Rabu, Januari 27, 2021

Jalan Buntu Itu Bernama Kehidupan

Teokrasi di Mata Demokrasi

Dalam pengertian yang paling umum, teokrasi adalah cara memerintah negara berdasarkan kepercayaan bahwa Tuhan langsung memerintah agama, di mana hukum negara yang berlaku adalah...

Menyoal Menteri Menjadi Caleg

Tercatat ada 7 (tujuh) menteri Kabinet Kerja yang mendaftarkan diri sebagai Calon Anggota Legislatif (Caleg) pada Pemilu 2019. Mereka adalah Menteri Koordinator Pembangunan Manusia...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Dedi Mulyadi Menuju PDIP

Pemilihan Gubernur Jawa Barat semakin menarik, Partai-partai Politik mulai menemui titik terang untuk mengusung Calon Gubernur yang di gelar serentak tersebut. Banyak simulasi yang...
Muhammad Husni
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Sedang Magang di Geotimes.

Kehidupan tidak selalu menjadi tempat yang dipenuhi cahaya, ditumbuhi mawar berwarna, serta diiringi alunan musik yang merdu. Kehidupan juga tak jarang perlu dimaknai sebagai tempat yang gelap, tak memiliki aturan yang jelas, dan dipenuhi jalan berliku atau bahkan jalan buntu─sebuah tempat di mana semua doa dan harapan dijatuhkan.

Kehidupan bukanlah arena bermain yang indah, yang akan memberikan panduan kepada setiap pendatang baru. Kehidupan sekarang tak ubahnya hutan belantara, di dalamnya menunggu berbagai kejadian yang tak dapat kita perkirakan dan semua itu mau tidak mau harus kita lewati.

Banyak hal yang (kita rasa) harus kita kerjakan, “usaha tidak akan mengkhianati hasil,” adalah kebohongan yang dipaksakan supaya kita dapat berkompromi dan tak ubahnya obat penenang bagi orang dengan gangguan kesehatan mental; harusnya kalimat itu berupa, “usaha tidak akan mengkhianati hasil, tetapi itu mengkhianati mimpimu.”

Memang terkadang, berbagai masalah datang menghampiri kita, membuat kita patah semangat, dan fakta menyakitkannya hidup tidak selamanya berjalan seperti yang kita inginkan. Ketika kebuntuan menyapa, beberapa orang memilih untuk berdoa, beberapa yang lainnya… bunuh diri.

There is only one really serious philosophical problem, and that is suicide,” tulis Albert Camus dalam esainya The Myth of Sisyphus. Diawali dengan mempertanyakan whydunit─mengapa hidup itu berharga untuk dijalani, Camus menempatkan masalah tersebut dan menjelaskannya dengan paradigma howdunit─bagaimana kita seharusnya menjalani hidup.

Bagi kebanyakan orang, hidup tanpa makna adalah kehidupan yang tak pantas untuk dijalani. Matanya tajam melihat masalah ini dan kemudian menendang masalah tersebut jauh-jauh. Konklusinya, bunuh diri tak lebih berguna daripada menjalani hidup karena ketiadaan makna setelah kematian lebih besar dibanding semasa hidup.

You will never live if you are looking for the meaning of life,” Camus memberikan pernyataannya mengenai arti hidup: satupun tidak ada dan tidak dapat dibuat. Baginya mustahil menemukan jawaban yang benar-benar memuaskan dan segala percobaan pencariannya hanya akan berujung pada bencana dan keputusasaan.

Apapun makna yang kita ambil, itu akan segera menguap. Sains, filsafat, masyarakat, dan bahkan agama tidak dapat menciptakan arti hidup yang benar-benar kebal dari konsep absurditas. Hal ini senada dengan pernyataannya, “In the depth of winter, I finally learned that within me there lay an invincible summer.”

Keseluruhan kerja Camus dilandaskan pada konsep bernama “absurd.” Manusia memiliki naluri untuk menemukan makna dalam berbagai hal dan jika itu tidak ditemukannya, mereka akan mengada-ada mengenai makna tersebut.

Faktanya, alam semesta sangat dingin bahkan abai terhadap pencarian ini. Tiap pencarian maupun proses mengada-ada itu akan menemui situasi absurd di mana tiap-tiap upaya tersebut menemui kegagalan dan kekosongan makna. Memang, hidup tidak memiliki arti dan akan tetap seperti itu.

Camus tidak memandang ketiadaan makna ini sebagai hal yang buruk. Dia kemudian menjelaskan bahwasanya memahami kalau hidup itu absurd adalah langkah pertama untuk menjalani hidup sepenuhnya. Meskipun hidup di dunia yang tanpa makna adalah masalah yang sangat besar, masalah ini akan sama saja seperti masalah sehari-hari lainnya yang perlu dipecahkan.

Camus mengkritik sesiapa yang memaksakan konsep hidup bermakna tersebut dan mencoba menanggung kesia-siaan hidup dengannya. Meskipun hal tersebut memberi kenyamanan, sistem ini akan gagal dalam jangka panjang. Semesta tetap dingin dan abai, peristiwa acak terjadi, dan akhirnya… menemui ketiadaan makna kembali.

Camus membawa contoh dengan menyebut Kierkegaard─yang memahami bahwa hidup itu absurd namun melarikan diri dengan bersandar pada Tuhan daripada merangkul fakta. Di sisi lain, eksistensialis Perancis seperti Sartre melakukan hal yang sama dengan cara sekuler. Itu sebabnya dia enggan untuk diidentifikasikan bersama dengan mereka.

We must imagine Sisyphus happy,” mungkin cara yang paling mendekati kepuasan hanyalah merangkul ketiadaan makna tersebut. Orang yang tahu bahwa hidup itu absurd dan melewatinya dengan senyuman adalah pahlawan dan tokoh utama yang sesungguhnya. Ia menyandarkan ini pada Sisifus yang dikutuk dengan hal yang paling mengerikan; menggulung batu selamanya ke puncak gunung namun menemukan kesenangan di dalamnya.

Apakah Camus hanya membual? Saya berani menjawab tidak. Dari seluruh hasil kerjanya, dia mengapresiasi matahari, pantai, bercumbu, tarian, dan makanan enak. Pada kenyataan pun, dia menyukai olahraga dan seorang atlet sepak bola di masa mudanya. Hanya karena hidup tidak berarti bukan berarti tidak bisa menyenangkan! Jadikanlah ketiadaan makna tersebut seolah-olah hantu sains─tak ubahnya gravitasi pada bumi.

Lalu, apa yang harus kita lakukan saat ini? Camus menganjurkan kita untuk menikmati hidup dengan melakukan hal-hal yang kita sukai dan menikmati momen sepenuhnya, menolak untuk tenggelam dalam keputusasaan serta memeluk ketiadaan makna maupun keberadaan dengan melanjutkan hidup.

Bisakah kita menemukan makna hidup yang benar-benar dapat memuaskan kita? Tentu saja tidak bisa dan tidak akan pernah namun hal tersebut bukanlah masalah. Kita masih hidup hari ini, saat ini, kita memiliki kemampuan untuk mencintai diri sendiri. Hidup itu layak dijalani dan harus dirangkul apa adanya.

Meskipun kehidupan tak ubahnya hutan belantara yang mencekam dan tak dapat dikalkulasi, meskipun sulit untuk menghadapi ketiadaan makna tanpa mundur menuju pelukan cinta agama, sains, masyarakat, atau bahkan membuat-buat makna sendiri. Kita harus menghadapi dan memeluk kenyataan bahwa dunia ini absurd serta melukis senyum di wajah kita.

Muhammad Husni
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Sedang Magang di Geotimes.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.