OUR NETWORK

Jangan ‘Pinjam Baju’ Islam

Meskipun agama sebagai nilai hidup kemanusiaan, tapi banyak ditemui fakta bahwa dengan alasan agama juga terjadi pembatasan dan bahkan penghilang kemanusiaan, seperti adanya terorisme dan radikalisme.

Islam sebagai dinnul hadharah (agama berkeadaban) yang memiliki orientasi kedepan/berkemajuan dan moderasi memiliki pondasi pada nilai-nilai utama, yang bukan hanya terkait dengan teosentris, melainkan di dalamnya juga mampu menjadi inspirasi bagi nilai-nilai kemanusiaan.

Nilai-nilai utama tersebut harus menjadi alam pikiran dan sekaligus praktik kehidupan di ruang publik. Sehingga agama bukan hanya sebatas perlambang dangkal-formal, tapi agama juga harus dihadirkan secara substansi.

Meskipun agama sebagai nilai hidup kemanusiaan, tapi banyak ditemui fakta bahwa dengan alasan agama juga terjadi pembatasan dan bahkan penghilang kemanusiaan, seperti adanya terorisme dan radikalisme.

Padahal selain dijamin oleh Undang-Undang, hak hidup manusia dan kemanusiaan juga dijamin dalam Kitab Suci, dikatakan bahwa siapa yang membunuh atau menghilangkan satu nyawa, sama dengan membunuh atau menghilangkan semua manusia di muka bumi. Jika semua manusia hilang, mati dan musnah, maka nilai kemanusiaan juga akan musnah.

Tokoh-tokoh politik, agamawan dan lain-lain sering mengatakan bahwa, terorisme tidak punya agama. Tapi setiap kali terjadi terorisme, akan ditemukan benang merah perilaku terorisme terhadap salah satu agama, terlebih Islam.

Haedar Nashir, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada (18/10) mengatakan, paradigma radikalisme tidak bisa dipandang secara positifistik dan teori-teori determinan tunggal. Menurutnya, pandangan tersebut menimbulkan ketidakadilan dalam memperlakukan realitas. Pesan kemanusiaan dalam agama sudah jelas bahwa satu nyawa harus dijaga dan dilindungi, tidak boleh direbut oleh siapapun.

Senada, Said Aqil Siradj, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama (PBNU) juga merespon keras terhadap aksi-aksi terorisme dan radikalisme yang mengatasnamakan agama. Dikutip dari cnnindonesia.com (15/10), Said Aqil mendesak kepada pemerintah untuk membuat payung hukum sebagai alat untuk menindak pelaku terorisme. Ia juga mengajak kepada seluruh komponen bangsa untuk aktif dalam memberantas terorisme. Terkait ini NU telah menyebarkan sikap kontra terhadap radikalisme.

Kesepatakan untuk memerangi terorisme juga muncul dari Mentri Agama Republik Indonesia (Menag RI) yang baru, Fachrul Razi. Menurutnya radikalisme muncul dari kesalahan pemahaman umat beragama dalam menafsirkan ayat-ayat di Kitab Suci mereka. Pemakaian ayat-ayat dipilih yang cocok untuk meligitimasi aksi teror mereka. Berlatarbelakang militer, Fachrul Razi siap memberantas aksi teror yang mengatasnamakan agama apapun yang mengancam keamanan negara.

Terorisme dan radikalisme bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan dibelahan bumi lain juga terjadi aksi serupa. Pasca peristiwa 11 September 2001 (9/11), wacana terorisme menyeruak kepermukaan dan menjadi agenda penting setiap negara di seluruh dunia.

Terorisme yang digambarkan pasca 9/11 adalah mereka umat beragama Islam yang secara bengis meledakkan diri diantara kerumunan orang-orang di alun-alun tengah kota, meletakkan bom di rumah ibadah, atau mereka yang sengaja menabrakkan mobil yang berisi bom kepada kerumunan manusia di pusat perbelanjaan.

Meski tidak menutup mata akan aksi teror yang dilakukan oleh oknum umat beragama dan memakai simbol-simbol agama tertentu, tapi di masyarakat luas masih menyimpan pertanyaan.

Apakah benar murni pelaku teror hanya bermotif agama ?, hal ini yang mungkin dimaksud oleh Haedar Nashir bahwa tidak bisa memandang paradigma radikalisme hanya memakai teori positifistik dan determinan tunggal. Karena bisa jadi ada faktor lain, selain agama, yang memberi motivasi untuk melakukan aksi teror. Faktor politik, ekonomi, sosial serta mungkin ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah atau karena terjadinya penindasan yang dirasakan telah berlarut-larut.

Fakta menunjukan, terorisme berhasil menakuti dan mengendalikan pikiran. Mereka berhasil membunuh sedikit orang dan mengendalikan pikiran miliaran orang di seluruh belahan bumi. Yuval Noah Harari (2018) mencatat pasca peristiwa 9/11, setiap tahun teroris menewaskan 50 orang di Uni Eropa, 10 orang di Amerika Serikat (AS), sekitar 7 orang di China dan 25.000 orang diseluruh dunia (termasuk di Timur Tenggah, Afrika dan Asia).

Sebaliknya, yang berhasil membunuh lebih banyak manusia selain terorisme adalah kecelakaan, penyakit diabets, dan tingginya gula darah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis data pada tahun 2015, setiap tahun kecelakaan membunuh sebanyak 80.000 orang Eropa, 40.000 orang AS, 270.000 orang di China, dan 1,25 juta manusia secara keseluruhan. Sementara diabets dan gula darah membunuh sebanyak 3,5 juta orang setiap tahun, dan polusi udara membunuh 7 juta orang.

Kuantitas menunjukkan, aksi teroris yang meledakkan diri dan sengaja menabarakkan mobil ke kerumunan masih kalah dengan ketidak-sengajaan pengemudi kendaraan yang memacu dengan kecepatan tinggi di jalan bebas hambatan yang menyebabkan kecelakaan, serta penyakit gula yang disebabkan produk olahan makanan cepat saji yang disediakan oleh restoran di pusat perbelanjaan.

Baiknya pemerintah mulai menata ulang apa atau siapa yang harus benar-benar diwaspadai. Serta sebagai umat beragama bukan hanya bisa ‘menyalak’ ketika dituduh, karena kalian adalah umat terbaik dan diberi akal oleh Tuhan untuk memberi solusi dan memberi narasi alternatif tentang kemanusiaan dan perdamaian guna memenuhi ruang-ruang dan wacana publik. Sehingga agama tidak lagi dijadikan barang dagang yang laris manis oleh segelintir kepentingan kekuasaan.

Fasilitator Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah, Mahasiswa Pascasarjana UIN SUKA Yogyakarta

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…