Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Joker dan Standar Kenormalan Ala Foucault

Budaya dan Agama Kemanusiaan

Belakangan ini banyak ajakan hijrah, dari terbuka menuju tertutup, baik itu pakaian maupun pikiran. Doktrin-doktrin yang tak mampu membedakan antara agama dan budaya berkeliaran,...

Theologia Kemakmuran Ajaran Praktis Tentang Sukses Tapi Salah 1

Merupakan gambaran tentang teologi kemakmuran, yang ingin mengedepankan kesuksesan dan kemakmuran di dunia ini, seperti: relasi sesama yang baik, keluarga yang baik, punya harga...

Menuju Pemilu 2019 yang Berkualitas

Dewasa ini ruang publik tanah air banyak diisi oleh riuh intrik kontestasi politik yang dipertontonkan, khususnya oleh kedua belah pihak yang akan bertarung pada...

#UninstallGojek dan Kesempatan yang Hilang

LGBT. Empat huruf ini selalu, secara tidak perlu, menjadi topik yang panas – dan Go-Jek beberapa waktu lalu terpapar suhu yang tinggi dari empat...
bagusryd
Seorang mahasiswa yang suka bercerita.

Jauh sebelum film Joker (2019) yang turut menyisipkan pesan tentang kegilaan muncul di layar lebar, Foucault telah merumuskan filsafatnya tentang kegilaan. Dalam buku-bukunya Foucault selalu mengaitkan isu kegilaan dengan hegemoni pengetahuan tentang standar kenormalan.

Menurutnya, kegilaan hanyalah persepsi manusia yang dibentuk oleh pengetahuan tentang sesuatu yang normal. Seseorang dipersepsikan menjadi gila tatkala dia melampaui ambang batas kenormalan yang dikonstruksi oleh norma-norma pengetahuan manusia.

Dengan kata lain dapat kita katakan bahwa kegilaan sebetulnya hanyalah masalah persepsi manusia yang dikonstruksi oleh pengetahuan. Karena bagi orang yang “dianggap” gila, mungkin ia merasa ia tidak gila. Perlakuan lingkungan terhadap dia yang menjadikan dia “dianggap” gila.

“The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t” ~Arthur Fleck

Kalimat itulah yang ditulis oleh Arthur Fleck di dalam jurnalnya ketika ia menghadapi situasi dimana ia dianggap gila setelah tertawa terbahak-bahak di dalam bus kota. Sontak saja seluruh penumpang bus kota menganggapnya gila. Padahal, menurut Arthur mungkin saja hal itu memang benar-benar hal yang menggelikan. Namun norma-norma yang diciptakan oleh masyarakat telah mengkonstruksi bahwa ada kondisi sosial tertentu yang bisa dianggap komedi, dan ada kondisi dimana sesuatu hal tidak pantas untuk ditertawakan.

Apalagi tertawa terbahak-bahak di dalam bus kota yang mana itu adalah tempat publik, adalah suatu tindakan yang tidak pantas untuk dilakukan manusia normal. Namun bagi Arthur mungkin, norma-norma yang dikonstruksi masyarakat itulah yang justru membuatnya dianggap gila. Artinya, Arthur menjadi gila karena masyarakat menganggapnya seorang yang gila.

Masyarakat memang memiliki struktur yang kompleks, mereka mengkonstruksi standar kenormalan untuk mengklasifikasikan suatu yang normal dan tidak normal, dan juga memiliki instrumen untuk memberikan perlakukan bagi mereka yang dianggap tidak normal.

Keberadaan instrumen ini yang kemudian memapankan norma-norma kenormalan di dalam masyarakat. Keberadaan rumah sakit jiwa misalnya, semakin memapankan persepsi tentang kegilaan. Mereka yang ada di dalam rumah sakit jiwa diberikan serangkaian perlakukan yang memaksa mereka mematuhi norma-norma kenormalan itu.

Ada satu lagi yang unik dalam film ini, dimana Joker mengatakan komedi adalah sesuatu yang subjektif, “Komedi itu subjektif, Murray. Benarkah itu yang mereka katakan? Kalian semua, sistem yang paling tahu banyak, kalianlah yang memutuskan apa yang benar dan salah. Sama halnya dengan caramu memutuskan apa yang lucu dan tidak”.

Kalimat itu dapat kita maknai bahwa standar kenormalan juga telah ikut campur dalam membentuk persepsi kita tentang komedi. Dapat kita bayangkan bahwa kekuasaan pengetahuan bahkan dapat mengkonstruksi hal yang seringkali spontan dilakukan, komedi.

Padahal jika dimaknai dalam sudut pandang Joker misalnya, komedi tidak seharusnya mengikuti standar kenormalan masyarakat. Komedi adalah hal privat yang penilaiannya subjektif, sesuatu yang kita anggap lucu bisa jadi bagi orang lain tidak lucu, sebaliknya sesuatu yang tidak lucu sama sekali jika kita membebaskan persepsi kita tentang “kenormalan komedi” bisa saja menjadi lucu.

Menurut Joker mungkin, aneh sekali masyarakat justru bertindak dengan tuntutan norma kenormalan yang mereka konstruksi sendiri. Mereka juga memaksa Joker untuk mematuhi standar kenormalan itu, padahal bisa sajaia tidak tumbuh dan ikut menciptakan standar kenormalan tersebut.

Perlu diingat bahwa saya tidak menulis ini agar pembaca bertindak layaknya Joker yang melampaui standar kenormalan masyarakat. Saya hanya membedah beroperasinya kekuasaan pengetahuan yang dapat menggolongkan orang yang dianggap normal dan tidak normal, bahkan menggolongkan komedi yang dianggap lucu dan tidak lucu.

Kita tidak harus menghancurkan standar kenormalan tersebut, berusaha lepas dari hegemoni pengetahuan adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Bahkan ketika kita yakin standar kenormalan adalah persepsi, sehingga kita berupaya untuk mendobrak itu, sebetulnya kita juga telah dikuasai oleh rezim pengetahuan baru.

Selamanya kita tidak akan dapat lepas dari hegemoni pengetahuan, kita hidup dalam kondisi terpaksa untuk memilih untuk dihegemoni pengetahuan yang satu, atau yang lainnya. Kita hanya perlu untuk memilih menjalani kehidupan dibawah hegemoni pengetahuan yang secara etika kita anggap baik.

Sisi positif lain yang ditampilkan dalam film Joker adalah perlu diakui bahwa film ini telah memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang mentall illnes. Suatu isu yang sebelumnya mungkin dianggap remeh oleh masyarakat. Film ini setidaknya memberikan perspektif baru kepada masyarakat tentang seseorang yang “dianggap” gila. Bahwa “gila” sebenarnya diciptakan oleh kita sendiri, bukan diciptakan oleh orang yang “kita anggap” gila.

Kegilaan bukanah suatu penyakit yang harus dihindari. Semakin masyarakat menghindari seseorang dengan mental illnes, maka hal itu akan membuat orang yang “dianggap” gila menjadi semakin yakin bahwa dirinya gila, dan bertindak layaknya “orang gila”.

Maka sebaliknya, film ini mengingatkan kepada kita untuk tidak berperilaku berlebihan kepada seseorang dengan gangguan jiwa. Asumsinya adalah dia tidak memiliki pilihan untuk menjadi gila, namun kita sendiri yang telah menjadikan dia layaknya orang gila, sehingga dia menjadi gila.

Semoga saja dengan rilisnya film ini, masyarakat tidak hanya terdistrak dengan fenomena sebagian orang yang menganggap Joker sebagai berhala baru sekedar untuk merefleksikan sakitnya putus cinta. Lebih jauh dari itu, film ini mengandung berbagai pesan yang harusnya dimaknai secara serius.

bagusryd
Seorang mahasiswa yang suka bercerita.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.