Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Jangan Menghalangi Air untuk Terus Mengalir

Seni Memimpin Ala Profesor Nurdin Abdullah;

Seni memimpin ala Profesor Nurdin Abdullah adalah membuka 'rumah' bagi keluh kesah rakyat***Satu bukti bahwa seorang pemimpin dicintai oleh rakyatnya bisa ditunjukkan dari tingkat...

Jamrud Khatulistiwa, Keberkahan atau Kutukan

Negeri ini dikenal dengan sebutan Jamrud Khatulistiwa karena gugusan Geografis pulau pulau yang berwarna hijau menyejukan mata bagaikan batu Jamrud.Hijaunya geografis Indonesia kalau di...

Kyai Ma’ruf Amin Menguntungkan Prabowo?

Kita bayangkan andai Prof. Mahfud MD benar-benar mendampingi Jokowi sebagai cawapres. Siapapun kiranya cawapres yang digandeng Prabowo, rasanya tidak akan begitu signifikan mendongkrak elektabilitas....

Kertas Mengikis Komunikasi Lisan

Mungkin kita sekarang ini harus berterima kasih banyak pada Ts’ai Lun lewat penemuannya. Kertas membuat ilmu pengetahuan menjadi mudah ditransfer pada akhirnya. Sebelumnya kita...
Helmi Iqbal Mahardika
S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik di UPN "Veteran" Yogyakarta

Tiga perempat dari Bumi adalah air, namun yang layak untuk dikonsumsi manusia kurang dari tiga persen. Populasi manusia di Bumi diperkirakan mencapai enam milyar, dan semuanya membutuhan air demi kelangsungan hidupnya.

Belum lagi manusia juga harus “berkompetisi” dengan tumbuhan untuk memperoleh sumber air guna menjaga keseimbangan alam. Persaingan tersebut menimbulkan krisis air yang melanda beberapa daerah di dunia.

Yogyakarta sebagai salah kota besar di pulau Jawa dengan populasi 3,5 juta penduduk tidak luput dari krisis air bersih. Salah satu penyebabnya adalah alih fungsi lahan menjadi hunian yang marak terjadi di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Padatnya rumah penduduk, ditambah dengan banyaknya hotel mengancam ketersediaan air di wilayah tersebut.

Dilansir dari harianjogja.com tertanggal 15 Agustus 2016. Saat ini ada 350 hotel berbintang di wilayah DIY di mana ada 15.000 kamar. Selain itu ada 30 apartemen yang memiliki sekitar 12.000 kamar. Otomatis seluruh hotel membutuhkan air bersih dan cara termurah adalah dengan mengambil air yang bersumber dari dalam tanah.

Pengambilan air dalam skala besar akan mengganggu sumber air yang dibutuhkan warga. Lihat saja bagaimana sulitnya mendapatkan air di pemukiman sekitar Malioboro. Bahkan warga hanya mengandalkan air dari PDAM untuk memenuhi kebutuhannya yang pastinya dikenai biaya setiap bulan.

Warga terkesan kurang peduli dari mana sumber air yang mereka dapatkan. Sebuah hal yang merugikan jika melihat potensi Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, namun untuk memenuhi kebutuhan air bersih saja harus mengeluarkan uang.

Sebenarnya air di Bumi tidak akan berkurang walau musim kemarau sekalipun. Hanya saja dalam perjalanannya air akan berubah tergantung dimana tempat air itu berada. Upaya agar air tetap dapat difungsikan secara maksimal sebenarnya berada ditangan manusia.

Pemerintah memegang peranan penting dengan mengatur Pengolahan air yang terencana. Pengelolaan air harus disesuaikan dengan tata ruang yang ramah lingkungan. Sebelum pembangunan dilakukan, perlu dikaji mengenai sistem drainase untuk mengatur aliran air agar tetap masuk kedalam Bumi.

Disamping mengalirkan air kembali ke dalam tanah, pemerintah bisa saja membangun pemanen air hujan. Daripada air hujan terbuang ke sungai, air bisa tertampung di Bendungan. Dengan begitu masyarakat memiliki cadangan air yang siap didistribusikan ketika terjadi musim kemarau atau saat terjadi krisis air.

Untuk menjaga air di Bendungan tetap bersih dan jauh dari pencemaran limbah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah memiliki solusi. Solusi tersebut adalah sistem lahan basah (wetland) untuk menyerap limbah logam berat, nitrogen, dan fosfor. Sistem tersebut sudah diaplikasikan di Situ Cibuntu, Cibinong, Jawa barat serta di Danau Maninjau, Sumatera Barat.

Namun upaya pencegahan krisis air bersih harus dilakukan beriringan oleh pemerintah dan masyarakat. Momentum hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret setiap tahunnya harus dimanfaatkan sebagai titik balik kesadaran masyarakat akan pentingnya air bagi kehidupan.

Minimalisir penggunaan air untuk mandi dan menyiram toilet, gunakan air kembali untuk menyiram tanaman, dan mematikan keran air jika tidak digunakan merupakan solusi sederhana menghemat air. Karena dengan menghemat air berarti menyelamatkan lingkungan.

Helmi Iqbal Mahardika
S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik di UPN "Veteran" Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.