Minggu, Oktober 25, 2020

Jacinda Ardern: Tokoh Kosmopolitan dan Figur Pemimpin Milenial

Merekat Persatuan dalam Kebhinekaan

Jauh sebelum Indonesia merdeka, bangsa kita telah hidup rukun dan tenteram dalam kebersamaan yang bernuansa keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika, yang sekarang menjadi semboyan bangsa...

Climate Change dan Energi Bersih

Hari Bumi adalah sedikit ruang yang memberi kita kesempatan untuk merefleksikan kembali tentang nasib sebuah planet (bumi) yang selama ini menjadi "rumah" tempat kita...

Lawan Buku dengan Membaca Kritis

Melihat dan membaca berita tentang pelarangan buku membuat kita khawatir akan perkembangan dunia baca di negeri ini. Membaca pada akhirnya akan menjadi suatu kegiatan...

Stereotip Manusia Papua: Pembenaran Kekerasan Kultural

Awal tahun 2000 Presiden Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, memperbolehkan Kongres Rakyat Papua II dan pengibaran bendera Bintang Kejora. Pengibaran bendera itu...
Virtuous_Setyaka
Dosen HI FISIP Univ. Andalas.

Setelah tragedi Christchurch yang menjadi hari terkelam di Selandia Baru, Jacinda Ardern tampil menjadi sosok pemimpin yang fenomenal di dunia. Tentang dirinya, seorang politisi dan negarawan yang perempuan dan muda; tentang sikap dan tindakannya menghadapi pembunuhan di dua masjid, dan sesudahnya; tentang perjalanan karir politiknya yang menarik, bahkan masa depan dirinya dan negara-bangsanya.

Banyak orang di banyak media massa menyebutnya sebagai calon kuat peraih nobel perdamaian berikutnya. Rasanya memang tidak ada yang meragukannya untuk itu.

Tokoh Kosmopolitan

Ardern menurut saya adalah salah satu tokoh yang pantas disebut sebagai “tokoh kosmopolitan abad ini”. Lebih dari sekedar figur pemimpin yang lebih baik dari pemimpin-pemimpin lainnya di dunia dalam konteks kekinian. Juga lebih dari sekedar calon peraih nobel perdamaian dunia.

Kosmopolitanisme adalah sebuah paham tentang kesatuan alam semesta tanpa batas. Orang-orang yang berpikir, bersikap, dan bertindak sedemikian disebut sebagai kosmopolitan. Bagi mereka dunia adalah ruang di mana seluruh penghuni alam semesta seharusnya hidup dalam kemakmuran, keadilan, dan kedamaian bersama-sama. Sehingga semua bentuk dan hal-hal yang menghalangi atau membatasi itu semua terwujud, mesti dilawan dan dihilangkan.

Memahami Ardern sebagai orang yang pantas menjadi Tokoh Kosmopolitan, tidak hanya sebatas dalam konteks tragedi itu saja. Namun perlu untuk merunut pada keseluruhan kisah dan riwayat hidupnya. Berani berpolitik sejak usia 17 tahun dengan pilihan-pilihan politik yang akhirnya mendidik dan membentuknya sehingga menjadi Perdana Menteri Selandia Baru saat ini.

Sepak terjang Ardern dalam berpolitik baik di tingkat domestik dan internasional, hampir selalu mengagumkan banyak orang. Terutama bagi orang-orang yang senantiasa berpikir bahwa keberadaan setiap orang adalah kemanfaatan bagi semua orang lain di sekitarnya. Kebijakan-kebijakan, pernyataan-pernyataan, sikap-sikap, dan tindakan-tindakan yang diperagakan Ardern selama ini, membuat banyak orang terkesima dan terpesona. Semua cerita tentang Ardern itu, bisa dilacak di banyak berita di banyak media massa. Begitupun dapat dibaca di banyak opini para penulis artikel baik di media massa dan jurnal ilmiah.

Tentu saja tidak semua orang setuju dengan semua yang ada pada Ardern. Begitupun tidak semua orang sepakat dengan pemikiran saya dalam menilai Ardern. Namun bagi saya, itu tidak mengurangi kepantasan Ardern sebagai “Tokoh Kosmopolitan Abad Ini”.

Melawan Rasisme Global

Salah satu penyakit yang terus terwariskan secara global dan menjadi masalah besar di dunia ini adalah rasisme. Selain tentu saja diskriminasi, intoleransi, intimidasi, dan berbagai bentuk ancaman terhadap kemanusiaan dan kosmopolitanisme. Bahkan seringkali semua itu justru dipolitisir termasuk oleh para elit politik yang menjadi pemimpin. Politisasi atau lebih tepatnya komodifikasi penyakit-penyakit sosial itu menjadi komoditas politik, hanya demi perolehan suara dalam pemilihan umum atau elektabilitas. Bahkan untuk mempertahankan popularitas dan legitimasi kekuasaan belaka.

Ardern, menurut saya, justru menjadikan momentum pasca tragedi itu sebagai upaya membangkitkan perlawanan global khususnya terhadap berbagai bentuk ekspresi dari kebencian sesama manusia. Mungkin satu-satunya kebencian yang pantas dipelihara adalah kebencian terhadap pemikiran, sikap, dan tindakan yang membunuh manusia dan kemanusiaan itu sendiri, apapun bentuknya. Oleh sebab itu Ardern lebih memilih memperhatikan sepenuhnya para korban, keluarga korban, dan masyarakat Selandia Baru yang juga sebagai korban dari peristiwa pembunuhan brutal yang langsung disebutnya sebagai teorisme. Dilakukannya tanpa ragu apalagi takut.

Ardern juga tanpa ragu dan takut merangkul semua orang yang menjadi korban untuk bangkit dari keterpurukan akibat bencana terorisme itu. Itu seperti merangkul semua orang di dunia agar bangkit dan bersama-sama melawan rasisme global. Ardern sudah memulai untuk membangkitkan perlawanan terhadap penyakit sosial dunia itu agar tidak lagi diwariskan kepada generasi kita berikutnya.

Figur Pemimpin Milenial

Ardern, seorang Perdana Menteri Selandia Baru yang berusia muda dan seorang perempuan, adalah juga bagian dari generasi milenial. Mungkin generasi milenial awal jika menelisik pada tahun kelahirannya. Dialah contoh kongkrit bagaimana generasi milenial memimpin!

Kepercayaan dirinya yang luar biasa dengan semua pilihan sikap dan tindakannya, mulai dari berani berpolitik di usia muda di negaranya sampai membawa anaknya yang masih harus disusui ke dalam sebuah forum internasional di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kebijakan-kebijakannya yang kontroversial di dalam negaranya namun diimbangi dengan sikap-sikap dewasa keibuannya dalam memimpin sebuah bangsa. Keputusan-keputusan cepatnya untuk mengubah kebijakan yang secara nyata telah menghancurkan dinamika dalam struktur sosial bangsanya.

Sepertinya, membuat seorang  Jacinda Ardern, sekali lagi, pantas menjadi figur pemimpin ideal representasi generasi milenial.

Virtuous_Setyaka
Dosen HI FISIP Univ. Andalas.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sastra, Dildo dan Evolusi Manusia

Paling tidak, berdasarkan catatan tertulis, kita tau bahwa sastra, sejak 4000 tahun lalu telah ada dalam sejarah umat manusia. Hari ini, catatan yang ditulis...

Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia

Di dalam buku Huntington yang 600-an halaman yang berjudul Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia mengatakan bahwasanya masa depan politik dunia akan...

Di Bawah Erdogan Turki Lebih Tidak Demokratis dari Indonesia

Turki di bawah kepemimpinan Erdogan sering dibanding-bandingkan dengan Indonesia di bawah Jokowi. Perbandingan dan penghadap-penghadapan antara Erdogan dan Jokowi yang sering dilakukan oleh kelompok...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.