Kamis, Februari 25, 2021

Jalan Baru Mengakhiri Pernikahan Dini

Debottlenecking Pendidikan Madrasah

Istilah debottlenecking pernah popular pada awal pemerintahan Presiden SBY Jilid 2 yang berarti mengurai masalah. Debottlenecking dalam hal ini merujuk pada keadaan untuk mengurai...

Menanyakan Kembali Fenomena Gantung Diri di Gunungkidul?

Tingginya angka bunuh diri di Indonesia menjadi masalah universal. Prevalensi angka bunuh diri di sini terus meningkat setiap tahunnya. Data terakhir pada tahun 2016,...

Andai AHY Serius Menjadi Oposisi

Meskipun harus bersikap netral, tetapi untuk membayangkan posisi sebagai seorang oposan, pasti tidak bisa tepat seperti yang dirasakan oleh kalangan oposisi yang sebenarnya. Paling...

RUU-PKS Bukan Hanya untuk Perempuan

“Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia...”. Kalimat berikut merupakan bunyi pasal 28G ayat (2) Undang-Undang Dasar...
Sofia Al Farizi
Mahasiswa Magister Public Health Universitas Airlangga Tertarik dengan Isue Perempuan, Kesehatan Reproduksi dan Gender

Isu pernikahan dini kembali mencuat setelah munculnya kabar pernikahan remaja usia 15 tahun dan 14 tahun di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Hal ini menyalahi peraturan yang telah dibuat melalui UU Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yang menyebutkan perkawinan hanya diizinikan jika pihak pria mencapai usia 19 tahun dan pihak perempuan mencapai usia 16 tahun, dan memenuhi syarat-syarat perkawinan yang salah satunya adalah untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai usia 21 tahun harus mendapat izin orang tua.

Kenyataanya pernikahan dini di Indonesia terbilang tinggi. Indonesia menjadi salah satu Negara di kawasan Asia Pasifik yang memiliki prevalensi pernikahan dini tertinggi. UNICEF menyatakan bahwa lebih dari seperenam anak perempuan menikah sebelum mencapai usia dewasa (usia 18 tahun) atau sekitar 340.000 anak perempuan menikah setiap tahunnya. Mengacu pada data Susesnas 2015, perempuan yang menikah pada usia 16-18 tahun memiliki presentase paling tinggi yaitu sebesar 22,82%.

Dampak Pernikahan Dini 

Perlu kita sadari, pernikahan dini akan memberikan dampak yang besar. Salah satu dampak yang perlu menjadi perhatian serius adalah dampak pada kesehatan, baik itu kesehatan pada perempuanya maupun pada bayi yang nantinya dilahirkan.

Terdapat beberapa ancaman kesehatan nantinya yang akan didapatkan oleh perempuan, derajat kesehatan perempuan akan dipertaruhkan. Pertama, risiko komplikasi pada proses kehamilan. Penelitian Adedokun, (2016) menyatakan bahwa kehamilan pada 14 – 18 tahun akan berampak pada pada kesehatan ibu, diantaranya perdarahan persalinan, persalinan lama, keguguran. Hal ini dapat terjadi karena organ reproduksi perempuan yang belum siap untuk menjalani proses kehamilan.

Kedua, memiliki risiko lebih besar untuk terjangkit kanker leher rahim. Penelitian Louie KS (2009) menyatakan bahwa perempuan yang melakukan hubungan seksual pertama kali pada usia 17-20 tahun akan memiliki risiko lebih besar dibandingkan usia setelahnya. Hal ini dapat terjadi karena leher rahim belum cukup matang untuk melakukan hubungan seks dan menimbulkan infeksi serta memicu kanker.

Anak pada orang tua dengan pernikahan dini akan memiliki kualitas yang cenderung rendah, hal ini berkaitan dengan beberapa output yang dihasilkan selama proses kehamilan dan pola asuh dari orang tua tersebut. Pertama, bayi memiliki risiko yang lebih besar untuk dilahirkan dengan berat lahir rendah. Akan terjadi persaingan nutrisi antara janin dan ibu pada kehamilan di usia yang dini, pada usia ini seharusnya nutrisi yang didapatkan ibu digunakanya untuk pertumbuhan.

Kedua, proses pertumbuhan dan perkembangan anak yang terganggu, penelitian Raj Anita, (2010) menyatakan bahwa anak yang dilahirkan dari pernikahan sebelum 18 tahun akan berdampak pada gangguan nutrisi seperti stunting dan underweight, hal ini terjadi karena pengetahuan mereka yang cenderung rendah mengenai asupan makanan dan perekonomian yang belum stabil sehingga mengalami kesusahan untuk mendapatkan sumber makanan. Kondisi ini nantinya akan berkontribusi dalam pertumbuhan kognitif anak yang nantinya dapat menurunkan kecerdasan anak.

Sex Education sebagai Alternatif Solusi 

Pengetahuan yang rendah merupakan akar permasalahan dari pernikahan dini. Penelitian Wijayanti, (2017)  menyatakan bahwa pengetahuan memiliki hubungan yang erat dengan pernikahan usia dini. Kebanyakan mereka tidak mengetahui mengenai batasan usia perkawinan dan dampak yang nantinya akan didapatkan dari pernikahan dini. Informasi seperti ini dianggap tabu bagi lingkungan mereka sehingga mereka kesulitan dalam mendapatkan informasi tersebut.

Faktanya penduduk Indonesia memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi yang cukup rendah. Data SDKI 2012 menunjukkan bahwa hanya 35,3% remaja perempuan dan 31,2% remaja laki-laki usia 15-19 tahun yang mengetahui bahwa perempuan dapat hamil dengan satu kali berhubungan seksual. Data Riskesdas 2010 menyebutkan bahwa penduduk usia 10-24 tahun yang mempunyai pengetahuan mengenai HIV/AIDS sebanyak 16,8%.

Budaya pernikahan dini sebenarnya bisa dipatahkan dengan informasi yang jelas mengenai dampak yang akan dihadapi. Kita perlu meruntuhkan anggapan bahwa hubungan seks merupakan suatu hal yang tabu untuk diperkenalkan kepada anak. Informasi ini dapat kita berikan ke beberapa lingkungan terdekat anak.

Pertama, lembaga pendidikan adalah merupakan lingkungan yang paling dekat dengan anak. Informasi mengenai kesehatan reproduksi seharusnya dapat diberikan melalui lembaga pendidikan. Kurikulum yang diberikan seharunya perlu lebih diperdalam dan tidak hanya berfokus pada fungsi organ saja. Pendidikan seks seharusnya tidak melanggengkan hal yang tabu mengenai hubungan seksual, hubungan seksual dan dampak yang mereka dapatkan harus lebih diperjelas tanpa menghilangkan artian yang sebenarnya.

Kedua, orang tua memainkan peran yang penting dalam memberikan informasi mengenai kesehatan reproduksi. Utomo I.D, (2012) menyatakan bahwa kenyataan yang terjadi di Indonesia sekarang adalah budaya malu dilanggengkan oleh orang tua dan tidak tertarik untuk berdisusi dengan anak-anak tentang kesehatan seksual dan reproduksi.

Ketiga, sumber informasi melalui berbagai media harus bisa ditekan untuk mengkampanyekan pernikahan usia dini. Media juga perlu memberikan edukasi yang mencerdaskan mengenai kesehatan repoduksi yang nantinya dapat tepat sasaran kepada orang tua maupun anak.

Pelayanan kesehatan juga bisa menjadi media informasi bagi anak dan orang tua. Pemerintah perlu memberikan perhatian lebih dengan mengaktifkan kembali Puskesmas remaja yang nantinya akan memberikan informasi sekaligus konseling pada anak dan orang tua.

Sofia Al Farizi
Mahasiswa Magister Public Health Universitas Airlangga Tertarik dengan Isue Perempuan, Kesehatan Reproduksi dan Gender
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Polemik Pernikahan Dini Masa Pandemi

Menyebarnya virus covid 19 di Indonesia sangat cepat dan menyeluruh ke berbagai wilayah dari kota besar sampai daerah pelosok desa. Virus ini terjadi mulai...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

Revitalisasi Bahasa Daerah Melalui Tradisi Santri

Bahasa daerah merupakan bahasa awal yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Melihat bahasa daerah di Indonesia sangat banyak ragamnya dan merupakan kekayaan budaya Indonesia, seiring...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Nabi Muhammad SAW, Sang Pembawa Perubahan

Agama Islam dalam sejarah perkembangannya merupakan agama yang selalu menekankan pentingnya perubahan. Perubahan tersebut tidak hanya pada perilaku dan sifat manusia, melainkan juga pada...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.