in

Islam yang Inklusif dan Eksklusif


https://www.timeshighereducation.com/blog/study-islam-us-now-what
Saya akan memulai tulisan ini dengan satu pertanyaan: Menurutmu, Islam itu sebuah lembaga atau nilai? Jawaban pembaca dari pertanyaan di atas akan berpengaruh terhadap pandangan pembaca pada banyak hal, termasuk melihat relasi Islam dengan agama lain.

Jika Islam disebut sebagai sebuah lembaga, maka ia hadir dengan berbagai konsep baku yang tidak bisa ditawar-tawar. Umat manusia hanya bisa menjalankan sesuai dengan perintah yang telah dititahkan. Sementara jika Islam dianggap sebagai nilai, ia bisa hadir di banyak ruang dan waktu. Teks yang mengiringi kehadirannya pun masih bisa disesuaikan mengikuti kondisi dan zaman.

Hal paling mendasar dalam Islam adalah pelaksanaan hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari. Fikih sebagai manifestasi hukum Islam masih kerap disalahartikan. Banyak orang menganggap bahwa fikih adalah ajaran baku agama Islam. Padahal, fikih merupakan produk pemikiran seseorang. Karena merupakan produk pemikiran, antara seseorang dengan yang lain bisa saja memiliki perbedaan, bahkan sampai perbedaan yang fundamental.

Saya kerap mengambil contoh kasus anjing. Bagaimana Islam memandang anjing? Jika bertanya pada orang Indonesia yang mayoritas mengikuti pendapat Imam Syafi’i, sangat jelas bahwa anjing merupakan hewan najis. Jika memegang anjing maka wajib bagi seseorang untuk membasuh anggota badan yang tersentuh sebanyak tujuh kali dengan mencampuri debu di salah satu bagiannya.

Tapi jika Anda pergi ke Mesir, di Universitas Al-Azhar misalnya, akan banyak ditemui para ulama yang memelihara anjing. Di antara para ulama ada yang mengikuti pendapat Imam Malik yang mengatakan bahwa anjing tidaklah najis. Lalu, manakah yang lebih Islam antara pendapat Imam Syafi’i dan Imam Malik?

Baca Juga :   Tragedi 1965 sebagai Tragedi Filsafat

Sejak dulu perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah dan mesti disikapi secara bijaksana. Hal-hal yang terkait dengan fikih pun mengalami banyak perubahan dari waktu ke waktu. Namun tentu saja perubahan itu dilakukan dengan tata cara atau metode tertentu. Yang jelas, Islam selalu mengakomodir kepentingan manusia secara umum (rahmatan lil’alamin), bukan hanya kepada umat Islam.


Selain mengatur hal-hal internal, Islam pun mengatur berbagai hal eksternal, termasuk relasi antara umat Islam dengan agama lain. Semasa Rasulullah SAW hidup, tak sekali pun Rasulullah memusuhi orang yang berbeda agama. Bukankah Rasulullah memerangi kafir Mekah?

Ya, benar. Tetapi yang diperangi Rasulullah bukanlah orang yang beragama berbeda, tetapi orang yang menyembah berhala. Itu pun setelah kaum kafir Mekah melakukan langkah ofensif menyerang kaum muslim dan melakukan berbagai upaya yang membahayakan keselamatan umat muslim. Sementara dengan umat beragama lain, terutama Yahudi dan Nasrani, Rasulullah senantiasa membina hubungan yang baik.

Di dalam Al-Quran, seseorang yang memiliki keyakinan pada Tuhan tetapi belum mengimani Muhammad, disebut sebagai Ahlul Kitab atau orang yang memiliki kitab suci. Lalu siapa Ahlul Kitab itu?

Para ulama memiliki pandangan yang berbeda mengenai hal ini. Ada yang mengatakan Ahlul Kitab hanya orang-orang Yahudi dan Nasrani (Imam Syafi’i bahkan berpendapat bahwa hanya dari kalangan Bani Israel). Sementara ulama yang lebih baru berpendapat bahwa semua orang yang mengimani satu kitab suci bisa disebut sebagai Ahlul Kitab.

Baca Juga :   Menanggapi istilah Go green, mindset salah kaprah (Revisi)

Salah satu mufasir yang berpendapat demikian ialah Muhammad Rasyid Ridha. Ia berpendapat bahwa penganut agama di Cina dan Jepang sebagai ahlul kitab dan ajarannya mengandung ajaran tauhid. Sementara Al-Qasimi (wafat 1914), Ia memberi contoh Sidharta Gautama (Buddha) yang bisa jadi merupakan seorang Nabi yang benar. Ia menulis: “Dan yang lebih kuat  menurut  pandangan  kami  bahkan  yang pasti,  bila  tafsir kami ini benar adalah bahwa dia (Budha) adalah seorang Nabi yang benar” (baca Wawasan Al-Quran karya Quraish Shihab hal 485).

Sikap inklusif dan moderat adalah hal yang tak bisa dipisahkan dari Islam, senafas dengan tujuan diturunkannya agama ini sebagai rahmat bagi semesta. Jika dalam kehidupan beragama saja Islam begitu terbuka, apalagi dalam hal yang lain, termasuk bernegara. Islam tidak memiliki aturan yang baku. Yang dituntut Islam dalam sebuah pemerintahan adalah pelayanan terhadap masyarakat dan kesejahteraan.

Kembali pada pertanyaan saya di awal, Islam sebuah lembaga ataukah nilai? Banyak orang yang menganggap bahwa Islam diturunkan dalam satu paket yang lengkap sehingga menutup kemungkinan adanya tafsir dan pendapat-pendapat baru. Islam adalah periode 23 tahun dakwah Rasulullah. Setelah Rasulullah wafat, Islam hanya boleh diikuti dan disebarluaskan. Hal-hal baru yang tidak ada pada masa itu disebut bid’ah. Hal ini menumbuhkan eksklusivisme agama yang berujung pada klaim kebenaran tunggal, bahkan kepada sesama penganut agama Islam.

Baca Juga :   Membela Koruptor: Ramalan Prof. J.E Sahetapy Terhadap Setya Novanto

Sementara jika orang memandang Islam sebagai sebuah nilai, ia bisa saja hadir di mana pun dan kapanpun. Islam adalah nilai universal yang hadir sejak pertama kali manusia ada. Sementara Nabi Muhammad SAW yang menjalani periode kenabian pada abad ketujuh masehi hanyalah penyempurna risalah yang bahkan ajarannya (di luar aspek fundamental) masih bisa disesuaikan. Misalnya saja ajaran zakat menggunakan gandum diganti dengan beras atau jagung sesuai konteks masyarakat di suatu tempat.

Sayangnya, eksklusivisme agama akhir-akhir ini menguat. Islam yang semestinya adalah rahmat bagi semesta menjadi agama yang seolah-olah mengayomi sebagian kalangan saja. Yang terbaru adalah komentar seorang pengacara berinisial ES yang mengatakan bahwa hanya agama Islam yang sesuai dengan Pancasila sila pertama. Padahal, Pancasila dirumuskan di antaranya oleh para ulama yang memandang pentingnya persatuan antar warga negara tanpa memandang suku dan agama sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW pada masyarakat Madinah.

Dalam bernegara, jika Rasulullah SAW tidak anti pada umat agama lain, jika ulama terdahulu tidak memusuhi pemeluk agama lain, lalu siapa sebenarnya yang dianut para pejuang eksklusivisme agama ini?


Written by Sarjoko Wahid

Pegiat Islami Institute Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR