Rabu, Oktober 28, 2020

Jokowi dan KUBE Padawangi Garut Produsen Sabun Cair

Merawat Demokrasi dengan Konstitusi

Sebagaimana lzim kita ketahui bersama, bahwa sistem di banyak pemerintahan dunia saat ini sudah bertransformasi dalam bentuk negara demokrasi. Pun dengan Indonesia, pasca era...

Ada Sketsa Di Balik Masterpiece

Di balik setiap mahakarya (masterpiece), selalu ada peran kertas yang melatarbelakangi proses terciptanya. Banyak ilmuwan dan seniman yang memakai kertas kerja  sebagai konsep dalam...

Suara Milenial Menjadi Penentu Kemenangan

Tinggal menghitung hari lagi kita akan merayakan kontestasi pesta politik terbesar di negara ini yaitu Pemilihan Umum (Pemilu). Kontestasi 5 tahunan ini menjadi ajang...

Swedia, Pasca Orde Zlatan

Memang sulit memisahkan Swedia dan Zlatan. Besar kemungkinan anda akan merespon Zlatan Ibrahimovic terlebih dahulu –sebelum menyebut IKEA atau ABBA- , saat saya menyebut...
Abraham Fanggidae
Mantan Birokrat Negara, kini Pengamat Kebijakan Publik, Tinggal di Jakarta Selatan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memborong sabun cair hasil produksi Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Padawangi, di Garut, Provinsi Jawa Barat, menjadi berita viral. Ibu-ibu yang tergabung dalam KUBE Padawangi mimpi apa ya? Kok Jokowi sampai memborong sabun cair seharga Rp 20 ribu per botol tersebut dalam jumlah amat banyak, yakni 100 ribu botol. Jadi, total harga yang harus dibayar Jokowi sebesar Rp 2 miliar kepada Ibu Eli Liawati, ketua KUBE.

Kesepakatan  bisnis sudah oke. Tanda jadi Rp 10 juta sudah diberikan oleh Jokowi kepada Ibu Eli dan kawan-kawan. Ibu-Ibu KUBE Padawangi diyakini sumringah, sumringah sekali. Sudah ada pembeli pasti. Para Ibu yang tergabung dalam KUBE Padawangi akan bekerja keras memproduksi 100 ribu botol. Ibu-ibu KUBE Padawangi berjanji, penyerahan barang pada akhir Februari 2019. Luar biasa.

Koq transaksi sabun cair dipermasalahkan? Bisnis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) bagaimana bisa berkembang? Silahkan bertanya pada KUBE di seluruh Indonesia, apa pun jenis usaha KUBE. Masalah utama paling berat yang dihadapi anggota KUBE adalah pemasaran produk KUBE. Barang tersedia, namun pemasaran sulit. Persaingan pasar yang ketat menjadi menu keseharian. Produk KUBE, dendeng balado misalnya, harus berhadapan dengan penjual dendeng balado lainnya.

Ibu Eli dan kawan-kawan sekelompok dapat pembeli pasti, dari seorang presiden lagi, dengan jumlah pembelian hingga Rp 2 miliaran, koq dianggap konyol oleh tim BPN Prabowo Subianto-Sandiaga S. Uno?  Tim BPN capres dan cawapres nomor 02 mempertanyakan, dari mana dana Rp 2 miliar?

Banyak orang tersesat pikir sesaat. Banyak yang tetiba mengorbankan logikanya sendiri. Seorang presiden belanja miliaran rupiah dipertanyakan orang. Koq bisa ya Jokowi membeli barang berharga miliaran? Presiden bukan seperti saya yang punya tabungan “seupil”. Semoga tim BPN puas mengetahui, sumber dana membayar sabun cair dari TKN Jokowi-Ma’ruf.

Entah apa maksud di balik semua yang bertanya dari tim BPN capres dan cawapres nomor 02. Apakah Jokowi mampu membayar atau membayar menggunakan uang siapa? Uang pribadi atau uang APBN? Menggunakan dana untuk belanja rumah tangga keluarga presiden, atau menggunakan anggaran Istana Negara, anggaran Kementerian Sosial? Atau uang saweran pengusaha, atau uang yang lain?

KUBE, Apakah Itu? 

Pengertian dan eksistensi KUBE diintrodusir oleh Kementerian Sosial (dahulu Departemen Sosial) sejak Orde Baru. KUBE itu sudah lama operasionalnya di NKRI. KUBE tetap eksis dan makin ekspansif hingga kini. KUBE dikenal sejak program pembangunan nasional berencana di Republik Indonesia menggunakan nama Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita).

Dalam garis besarnya, KUBE dapat dijelaskan demikian. KUBE dibentuk untuk membantu warga miskin/rentan secara ekonomis. Inilah wadah warga miskin/rentan ekonomis yang menyatu dalam kelompok usaha bersama yang berada di perdesaan dan kelurahan. Setiap KUBE terdiri dari maksimal 10 orang yang berasal dari keluarga miskin, dan memiliki motivasi kuat untuk berusaha untuk maju. Itulah alasannya, keluarga mampu secara ekonomi tidak bisa menjadi pengurus dan anggota KUBE.

Sebagai kelompok maka KUBE mempunyai kepengurusan. Pengurus KUBE terdiri dari: Ketua, wakli ketua, sekretaris, bendahara, dan lainnya anggota.

Sebagai kelompok maka keputusan apa pun dalam KUBE harus demokratis. KUBE dari, oleh dan untuk 10 anggota KUBE. Keputusan berlangsung secara musyawarah-mufakat. Tak boleh ketua memutuskan sendiri, misalnya tentang jenis usaha KUBE tanpa persetujuan 9 (sembilan) anggota/pengurus lainnya.

KUBE memperoleh bantuan uang tunai dari Kementerian Sosial. Setiap KUBE harus membuat proposal tentang program KUBE. Hanya KUBE yang memiliki program tertulis dalam proposal, memperoleh dana bantuan Rp 20 juta per KUBE. Selain bantuan dana, pemerintah pun menyediakan tenaga pendamping KUBE. Dana untuk modal usaha, sesuai pilihan kelompok. Pendamping KUBE berperan mengarahkan, bukan memutuskan, apalagi memaksa kehendaknya kepada anggota KUBE.

Silahkan mereka mengadakan rapat, menyepakati secara bersama, keputusan bulat, ya keputusan KUBE. Mereka sendiri yang memutuskan jenis usaha, berdasarkan pertimbangan antara lain keterampilan anggota, tersedia bahan mentah/bahan baku, peluang pemasaran. Pendamping memimpin rapat dalam kapasitas mendampingi, mengarahkan, bukan memaksakan kehendak, apalagi memutuskan.

Tujuan pemerintah dengan KUBE, agar KUBE yang masuk katagori UMKM yang pemiliknya warga miskin/rentan ekonomi di perdesaan kelak berhasil memperoleh keuntungan, berkembang dan maju. KUBE berhasil tergantung kepada  kerja keras dan kerja cerdas bersama. KUBE berhasil maka keluarga anggota makin sejahtera. Gizi keluarga makin baik, anak berpeluang sekolah lebih tinggi, bisa merehab rumah anggota, dan lainnya.

KUBE berhasil tidak semata untuk kesejahteraan anggota. KUBE berhasil akan menyisihkan sejumlah dana sosial yang disebut Iuran Kesetiakawanan Sosial (IKS). IKS disisihkan dari penghasilan KUBE tiap bulan, saat KUBE meraup keuntungan.

Berapa jumlah IKS? Sesuai kesepakatan anggota. Keuntungan selain dibagikan kepada anggota, juga digunakan menambah modal ekspansi KUBE. Dana IKS untuk kepentingan anggota dan warga desa di mana KUBE berada. IKS membantu anggota keluarga serta keluarga warga jika sakit, kebutuhan sekolah, sahabat duka. IKS tidak semata membantu kepentingan internal KUBE keluarga, juga menolong sesama.

Politik untuk Kesejahteraan Rakyat

Tim BPN Prabowo-Sandi memahami, tujuan politik untuk menyejahterahkan rakyat. Tujuan politik bukan untuk politik itu sendiri. Terlebih KUBE di mana pemerintah membantu warga miskin agar berusaha, menambah penghasilan. Kegiatan KUBE itu produktif, memberdayakan masyarakat miskin. KUBE mengeliminasi kemiskinan.

Kubu 01 dan kubu 02 hadir dalam kompetisi untuk merebut kursi di Istana Negara, jika menang, kemenangan itu untuk keluarga tim sukses? Tidak begitu. Kalau kelompok Anda seperti itu, maka tim Anda itu bukan dinominasikan sebagai pemimpin negara, tapi Anda dan tim hanya mencari peluang berkuasa lalu menggerus kekayaan negara untuk kepentingan keluarga besar tim sukses. Siapa yang mau memilih capres dan cawapres yang tidak berpihak rakyat, menyejahterahkan rakyat?

Presiden dan wakil presiden beserta seluruh aparatur negara hadir dan bekerja keras untuk menyejahterahkan rakyat, bukan hadir untuk menyejahterahkan golongan atau keluarga sendiri. No way.

Pemerintah sudah membentuk KUBE dengan anggota KUBE warga miskin yang diwakili para isteri keluarga miskin melalui Program Keluarga Harapan. Seharusnya tim BPN mendukung warga miskin yang sedang berdarah-darah berusaha membuat sabun cair untuk dijual. Jangan mengatakan perbuatan Jokowi “konyol” beli sabun cair senilai Rp 2 miliar. Uangnya dari mana? Tim BPN capres dan cawapres nomor 02 seharusnya bangga Jokowi membeli produk sabun cair dengan nilai fantastis.

Sehingga pengurus dan anggota KUBE Padawangi tidak berdarah-darah mencari pembeli, dan untung, bisa sejahtera. Ayo tim BPN 02, baliklah ke Garut atau kunj KUBE di seantero NKRI. Pesan, borong, bayar produk KUBE, produk keluarga miskin.

ABRAHAM FANGGIDAE, Magister Kesejahteraan Sosial.

Abraham Fanggidae
Mantan Birokrat Negara, kini Pengamat Kebijakan Publik, Tinggal di Jakarta Selatan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.