Sabtu, Oktober 31, 2020

Jenderal Merah, Jenderal Hijau, dan Jenderal Merah Putih

Cloud Computing dan Kesiapan Infrastruktur Telekomunikasi

Beberapa dasawarsa terakhir, teknologi informasi berkembang sedemikian cepat seiring meningkatnya jumlah penduduk. Kebutuhan tersebut didasari oleh semakin tingginya mobilitas manusia sehingga membutuhkan akses informasi...

Bedebah Bernama Kapitalisme: Akar Masalah Ekspolitasi ABK

Cita-cita Marx untuk mewujudkan periode sejarah yang diimpikannya yaitu periode diktator proletariat tidak terjadi. Dunia kita sekarang tetap berada pada periode ke-empat versi Marx:...

Kado Manis Awal Tahun, Kapitalisasi Hak Atas Tanah di Kampong Riwang

Tadinya aku pengin bilang, aku butuh rumah Tapi lantas kuganti dengan kalimat : setiap orang butuh tanah Ingat : setiap orang! - Wiji Thukul pada Tentang Sebuah...

Wewe Gombel Era Sekarang

Sejarah menyebutkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia. Revolusi generasi pertama telah membuat peralihan tenaga manusia dan hewan yang tergantikan dengan...
Raden Fatah
Orang kampung dipinggiran sungai Indonesia

LB Moerdani, Ali Moertopo dan Sudomo adalah 3 sekawan yang menjadi operator politik Soeharto yang paling ganas. Mereka sering dikelompokan dalam “jenderal-jenderal merah”. Di awal-awal kekuasaan Soeharto, mereka bersama-sama Soeharto menumpas musuh bersama.

Ekstrem kanan yaitu kelompok fundamentalis Islam dan ekstrem kiri komunisme. Tahun 1965 sampai 1970 mereka menumpas komunisme. Tahun 1970 sampai akhir 1980 mereka menumpas ekstrem kanan, yaitu kelompok Islam.

Hebatnya, di saat menumpas komunisme mereka menggunakan kekuatan kelompok Islam, terutama NU. Setelah komunisme wafat, Soeharto dan jendralnya ini mulai menggilas kelompok Islam. Tokoh-tokoh Islam dan tentara yang “bandel”, dikelompokkan di dalam Petisi 50. Partai Islam dijadikan satu di dalam PPP.

Tokoh-tokoh Islam Masyumi dll, dilarang berpolitik. Lambat laun LB Moerdani menjadi kuat dengan menguasai ABRI. Loyalitas perwira ABRI terhadap LB Moerdani tak dipungkiri lagi. LB Moerdani mulai “berani’ dengan Soeharto.

Dia berani mengutarakan kekesalannya atas bisnis keluarga anak-anak Soeharto. Soeharto melihat ini bukan sebagai kritik tapi sebagai ancaman. Soeharto mulai memecah kekuatan LB Moerdani dengan mendekati kelompok Islam, baik di tubuh ABRI atau Sipil.

Sebagai hukuman, Soeharto mulai merangkul Habibie dan membentuk organisasi cendekiawan muslim, ICMI. Banyak proyek yang tadinya dikuasai militer diserahkan ke Habibie. Walhasil, Habibie dan ICMI tidak disenangi tentara saat itu. Di militer, Soeharto mulai membersihkan siapa saja pengikut Moerdani.

Awal Th 1993 Soeharto mengganti Edi Sudrajat yang baru 3 bulan menjabat, digantikan Faesal Tanjung. Hartono menjadi KSAD. Pengangkatan keduanya dipandang sebagai perubahan sikap Soeharto terhadap Islam.

Faesal Tanjung dan Hartono adalah dua jenderal dari latar belakang santri, yang selama ini disingkirkan di masa Moerdani. Mereka disebut “jendral-jendral hijau”. Ironisnya yang disingkirkan inilah yang dipakai Soeharto memimpin ABRI. Dengan kata lain, kelompok yang dipakai memukul Moerdani adalah kelompok “ciptaan” Moerdani sendiri.

Sudah menjadi politik Soeharto, tidak ada yang bisa tumbuh sendiri tanpa penyeimbang. Saat mempromosikan jendral hijau, Soeharto juga mempromosikan “jendral-jendral merah putih”, seperti AM, Hendropriyono, Wiranto dan SBY menduduki posisi strategis di militer.

Puncak dari politik Soeharto terhadap tentara adalah pergantian Pangab dari Moerdani ke Try Soetrisno, th 1988. Walau dituduh berkali-kali LB. Moerdani akan melakukan Kudeta, tapi sampai masa jabatannya tidak terbukti.

Jenderal-jenderal merah, hijau dan merah putih adalah bentuk politik Soeharto di dalam tubuh tentara. Soeharto sudah tahu ada intrik di tubuh tentara, tapi membiarkannya. Sekarang, Soeharto sudah memiliki kendaraan baru untuk melanggengkan kekuasaannya, yaitu ICMI.

Di tubuh tentara dia sudah berhasil menyingkirkan hegemoni LB Moerdani. Sayangnya, Soeharto tidak memperhitungkan Gus Dur. Gus Dur jeli melihat politik Soeharto. Untuk menyeimbangi ICMI, th 1991 Gus Dur membentuk Forum Demokrasi, organisasi pluralisme dan demokrasi.

Ketenaran dan pengaruh Gus Dur membuat organisasi ini mendapat kepercayaan publik. Gus Dur susah dibungkam karena mempunyai basis masa NU. Soeharto tidak senang dengan organisasi ini.

Menjelang pemilu 1992, banyak pertemuan Forum Demokrasi yang dibubarkan. Soeharto pernah mengirim Prabowo untuk membawa pesan kepada Gus Dur. Prabowo mengingatkan Gus Dur agar tidak turut campur urusan politik, dan menyetujui dipilihnya Soeharto kembali. Tapi, Gus Dur mbalelo.

Forum Demokrasi adalah salah satu cikal bakal reformasi 98 tumbangnya kekuasaan Soeharto. Jendral hijau inilah yang digunakan Seoharto untuk menculik aktivis 98. Dewan Kehormatan Perwira (isinya rata-rata jendral merah putih) memvonis Prabowo bersalah dan memecatnya.

Prabowo sendiri merasa dikhianati keluarga Cendana. Sedangkan keluarga Cendana beranggapan Prabowo yang mengkhianati mereka. Jenderal merah, hijau dan merah putih hanya intrik politik Soeharto untuk melanggengkan kekuasaannya. Beruntunglah sekarang TNI kita sangat sukses mereformasi dirinya, menuju TNI yang profesional, menuju cita-cita Jendral Besar Soedirman.

Raden Fatah
Orang kampung dipinggiran sungai Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.