Selasa, Januari 26, 2021

Jejak Ibrahim, Sang Bapak Monoteisme

Mata Najwa Edisi Baru, Ada yang Ganjil?

Mata Najwa “edisi baru” telah berjalan episode kedua. Sambutannya sungguh luar bisa. Maklum, masyarakat sudah menunggu kedatangan presenter cantik nan cerdas, Najwa Shihab untuk...

Dokter Reisa dan Gugus Tugas Covid-19

Semenjak bergabungnya dokter Reisa di tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penangangan Covid-19 untuk mendampingi dokter Achmad Yurianto, mulai 8 Juni 2020, kehadirannya membuat...

Mengubur Politik Kebencian

Peristiwa teror di dua masjid Christchurch kembali menghentak publik. Lebih-lebih, peristiwa itu disinyalir dilatarbelakangi persoalan isu rasial. Supremasi identitas yang menyelinap menjadi sebab tindakan...

Meneruskan Ikhtiar Perlindungan Sosial

Sebelum 2015, Siti Jariah dan suaminya di Bekasi mengalami masa-masa sulit. Jangankan untuk membiayai sekolah anaknya, pemenuhan kebutuhan harian saja sering tersendat. Setelah menjadi...
Muis Sunarya
Santri Daar el-Qolam (1988) dan Alumnus IAIN Ciputat.

Foto pixabay.com

Masih ingatkah kita tentang kisah kekasih Tuhan, Ibrahim, salam sejahtera untuknya? Kisah utusan Tuhan yang sarat pelajaran moral dan pengalaman beragama. Jejak-jejaknya masih kentara, jelas dan membekas. Tak pernah memudar sampai hari ini. Tak lekang dimakan zaman. Abadi sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Sebuah drama kolosal dalam peradaban dunia. Diingat terus dan melegenda sepanjang masa. Bukti kebesaran dan keagungan Tuhan, Yang Maha Mencipta. Tatkala Ibrahim yang tidak percaya Tuhan, seorang ateis. Berkelana dengan nalar kritisnya mencari Tuhan. Sembari membawa tanya filosofis, “Ah, apa Tuhan itu ada?”

Tatkala sampai pada puncak pencariannya, menetapkan hati. Ia menghentikan jejak pencariannya, menemukan Tuhan yang sebenarnya. Tuhan yang harus diyakini. Bertawhid. Percaya dan yakin akan Tuhan yang maha esa. Tiada sekutu bagi-Nya. Berawal dari ateis menjadi monoteis sejati.

Kisah pengalaman beragama (religious experience) dan perjalanan spiritual (spiritual journey) Ibrahim ini, sekilas hampir serupa dan mengingatkan kita pada sebuah novel filsafat “Hayy Ibn Yaqzan” yang ditulis oleh seorang filsuf Islam, Ibn Thufail.

Tatkala Ibrahim menjalani semacam proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) atau semacam proses verifikasi dari kebenaran dan keteguhan keyakinannya. Sempat dengan nalar kritis dan pemberontakan metafisisnya, ia melawan kepercayaan dogmatis dan politis penguasa tirani Babilonia ketika itu.

Sempat juga mendapat ujian keyakinannya yang hakiki lewat sebuah mimpi yang absurd dan sayangnya tidak ditakwilkan lebih dulu (menurut Ibn Arabi, dalam Fushus Al-Hikam). Padahal sejatinya mimpi berada di alam imajinasi: Perintah menyembelih putranya tercinta, Ismail. Walaupun begitu justru ia berhasil melewatinya.

Yang pada gilirannya melahirkan sikap kepasrahan dan penyerahan diri secara total itu. Ia adalah the real of role model berislam yang hanif. Tatkala datang gelap. Saatnya malam menyapa. Ibrahim melihat bintang gemintang. Bercahaya di langit. Menghias angkasa. Panorama indah memukau. Dia mengira, itu adalah tuhannya. Tapi ia ragu, saat bintang tenggelam dan lenyap. Tuhan tidak mungkin seperti itu. Menghilang dan lenyap.

Tatkala ia melihat bulan. Bentuknya lebih besar dan cahayanya lebih terang dibanding bintang. Ia menganggap tuhannya. Tapi ia juga ragu, sebentar saja bulan pun tenggelam dan lenyap. Ini pasti bukan tuhan. Tuhan tidak mungkin seperti itu. Menghilang dan lenyap

Tatkala matahari menampakkan wajahnya di pagi hari. Lebih besar lagi dan menyeruakkan sinarnya yang panas. Matahari pun dikira tuhannya. Tapi lagi dan lagi ia ragu. Saat di sore hari matahari menyembunyikan wajahnya. Sinarnya mulai meredup. Seiring gelap pun menyeringai. Ini pasti bukan tuhan. Tuhan tidak mungkin seperti itu. Menghilang dan lenyap. Pasti Tuhan bukan itu semua.

Tatkala Ibrahim bertanya pada ayahnya, Azar. Tentang patung-patung itu. Dibuat sendiri lalu disembah. Padahal tidak bisa berbuat apa-apa sama sekali. Salah besar percaya pada patung-patung itu. Laku yang bodoh, pikirnya. Ini pasti bukan tuhan. Tuhan tidak mungkin seperti itu.

Tatkala ia hancurkan berhala dan patung-patung itu. Marah besar raja Namrud. Ibrahim diikat dan siap dilemparkan ke api yang berkobar. Dibakar hidup-hidup. Lalu muncul sebuah keajaiban dari Tuhan yang melampui batas rasio dan kebiasaan (baca : mukjizat): api menjadi dingin. Ibrahim tak terbakar. Ia tetap utuh dan hidup. Drama yang menegangkan dan seakan-akan absurd. Tapi terselip sebuah pesan iman bahwa kehendak dan kekuasaan Tuhan di atas segalanya.

Sebuah resiko pemberontakan nalar kritis atas tradisi dan kepercayaan dogmatis dan politis saat itu. Ia memang melawan arus. Melawan kezaliman. Untuk sebuah keyakinan. Keyakinan pada Tuhan yang hakiki. Tiada tuhan selain Tuhan itu sendiri (terjemahan “la ilaha illa Àllah” versi Cak Nur).

Tuhan yang esa. Tak terlihat tapi bukan berarti tidak ada. Tak teraba tapi bukan berarti tak terasa. Gaib tapi bukan berarti tidak nyata. Dialah Allah, Tuhan Yang Maha Suci dan Maha Agung. Tapi belum selesai sampai di situ. Tatkala Tuhan mengujinya dengan yang lebih lagi. Tuhan berfirman kepada Ibrahim lewat sebuah mimpi dan memintanya untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Yang sedang beranjak remaja. Konon, berusia 13 tahun.

Putra yang lama sekali ia nantikan kehadirannya. Bertahun-tahun penantian itu sampai kepalanya memutih dipenuhi uban. Kini ia dihadapkan pada ujian keimanan dan kepatuhannya secara total melampui rasa kemanusiaannya.

Ia penuhi perintah Sang Pencipta itu. Ia jawab dengan pasrah dan tawakal. Tak perlu tanya pada titah Tuhan. Menyerahkan diri sepenuhnya. Ia telah yakin seyakin-yakinnya. ‘Ainul yakin. Keyakinannya tak tergoyahkan oleh apa dan siapa pun. Bisikan setan sekalipun.

Tatkala pedang terhunus tepat di leher Ismail. Tuhan menggantinya dengan domba yang gemuk. Pesan bahwa pengorbanan manusia oleh manusia tidak dibenarkan. Itu mencederai nilai kemanusiaan. Ibrahim telah mengajarkan kita tentang berislam. Pengalaman beragama dengan lurus dan menyeluruh. Pasrah dan menyerahkan diri sepenuhnya.

Hikmah itu menjadi abadi. Pesan profetiknya terus bergulir. Sepanjang waktu. Sampai hari ini. Kita pun masih menapaktilasi jejak–jejaknya. Menyaksikan artefak-artefak dan sisa-sisa warisan peninggalan sejarahnya. Dalam ritual dan manasik haji. Di Mekkah, tanah yang suci dan dihormati. Berkurban di hari Idul Adha dan hari-hari tasyrik, 11, 12 dan 13 Dzulhijah.

Berhaji dan berkurban memiliki tujuan yang sama. Untuk niat mendekatkan diri pada Allah. Tuhan yang menciptakan alam semesta dan semua yang ada. Tanpa terkecuali. Bertawhid. Inilah pelajaran berharga dari sang bapak monoteisme (abu al-tawhid). Salam sejahtera untuk keduanya, Ibrahim dan putranya, Ismail.

Sebagai rujukan, Alquran surat Al-An’am [6] : 74 – 79, Al-Anbiya [21] : 52 – 69. Al-Baqarah [2] : 3, As-Shaaffat [37] : 102 – 109, Al-Kautsar [108] : 2.

Muis Sunarya
Santri Daar el-Qolam (1988) dan Alumnus IAIN Ciputat.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.