebagai menu santap yang dinanti-nantikan. Tidak terkecuali bagi mahasiswa dan...

Revolusi Industri 4.0 Merubah Format Kehidupan

Revolusi industri 4.0 secara umum bisa digambarkan dalam ungkapan “internet of think” menurut Nurunniyah salah seorang Dosen Universitas Alma Ata Yogyakarta. Hal ini menandai...

Dua warisan terbesar Sokrates terhadap dunia politik

Warisan pastilah berkaitan kepada sesuatu yang luhur, yang berhubungan dengan keluarga turun temurun. Ada yang mengatakan warisan itu berkaitan dengan materi, atau bahkan yang...

Fahri Pernah Sebut Jokowi Sinting Karena Tetapkan Hari Santri

Bangga rasanya akhirnya santri diakui dan dibanggakan. Ya, dua tahun yang lalu, pada tanggal 22 Oktober 2015, Jokowi resmi mengeluarkan Keppres nomor 22 tahun...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Di era Orde Baru hingga akhir pemerintahan SBY. Mereka yang duduk dikekuasaan berdasarkan pada kedekataan (nepotisme). Sebuah keharusan konstestan Pilpres 2019 membuka  ruang publik ranah politik generasi milenial

“Untuk Bangsa ini. Tidak ada saya takuti kecuali Allah SWT”. Closing statemen yang disampaikan dalam Debat Kandidat ke-2 ini. Bermakna luas bagi konstruksi sosial-politik kekinian. Konsepsi politik yang yang menerjamahkan manifesto kadungan Pancasila.

Pernyataan ini adalah trigger pintu masuk pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia yang nanti menjadi titik tolak periode kedua apabila Jokowi terpilih kembali menjadi Presiden 17 April mendatang.

Inilah yang sebenarnya ditakutkan generasi status quo. Sehingga Jokowi menjadi ancaman serius bagi mereka.  Karena,  ruang publik kelompok status quo menjadi sempit. Karena persaingan semakin terbuka. Persaingan tidak hanya berdasar atas kedekatan nasab (keturunan atau kekeluargaan), kedekatan, atau transaksional. Persaingan akan didasarkan pada basic skill, talenta, dan intelektual.

Disinilah,  ruang sosial baru terbentuk. Generasi-generasi baru dengan skill tinggi akan mendapat ruang.  Pemerintah hanya menyalurkan dan meningkatkan daya saingan mereka. Melindungi dan memfasilitasi sehingga mampu berkonstribusi bagi negara.

Harus diakui, perjalanan kontruksi sosial-politik selama Rezim Orde Baru hingga SBY. Ruang tersebut dibangun atas dasar nepotisme. Jauh dari ketidak adilan. Kemampuan individu bukan jadi landasan fundamental.

Sementara,  fenomena sosial di era paska- strukturalis telah berubah begitu mendasar. Industri digital berkembang pesat. Akses informasi ada digengaman. Sehingga individu mampu membangun ruang publik itu sendiri. Ruang publik tanpa aliran ideologis,  tanpa interest politik atau sentimen SARA.

‘Ledakan Generasi Milenial’

Fenomena ledakan gererasi milenial inilah yang harus dibaca. Generasi kelahiran tahun 1980 an hingga 2000 an, yang berusaha mengisi kontruksi sosial. Ruang publik tidak lagi dikendalikan sentralistik atas dasar struktur sosial tertentu. Generasi ini dikendalikan atas dasar trend teknologi media komunikasi. Kesadaraan sosial dibentuk dengan simulasi dan duplikasi artifisial (Intellegency Artificial). Atau dikatakan filosof Perancis Jean Baudrillad sebagai simulacra.

Pilpres 2019 memang bukan kompetisi kandidat belaka. Atau sekedar konflik ideologis. Kelompok Ahalul Sunnah Waljamaah versus Wahabi, kelompok reformis versus Orde Baru, Pro NKRI dan HTI. Namun perebutan pengaruh kuasa ruang publik.

Namun bukan berarti tidak ada relasi dengan kandidat. Kandidat akan jadi simbol representasi. Artikulasi keperpihakan akan menentukan dukungan kelompok-kelompok ini untuk siapa suara mereka salurkan.

Artificial generasi milenial inilah yang mampu ditangkap pasangan Jokowi. Meskipun sebagai Petahana, Jokowi mampu menyampaikan pesan sebagai kandidat pro-perubahaan.

Jokowi mampu mengemas kesan sebagai pemimpin yang menjadi trigger gaya politik kekenian. Mengaktualisasi harapan milenial tentang ruang publik yang diinginkan.

Selain itu, Jokowi memberi dorongan. Bahwa nasib bangsa dan negara ini adalah tangung jawab kaum milenial. Sehingga, peluang politik kaum milenial terbuka lebar.

Sebaliknya, Prabowo sebagai penantang. Tidak mampu memberikan itu. Prabowo masih melekat kental semangat konvensional. Ruang publik terstruktur,  penuh dogma, patriarki dan kolot.

Upaya melepaskan diri dari kesan anti milenial tersebut sangat susah dilepaskan Prabowo kendati disandingkan dengan Sandiaga Uno. Rekam jejak Prabowolah,  yang jadi fakto identitifikasi kelompok milenial

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.