Minggu, Oktober 25, 2020

Jangan Lupa Menjadi Indonesia

Akreditasi Perguruan Tinggi di Masa Pandemi

Akreditasi merupakan kegiatan penilaian sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Tinggi sesuai Pasal 55 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun...

Apa Lagi yang Ditunggu DPR dalam Menciptakan Ruang Aman bagi Perempuan

Tujuan Nasional Negara Republik Indonesia yang tertulis dalam Pembukaan UndangUndang Dasar 1945, salah satunya yakni melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Tujuan...

Realisasi Janji Anies Baswedan?

Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta, setidaknya terhitung sejak 12 Oktober 2018 telah meluncurkan sebuah sistem subsidi perumahan yang bernama “samawa”. Samawa tersebut lebih kurang...

Hukum dan Kuasa Politik dalam Kacamata Hukum Kritis

Pansus hak angket DPR RI bertemu dengan napi-napi kasus korupsi di Lapas Suka Miskin guna mengutip keterangan tentang pelaksanaan pemeriksaan kasus-kasus korupsi yang dilaksanakan...
Nur Azis Hidayatulloh
Mahasiswa dan Tinggal di Yogyakarta

Keberagaman bangsa kita sering menjadikan kebanggaan bagi semua kalangan, entah dalam budaya, agama, suku bangsa maupun pilihan dalam politik. Akan tetapi semua itu hanya berakhir dalam “kebanggaan” semata, tanpa suatu hal yang dapat dijadikan tindakan nyata untuk senantiasa bangga terhadap keberagaman yang ada.

Merasa bangga boleh-boleh saja, akan tetapi nilai dari keberagaman itu sendiri semakin pudar dan hampir menemukan titik kehilangannya dalam keseharian kita. Nilai akan menghargai, mengasihi dan memiliki masih belum muncul dalam keseharian kita akhir-akhir ini, wajar apabila kita menanyakan kembali tentang suatu hal yang seharusnya sudah final seperti keberagaman di bangsa kita.

Pertanyaan tersebut menjadi kewajaran bagi kalangan yang masih menginginkan bangsa ini utuh, tidak hanya membangga-banggakan yang sejatinya bisa dijadikan wajah pintu depan bangsa kita sebelum melakukan pengakuan sepihak secara beramai-ramai, akan tetapi minim nilai itu sendiri.

Munculnya pertanyaan ini tidak lepas dari kondisi relasi sosial kita dalam bernegara yang hari ini terganggu dengan permasalahan saling memiliki dan menghargai. Kita masih saja mempersoalkan sesuatu yang berbau tentang keberagaman itu sendiri. Perbedaan seolah-olah menjadi sebuah ancaman yang harus dibumi-hanguskan atau mungkin malah dijadikan persaingan dalam perbedaan itu sendiri. Bukan hanya perbedaan pandangan politik, keragaman beragama kita juga sempat terungkit yang sejatinya sudah final sejak dulu.

Ketakutan akan suatu yang berbeda akan memunculkan lorong akhir yang dapat memantik suatu kekerasan. Buktinya, selama ini kita masih menemukan bagaimana peristiwa tentang kekerasan antar agama dan golongan akibat beda pandangan masih saja terjadi. Hal ini diperparah dengan kondisi sosial kita yang semakin pelik dengan berseliweranya informasi-informasi yang bersifat hasutan kebencian, kita lupa akan jatidiri bangsa kita bahwa suatu informasi harus dibuktikan kebenarnya terlebih dahulu sebelum bertindak. Lupa untuk mengklarifikasi dan mengkonfirmasi semua hal yang syubhat kepada kalangan yang tertuduh.

Jangan lupakan jati diri Indonesia, bangsa yang berdiri berkat keberagaman rakyatnya, keberagaman pikiran pendirinya dan keberagaman alam wilayahnya. Perbedaan jangan dijadikan landasan untuk melegalkan tindakan kekerasan, pengusiran, penganiayaan dan juga jangan sampai menghilangkan nyawa manusia. Kita harus menghayati perkataan Bung Karno, bahwa kita mendirikan Indonesia bukan untuk golongan tertentu, bukan milik agama tertentu, bukan juga milik adat tertentu, akan tetapi milik semua buat kita semua !. Dari Sabang sampai Merauke dari pulau Miangas hingga pulau Rote.

Perihal Hakim Mikroblog

Keranjingan akan sesuatu hal yang bersifat instan telah melunturkan mental kita selama ini. Kerja keras menjadi sebuah perilaku yang cukup langka selama ini, berkat media sosial semua serba cepat dan serba instan.

Begitulah efek negatif dunia maya kita, berbagai problem bermunculan seiring dengan perkembangan jenis dan layanan yang media sosial berikan. Sebagai pengguna, kita hanya tertunduk patuh dengan kemauan para pembuat media sosial tersebut. Problematika yang cukup menarik akhir-akhir ini ialah masih maraknya para hakim-hakim amatir yang menggunakan media sosial untuk mengomentari suatu peristiwa.

Wajar memang sebuah percakapan dalam menanggapi seuatu peristiwa untuk mencari akar dari problem tersebut. Akan tetapi bukan solusi yang diberikan, kita hanya terjebak dalam suatu percakapan yang membuka wacana saling adu domba, caci maki, dan melempar kebencian terhadap yang berbeda dengan kita.

Cukup miris memang ketika kita memasuki isu-isu yang didalamnya di perlukan mencocok-kan antara data dan fakta. Yang muncul dalam setiap komentar para warganet kita hanya sebuah komentar cacian dan makian kepada setiap orang.

Kita harus menyadari bersama, kegiatan adu komentar tidak mencerminkan sikap bangsa kita sebagai bangsa yang “bermusyawarah”. Lupa atau melupa itu hak mereka, akan tetapi marilah kita kembalikan jatidiri sikap tersebut dalam ranah bersosial di dunia maya.

Bermunculannya pernak-pernik media sosial harus kita manfaatkan secara gembira untuk menyebarkan berbagai bentuk hal positif, bukan dengan memproduksi kebencian yang akibatnya bukan ketenangan dan ketentraman yang didapat, malah sebaliknya keributan dan keramaian yang tak bermanfaat dalam hidup kita.

Sejenak kita ademkan segala tensi yang telah memantik kembali wacana keberagaman di ranah publik, kembalikan keberagaman sedari awal mulanya sebagai sunnatullah dari bangsa kita. Gelembung-gelembung wacana ketidakadilan dan diskriminasi kelompok dan individu harus segera selesai agar tidak menjangkit problem lain yang ujungnya akan memantik gejala sosial lainya.

Gus Dur sebagai bapak toleransi sekaligus mantan Presiden kita mengajarkan bahwa kalau ingin melakukan perubahan jangan tunduk pada kenyataan, Asal yakin di jalan yang benar. Setiap niat kita untuk merubah wajah Indonesia harus dengan kondisi rela dan ikhlas, walaupun kenyataan yang ada terlihat sulit untuk ditaklukkan untuk mengembalikan esensi dari nilai-nilai keberagaman yang ada di bangsa kita.

Nur Azis Hidayatulloh
Mahasiswa dan Tinggal di Yogyakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.