Senin, Januari 18, 2021

Islam Kosmopolitan

Migrasi Internasional dan Nasionalisme Indonesia

Belum lama kita dihebohkan pemberitaan mengenai pemaknaan Agnes Monica terhadap keindonesiaannya. Agnes yang biasa dielu-elukan sebagai inspirasi masyarakat Indonesia untuk go international justru dinilai melupakan...

Corona dan Protokol Belajar dari Rumah

World Health Organization (WHO) telah menetapkan virus Corona atau Covid-19 sebagai pandemi. Virus Corona telah menyebar ke lebih dari seratus negara di dunia. WHO...

Critical Thinking, Feminisme, dan Demokrasi

Keterampilan abad ke-21 merupakan salah satu topik yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini. Teknologi menjadi semacam tuntutan zaman, semua dapat menjadi lebih mudah dan praktis. Critical...

Membaca Siasat Panglima

Sebuah bangsa yang maju dalam segala aspek peradaban tentu memiliki satu prasyarat, yaitu pandai membaca. Begitu juga dalam tradisi keyakinan umat Muslim, bahwa ayat...
M Affian Nasser
Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dan Alumni Pondok Pesantren Modern Babussa'adah Bajo.

Diskursus tentang keislaman tidak akan pernah berhenti untuk dikaji dan habis untuk digali. Kendati demikian, bukan berarti tidak ada titik terang. Justru, keterkaitan Islam dalam setiap elemen kehidupan tidak dapat terpisahkan.

Islam akan selalu relevan di mana pun dan kapan pun berada. Artinya, dalam setiap perkembangan zaman yang tak dapat terelakkan, Islam akan selalu hadir dan mampu menyesuaikan diri secara adaptif serta adoptif tanpa kehilangan jati diri.

Dari pemahaman ini, maka muncul-lah suatu adagium ulama yang sangat arif bijaksana dalam menjawab perkembangan zaman, yakni; “al-muhafadhatu ala al-qadim al-shalih, wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah”, artinya, menjaga tradisi klasik yang baik dan tetap relevan serta membuka diri mengadopsi tradisi modern yang lebih baik dan relevan.

“Islam bukanlah sebuah tujuan, tapi Islam adalah washilah menuju Tuhan”. Konsep sederhana ini menjadi ringkasan dari uraian panjang lebar yang mewakili gagasan dari dua tokoh populer bangsa yang sampai saat ini masih menjadi banyak rujukan para intelektualis atau pun para cerdik cendikia di Indonesia. Adalah Abdur Rahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholis Madjid (Cak Nur) yang sedari awal sangat aktif meyuarakan gagasan-gagasan keislaman yang progresif.

Dari kedua tokoh, Gus Dur dan Cak Nur, telah banyak menuangkan gagasan-gagasan keislaman yang telah terbukti mampu menjawab perkembangan zaman. Karenanya, Islam di Indonesia menjadi tidak rigid dan bahkan terus berkembang menyesuaikan perkembangan zaman. Sehingga kemudian, dari gagasan-gagasan tersebut memunculkan suatu teori baru yang mencerahkan dalam konteks kekinian, yang belakangan populer disebut dengan Islam kosmopolitan.

Kosmopolitan yang dimaksud tersebut ialah terurai dari tambahan adagium yang telah disebutkan di awal; “wal ijadu bi al-jadid al-ashlah fa al-ashlah”, artinya, merekonstruksi keislaman yang stagnan menjadi dinamis dan berwawasan, serta menebar paham dan nilai-nilai keislaman yang menginspirasi pada seluruh elemen kehidupan, tanpa menekankan adanya sebuah paksaan untuk diterima.

Universalisme Islam

Dalam konteks keindonesiaan, Islam selama ini bisa melebur dan berbaur dengan keragaman yang ada. Perbedaan etnik, ras, tradisi, budaya, agama, ataupun adat istiadat tak menjadi halangan untuk bersatu demi menjaga dan membangun negara Indonesia bersama-sama. Slogan “Bhineka Tungga Ika” yang menjadi pilar pemersatu bangsa justru menjadi inspirasi umat Islam dalam mengamalkan nilai-nilai universal yang terkandung di dalam ajaran Islam.

Universalisme Islam meliputi nilai-nilai sosial, seperti persamaan hak dan kewajiban, keterbukaan, keadilan, kejujuran, kerukunan, toleransi, pluralisme dan multikulturalisme, yang dimana semua nilai-nilai sosial tersebut merupakan pilar kehidupan yang demokratis. Karena sejak semula Islam memang mengajarkan nilai-nilai tersebut. Terciptanya suatu masyarakat “Madani” yang diprakarsai oleh Nabi saw di Madinah adalah bukti konkret adanya universalisme Islam.

Sehingga hasilnya, Islam mampu bergaul dan berinteraksi dengan siapapun, di manapun dan kapanpun. Dalam hal ini, lebih ditegaskan dalam sebuah adagium; “al-Islam shalihun li kulli zaman wa makan”, artinya, kapanpun dan dimanapun berada, Islam akan beradaptasi tanpa menghilangkan substansi ajarannya. Justru, memberikan inspirasi dalam menciptakan stabilitas kehidupan peradaban manusia.

Para founding father bangsa Indonesia telah bersepakat membangun sebuah negara yang menerima dan menghormati semua yang ada di dalam bumi Nusantara. Semangat nasionalisme tumbuh secara natural dalam diri setiap warga negara, hal ini tentu tidak bisa terlepas dari perjalanan sejarah bangsa dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia dengan segenap tenaga, air mata, darah hingga nyawa sekalipun, semuanya rela dikorbankan demi eksistensi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang merdeka.

Tentu, tidak berhenti hanya sampai merdeka, selanjutnya, cita-cita dalam membangun bangsa yang mandiri, sejahtera, adil dan makmur, diperjuangkan kemudian. Kerenanya, Islam tentu selaras dan tidak keberatan sama sekali dalam mewujudkan cita-cita tersebut. Sehingga, hadirnya motto “hubbul wathan minal iman”, menjadi titik tolak untuk membangun tegaknya jiwa nasionalisme, dan bahwa nasionalisme tentu tidaklah bertentangan dengan Islam. Justru, nilai-nilai Islam yang universal menjadi landasan hadirnya semangat nasionalisme.

Memahami secara utuh tentang keislaman akan menemukan keharmonisan hidup. Islam menjadi ‘the way of life’ yang menebarkan perdamaian. Perbedaan-perbedaan yang ada dalam setiap sisi kehidupan tidak lantas untuk dipertentangkan. Adanya perbedaan justru menjadi anugerah untuk saling melengkapi.

Dalam konteks inilah gagasan dari dua tokoh besar yang mengagumkan ini layak ditampilkan dan dilestarikan. Jika Gus Dur hadir dengan inspirasi gagasan keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan, maka Cak Nur hadir dengan inspirasi gagasan yang menawarkan keislaman, kemoderenan, dan keindonesiaan.

Keduanya tentu tidak bisa terlepas dari pergumulan intelektual panjang yang melibatkan sisi spritual sekaligus, yang kemudian melahirkan kecerdasan dan kepedulian sosial. Representasi santri par excellence tampak dari keduanya, sebagai manusia yang shaleh ritual juga shaleh sosial.

Pada akhirnya, Islam kosmopolitan akan menerima dan menghargai beragam pendapat untuk kemudian digunakan dalam membangun cita-cita bersama mewujudkan kehidupan yang damai, adil dan sejahtera. Dengan kata lain, Islam kosmopolitan hadir membingkai kehidupan bermasyarakat dan bernegara untuk masa depan yang lebih kondusif serta mengedepankan harmonisasi di antara sesama umat manusia, meski dengan latar belakang yang berbeda-beda.

M Affian Nasser
Mahasiswa Pascasarjana UIN Alauddin Makassar dan Alumni Pondok Pesantren Modern Babussa'adah Bajo.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

China-Indonesia, Lahir dari Rahim Bulutangkis

Olahraga bukan sekedar cara untuk menjaga kesehatan, juga bukan sebagai hobi yang dinikmati dan sebuah kewajiban rutinitas untuk mencegah berbagai penyakit. Lebih dari itu,...

Penguatan Kebijakan Pelaksanaan Akreditasi RS di Masa Covid-19

Kasus Pandemik Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) kian meningkat dan telah memengaruhi berbagai aspek kesehatan termasuk memengaruhi upaya dalam meningkatkan kualitas layanan fasilitas kesehatan....

Memaknai Syair Lagu Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Lagu yang diciptakan oleh musisi terkenal di Indonesia yaitu Ahmad Dhani, melahirkan Sebuah mahakarya lagu yang begitu indah dan memiliki makna yang dalam. Lagu...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.