OUR NETWORK

Jangan Filmkan Bumi Manusia, Kenapa?

Sebagai pembaca Bumi Manusia yang penghayatannya menancap hingga ke jiwa, berdegup dalam dada sebuah paranoia…

Ketika membaca Bumi Manusia-nya Pramoedya, ada semacam osilasi emosional hebat yang saya rasakan, tergulung dan terhuyung karena kegetiran kolonialisme yang menghujam jantung kita. Magnum opus Pramoedya yang pembacanya meluas di berbagai belahan benua di luar sana, dikenal dan dikhidmati karena sebuah keagungan yang menjadikannya sakral.

Kesakralan itu mendapat pengusikan serius ketika rencana memfilmkan Bumi Manusia santer terdengar, dan Iqbal Ramadhan dikabarkan akan memerankan sosok sentral Minke. Sebagai pembaca Bumi Manusia yang penghayatannya menancap hingga ke jiwa, berdegup dalam dada sebuah paranoia dan kekhawatiran akan rusaknya imajinasi tentang Bumi Manusia yang sudah terbangun begitu megahnya dalam bilik memorabilia kita semua.

Dahi kita jelas berkerut ketika mendengar nama Iqbal disebut akan memainkan karakter menonjol Minke. Nyawa Minke yang menghidupkan cerita Bumi Manusia itu dicobakan untuk diberikan tubuh lewat lakon Iqbal – yang banyak pihak dikecewakan akibat adanya keputusan itu. Beberapa keberatan yang sangat logis mengemuka dan ini sangat wajar untuk dipahami.

Penokohan Minke yang akan muncul dalam format film tentu akan tersulap menjadi sangat berbeda dari Minke sebagaimana yang kita kenal lewat alam pikiran kita. Selama ini, kita menjaga muruah otentisitas karakter Minke dalam imaji termulia kita masing-masing, dengan keterhubungan emosional dan historikal yang terbangun di antara pembaca.

Imajinasi pembaca, yang datang dari cakram-cakram dengan berbagai warna sosial dan kultural bertemu pada suatu ruang pencecapan bersama yang memampukan mereka merasakan kuatnya magnitudo dari watak Minke yang pemberani, pendobrak dan pembelajar ulung di masanya.

Kegelisahan kita semua menjadi maklum adanya di kala Minke – yang hidup dalam altar penafsiran bebas kita – secara semi permisif – diangkat ke layar sinematik atas nama kultivasi nilai kesejarahan pada khalayak luas menggunakan media populer.

Sebongkah risiko sedang dipertaruhkan dalam keputusan ini: nasib kekeramatan dan citra magis-empatik dari Bumi Manusia yang selama ini kita jaga dapat berubah total di mata generasi yang akan datang. Konsekuensi logis ini akan selalu membayangi selama kita tahu bahwa risiko seperti ini porsinya lebih besar ditentukan di tangan sutradara dan kalkulasi profit produser film.

Antiteesis yang paling mungkin menyembul atas premis yang berkalung narasi kesakralan adalah argumen yang mendukung perluasan dan atau pengenalan sejarah Indonesia (dan tipikal negara dunia ketiga) dengan dimediasi budaya populer.

Tanpa sedikit pun bermaksud menyikapi pemfilman Bumi Manusia dengan konservatif, namun sumber pengisahan yang berasal dari kekejaman penjajahan, cerita pilu kemanusiaan, penderitaan rakyat, rasisme yang tidak bisa dicerna akal sehat, dan bengisnya penindasan dengan mengambil genre literatur lawas, yakni roman, menyaratkan suatu etika kesusasteraan tertentu yang harus diindahkan.

Jika sebentuk kesakralan roman diumpamakan sebagai sewujud kanun (canon) dalam sastra, maka melekat bersamanya perlakuan etik khusus, tetapi sama sekali tidak bercirikan eksklusif. Maksudnya ialah, upaya-upaya eksegesis dari membaca Bumi Manusia tidak bisa ditempatkan layaknya apropriasi kultural (cultural appropriation) semata yang cenderung sembrono.

Kehati-hatian yang harus dikedepankan itu berupa kecermatan dalam memahami latar spasial, sosial, dan politik -semenjak karya Pram juga lahir dari kepahitan hidupnya sebagai tahanan-, keakurasian mengekstrak pesan moral, sekaligus kepekaan yang tinggi dalam merefleksikan gerakan humanisme Pram yang terbungkam.

Namun pengistilahan Bumi Manusia itu sebagai kanun (canon) rentan terpeleset menjadi conundrum (kebingungan). Tersebab tidak semua karya sastra, seperti roman misalnya, harus difilmkan karena dampaknya bisa fatal terhadap pembentukan imajinasi baik bagi mereka yang sedang, sudah, dan akan membaca.

Bila diperlukan, pembedaan perlakuan terhadap karya-karya sastra monumental kiranya penting untuk dilakukan demi menyelamatkan kolosalitas kronik-kronik fiksi berlatar sejarah. Biarkan saja roman bertumbuh sendiri dalam hati kita semua dan mengekalkan laku Minke dalam keseharian pembaca karena dorongan pikiran yang terbesarkan oleh imajinasi yang sudah kadung murni nan penuh budi.

Kebingungan kedua muncul karena sosok Iqbal yang memerankan nama besar Minke mustahil untuk dilepaskan dari imej sebelumnya sebagai pemeran Dilan. Bayang-bayang karakter sebelumnya akan menghantui aktualisasi dari ketokohan Minke sendiri; polesan apa pun yang dilakukan guna mengusahakan agar sosok Minke tertanam dalam diri Iqbal tetap tidak akan bisa membuat Iqbal seperti Minke.

Minke tetaplah Minke, pribadi yang terpisah dari Iqbal, yang secara alamiahnya adalah karakter yang mendapati hidupnya dari tuturan-tuturan heroik dan reflektif Pram. Minke boleh jadi sesosok yang pernah eksis dan mengilhami Pram, tapi tiupan-tiupan karakter khas karangan dari Pram itu lah yang sesungguhnya membuat Minke begitu hidup, nyata, dan abadi. Iqbal tidak mendapati itu langsung dari Pram, sehingga perannya sebagai Minke rawan terjatuh pada karakter yang tidak hidup dengan organik, artifisial, dan tidak abadi.

Kebingungan lain yang hinggap di benak pembaca adalah ketidaksengajaan pemfilman Bumi Manusia yang – secara tidak disadari- akan mencetak suatu referensi atas penggambaran visual cepat dan imajinasi terbatas dari Bumi Manusia. Disukai atau tidak, film yang kemudian menjelmakan diri menjadi salah satu arsip dari sebuah karya berkemungkinan tinggi untuk tampil sebagai rujukan awal (starting point) bagi generasi digital dalam hal mengenal karya sastra yang berhalaman tebal. Apalagi di tengah derasnya arus konsumsi konten multimedia, akan menjadi tantangan tersendiri untuk mendorong anak-anak muda membaca sastra lama.

Tidak mengejutkan jika godaan untuk tidak membaca muncul karena film sudah tersedia, akan tetapi, yang lebih genting dari itu adalah daya imajinasi yang juga rawan terkungkung. Membangun imajinasi dari membaca berbeda dengan menonton film. Tidak dipungkiri, pengisahan visual yang diciptakan dalam film mencerminkan adanya otoritas tunggal akan pemilihan imajinasi pihak tertentu yang diangkat sebagai bahan cerita. Alhasil, kita harus legowo bahwa pengintegrasian bayangan cerita yang kita ciptakan dengan yang akan ditampilkan tidaklah terjadi dalam pembuatan film.

Kekhawatiran pasca-pemfilman juga menyeruak. Film merupakan sebuah entitas sub-kultur yang diproduksi dengan berbagai rupa penyesuaian, sehingga perubahan dari format karya literatur menjadi sebuah luaran visual sejatinya menghasilkan suatu produk yang benar-benar baru, meskipun prosesnya menerapkan adaptasi karya. Film, adalah perkara memilih-milah sudut pandang, pembingkaian cerita, selera pasar, dan peruntungan industri.

Miris jadinya ketika kesakralan Bumi Manusia mharus terkurangi dengan meme-meme yang muncul setelah pemutaran film, entah kesedihan Annelies Mellema yang pernah dilecehkan, dilemma Nyai Ontosoroh, kekecewaan Minke, yang kesemuanya itu tidak pada tempatnya untuk dijadikan bahan gurauan di jagad maya dan nyata. Karya agung Pram sudah menjadi milik publik, dan publik berhak menentukan sikapnya sendiri.

Pendiri kelompok diskusi Indoneshine - sebuah kelompok untuk bertukar ide yang memiliki perhatian pada isu-isu seputaran sains, teknologi dan masyarakat. Dia tergabung dalam asosiasi keilmuan Development Studies Association (DSA) dan Manchester Informatics Society (MIS). Hobi berenang. Bisa dihubungi di: febbyrwid@gmail.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…