Kamis, Maret 4, 2021

Joker dan Standar Kenormalan Ala Foucault

Catatan dari Harvard, Harapan Siswa Labschool Jakarta

Sebanyak 10 (sepuluh) orang siswa SMA Labschool Jakarta, berkesempatan mengunjungi kampus tertua dan ternama di Amerika Serikat, yakni Universitas Harvard di Boston, negara bagian...

Masa Depan Program BBM Satu Harga

Masa Depan Program BBM Satu HargaKabar mengenai kerugian Pertamina sebesar Rp 12 Triliun pada semester pertama Tahun 2017 ini menimbulkan pertanyaan: bagaimanakah kelanjutan program...

Setelah ‘Penjaga Pancasila’ Itu Pamit

“Setiap kalimat yang meluncur dari bibirnya tertata rapi, punya daya magis, dan mengandung makna mendalam. Apalagi kalau bicara soal ideologi bangsa, Pancasila. Nyaris tak...

Dilema Kasus Pelecehan Seksual yang Semakin Marak Terjadi

Dengan kondisi yang demikian, saat ini, terjadi banyak kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dapat merugikan pihak-pihak tertentu, terutama perempuan. Melalui data dari CATAHU...
bagusryd
Seorang mahasiswa yang suka bercerita.

Jauh sebelum film Joker (2019) yang turut menyisipkan pesan tentang kegilaan muncul di layar lebar, Foucault telah merumuskan filsafatnya tentang kegilaan. Dalam buku-bukunya Foucault selalu mengaitkan isu kegilaan dengan hegemoni pengetahuan tentang standar kenormalan.

Menurutnya, kegilaan hanyalah persepsi manusia yang dibentuk oleh pengetahuan tentang sesuatu yang normal. Seseorang dipersepsikan menjadi gila tatkala dia melampaui ambang batas kenormalan yang dikonstruksi oleh norma-norma pengetahuan manusia.

Dengan kata lain dapat kita katakan bahwa kegilaan sebetulnya hanyalah masalah persepsi manusia yang dikonstruksi oleh pengetahuan. Karena bagi orang yang “dianggap” gila, mungkin ia merasa ia tidak gila. Perlakuan lingkungan terhadap dia yang menjadikan dia “dianggap” gila.

“The worst part of having a mental illness is people expect you to behave as if you don’t” ~Arthur Fleck

Kalimat itulah yang ditulis oleh Arthur Fleck di dalam jurnalnya ketika ia menghadapi situasi dimana ia dianggap gila setelah tertawa terbahak-bahak di dalam bus kota. Sontak saja seluruh penumpang bus kota menganggapnya gila. Padahal, menurut Arthur mungkin saja hal itu memang benar-benar hal yang menggelikan. Namun norma-norma yang diciptakan oleh masyarakat telah mengkonstruksi bahwa ada kondisi sosial tertentu yang bisa dianggap komedi, dan ada kondisi dimana sesuatu hal tidak pantas untuk ditertawakan.

Apalagi tertawa terbahak-bahak di dalam bus kota yang mana itu adalah tempat publik, adalah suatu tindakan yang tidak pantas untuk dilakukan manusia normal. Namun bagi Arthur mungkin, norma-norma yang dikonstruksi masyarakat itulah yang justru membuatnya dianggap gila. Artinya, Arthur menjadi gila karena masyarakat menganggapnya seorang yang gila.

Masyarakat memang memiliki struktur yang kompleks, mereka mengkonstruksi standar kenormalan untuk mengklasifikasikan suatu yang normal dan tidak normal, dan juga memiliki instrumen untuk memberikan perlakukan bagi mereka yang dianggap tidak normal.

Keberadaan instrumen ini yang kemudian memapankan norma-norma kenormalan di dalam masyarakat. Keberadaan rumah sakit jiwa misalnya, semakin memapankan persepsi tentang kegilaan. Mereka yang ada di dalam rumah sakit jiwa diberikan serangkaian perlakukan yang memaksa mereka mematuhi norma-norma kenormalan itu.

Ada satu lagi yang unik dalam film ini, dimana Joker mengatakan komedi adalah sesuatu yang subjektif, “Komedi itu subjektif, Murray. Benarkah itu yang mereka katakan? Kalian semua, sistem yang paling tahu banyak, kalianlah yang memutuskan apa yang benar dan salah. Sama halnya dengan caramu memutuskan apa yang lucu dan tidak”.

Kalimat itu dapat kita maknai bahwa standar kenormalan juga telah ikut campur dalam membentuk persepsi kita tentang komedi. Dapat kita bayangkan bahwa kekuasaan pengetahuan bahkan dapat mengkonstruksi hal yang seringkali spontan dilakukan, komedi.

Padahal jika dimaknai dalam sudut pandang Joker misalnya, komedi tidak seharusnya mengikuti standar kenormalan masyarakat. Komedi adalah hal privat yang penilaiannya subjektif, sesuatu yang kita anggap lucu bisa jadi bagi orang lain tidak lucu, sebaliknya sesuatu yang tidak lucu sama sekali jika kita membebaskan persepsi kita tentang “kenormalan komedi” bisa saja menjadi lucu.

Menurut Joker mungkin, aneh sekali masyarakat justru bertindak dengan tuntutan norma kenormalan yang mereka konstruksi sendiri. Mereka juga memaksa Joker untuk mematuhi standar kenormalan itu, padahal bisa sajaia tidak tumbuh dan ikut menciptakan standar kenormalan tersebut.

Perlu diingat bahwa saya tidak menulis ini agar pembaca bertindak layaknya Joker yang melampaui standar kenormalan masyarakat. Saya hanya membedah beroperasinya kekuasaan pengetahuan yang dapat menggolongkan orang yang dianggap normal dan tidak normal, bahkan menggolongkan komedi yang dianggap lucu dan tidak lucu.

Kita tidak harus menghancurkan standar kenormalan tersebut, berusaha lepas dari hegemoni pengetahuan adalah hal yang tidak mungkin dilakukan. Bahkan ketika kita yakin standar kenormalan adalah persepsi, sehingga kita berupaya untuk mendobrak itu, sebetulnya kita juga telah dikuasai oleh rezim pengetahuan baru.

Selamanya kita tidak akan dapat lepas dari hegemoni pengetahuan, kita hidup dalam kondisi terpaksa untuk memilih untuk dihegemoni pengetahuan yang satu, atau yang lainnya. Kita hanya perlu untuk memilih menjalani kehidupan dibawah hegemoni pengetahuan yang secara etika kita anggap baik.

Sisi positif lain yang ditampilkan dalam film Joker adalah perlu diakui bahwa film ini telah memberikan penyadaran kepada masyarakat tentang mentall illnes. Suatu isu yang sebelumnya mungkin dianggap remeh oleh masyarakat. Film ini setidaknya memberikan perspektif baru kepada masyarakat tentang seseorang yang “dianggap” gila. Bahwa “gila” sebenarnya diciptakan oleh kita sendiri, bukan diciptakan oleh orang yang “kita anggap” gila.

Kegilaan bukanah suatu penyakit yang harus dihindari. Semakin masyarakat menghindari seseorang dengan mental illnes, maka hal itu akan membuat orang yang “dianggap” gila menjadi semakin yakin bahwa dirinya gila, dan bertindak layaknya “orang gila”.

Maka sebaliknya, film ini mengingatkan kepada kita untuk tidak berperilaku berlebihan kepada seseorang dengan gangguan jiwa. Asumsinya adalah dia tidak memiliki pilihan untuk menjadi gila, namun kita sendiri yang telah menjadikan dia layaknya orang gila, sehingga dia menjadi gila.

Semoga saja dengan rilisnya film ini, masyarakat tidak hanya terdistrak dengan fenomena sebagian orang yang menganggap Joker sebagai berhala baru sekedar untuk merefleksikan sakitnya putus cinta. Lebih jauh dari itu, film ini mengandung berbagai pesan yang harusnya dimaknai secara serius.

bagusryd
Seorang mahasiswa yang suka bercerita.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.