Senin, April 12, 2021

Johnny English: Kekonyolan yang di Eksploitasi

Anime Terbaru Bulan April yang Cocok Buat Kamu

Hai animelovers, kamu sudah tunggu tunggu Anime terbaru yang bakal dirilis bulan April ini? Yuk lihat judul anime ongoing yang bakal bikin kita sulit...

Makan Siang Buruh dan Kerja Petani

Buruh selalu dalam posisi subordinat pada kebijakan yang terkait dengan dirinya sendiri. Terbaru, beberapa serikat buruh di Ibu Kota menolak upah murah rezim gubernur...

Transportasi Online dan Indeks Kesejahteraan

Dari Data Sosial Ekonomi Agustus 2017 yang diturunkan BPS menunjukkan bahwa rasio ketergantungan penduduk Indonesia merendah. Artinya beban kelompok usia produktif berkurang dalam menanggung...

Modal Elektabilitas Jokowi dan Prabowo, Penting?

Walaupun pendaftaran calon presiden dan wakilnya dilaksanakan pada tanggal 4 sampai dengan 10 agustus 2018. Langkah-langkah sosialisasi politik dalam rangka meningkatkan elektabilitas dan popularitas...
Farika Maula
I'm journalist based on Jogja

Rowan Atkinson sang maestro komedi kembali hadir dengan karakter usil dan konyol di layar bioskop tahun ini. Sejak awal kemunculannya di layar kaca sebagai tokoh Mr. Bean ia dikenal dapat menampilkan kekonyolannya melalui tingkah lakunya, bahkan tanpa dialog.

Setelah sebelumnya Atkinson berhasil berperan dengan adegan slapstick, komedi fisik yang biasanya mengandalkan kelucuan gerak adegan. Tahun ini tanpa menghilangkan gaya khasnya dalam film Johnny English (2003) dan Johnny English Reborn (2011), ia kembali dengan Johnny English Strikes Again.

Tingkah Atkinson sebagai agen rahasia atau mata-mata dalam film ini tidak banyak berubah dari film-film sebelumnya, ia tampil konsisten dengan keanehan, kekonyolan, kegilaan sampai kebodohannya yang dipertahankan dan pastinya tetap didominasi dengan kejenakaan khas Atkinson yang mampu mengocok perut para penggemar setianya.

Meskipun plot yang disajikan sangat klise dan cenderung sama dengan film-film sebelumnya, sejatinya itu bukan masalah. Alih-alih membuat plot yang berbeda, David Kerr sang sutradara justru mempertahankan parodi spionase ala film James Bond yang didominasi dengan keanehan dan kebodohan sang agen rahasia untuk menyelamatkan negaranya dari serangan musuh.

Eksploitasi dalam Industri Film

Film ketiga dari seri Johnny English ini menampilkan English sebagai agen MI7 yang telah bekerja 15 tahun dan sedang menikmati masa pensiunnya dengan menjadi guru di sebuah sekolah dasar.

Dalam film ini, English kembali ditemani oleh Bough yang dimainkan oleh Ben Miller untuk menyelidiki kasus peretasan teknologi yang dilakukan pihak misterius sehingga mengakibatkan kekacauan di Inggris. Sifatnya yang egois, sok tau, konyol, jenaka, berbuat seenaknya, dan selalu menjadi sumber masalah merupakan ciri khas English yang dieksploitasi dalam industri film.

Eksploitasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pengusahaan, pendayagunaan, atau pemanfaatan untuk keuntungan sendiri. Dengan kata lain, pemerasan (tenaga orang) atas diri orang lain merupakan tindakan yang tidak terpuji.

Beberapa kekonyolan yang terjadi di film ini sangat kental khas English sebagai agen rahasia yang menonjolkan humor slaptisck. Mulai dari mengajarkan murid-muridnya menjadi seorang mata-mata, minimnya pengetahuan teknologi alias gaptek, adegan salah meminum obat tidur sehingga membuatnya hyperactive, membuat kekacauan di kapal dengan menyamar sebagai koki, menggunakan teknologi VR di tempat umum sehingga membuat kekacauan, tercebur di dalam laut saat memergoki musuhnya, dan beberapa kekonyolan lainnya yang sengaja  ditonjolkan dalam film tersebut.

Kekonyolan yang diciptakannya mengundang daya tarik industri film dalam hal ini Universal Pictures untuk mendapatkan keuntungan yang besar dalam film tersebut. Industri film yang mengeksploitasi kekonyolan Atkinson merupakan pemanfaatan berlebihan kepentingan ekonomi tanpa mempertimbangkan rasa kepatutan, keadilan serta kompensasi kesejahteraan.

Eksploitasi dalam film ini, teridentifikasi melalui beberapa scene yang menampilkan kekonyolan English yang dibentuk atau dikonstruksi sesuai selera pasar. Latar belakang Atkinson sebagai maestro komedi berpotensi untuk dieksploitasi karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi dalam industri film.

Farika Maula
I'm journalist based on Jogja
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.