Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Jangan Takut Membela NU!

Pilkada 2020, Sulitnya Mencari Pemimpin?

Rasanya baru beberapa bulan kita melewati hiruk pikuk perpolitikan yang melelahkan dalam menentukan calon presiden beserta anggota dewan. Sekarang suhu politik akan mulai kembali...

Historiografi Gerakan 30 September1965 dalam Pandangan Asvi Warman Adam

Setelah lebih dari setengah abad peritiwa kelam bangsa ini berlalu, historiografi  terhadap peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) terus mengalami perkembangan yang...

Bukan Sekedar Money Politic, Tapi Patronase

Kurang dari dua bulan untuk menginjak hari-H, hingar bingar yang mengiringi Pemilu serentak terus mengisi ruang-ruang media. Media sosial utamanya, memberikan peranan penting dalam...

Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi di Tahun Politik

Kuartal III/2018 pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,1% jika dibandingkan dengan kuartal II/2018. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia...
Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.

Kini ormas Nahdhlatul  Ulama (NU) sudah memasuki usianya yang ke 95 tahun. Di usianya yang sudah menua, NU tetap konsisten memperjuangkan khittahnya sebagai organisasi sosial keagamaan yang berorientasi pada pendidikan, keagamaan, ekonomi dan pengembangan masyarakat.

Kontribusinya terhadap Islam dan Negara tidak perlu dipertanyakan lagi. Sejak negara ini berada dalam cengkraman penjajah Belanda, Nahdlatul  Ulama (NU) berada dalam barisan terdepan dalam menggemakan semangat juang dan menghimpun kekuatan guna berjuang melawan penjajahan. Tentu, guna untuk menjaga agama dan nasionalisme dari gempuran ideologi asing.

Sehingga tidak heran, jika kemudian lahir apa yang disebut “resolusi jihad”. Dimana resolusi ini menjadi pelecut semangat dan kekuatan kaum santri dalam mengusir penjajah dari tanah air. NU memegang teguh prinsip kesetaraan, keadilan dan mengecam setiap bentuk penjajahan dalam beragam bentuknya.

Selain ikut berjuang merebut kemerdekaan, NU juga konsisten menjaga dan merawat kemerdekaan yang sudah sejak lama diimpikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan harga mati bagi NU, sebagai salah satu bukti, bahwa NU mencintai tanah airnya, sebagaimana ia mencintai agamanya..

Menurut KH. Said Aqil Sirodj, untuk menjaga NKRI dari perpecahan, maka ulama NU menggelorakan semangat cinta tanah air. Sehingga terdapat jargon yang sangat masyhur di kalangan NU, yaitu “hubbul wathan minal iman.” (mencintai tanah air sebagian dari iman).

Jargon ini sengaja diteriakkan oleh ulama NU, seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah untuk menyadarkan sebagian besar umat Islam dari ketidakpeduliannya akan pentingnya nasionalisme. Sebab negara ini berdiri dengan semangat nasionalisme. Masih menurut KH. Said Aqil, “hubbul wathan minal iman” ini merupakan  bentuk nasionalisme religius Islam Nusantara (dikutip dari NU Online, 06/06/2016).

Menjaga Islam dalam bingkai “Islam Nusantara” dan menjaga tanah air dalam bingkai “Negara Kesatuan Republik Indonesia” (NKRI) merupakan dua komitmen NU yang sampai hari ini masih dipegang teguh sebagai ijtihad perjuangan NU. Persoalan keummatan dan kebangsaan, bagi NU adalah dua entitas tak terpisahkan. Menjaga Islam berarti harus menjaga NKRI, sebaliknya, menjaga NKRI harus juga menjaga Islam (baca: Islam Nusantara).

Konsekuensinya, NU harus tegas dan berani melawan radikalisme Islam dan ideologi asing yang pada dekade mutakhir mulai menunujukkan eksistensinya di negeri ini. Sebagaimana kita mafhum, radikalisme Islam (baca: kekerasan atas nama Islam) marak terjadi di negeri ini. Terbukti, hujatan bahkan tindak kekerasan atas nama agama terhadap kelompok yang berbeda acapkali terjadi belakangan ini. Misalnya, penyerangan terhadap para pemuka agama dan tempat-tempat ibadah.

Radikalisme yang lahir dari intoleransi, kian hari kian mengkhawatirkan dan menjadi momok yang menakutkan bagi terwujudnya Indonesia yang rukun dan damai. Dewasa ini, agama (baca: Islam) acapkali dijadikan alat legitamasi untuk melegalkan tindakan-tindakan kekerasan dan amoral lainnya. Islam lebih sering ditampilkan dengan wajah yang garang dan menakutkan, daripada wajahnya yang indah dan mendamaikan.

Tidak hanya radikalisme Islam, ideologi asing, sebut saja ideologi “khilafah” yang lahir dari rahim Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), kian hari kian gencar dikampanyekan oleh para hizbiyyin sebagai satu-satunya ideologi yang abash dan halal diterapkan di dunia, kususnya di Indonesia.

HTI sangat mengecam diterapkannya sistem demokrasi di Indonesia. Karena tujuan politik yang ingin dicapai oleh mereka adalah politik Islam kaffah, yaitu menerapkan syariat Islam secara utuh. Tidak hanya penerapan syariat Islam yang menjadi konsern perjuangan mereka, tetapi penegakan pemerintahan khilafah di negara-negara yang mereka sebut sebagai negara Islam, termasuk Indonesia.

Bagi HTI, demokrasi merupakan sistem kafir yang harus segera ditinggalkan oleh  Indonesia. Karena ia merupakan produk barat. Dengan berlandaskan pendapat Taqiyuddin An-Nabani (pendiri Hizbut Tahrir), HTI berpendapat, bahwa kemunduran umat Islam disebabkan menjadikan Barat sebagai kiblat dari segala sistem kehidupan. Karena pokok persoalannya adalah barat, maka dia menyerukan kepada umat Islam dunia untuk meninggalkan sistem barat dan segera kembali kepada Islam sebagai dasar gerakannya.

Meskipun pada akhirnya, Pemerintah melarang HTI beroperasi di Indonesia, tetapi HTI tetap menunjukkan eksistensinya. Salah satunya, bendera HTI kerapkali berkibar pada setiap acara yang bertajuk ke-Islaman dan juga beberapa hari terakhir ini, publik Sumenep diramaikan oleh foto anggota HTI sambil membentangkan spanduk bertuliskan “#Return The Khilafah #Khilafah Ajaran Islam” di depan Masjid Agung Kabupaten Sumenep Madura.

Sebagaimana kita mafhum, bahwa NU istiqamah berada di garda terdepan melawan radikalisme Islam dan ideologi Khilafah ala HTI. Bagi NU, keduanya merupakan ancaman terbesar bagi terciptanya masyarakat yang rukun dan damai serta akan memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merupakan hasil ijtihad para funding father dan  ulama kita.

Sehingga NU tidak pernah lelah mengkampanyekan nilai-nilai Islam Nusantara dan arti pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa ini kepada publik. Karena bagi NU, tidak boleh ada tempat sedikitpun di Indonesia bagi yang namanya radikalisme Islam dan ideologi Khilafah ala HTI. Jadi selama kita yakin, akan kesantunan Islam dan finalitas ideologi pancasila sebagai dasar negara kita, maka jihad melawan keduanya (Islam radikal dan Khilafah) adalah wajib.

Atas kegigihan melawan radikalisme Islam dan Khilafah, lantas kemudian NU  dihujani banyak panah fitnah. Ia dituduh antek barat, pembela kaum kafir, liberal, penjilat, pragmatis, mata duitan, kejam terhadap sesama Islam dan santun terhadap non-Muslim dan fitanah-fitnah lainnya. Tapi sudah lah tidak usah dipikirkan, fitnah-fitnah itu sengaja mereka lancarkan untuk melemahkan perjuangan NU dan menggerus kepercayaan ummat terhadap NU. Bisalah, begitulah konsekuensi perjuangan.

Maka dari itu, kita sebagai warga NU tidak boleh takut membelanya dari kelompok-kelompok yang tidak suka terhadap perjuangannya. Karena membela NU juga berarti membela ulama. Sedangkan ulama itu waratsatul anbiya’. Membela NU juga berarti membela agama dan negara. Atas nama agama dan negara, mari kita perangi radikalisme dan khilafah!

Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.