Jumat, Januari 22, 2021

Jangan Takut Ber-HMI!

Duhai Elite Politik, Adakah Kami dalam Pelobian Kalian?

2018 adalah tahun yang ramai, tahun yang sangat sibuk bagi negeri ini. Setelah disibukkan dengan hiruk pikuk dan keramaian ibukota dari berbagai media serta...

Si Patai, Robin Hood dari Ranah Minang

Jika di Inggris mengenal sosok Robin Hood sebagai seorang penjahat berhati mulia, Betawi mengangkat sosok Si Pitung dengan dalih yang sama, Kota Padang juga...

Miras, Orang-Orang Kita, dan Riwayat Mabuk-Mabuk

Jawa Kulon sedang dibuat gaduh lantaran persoalan racikan miras oplosan yang sukses membunuh dan membuat keracunan konsumennya. Setelah riuh dengan Miras Cicalengka, kini Jawa...

Kang Yoto, Gubernur Ideal Jawa Timur

Nama Suyoto sempat beredar di arena Pilgub DKI Jakarta tahun lalu, sebelum akhirnya PAN merubah haluan dengan mendukung pasangan Agus-Silvy. Namanya kini beredar kembali...
Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.

Tahun ajaran baru di perguruan tinggi sudah tiba. Orientasi kemahasiswaan pun digelar dengan beragam konsep, dan dikemas dengan beragam bungkus. Demi mengenalkan mahasiswa baru akan orientasi pendidikannya.

Masa orientasi ini adalah momentum bagi aktivis organisasi ekstra kampus, semisal HMI, GMNI, PMII, IMM, KAMMI, GMKI, PMKRI dan lain-lain untuk menjajakan organisasinya serta menawarkan ide-idenya kepada mahasiswa baru. Lebih tepatnya, masa orientasi adalah masa peperangan bagi organisasi-organisasi ekstra kampus.

Tetapi sangat disayangkan, peperangan ini tidak diwarnai dengan perang gagasan dan ide, malah sebaliknya, diwarnai dengan propaganda dan provokasi.

Kenyataan ini acapkali menimpa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Oraganisasi ekstra kampus tertua yang masih eksis di bumi nusantara dan melahirkan banyak tokoh (intelektual, cendikiawan, politisi) untuk NKRI.

HMI acapkali menjadi sasaran propaganda organisasi lain yang (mungkin) iri dan dengki dengannya. Propaganda tersebut berupa justifikasi bahwa HMI adalah Muhammadiyah, bahkan ada yang menyebutnya liberal dan kafir. Terutama HMI yang berada di perguruan tinggi Islam dan berbasiskan pesantren.

HMI dituduh Muhammadiyah sudah lazim. HMI tidak akan gentar dengan propaganda dan fitnah murahan itu. Ia adalah anak zaman, tidak akan roboh digoyang propaganda dan tidak akan lapuk dimakan zaman.

Propaganda semacam ini nyaris mirip lah dengan propaganda PKI dulu. HMI dituduh subversif lah, dituduh kontra-revolusi lah, dan macam-macam propaganda lainnya, demi HMI dibubarkan pemerintah.

Tetapi rupanya PKI gagal memprovokasi Pemerintah Orde Lama waktu itu. Sehingga HMI tidak jadi dibubarkan, sebagaimana diinginkan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu. Ia terlalu tangguh untuk dihancurkan PKI.

Saya punya banyak cerita tentang bagaimana HMI dituduh Muhammadiyah di perguruan tinggi Islam, bahkan mengaku paling Islam dari (I)slam itu sendiri. Tetapi saya hanya menceritakan satu saja, sebab ini yang paling berkenan dan masih melekat kuat di ingatan.

Begini ceritanya, saya mulai ya. Tolong simak baik-baik!

Teman sekelas saya yang anak pesantren dan sudah mengikuti Masa Perkenalan Calon Anggota (MAPERCA) berhasrat sekali mengikuti Basic Training (LK 1) bersama saya. Lantas saya menyuruhnya minta izin sama kiainya di pesantren. Dan dia minta izin.

“Kiai, saya mau minta izin.”

“Mau kemana?” tanya Sang Kiai.

“Saya mau mengikuti LK 1,” Jawabnya.

“Bukankah LK 1 itu training perkaderan HMI?”

“Iya, betul HMI. Saya ingin ber-HMI, Kiai. “

“Di sini pesantren, di sini Ahlussunnah Wal Jamaah, sedangkan HMI Muhammadiyah, Kamu mau jadi Muhammadiyah? Juga, HMI itu liberal, coba lihat itu Nurcholish Madjid (Cak Noer). Tidak cocok untuk santri. Kamu ikut organisasi yang haluannya Ahlussunnah Wal Jamaah saja,” Sarannya. Sebetulnya perintah tapi terselubung.

Kemudian teman saya itu pamit keluar. Dan minta maaf pada saya yang telah lama menunggunya di luar, seraya bilang “saya tidak mendapat restu dari kiai untuk bergabung dengan HMI karena HMI Muhammadiyah dan liberal,kata kiai.”

“Oke, no problem!” Jawab saya, sok nge-inggris dikit. “Semoga kiaimu masuk surga dengan segala sok kemahatahuannya.”

Kiai yang seperti ini kiranya perlu dikasih kuliah ke-HMI-an, supaya tidak ngasal dan tidak gemar melakukan penyesatan opini. Saya siap mengkuliahnya, itu pun jika beliau mau membuka cakrawala pikirannya yang mungkin bebal itu.

Statemen bahwa HMI itu Muhammadiyah jelas adalah propaganda untuk menakut-nakuti mahasiswa baru supaya tidak masuk HMI. Karena Muhammadiyah di mata khalayak umat kita yang sok mahabenar ini merupakan sesuatu yang menakutkan, serupa ajaran terkutuk dan penganutnya akan masuk neraka.

Juga, statemen tersebut tidak berdasar sejarah (a historis) alias ngasal dan sarat akan pembodohan publik.

Maka, untuk mahasiswa baru atau mahasiswa lapuk yang belum ber-HMI, Anda tidak perlu takut ber-HMI hanya karena ditakut-takuti dengan Muhammadiyah. Karena HMI itu punya independensi. Ia bukan Muhammadiyah, bukan Nahdlatul Ulama, bukan Sarekat Islam, juga bukan pula Persis. Ia adalah murni organisasi kemahasiswaan yang tidak berafiliasi dengan ormas mana pun dan tidak didirikan oleh ormas apapun.

HMI berbeda dengan organisasi mahasiswa mana pun, baik PMII, IMM, dan KAMMI. Jika PMII di bawah bendera NU, IMM di bawah bendera Muhammadiyah, dan KAMMI di bawah bendera PKS, maka HMI di bawah bendera kemerdekaan. Bukan di bawah bendera-bendera ormas tertentu.

Perhatikan baik-baik ya! Muhammadiyah itu punya organisasi kemahasiswaan sendiri, yaitu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Bukan HMI.

Asal Anda tahu, di kampus Muhammadiyah, HMI dituduh NU dan di kampus NU (pesantren)  ia dituduh Muhammadiyah.

Pernah saya membincang persoalan ini dengan kawan saya yang kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, dia cerita bahwa HMI di kampusnya dilarang dan dituduh NU. Dan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), HMI juga dilarang dan dituduh NU. Kata kawan saya yang kuliah di sana. Lucu kan?

Mari Belajar Sejarah!

Supaya kawan-kawan mahasiswa baru tidak gampang dibodoh-bodohi oleh orang yang sok benar, semacam mereka yang acapkali menuding HMI Muhammadiyah, maka lebih afdhal jika Anda belajar sejarah berdirinya HMI, meski seupil.

Simak baik-baik ya! HMI itu didirikan oleh anak muda bernama Lafran Pane bersama beberapa kawannya di Yogyakarta, tepatnya di Sekokah Tinggi Islam (STI) sekarang Universitas Islam Indonesia (UII) pada 5 Pebruari 1947. Dua tahun pasca proklamasi  kemerdekaan Republik Indonesia.

Didirikannya HMI dilatarbelakangi oleh tiga faktor penting. Pertama, kondisi umat Islam dunia yang mengalami kejumudan dan terbelakang. Kedua, kondisi Perguruan tinggi di Indonesia yang jamak menganut sistem sekuler. Dan yang ketiga mewabahnya organisasi komunis di perguruan tinggi Islam.

Berdirinya HMI murni karena kegelisahan intelektual dan carut-marutnya kondisi umat Islam, khususnya, dan rakyat Indonesia pada umumnya. Terlebih kaum terdidik dan terpelajar yang semakin menjauh dari ruh Islam. Bukan karena didorong oleh ormas mana pun.

Sampai di sini dulu belajar sejarah HMI-nya, sebagaimana saya janjikan tadi. Jika ingin tahu HMI secara detail dan mendalam, saya sarankan untuk bergabung dengan HMI.

Sejak berdirinya hingga hari ini, HMI tidak pernah berada di bawah ketiak Ormas Islam mana pun. Ia berdiri tegak di bawah independensinya. Ia turut al-Quran dan al-Hadist.

HMI hanya berafiliasi dengan kebenaran, bukan pada ormas. Jadi tidak usah kaitkan kami dengan ormas mana pun. Di dalam tubuh HMI tidak ada DNA ormas mana pun. Kalau tidak percaya, silahkan tes DNA. Kita tidak takut.

Jadi, apa pun latar belakang Ormas dan madzhab Anda, Anda akan diterima dan tidak akan dicampakkan di HMI. Mau Muhammadiyah, NU, Persis dan lain-lain, silahkan bergabunglah ke HMI! HMI menjunjung tinggi perbedaaan dan keanekaragaman. Karena di HMI pluralisme tidak sekedar jargon, tetapi prinsip.

Saya tekankan sekali lagi, tidak usah takut ber-HMI! Karena di HMI, jika Anda NU, maka akan menjadi lebih NU daripada Anda yang NU tetapi tidak ber-HMI, jika Anda Muhammadiyah, maka akan menjadi lebih Muhammadiyah daripada Anda yang Muhammadiyah tetapi tidak ber-HMI.

Karena di HMI Anda tidak akan diajak, apalagi didoktrin untuk bergabung dengan salah satu ormas. Anda bebas memilih ormas yang Anda sukai. HMI hanya menanamkan dalam otak kalian nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.

Percayalah! Anda akan sulit menemukan organisasi kemahasiswaan Islam yang independen (baca: merdeka) sebagaimana HMI. Apalagi hanya organisasi kemarin sore.

Ingat, HMI itu organisasi mahasiswa Islam tertua lho, jadi jangan pernah memfitnah HMI dengan isu Muhammadiyah atau isu lainnya, jika tidak, Anda akan kualat.

Naufal Madhure
Penulis Lepas dan Aktivis Forum Libertarian Indonesia, Wilayah Sumenep, Madura.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.