Rabu, Maret 3, 2021

Jokowi “Followers” Setia Prabowo

Hidup Mahasiswa, Hidup Aksi Massa!

Jika aksi 98 dipuja-puji dan memuat banyak romantisme. Aksi mahasiswa beberapa hari ini menuai pro dan kontra. Mahasiswa turun ke jalan menolak UU yang...

Nasib Bangsa dan Profesionalitas Guru

Berbicara tentang nasib bangsa tidaklah bisa lepas dari peran guru. Kemajuan bangsa sejatinya adalah hasil dari pendidikan yang bermutu dan sebaliknya. 25 November adalah hari...

Bernatal yang Berempati

Hari-hari ini semarak perayaan Natal mulai terdengar. Di berbagai kota, acara perayaan Natal menyemarak. Hingar bingarnya dapat kita rasakan dari postingan yang dibagikan oleh...

Pak Sandi, Komceko Itu Bukan KPK Loh…

Sandiaga Uno Laporkan 2 Kasus di Era Ahok ke KPK DKI Jakarta. Begitu judul berita banyak media beberapa waktu yang lalu. Awalnya saya berpikir KPK...
Syaiful Rizal
Akademisi dan Penulis Lepas

Istilah ini muncul karena melihat kegelisahan atau ketakutan yang ditakuti memiliki dampak buruk bagi kubu Joko Widodo terkait keputusan atau strategi calon lawannya Prabowo Subianto menjelang pilpres 2019. Kegelisahan-kegelisahan dalam tim pemenangan Jokowi, pada akhirnya akan berdampak pada keputusan-keputusan yang mengejutkan publik.

Beberapa keputusan politik kubu petahana terlihat mengikuti irama kubu lawan dalam melaksanakan strategi untuk pemenangan pada pilpres 2019 mendatang.

Pertama, ketika awal kemunculan tagar #2019gantipresiden yang viral dan menjadi trending topic beberapa pekan di media sosial, akhirnya muncul tandingan beberapa Hastag seperti #DiaSibukKerja dan #Jokowi2Priode di media sosial.

Kemunculan tagar-tagar tersebut ternyata berdampak pada saling menyerang, hujat menghujat di dunia maya dari kubu yang satu dengan yang lainnya. Kemunculan dua tagar ternyata sampai di dunia nyata, puncaknya ketika car free day di ruas jalan Sudirman Thamrin, Jakarta Pusat ,yang berujung persekusi pada salah satu pendukung tagar.

Kedua, ketika pemilihan siapa yang akan menjadi calon wakil presiden? Kubu Prabowo subianto digadang-gadang akan mengikuti rekomendasi hasil ijtima ulama GNPF yang merekomendasikan dua nama cawapres untuk mendampingi Prabowo.

Kedua nama itu ialah Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Salim Segaf Al Jufri dan Abdul Somad. Sampai malam batas akhir pendaftaran capres/cawapres kedua nama santer akan menjadi calon wakil Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2019.

Sedangkan kubu Jokowi terdengan isu santer yang akan mengaet Mahfud MD sebagai calon wakilnya. Publik sangat menunggu deklarasi ini, akan tetapi hanya berselang kurang dari 1 jam dari jadwal deklarasi, nama tersebut hilang dan berubah menjadi KH. Ma’ruf Amin sebagai calon wakilnya.

Diprediksi hal ini dilakukan untuk menandingi keputusan Prabowo untuk menarik simpatisan umat muslim dengan mengandeng dari PKS atau UAS. Kenyataanya detik-detik terakhir Prabowo mengejutkan publik dengan mengandeng dan mendeklarasikan diri dengan Sandiaga Uno yang merupakan wakil gubernur DKI Jakarta yang baru terpilih.

Ketiga, Wakil prabowo yaitu Sandiaga Uno yang merupakan sosok yang muda, pengusaha sukses, dan senang berolahraga, terlihat fresh sebagai sosok pemuda calon pemimpin negeri dan dekat serta berbaur dengan masyarakat.

Terlihat Prabowo menunjuk Sandiaga Uno sebagai wakilnya, karena ingin mengambil celah untuk mengaet para pemilih muda/milennial dan aspek ekonomi yang itu tidak ada di kubu pertahanan.

Tidak mau kalah Jokowi kemudian menunjuk Erik Thohir sebagai ketua tim pemenangan bagi kubu Jokowi-Ma’ruf Amin. Sepertinya hal ini dilakukan untuk menandingi Sandiaga Uno yang sama-sama anak muda yang merepresentasikan kaum millenial, sama-sama pencinta olahraga bahkan Erik diketahui memiliki beberapa klub olahraga baik basket maupun sepak bola.

Strategi pemilihan Erik Thohir untuk menutupi kelemahan pemerintahan Jokowi saat ini, yang lemah dibidang Ekonomi, dengan bersamanya Erik Thohir maka Jokowi memiliki strategi yang sama dengan Prabowo.

Kedua pasang calon memilih mengunakan berbagai cara untuk menunjukkan keunggulan dimasing-masing pasangan. Suguhan yang ditampilkan kedua pasangan sangat bagus untuk demokrasi kita, sehingga publik memiliki berbagai pertimbangan untuk menentukan pilihannya untuk siapa yang berhak untuk memimpin Indonesia 2019-2024.

Semoga persaingan sehat selalu ditunjukkan oleh kedua pasang calon, dengan menunjukkan kelebihan dimasing-masing pasangan. Jangan sampai dirusak dengan cara menjelekkan, berita hoaks, memainkan isu SARA atau kampanye hitam bahkan menghalalkan segala cara untuk memenangkan pilpres 2019.

Syaiful Rizal
Akademisi dan Penulis Lepas
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

Beragama di Era Google, Mencermati Kontradiksi dan Ironi

Review Buku Denny JA, 11 Fakta Era Google: Bergesernya Pemahaman Agama, dari Kebenaran Mutlak Menuju Kekayaan Kultural Milik Bersama, 2021 Fenomena, gejala, dan ekspresi...

Artijo dan Nurhadi di Mahkamah Agung

In Memoriam Artijo Alkostar Di Mahkamah Agung (MA) ada dua tokoh terkenal. Artijo Alkostar, Hakim Agung di Kamar Pidana dan Nurhadi, Sekjen MA. Dua tokoh MA...

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.