Senin, Januari 18, 2021

Jokowi Membuka Ruang Publik Milineal Membatasi Status Quo

Dosa Jokowi dan Kabinet Kerja

Sebelumnya, penulis ingin menyampaikan alasan menulis tema “Dosa Jokowi dan Kabinet Kerja” adalah, pertama, penulis bukanlah serarang yang kontra terhadap pemerintahan kabinet kerja yang...

Saat Albert Einstein Berucap: ‘Tuhan Tidak Bermain Dadu!’

Di suatu malam yang tenang, saya termenung di bawah langit penuh gemintang. Perasaan kadang membuat hati ini merasa asing, namun dengan menatap langit, saya...

Buwas Vs Enggar, Kisruh Kebijakan Impor Beras

“Buwas vs Enggar” menjadi bahasan yang hangat beberapa pekan yang lalu sebelum Bencana Donggala dan isu Hoax RS yang menjadi isu nasional. Hal ini terkait...

Persetan dengan Sekolah ala Ivan Ilich

Ada apa dengan sekolah dianggap dan diyakini sebagai sarana satu-satunya dalam mencari ilmu pengetahuan? Mengapa sekolah yang jumlahnya sedemikian menjamur dianggap sebagai jalan hidup...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Di era Orde Baru hingga akhir pemerintahan SBY. Mereka yang duduk dikekuasaan berdasarkan pada kedekataan (nepotisme). Sebuah keharusan konstestan Pilpres 2019 membuka  ruang publik ranah politik generasi milenial

“Untuk Bangsa ini. Tidak ada saya takuti kecuali Allah SWT”. Closing statemen yang disampaikan dalam Debat Kandidat ke-2 ini. Bermakna luas bagi konstruksi sosial-politik kekinian. Konsepsi politik yang yang menerjamahkan manifesto kadungan Pancasila.

Pernyataan ini adalah trigger pintu masuk pengembangan Sumber Daya Manusia Indonesia yang nanti menjadi titik tolak periode kedua apabila Jokowi terpilih kembali menjadi Presiden 17 April mendatang.

Inilah yang sebenarnya ditakutkan generasi status quo. Sehingga Jokowi menjadi ancaman serius bagi mereka.  Karena,  ruang publik kelompok status quo menjadi sempit. Karena persaingan semakin terbuka. Persaingan tidak hanya berdasar atas kedekatan nasab (keturunan atau kekeluargaan), kedekatan, atau transaksional. Persaingan akan didasarkan pada basic skill, talenta, dan intelektual.

Disinilah,  ruang sosial baru terbentuk. Generasi-generasi baru dengan skill tinggi akan mendapat ruang.  Pemerintah hanya menyalurkan dan meningkatkan daya saingan mereka. Melindungi dan memfasilitasi sehingga mampu berkonstribusi bagi negara.

Harus diakui, perjalanan kontruksi sosial-politik selama Rezim Orde Baru hingga SBY. Ruang tersebut dibangun atas dasar nepotisme. Jauh dari ketidak adilan. Kemampuan individu bukan jadi landasan fundamental.

Sementara,  fenomena sosial di era paska- strukturalis telah berubah begitu mendasar. Industri digital berkembang pesat. Akses informasi ada digengaman. Sehingga individu mampu membangun ruang publik itu sendiri. Ruang publik tanpa aliran ideologis,  tanpa interest politik atau sentimen SARA.

‘Ledakan Generasi Milenial’

Fenomena ledakan gererasi milenial inilah yang harus dibaca. Generasi kelahiran tahun 1980 an hingga 2000 an, yang berusaha mengisi kontruksi sosial. Ruang publik tidak lagi dikendalikan sentralistik atas dasar struktur sosial tertentu. Generasi ini dikendalikan atas dasar trend teknologi media komunikasi. Kesadaraan sosial dibentuk dengan simulasi dan duplikasi artifisial (Intellegency Artificial). Atau dikatakan filosof Perancis Jean Baudrillad sebagai simulacra.

Pilpres 2019 memang bukan kompetisi kandidat belaka. Atau sekedar konflik ideologis. Kelompok Ahalul Sunnah Waljamaah versus Wahabi, kelompok reformis versus Orde Baru, Pro NKRI dan HTI. Namun perebutan pengaruh kuasa ruang publik.

Namun bukan berarti tidak ada relasi dengan kandidat. Kandidat akan jadi simbol representasi. Artikulasi keperpihakan akan menentukan dukungan kelompok-kelompok ini untuk siapa suara mereka salurkan.

Artificial generasi milenial inilah yang mampu ditangkap pasangan Jokowi. Meskipun sebagai Petahana, Jokowi mampu menyampaikan pesan sebagai kandidat pro-perubahaan.

Jokowi mampu mengemas kesan sebagai pemimpin yang menjadi trigger gaya politik kekenian. Mengaktualisasi harapan milenial tentang ruang publik yang diinginkan.

Selain itu, Jokowi memberi dorongan. Bahwa nasib bangsa dan negara ini adalah tangung jawab kaum milenial. Sehingga, peluang politik kaum milenial terbuka lebar.

Sebaliknya, Prabowo sebagai penantang. Tidak mampu memberikan itu. Prabowo masih melekat kental semangat konvensional. Ruang publik terstruktur,  penuh dogma, patriarki dan kolot.

Upaya melepaskan diri dari kesan anti milenial tersebut sangat susah dilepaskan Prabowo kendati disandingkan dengan Sandiaga Uno. Rekam jejak Prabowolah,  yang jadi fakto identitifikasi kelompok milenial

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.