Senin, November 30, 2020

Jaga Persatuan Pasca Pemilu

Paperless Culture

Kertas adalah benda ajaib yang membantu dan memudahkan banyak hal dalam hidup kita. Mulai dari pembungkus makanan, buku catatan, tisu hingga struk belanja, kehidupan...

Generasi Putus Sekolah

Desa Sukawera merupakan salah satu desa di pinggir Kabupaten Majalengka yang dekat dengan perbatasan wilayah Indramayu Selatan. Sebagian besar masayarakat di desa ini bermata...

Antara Ulama dan Mahar Politik 1 T

Ulama merupakan tempat kita bertanya tentang agama bahkan tentang kehidupan ini. Ulama sosok yang dihargai, dihormati oleh masyarakat apalagi oleh para santri-santrinya. Apa yang dikatakan...

Hentikan Kekerasan di Sekolah Kedinasan!

“..Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali..”, penggalan lirik lagu yang sempat menjadi hits dan dibawakan oleh band Peterpan barangkali bisa menggambarkan sebuah...
ahmad deni
saya ahmad deni aji alfian seorang mahasiswa politeknik elektronika negeri surabaya jurusan teknik elektro industri kelas kerjasama PLN asal banyuwangi

Pesta demokrasi 17 April 2019 telah usai. Euforia masyarakat menyambut penyelanggaraan pemilu dengan mengikuti kampanye yang di lakukan oleh tiap capres maupun caleg selama kurang lebih tujuh bulan telah membuat keputusan bagi Rakyat Indonesia memilih calon mana yang pantas dan layak mengemban amanah kedepannya.

Satu hari menjadi penentu masa depan Indonesia dalam kurun waktu 5 tahun kedepan. Satu suara begitu berharga di pemilu untuk menentukan kemenangan para calon utusan rakyat. Pergeleran pemilu pada 17 April 2019 berlangsung secara damai, ini menunjukkan kedewasaan masyarakat dalam berpolitik.

Penyambutan pergelaran pesta demokrasi 2019 sangatlah menguras energi dan waktu. Baik para capres, caleg maupun rakyat. Pemilu membuat masyarakat terpecah. Masyarakat terbagi menjadi dua antara pendukung petahana dan pendukung oposan. Saling serang argument terjadi di kedua kubu bertujuan saling menjatuhkan.

Terbentuknya kedua kubu tidak terlepas dari isu-isu mulai dari Indonesia akan punah ditahun xxx, Indonesia tidak akan menginzinkan adzan untuk dikumandangkan, pertahanan Indonesia yang rapuh dll.

Mereka kaum elit rela mengatasnamakan Agama, Ideologi Negara Pancasila, serta keutuhan NKRI hanya sebagai rasa rakus mereka akan kursi pemerintahan. Bila kita amati masyarakat hanya sebagai boneka yang seenaknya dimainkan kaum elit. Mereka menggunakan segala cara dengan rasa ambisius mereka pribadi agar dapat menduduki tata kelola pemerintahan.

Masyarakat hanya mendapat janji-janji manis yang seolah belum tentu kebenarannya, rakyat sangat dirugikan rakyat hanya dipermainkan. Layaknya Simbiosis parasitisme, satu diuntungkan (kaum elit) dan satu dirugikan (kaum marginal).

Meskipun pemilu 2019 selesai. Dampak perpecahan masih terjadi pasca pemilu. Seperti pernyataan hasil quick count survei lembaga melakukan kecurangan, data yang diambil tidak sesuai dengan real count yang terjadi pada tiap TPS, KPU memihak kepada kubu petahana.

Tidak hanya itu kubu oposan membuat lembaga survei berdasarkan real count yang nilainya berbeda dengan hasil quick count. Sesuai dengan kutipan capres oposan Prabowo “Saya mau kasih update bahwa berdasarkan real count kita, kita sudah berada pada di posisi 62%. Ini adalah hasil real count.

Hal ini membuat masyarakat geram akan ketidaktransparan lembaga survei buatan BPN kubu oposan. Masyarakat ingin mengetahui dari mana data diambil, metode apa yang digunakan. Namun permitaan yang diajukan ditolak oleh kubu oposan, seoloah mempertanyakan dana yang dibayarkan kubu petahana oleh lembaga survei.

Seandainya menerima maka ketransparan akan timbul dan dari situ terdapat keselarasan untuk saling mencocokkan mengapa hasil suara yang dihitung berbeda sehingga hasil perhitungan suara memang benar-benar sesuai dengan data yang ada dilapangan.

Sedangkan di pihak petahana berkomentar tentang untuk menunggu hasil keputusan real count yang dilakukan oleh pihak KPU ( Komisi Pemilihan Umum ). Diharapkan masyarakat untuk saling menjaga dan melindungi dalam menyukseskan perhitungan real count yang dilakukan oleh KPU.

Dalam kutipan capres petahana Joko Widodo “Kita tahu semuanya, yang namanya perhitungan quick count adalah perhitungan ilmiah yang dari pemilu-pemilu yang lalu. Akurasinya 99 persen, yang hasilnya hampir sama dengan real count”.

Capres Joko Widodo menghimbau untuk menunggu hasil real count dari KPU, dan untuk menjaga jalannya proses pelancaran perhitungan real count.

Namun disisi lain ajakan kepada masyarakat Indonesia untuk kembali bersatu pasca pemilu 2019 yang dilontarkan tokoh masing-masing kubu.

Capres Joko Widodo meminta masyarakat Indonesia kembali bersatu setelah pemilu 2019. Jokowi menghimbau agar masyarakat tetap menjalin kerukunan untuk bersatu. “Marilah kita bersatu sebagai saudara sebangsa setanah air setelah pemilu ini. Menjalin dan merawat persatuan, kerukunan kita, persaudaraan kita sebagai sebangsa setanah air”.

Pada kubu oposan KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym) menghimbau kepada seluruh rakyat Indonesia di negeri ini untuk menjaga keutuhan NKRI dengan kesatuan dan kerukunan. “Kita memang diciptakan berbeda satu sama lain di negeri ini, tetapi upaya lebih baik daripada memperbaiki seperti yang terjadi pada negara saat ini karena gara-gara satu orang jadi negeri ini susah semuanya,”.

Sebagai warga negara Indonesia yang memiliki pandangan hidup Pancasila harus menjaga keutuhan NKRI dengan rasa persatuan dan persaudaraan. Karena aset terbesar Bangsa Indonesia adalah Persatuan dan Persaudaraan yang membuat negara Indonesia tetap kuat menghadapai permasalahan yang ada.

Perbedaan memang selalu hadir dalam setiap acara demokrasi tapi rasa toleransi harus tetap diterapkan untuk saling menghormati pilihan yang berbeda tetap menjalin kerukunan tiap warga Indonesia agar terciptanya negara damai. Hal ini menunjukkan kedewasaan masyarakat Indonesia dalam memilih pemimpin secara demokrasi.

Siapapun pemimpin yang terpilih kelak, itulah pemimpin yang terbaik yang sesuai dengan azas demokrasi pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Semoga Indonesia lebih adil dan makmur kedepannya. NKRI Harga Mati! NKRI Bersatu!

ahmad deni
saya ahmad deni aji alfian seorang mahasiswa politeknik elektronika negeri surabaya jurusan teknik elektro industri kelas kerjasama PLN asal banyuwangi
Berita sebelumnyaMaaf untuk Mahfud MD
Berita berikutnyaPrabowo Betah di Ketiak Rizieq
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.