Sabtu, Maret 6, 2021

Jakob Oetama, Sang Wartapreneur yang Rendah Hati

Jokowi dan Anies Tunduk Pada Reklamasi Jakarta?

Anies menghentikan reklamasi, menyegel bangunan di atasnya, lalu belakangan terbitkan IMB properti-properti yang sudah dibangun di sana. Ada apa? Ini preseden bagus untuk bisnis. Uruk...

Universal Basic Income: Solusi untuk Masalah Kemiskinan

Menurut Kecuk Suhariyanto dalam artikel jurnal Syawie “Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial” (2011) berpendapat bahwa kemiskinan adalah kondisi saat seseorang atau sekelompok orang tak mampu...

Arah Langkah Media Konvensional di Era Revolusi Industri 4.0

Saat ini kita telah merasakan sebuah fenomena yang dinamakan globalisasi. Globalisasi bermakna bahwa seluruh wilayah di penjuru dunia terhubung nyaris tanpa ada batas, termasuk...

Anak Dayak dan Ceker Ayam

Seminggu yang lalu saya bersama dengan Pak Albert Rufinus (pensiunan dosen Bahasa Inggris  di FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak) dan Kehi (lulusan Filsafat di Widya...
Afriyanto Sikumbang
Penulis, mantan wartawan, alumnus FE Unila.

Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaik bangsa. Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia, berpulang pada hari Rabu, 9 September 2020 di Jakarta dalam usia 88 tahun.

Pak JO, begitu beliau biasa disapa oleh karyawan Kompas Gramedia, adalah sosok yang rendah hati, ramah, santun, penuh integritas, jujur, dan sangat menghargai perbedaan. Beliau adalah wartawan sejati yang menjunjung tinggi kode etik jurnalistik.

Beliau juga tidak suka dengan politik. Seumur hidupnya, Pak JO hanya sekali menjadi anggota MPR. Beliau tidak pernah menjadi anggota Dewan, tidak pernah menjadi menteri, tidak pernah menjadi dirut BUMN. Padahal jika mau, mungkin jabatan-jabatan tersebut dapat dengan mudah diraihnya. Beliau benar-benar konsisten di bidang jurnalistik.

Pak JO adalah satu dari sedikit wartawan yang berhasil membangun kerajaan media mulai dari nol. Dengan segala keterbatasan sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia maupun permodalan, berliau bersama dengan P.K. Ojong secara perlahan tapi pasti mampu mengembangkan Kompas Gramedia hingga menjadi besar seperti sekarang ini.

Kebanyakan bisnis media massa dibangun oleh pengusaha non-media yang menggandeng wartawan sebagai pelaksananya. Namun tidak demikian dengan Pak JO. Kompas sepenuhnya dibangun dan dibesarkan oleh wartawan.

Di samping kompetensinya sebagai wartawan, Pak JO punya talenta lain yaitu punya jiwa kewirausahaan atau entrepreneurship. Makanya, saya menyebut Pak JO sebagai Wartapreneur, yaitu wartawan entrepreneur, wartawan yang punya naluri kewirausahaan. Tanpa jiwa entrepreneur, tidak mungkin beliau mampu mengembangkan Kelompok Kompas Gramedia (KKG) menjadi besar seperti sekarang ini.

Beliau jeli dalam menyinergikan lini usaha yang saling mendukung satu sama lain. KKG kini telah memiliki jaringan bisnis mulai dari media massa (koran, tabloid, majalah, stasiun televisi), penerbitan buku, percetakan, hingga jaringan toko buku.

Tak puas dengan sinergitas usaha, beliau pun melakukan diversifikasi usaha ke bidang lain yang tidak ada hubungannya dengan media massa. Beliau kemudian terjun ke bisnis properti dengan membangun Hotel Santika dan Hotel Amaris, serta bidang pendidikan dengan mendirikan Universitas Multimedia Nusantara.

Ada sejumlah alasan mengapa Pak JO melakukan diversifikasi usaha. Pertama, ingin mendapatkan penghasilan lain yang boleh jadi lebih besar dari penghasilan di bisnis utama. Kedua, sebagai antisipasi jika Kompas kena bredel. Di era Orde Baru, nasib media massa sangat rentan. Ia bisa dibredel kapan saja oleh penguasaan saat itu. Ketiga, mengikuti perkembangan zaman, dengan membangun bisnis yang prospektif.

Pak JO adalah sosok yang humanis. Beliau bisa berkawan dengan siapa saja, tanpa pandang bulu. Koleganya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa hingga pengusaha, birokrat, pejabat, akademisi, budayawan, dan pemuka agama. Sebagai orang yang menghargai perbedaan, Pak JO punya teman yang beda dengan dirinya, beda golongan, beda agama, beda aliran politik, beda suku.

Dalam siaran khusus Kompas TV kemarin, ditampilkan sejumlah ungkapan Pak JO yang sangat inspiratif. Ada satu ungkapan yang menarik perhatian saya. Ungkapan tersebut berbunyi “Tidak merasa miskin di hadapan orang kaya, tidak merasa kaya di hadapan orang miskin.” Ungkapan tersebut sangat dalam maknanya. Beliau menganggap dirinya sama dengan orang lain. Beliau rendah hati dan tidak membeda-bedakan orang.

Pak JO telah tiada. Namun pemikiran, legacy, dan budi baiknya akan tetap berbekas dan selalu dikenang orang. Sudah saatnya estafeta kepemimpinan KKG dilanjutkan oleh putranya yaitu Lilik Oetama. Selamat jalan Pak Jakob Oetama. Semoga engkau mendapat tempat yang terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Afriyanto Sikumbang
Penulis, mantan wartawan, alumnus FE Unila.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.