Jumat, Oktober 30, 2020

Jenazah COVID-19 dan Infeksi Kepanikan Massa

OSS Saja Tidak Cukup

Di banyak kesempatan Presiden Jokowi telah menegaskan bahwa ia menghendaki adanya perbaikan iklim usaha di Indonesia. Tujuannya jelas, yaitu peningkatan investasi yang diharapkan menggerakkan...

Covid-19: Mudik Versus Pulang Kampung

Virus Corona, COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan sangat cepat...

Apresiasi Puan Maharani atas BEC sebagai Etalase Seni

BEC merupakan salah satu bentuk etalase seni yang patut mendapat apresiasi (Puan Maharani)Menampilkan ragam kebudayaan lokal selalu merupakan hal yang membahagiakan. Pertama, sebab setiap lokal...

Ormas Islam “Post-Truth” dan Reformasi yang Belum Selesai

Senjakala kekuasaan Orde Baru, tepatnya tahun 1993, Presiden Soeharto terlihat mengambil kebijakan politik yang lebih lunak terhadap kalangan Islam. Meski Soeharto saat itu membentuk...
Ega Prakarsa
Alumni Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia. Tertarik pada beragam isu sosial dan pendidikan

Kasus COVID-19 di Indonesia menyentuh angka 4.241 kasus (tercatat pada 12 April 2020). Sebanyak 359 pasien berhasil sembuh, sementara 373 orang dinyatakan meninggal (Indozone.id). Melihat perkembangan kasus COVID-19 di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan peningkatan eksponensial yang sangat tajam dari waktu ke waktu.

Tingginya angka penularan virus juga mewabah menjadi kekhawatiran yang tidak bisa dihindari. Akibatnya, berbagai kekhawatiran massa pun terjadi di berbagai daerah. Dari mulai penolakan terhadap warga negara Indonesia yang pulang dari China awal Februari lalu, hingga akhir pekan ini terjadi penolakan terhadap jenazah pasien COVID-19.

Penolakan jenazah positif COVID-19 terjadi di Banyumas Jawa Tengah. Warga membunyikan kentungan hingga melempar batu agar pemakaman tersebut dibatalkan. Di Lampung, spanduk besar bertuliskan penolakan warga sekitar terpasang di area pemakaman.

Di Gowa Sulawesi Selatan, penolakan pemakaman justru diakhiri dengan kericuhan. Di Kabupaten Sidoarjo, proses pemakaman jenazah tidak dapat dilakukan karena penggali kubur menolak untuk melakukan pemakaman karena takut tertular virus (kompas).

Hal ini tentu saja menjadi catatan baru bahwa masyarakat belum mampu melihat beragam kasus COVID-19 ini dengan mengedepankan sikap sosial yang baik. Alih-alih memberikan empati terhadap keluarga korban meninggal akibat virus ini, masyarakat malah memberikan penolakan keras seolah-olah korban adalah pelaku kejahatan yang tidak bisa dimaafkan.

Naluri Altruisme

Pada dasarnya, masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang ramah, mempunyai solidaritas sosial yang kuat dan nasionalisme yang tinggi. Akan tetapi kenyataannya, sikap-sikap tersebut tidak menjadi potensi besar dalam menghadapi tantangan pandemi kali ini. Beragam penolakan terhadap jenazah COVID-19 merupakan negasi dari solidaritas sosial masyarakat kita.

Beragamnya identitas sosial seperti agama, ras, suku bangsa, bahasa dan lain sebagainya, sebenarnya sudah memberikan panduan bagaimana melaksanakan kehidupan bermasyarakat hingga pada hal-hal yang paling teknis seperti menanggapi kematian, bersikap pada jenazah dan keluarga yang berkabung.

Pedoman itu terbentuk menjadi suatu jalinan moral. Jalinan moral memberikan kekuatan pada tatanan sosial agar masyarakat senantiasa hidup berdampingan dalam berbagai perbedaan.

Esensi murni dari moral adalah sesuatu yang kita harapkan orang lain melakukannya (Boyd, 2015). Apabila definisi ini dipakai oleh semua orang, maka tentu saja penolakan terhadap jenazah COVID-19 merupakan sesuatu yang tidak bermoral (amoral). Mengucilkan keluarga korban COVID-19 juga merupakan sikap amoral. Kemampuan untuk meresapi moral dalam kehidupan bermasyarakat oleh tiap individu akan membentuk empati sosial yang besar terhadap bencana kemasyarakatan.

Clifford Geertz salah seorang peneliti yang secara konsisten tertarik pada tatanan masyarakat Indonesia pernah berkomentar secara melankolis setelah terjadi bencana tsunami 2004.

Bahwa setiap orang dapat memperluas wawasan akan substansi tentang kematian bukan hanya seremonial duka cita kita terhadap dunia yang sebentar lagi akan hilang, akan tetapi juga tentang perasaan kita sebagai bagian dari komunitas moral yang lebih luas, yang keberadaannya dimanifestasikan melalui belas kasih kepada para korban (Fassin, 2011).

Melalui komentar ini, Geertz ingin menunjukkan bahwa sebesar apapun bencana yang menimpa suatu masyarakat, tidak boleh mengikis habis altruisme, empati dan moral kita sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat.

Akan tetapi bagaimana pun juga, sikap empati ini bukan tanpa tantangan. Dalam menyikapi COVID-19 orang-orang berusaha mengkalkulasikan secara selektif apa untung-ruginya bagi mereka. Dengan bayang-bayang kekhawatiran terinfeksi virus COVID-19 yang ganas, kekhawatiran kondisi ekonomi, pendapatan usaha yang tiap hari semakin turun, persediaan yang mulai menipis adalah indikator-indikator yang membuat kita lupa akan moral, sehingga kita lebih bersikap irasional dan nirlogika.

Padahal sebenarnya, moral dan empati sosial sudah terbentuk dalam anatomi tubuh manusia secara biologis. Otak dan saraf manusia telah berjalin kelindan membentuk kumpulan social neuroscience. Suatu jalinan saraf yang memfasilitasi manusia untuk berbelas kasih terhadap keadaan sosialnya. (Goleman, 2018)

Perasaan khawatir adalah naluri yang lumrah. Akan tetapi dalam konteks massa, kondisi kepanikan terbentuk melalui persepsi atau perasaan orang yang terjerat pada ketidakberdayaan kolektif dan keterasingan individu dalam situasi darurat (Mawson, 2007).

Reaksi alamiah seseorang terhadap bahaya umumnya ditandai melalui sikap anti-sosial dan penjagaan diri (self-preservative).Tetapi ketika berkelompok, pengendali utama seseorang adalah sikap untuk berafiliasi tehadap kelompoknya. Berafiliasi untuk melawan bahaya adalah respon primitif dari umat manusia yang telah terbentuk dalam proses sejarah yang panjang.

Dalam kasus penolakan jenazah COVID-19 ini, rendahnya informasi yang diterima masyarakat tentang penyebaran virus beserta bahayanya tidak bersifat komprehensif. Kumpulan individu dalam masyarakat yang miskin informasi, akan mudah diprovokasi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Menguatkan Kembali Lembaga Masyarakat

Menyikapi serius beragam penolakan terhadap pemakaman jenazah COVID-19 adalah dengan kembali mengingatkan moralitas publik dan empati sosial secara konsisten terus menerus. Langkah terbaik yang dapat dilakukan adalah penguatan sosialisasi melalui berbagai lembaga; lembaga agama, kesehatan, pendidikan hingga media harus saling sepakat satu suara.

Seharusnya tiap-tiap lembaga saling menguatkan satu sama lain dengan bersikap tidak saling bertentangan. Karena pertentangan informasi antar lembaga dapat menimbulkan distorsi informasi yang menyebabkan keresahan publik semakin tinggi bahkan hal paling berbahaya adalah ketidakpercayaan publik terhadap lembaga tersebut. Keajegan informasi, dan konsitensi informasi yang sahih juga turut memperkecil provokasi yang mungkin ditimbulkan oleh oknum yang mengambil keuntungan dari kasus ini.

Pada akhirnya beragam kepanikan yang terjadi di masyarakat berakar pada kekhawatiran mereka terhadap segala sesuatu terkait dengan COVID-19, Maka jawab kekhawatiran masyarakat itu dengan manajemen informasi yang baik serta beragam kabar baik yang dicapai oleh lembaga masyarakat dalam menanggulangi pandemi ini.

Sumber :

Natalie Boyd. 2015. Why Be Moral? Sociological, Psychlogical & Theological Reasoning. Diakses dari www.study.com

Didier Fassin. 2011. Morals and Moralities: A Critical Perspective from The Social Science. Diakses dari www.ias.edu/

Goleman, Daniel 2018. Social Intelligence: Ilmu Baru Tentang Hubungan Antar-Manusia. Penerj. Hariono S. Imam. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Mawson, Anthony. 2007. Mass Panic and Social Attachment: The Dynamics of Human Behavior. Asghate Publishing

Indozone.id. 2020. Update Corona 12 April: Pasien Positif 4.241 orang dan 373 Meninggal. Diakses dari indozone.id

Kompas.com. 2020. https://regional.kompas.com/

Foto diambil dari ANTARA FOTO https://www.senayanpost.com/jenazah-pasien-corona-seperti-mati-syahid-jangan-ditolak/

Ega Prakarsa
Alumni Pendidikan Sosiologi Universitas Pendidikan Indonesia. Tertarik pada beragam isu sosial dan pendidikan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih....

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Pemuda, Agama Sipil, dan Masa Depan Indonesia

Sejarah sangat berguna untuk mengetahui dan memahami masa lampau, dalam rangka menatap masa depan, ungkap Ibnu Khaldun (1332-1406 M). Semestinya tidak hanya dibaca sebagai...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.