Kamis, Januari 28, 2021

Jangan Menghalangi Air untuk Terus Mengalir

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Kontroversi Penundaan Kredit Selama Setahun

Di tengah wabah virus corona yang mengguncangkan seluruh dunia, Indonesia adalah salah satu negara yang masih membuka pintu bandaranya untuk pelancong menjalani liburan. Belum...

Dehumanisasi Pendidikan dan Kekerasan Kultural Oleh Guru

Marx dalam salah satu teorinya menyebutkan bahwa para buruh telah teraleniasi oleh banyak hal yang membuat mereka tidak sepenuhnya menjadi manusia lagi. Eksploitasi dari...

Indonesia di Organisasi Internasional

Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan Indonesia untuk turut serta dalam melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ini sejalan dengan...
Helmi Iqbal Mahardika
S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik di UPN "Veteran" Yogyakarta

Tiga perempat dari Bumi adalah air, namun yang layak untuk dikonsumsi manusia kurang dari tiga persen. Populasi manusia di Bumi diperkirakan mencapai enam milyar, dan semuanya membutuhan air demi kelangsungan hidupnya.

Belum lagi manusia juga harus “berkompetisi” dengan tumbuhan untuk memperoleh sumber air guna menjaga keseimbangan alam. Persaingan tersebut menimbulkan krisis air yang melanda beberapa daerah di dunia.

Yogyakarta sebagai salah kota besar di pulau Jawa dengan populasi 3,5 juta penduduk tidak luput dari krisis air bersih. Salah satu penyebabnya adalah alih fungsi lahan menjadi hunian yang marak terjadi di Kota Yogyakarta, Sleman, dan Bantul. Padatnya rumah penduduk, ditambah dengan banyaknya hotel mengancam ketersediaan air di wilayah tersebut.

Dilansir dari harianjogja.com tertanggal 15 Agustus 2016. Saat ini ada 350 hotel berbintang di wilayah DIY di mana ada 15.000 kamar. Selain itu ada 30 apartemen yang memiliki sekitar 12.000 kamar. Otomatis seluruh hotel membutuhkan air bersih dan cara termurah adalah dengan mengambil air yang bersumber dari dalam tanah.

Pengambilan air dalam skala besar akan mengganggu sumber air yang dibutuhkan warga. Lihat saja bagaimana sulitnya mendapatkan air di pemukiman sekitar Malioboro. Bahkan warga hanya mengandalkan air dari PDAM untuk memenuhi kebutuhannya yang pastinya dikenai biaya setiap bulan.

Warga terkesan kurang peduli dari mana sumber air yang mereka dapatkan. Sebuah hal yang merugikan jika melihat potensi Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam, namun untuk memenuhi kebutuhan air bersih saja harus mengeluarkan uang.

Sebenarnya air di Bumi tidak akan berkurang walau musim kemarau sekalipun. Hanya saja dalam perjalanannya air akan berubah tergantung dimana tempat air itu berada. Upaya agar air tetap dapat difungsikan secara maksimal sebenarnya berada ditangan manusia.

Pemerintah memegang peranan penting dengan mengatur Pengolahan air yang terencana. Pengelolaan air harus disesuaikan dengan tata ruang yang ramah lingkungan. Sebelum pembangunan dilakukan, perlu dikaji mengenai sistem drainase untuk mengatur aliran air agar tetap masuk kedalam Bumi.

Disamping mengalirkan air kembali ke dalam tanah, pemerintah bisa saja membangun pemanen air hujan. Daripada air hujan terbuang ke sungai, air bisa tertampung di Bendungan. Dengan begitu masyarakat memiliki cadangan air yang siap didistribusikan ketika terjadi musim kemarau atau saat terjadi krisis air.

Untuk menjaga air di Bendungan tetap bersih dan jauh dari pencemaran limbah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah memiliki solusi. Solusi tersebut adalah sistem lahan basah (wetland) untuk menyerap limbah logam berat, nitrogen, dan fosfor. Sistem tersebut sudah diaplikasikan di Situ Cibuntu, Cibinong, Jawa barat serta di Danau Maninjau, Sumatera Barat.

Namun upaya pencegahan krisis air bersih harus dilakukan beriringan oleh pemerintah dan masyarakat. Momentum hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret setiap tahunnya harus dimanfaatkan sebagai titik balik kesadaran masyarakat akan pentingnya air bagi kehidupan.

Minimalisir penggunaan air untuk mandi dan menyiram toilet, gunakan air kembali untuk menyiram tanaman, dan mematikan keran air jika tidak digunakan merupakan solusi sederhana menghemat air. Karena dengan menghemat air berarti menyelamatkan lingkungan.

Helmi Iqbal Mahardika
S1 Ilmu Komunikasi konsentrasi Jurnalistik di UPN "Veteran" Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.