Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Jangan Salahkan Arek Suroboyo Hadang Prabowo

Indonesia Sejahtera: Itukah Tujuan Kita Bernegara?

Pemilihan Umum, yang rangkaiannya masih kita jalani, merupakan perangkat untuk menjaga kelangsungan kehidupan bernegara. Pemilu diwarnai oleh pertarungan gagasan dalam mengelola negara ini. Adu...

Taman Nasional Komodo Terancam

Seandainya negara-negara anggota G-20 tahu bahwa Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT) tahun 2023 yang akan berlangsung di Labuan Bajo-Nusa Tenggara Timur (NTT), berpotensi sangat berdampak...

Menyoal Tubuh Jokowi: Memahami Keragaman, Merayakan Perbedaan

Menurut Plato, tubuh adalah penjara. Secara kodrati, ia bukan hanya sekadar fisik yang bergerak, tetapi ia adalah dunia berpikir yang tak bisa langsung bekerja...

Hari-Hari Pikuk

Hari-hari ini, tidak bisa tidak, aku turut geram atas sikap para pejabat di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tampak belum sungguh-sungguh menangani masalah...
Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi

Kalau arek Suroboyo sampai bereaksi. Itu tandanya, sudah keterlaluan. Melampaui batas kewajaran. Jadi, Prabowo dan Pendukungnya, tidak perlu menyalahkan sambutan arek-arek Suroboyo ini.

Kedatangan calon presiden nomor urut 02 Selasa, 19 April lalu, di Tambak Beras Surabaya mendapat sambutan kurang simpatik. Tidak hanya dengan yel-yel, masyarakat sekitar berlari mengikuti rombongan Prabowo. Hingga adu mulut tidak terelakkan dengan pendukung Prabowo.

BPN (Badan Pemenangan Nasional) Pasangan Prabowo-Sandi, Priyo Budi Santoso pun angkat bicara atas aksi penghadang di Surabaya. Menurut Sekjen Partai Berkarya, penghadang itu sebuah intimidasi kepada Prabowo. Priyo juga mengkaitkan penghadangan tersebut di tempat lain.

Intimidasi dalam konstilasi politik di Surabaya dan Jawa Timur, hanya terjadi di Pilpres 2019 ini saja.  Contohnya, event Pemilihan Gubernur tahun lalu, saat daerah lain memanas dengan isu hoax. Jawa Timur adem-ayem. Tidak bising semua berjalan damai.

Melihat kenyataan Pilgub Jatim tersebut, jelas bahwa Arek Suroboyo tidaklah gagap politik. Memahami apa itu politik kekuasaan. Sehingga bisa menerima perbedaan.

Apa yang dikatakan Priyo, bisa diterimah akal sehat. Apabila mengunakan pendekatan politik rivalitas menjelang Pilpres 2019 mendatang. Faktanya, para penghadang meneriakan yel-yel dukungan kepada Jokowi. Dan membentangkan spanduk ucapan selamat datang kepada Prabowo tapi tetap dukung Jokowi.

Namun dalam perspektif psiko-sosiologis warga Jawa Timur dan Surabaya pada khususnya. Penghadangan tersebut bukan hanya persoalan dukungan saja. Tapi sebuah protes sosial atas kondisi yang saat ini terjadi. Situasi yang memanas akibat kebisingan informasi menjelang Pilpres 2019 mendatang.

Kebisingan ini, efek dari semburan hoax, berita fitnah dan caci-maki. Yang dalam prespektif awan, sebagai metode kampanye capres nomor urut 02. Sehingga penghadangan tersebut wujud protes sosial masyarakat Jawa Timur kepada Prabowo.

Seperti diketahui, sambutan yang kurang simpati tidak hanya terjadi di Surabaya. Namun terjadi dibeberapa daerah lain di Jawa Timur. Seperti di Madiun dan Bojonegoro. Yang terjadi di Surabaya,  mendekati aduh fisik dengan pendukung Prabowo.

Seharusnya tim Prabowo belajar dari kejadian di Surabaya dan Jawa Timur. Bahwa metode kampanye yang dilakukan tidaklah efektif. Kondisi masyarakat Jawa Timur tidaklah sama dengan DKI Jakarta.

Sebagai kota metropolis terbesar kedua di Indonesia. Warga Surabaya masih memegang teguh gotong royong,  toleransi, dan nilai-nilai persatuan lainnya. Sehingga, tindakan yang mengancam nilai-nilai tersebut menjadi musuh bagi masyarakat.

Dalam guyonan politik awan. Apabila,  arek suroboyo sudah bereaksi atas keadaan nasional. Akan merembet kedaerah lain. Seperti momen politik lainnya. Misalnya, saat gerakan reformasi tahun 98. Begitu mahasiswa Surabaya turun lebih masif diikuti didaerah lain hingga lengsernya Soeharto.

Artinya, gerakan penghadangan di Surabaya ini. Sebagai akumulasi kondisi sosial yang berkembang menjelang Pilpres. Apabila, kampanye dengan cara hoax, penyebaran fitnah tidak dihentikan.  Akan banyak penghadangan kepada pasangan capres 02 dilain daerah.

Tentu saja,  harapan masyarakat Indonesia. Proses Pilpres 2019, jadi ajang pendidikan politik bagi warga. Menuju kepada tatanan bernegara yang lebih demokratis. Bukan jadi sumber perselisihan di masyarakat.

Raylis Sumitra
Presedium PENA 98 (Perhimpunan Nasional Aktivitis 98) Jawa Timur Mantan Jurnalis pengemar kopi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.