Senin, Januari 25, 2021

Jangan Mencari Simpati dengan Isu PKI

Jokowi Merangkul Dangdut

Pada 17 April 2019, masyarakat Indonesia akan menentukan pilihannya untuk presiden dan wakil presiden lima tahun mendatang. Di tengah kontestasi yang ‘keruh’ dari politik...

PRT Migran Memikul Beban Lebih Berat

“Assalamualaikum… Apakah bisa meminta bantuan? Ibu saya di Arab Saudi sudah hampir 2 bulan tak ada kabar”, chat inbox pengaduan kasus masuk melalui facebook...

Bahasa Indonesia, Riwayatmu Kini

Jika kita membaca UUD 1945 Pasal 36 Bab XV, di sana tercantum bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa resmi negara kita tercinta, Indonesia. Artinya, bahasa...

Karya Nyata untuk Pelajar Indonesia (Refleksi 57 Tahun IPM)

Semua orang yang pernah singgah di muka bumi pasti mempunyai cerita masa lalu. Entah itu menyenangkan, menyedihkan, maupun seabrek perasaan lainnya. Pasti dirasakan oleh...
Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran

Apa sebab isu komunis kembali mencuat? Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi diksi yang seksi. Sejak bulan September tahun 2018 lalu kita selalu gencar mendengar dan membaca tentang sebuah gerakan yang menghebohkan di tahun 1965. Gerakan 30 September Penghianatan Partai Komunis Indonesia (PKI) atau yang lazim dikenal G30S PKI.

Kisah penculikan para jenderal TNI AD yang dilakukan oleh Cakrabirawa yang dikendalikan oleh Letkol Untung yang berafiliasi ke PKI. Peristiwa itu selalu menjadi mimpi buruk bagi kita rakyat Indonesia. Tujuh Jenderal telah mati dan di buang di sumur tua di Lubang Buaya Jakarta.

Kini, hantu PKI seolah hadir kembali terurama sejak menjelang pemilu kemarin. Cukup miris jika isyu itu hanyalah menjadi cara untuk memperoleh simpati pemilih, terutama umat Islam.

Kita semua tahu bahwa komunis telah kalah oleh keadaan karena terbukti banyak negara yang melepaskan ideologi itu. Komunis dianggap telah gagal mengatasi kondisi sosial ekonomi sebuah negara. Bahkan negara adikuasa semacam Rusia dan Cina ideologi itu hanyalah jargon karena mereka telah erat memeluk hantu yang lebih menjanjikan yaitu Kapitalisme.

Saya tidak bisa membayangkan betapa mencekamnya saat itu. Bagaimana tidak mencekam ketika tujuh perwira tinggi TNI telah mati oleh pasukan sendiri yang telah disusupi oleh PKI. Itulah kenangan buruk sejarah negeri ini yang semoga tak akan terulang lagi.

PKI, telah berbuat kesalahan besar dengan membunuh para perwira tinggi itu. Mereka telah menghianati negeri sendiri. Negeri yang mayoritas Islam ini hendak dijadikannya negara komunis. Dan apa yang terjadi pada tahun itu memang sedang booming dua kubu Ideologi besar Komunis dan Demokrasi Kapitalis.

Keduanya pun seolah berjuang dengan dominasi yang begitu besar karena didukung oleh dua negara adi kuasa Soviet dan Amerika. Uni Soviet yang berafiliasi komunis dan Amerika yang demokrasi terlibat perang dingin dan saling pengaruh di negara negara berkembang. Indonesia menjadi salah satu target dari kedua negara adi daya itu pun tak lepas dari perang dingin yang dilakukan oleh keduanya.

Pada saat itu memang ada kecenderungan negara kita untuk lebih condong ke Uni Soviet. Dan Demokrasi Terpimpin yang sedang dijalankan di Indonesia melalui pemimpin besar Revolusi, Presiden Soekarno, terlihat memberi angin untuk ideologi komunis. Dan PKI berhasil memanfaatkan kondisi tersebut hingga terjadi peristiwa G30S PKI.

Rakyat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam menolak dengan tegas ideologi kafir tersebut. Para elite politik pun tidak menyadari bahwa islam jelas jelas menolak kekafiran yang meniadakan keberadaan Tuhan. Dalam hal ini Presiden Sukarno bisa dikatakan agak kurang perhitungan ketika berusaha merangkul semua golongan Nasionalis, Agama dan Komunis melalui jargonnya yang terkenal NASAKOM.

Untuk konteks saat ini PKI adalah isyu paling seksi untuk menarik simpati golongan religius tetapi, apakah isyu tersebut masih relevan?

Biar bagaimanapun apa yang dilakukan PKI adalah kesalahan besar dan patut dibenci karena telah berusaha menghianati ideologi bangsa Pancasila yang pada sila pertamanya jelas berbunyi Berketuhanan Pada Tuhan Yang Maha Esa. Siapapun yang tidak mengakui adanya Tuhan jelas tidak layak tumbuh di Indonesia dan patut dibenci. Namun unsur politis yang melingkupi peristiwa itu begitu kental hingga sekarang. PKI seperti hantu bergentayangan dan menjadi label yang menakutkan di benak rakyat Indonesia.

Sekarang ini konteksnya sangat berbeda dengan tahun 1965. Kita harus berhati hati agar tidak membuat kesalahan sebagaimana PKI yang suka menebar fitnah. Umat Islam adalah kendaraan yang bagus untuk politik, dan Islam sangat membenci Komunisme. Jangan karena kita bergaul akrab dengan Islam lantas menebarkan isyu PKI kepada lawan politik kita dengan harapan kita mendapat dukungan dari umat Islam.

Fitnah yang membabibuta untuk memenuhi tujuan sesaat akan lebih membahayakan dalam kehidupan berbangsa. Saya percaya TNI telah sangat jeli untuk mengatasi setiap pergerakan tersembunyi PKI karena mereka yang paling dirugikan.

Biar bagaimanapun Islam di Negeri ini sudah banyak makan asam garam. Dan Islam di negeri ini pun pernah mengalami saat saat sulit tidak hanya dari PKI. kalau bisa kita ambil contoh peristiwa Priok. Apalagi sekarang Islam sering dianggap identik dengan terorisme. Kemanakah dan di posisi manakah mereka para anti PKI saat Islam dituduh begini dan begitu. Tanpa diajak ajak kita umat Islam jelas anti PKI karena mereka tak bertuhan.

Semoga umat Islam semakin bijak menyikapi isyu isyu PKI karena PKI memang harus dibenci dan tak layak tumbuh di negeri ini. Namun satu hal yang pasti bahwa tidak semua yang dibenci kita tuduh sebagai PKI. Semoga para peguasa yang berkepentingan politis bisa bersikap dewasa. Jangan demi kepentingan kekuasaan sesaat, kita melabeli orang yang berseberangan dengan kita sebagai PKI. Salam Persatuan.

Agus Buchori
Saya seorang arsiparis juga pengajar yang menyukai dunia tulis menulis, berasal dari kampung nelayan di pesisir utara Kabupaten Lamongan tepatnya Desa Paciran
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

Sastra dan Jalan Lain Filsafat

Persinggungan eksistensial manusia dengan beragam realitas peradaban tidak mengherankan melahirkan berbagai pertanyaan fundamental – filosofis. Mempertanyakan, membandingkan, dan memperdebatkan beragam produk peradaban, salah satunya...

Ujian Konsistensi Penanganan Konsistensi Sengketa Hasil Pilkada

Jelang sengketa hasil pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi kerap timbul bahasan atau persoalan klasik yang selalu terjadi. Sebagai lembaga peradilan penyelesai sengketa politik,...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

The Social Dilemma: Logika Eksploitatif Media Sosial

Seorang teman baru bebas dari dunia gelap. Mengkonsumsi narkoba menjadi gaya hidupnya. Padalah kehidupannya tak terlalu suram bagi ukuran kelas menengah. Tapi kehidupannya itu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.