OUR NETWORK

Jembatan Dialogis Kristen dan Islam

Harus diakui sejarah kelam relasi Kristen dan Islam dimulai dari kesadaran kolektif masa lalu tentang perang salib yang berujung kepada hegemoni barat yang saling tunggang menunggangi dengan kolonialisme. Stigma agama Kristen sebagai agama penjajah masih kuat. Kecurigaan terhadap agama lain melumpuhkan emosi batin untuk berjumpa dengan yang lain. Bagaimana caranya supaya stigma itu lenyap?

Pertama, kita harus berhenti untuk menjelek-jelekkan agama lain. Kedua, cara penyebaran yang agresif harus dihentikan. Ketiga, sekolah-sekolah baik Kristen dan Islam harus mulai belajar tentang keberagaman. Ketiga hal ini adalah langkah untuk membangun jembatan dialogis Kristen dan Islam. Mari kita menelusuri upaya dialogis antara keduanya.

Jembatan Dialogis Kristen Islam

Di dalam Al-Quran, Surat 112 (Surat Al-Ikhlas) berkata demikian, “Katakanlah : Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan, yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak seorangpun yang setara dengan Dia”. Surat ini diturunkan di Makkah, kemungkinan besar sebenarnya surat ini tidak bermaksud untuk menentang identitas Yesus sebagai Anak Allah, tetapi konteks saat itu adalah ketika Muhammad sedang berjuang melawan politeisme agama suku di jazirah Arab. Agama suku yang sudah berurat akar dengan segala tantangan penyembahan berhala yang dihadapi.

Dalam agama suku yang politeisme, sangat dipercaya adanya perjodohan dan perhubungan antara dewa-dewa dan dewi-dewi, ada anak-anak mereka juga. Jadi surat itu memang ditujukan untuk menentang situasi agama suku (agama pagan) saat itu. Baru belakangan ditafsirkan sebagai surat yang menentang pengakuan Yesus sebagai Anak Allah. Bicara soal Surat 112 tentang Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan dan tidak ada yang seorangpun yang setara dengan Dia (Allah). Islam selalu melihat anak dalam pengertian biologis (daging dan darah). Sehingga hantaman soal Ketuhanan Yesus semakin pelik.

Beberapa surat yang menyudutkan orang-orang Kristen adalah sebagai berikut: Pertama, Surat 72 : 3 mengatakan, “Dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak. Kedua, Surat 10 : 68-69 mengatakan, “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata Allah mempunyai anak….Katakanlah : sesungguhnya orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung.” Ketiga, Surat 5 : 17a mengatakan, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata : sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih Putera Maryam.”

Dengan melihat cuplikan teks di atas, maka memahami Islam sangat begitu kompleks. Bahkan bicara soal Isa Al-Masih di dalam Al Qur’an sangat terbatas, ada banyak kendala dan kesulitan di dalamnya. Kesulitan-kesulitan tersebut adalah mengenai gambaran tentang Isa di dalam Al-Qur’an tidak bersifat historis (narasi sejarah). Isa Al-Masih menjadi diskursus dogmatik, yang menjadi referensi dari subjek yang dibicarakan. Tentunya, ini menjadi kendala dalam relasi Kristen dan Islam.

Selain, posisi ketuhanan Yesus yang ditolak, ucapan yang paling banyak dibicarakan mengenai akhir hidup Yesus di dalam Qur’an adalah surat 4 : 157 yang berbunyi, “Dan karena ucapan mereka (orang Yahudi) : Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putera Maryam, Rasul Allah. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.

Penjelasan tentang ayat ini sangat beragam sekali. Perbedaan tafsir itu ada pada istilah shubbilu lahum yang dalam ayat itu diterjemahkan dengan orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Ada beberapa penafsiran tentang ini. Yang pertama, mengatakan bahwa Yesus benar-benar disalibkan dan seakan-akan telah mati, tetapi ketika diambil dari salib ternyata bahwa ia masih hidup. Kedua, mengatakan bahwa seakan-akan yang disalibkan itu bukan Yesus melainkan seorang lain sebagai pengganti. Yesus itu sebelum disalibkan sudah diambil oleh Allah ke surga.

Ketiga, pendapat kelompok Ahmadiyah mengatakan bahwa Yesus diambil dari salib dalam keadaan pingsan dan kemudian terus hidup tetapi di daerah lain. Kesimpulannya adalah orang Yahudi memang mau membunuh Yesus dengan cara salib, akan tetapi Yesus tidak mati disalib. Ada beberapa alasan yang menyebabkan adanya penyangkalan historis tentang kematian Yesus pada salib.

Yang pertama, di Asia kecil dan Afrika utara dan juga disekitar Arabia pada waktu itu kehidupan Muhammad terdapatlah beberapa aliran-aliran yang dinamakan pseudo Kristen dan anti Kristen, yang mengajarkan bahwa Yesus itu mempunyai badan semu (aliran doketisme) atau yang mengajarkan bahwa ada orang lain yang disalibkan sebagai ganti Yesus (aliran Manicheisme). Kemungkinan saja, Muhammad terpengaruh oleh pandangan aliran-aliran ini.

Kedua, Timbulnya ucapan-ucapan dalam Al-Qur’an itu mungkin atas suatu gagasan, bahwa menurut Muhammad seorang nabi yang benar-benar nabi tidak mungkin akan mati di kayu salib atau dengan kata lain tidak mungkin seorang nabi itu akan gagal dalam mengemban tugas panggilannya. Ia menghubungkan nabi dengan sukses dan kemenangan-kemenangan lahiriah.

Dengan melihat beberapa penafsiran di atas, maka sebenarnya Islam sangat menghormati Isa Al-Masih menurut cara dan perspektif mereka tentang paradigma nabi (sahabat Allah) itu seperti apa. Justru, ketika Yesus tidak disalib, Islam ingin menjunjung otoritas dan wibawa kenabian Yesus di dalam mengemban tugas panggilan dari Allah. Posisi yang setara dengan nabi-nabi lainnya. Ini menjadi bentuk penghormatan Islam kepada Isa, bahwa seorang nabi tidak pantas untuk dihukum secara nista di atas kayu salib.

Bahkan selain misteri kematian Yesus, posisi Trinitas juga pelik di dalam Al-Qur’an. Ada beberapa ayat yang dirujuk oleh kalangan Muslim yang bicara tentang doktrin Trinitas, yaitu Sura Al-Maidah 73 mengatakan, “Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga, padahal sekali-kali tidak ada tuhan selain dari tuhan yang esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pastinya orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih”.

Bagaimana kita membaca teks Al-Qur’an di atas? Sebenarnya apa yang melatarbelakangi turunnya ayat itu? Kalau kita mencermati secara historis, kaum nasrani yang mana yang berkaitan dengan teks Al-Qur’an di atas? Apakah kaum nasrani di seluruh antero dunia atau hanya berada di jazirah Arab. Artinya, Kristen mana yang diceritakan Al-Qur’an, apakah Kristen secara keseluruhan atau kelompok-kelompok tertentu yang diketahui oleh Muhammad?

Banyak penafsir yang mengatakan bahwa konteks nasrani yang dimaksud adalah kelompok yang ada di negeri Arab. Karena di dalam hadis, Nabi pernah bersabda: “Yahudi terbagi menjadi 70 golongan; kaum nasrani terbagi menjadi 71 golongan dan umatku terpecah menjadi 73 golongan.” Seperti halnya, aliran Islam Syi’ah, yang tidak cuma satu, banyak sekali varian alirannya.

Dalam konteks historis maka sebenarnya kita sadar bahwa ternyata ada sejumlah aliran dalam Kristen yang ikut membentuk tradisi teks Quran itu sendiri. Itu yang disebut dengan Asbab al-Nuzul (sebab-sebab yang melatarbelakangi turunnya ayat). Ada tradisi dan aliran Kristen yang ikut mempengaruhi perkembangan Islam selanjutnya. Beberapa aliran Kristen yang berkembang saat itu adalah monofisit, Nestorian dan Arianisme dan lain-lain. Aliran monofisit yang berkembang pada abad ke 5, para penganutnya adalah Eutykehes dari sebuah biara Konstantinopel. Dengan pandangan bahwa Yesus hanya memiliki kodrat Ilahi (monos berarti satu dan visis berarti kodrat). Ketika Yesus menjadi manusia, Yesus tidak sungguh-sungguh manusia, melainkan dalam rupa (belaka). Kemanusiaan Yesus dianggap palsu dan semu saja.

Oleh sebab itu, pada masa timbulnya Islam, Arabia dibanjiri dengan macam-macam aliran heterodoks (bid’at) yang diusir dari kerajaan Byzantium dan yang menyiarkan pandangan- pandangan yang aneh dan beraneka ragam mengenai pribadi Kristus. Para ahli peneliti sudah sepakat bahwa umumnya orang “Kristen” di zaman Muhammad adalah kelompok Bid’at itu. Jadi bukan kelompok yang besar seperti gereja Yunani ortodoks, gereja koptik (Mesir), gereja Nestorian yang berada di kerajaan Persia.

Selain berkembangnya aliran Kristen yang cukup banyak, ada persoalan kebudayaan yang menyebabkan ketegangan Islam dan Kristen menjadi runyam. Ada faktor-faktor lain seperti sosial, ekonomi, politik yang ikut mewarnai satu dengan yang lain.

Di awal sejarah, doktrin tentang tauhid di dalam Islam sangat sederhana (monoteisme), tetapi belakangan menjadi rumit dan pelik karena dipengaruhi oleh budaya Yunani dengan filsafat dan ilmu pengetahuannya. Padahal konsep tauhid di zaman dulu adalah tidak diperbolehkannya para pemeluk Islam menyembah patung, batu (berhala) dll, yang bisa dianggap musyrik atau kafir. Sehingga, dengan adanya pengaruh filsafat Yunani, muncul pertanyaan-pertanyaan berkaitan substansi Allah yang memiliki dzat dan sifat atau dzat tanpa sifat.

Oleh sebab itu, ada persinggungan, ada pertautan dan ada asimilasi budaya yang ikut membentuk agama satu dengan yang lain. Dengan melihat ketegangan teks dan konteks di atas maka sebenarnya perlu ada jembatan dialogis dengan orang Islam. Penghayatan Trinitas yang ditolak oleh Islam adalah berkaitan dengan bilangan (jumlah 3 Tuhan), tetapi Kekristenan tidak bicara tentang bilangan, melainkan bicara soal relasi antara Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus yang intim di dalam karya-karyaNya.

Ini yang menjadi kesalahpahaman antara Islam dan Kristen sampai sekarang ini dan menjadi warisan yang berujung kepada perdebatan panjang. Semoga kita semakin jelas, titip persamaan kita.

Andreas Kristianto
Pegiat Oikumene Kemasyarakatan Jawa Timur, Penggerak Jaringan GUSDURian dan Aktif di isu isu Interfaith and Cultures Studies

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.