in

Islam Kontemporer: Harmoni Kebenaran dan Perbedaan


 

Dalam tesisnya yang berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, Huntington mencoba menganalisa bagaimana bentuk baru dari kondisi dunia, didalam penelitiannya Huntington menjelaskan bahwa kondisi dunia pasca perang dingin bukan lagi aspek ideologi atau ekonomi tetapi akan lebih berfokus kepada persinggungan antara peradaban, menurut Huntington Peradaban adalah identitas suatu kelompok dimana identitas tersebut menjadi sebuah paradigma cipta, rasa dan karsa dari kelompok tersebut, identitas itu bisa berupa kebangsaan, kebudayaan, suku dan agama. ​

Kebangsaan, agama dan sebagainya, dan dalam analisanya dunia menurutnya akan dibentuk sebagian besar oleh hubungan timbal-balik antara 7 atau 8 peradaban besar yaitu Peradaban Barat, Konghocu, Jepang, Islam, Hindu, Ortodoks-Slavik, Amerika Latin dan kemungkinan besar peradaban Afrika (Samuel P. Huntington: 1996). ​

Terkait hal ini, penulis mencoba menjawab tantangan dari barat yang memandang bahwa Islam adalah bagian dari pencipta gesekan peradaban dan konflik, Islam sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya, menerima perbedaan (pluralitas), kehidupan harmoni dan persatuan (ukhuwah) antar identitas pada diri manusia, yang secara langsung membantah pandangan sempit dari Huntington (Hamid Mowlana: 2010). ​

Tapi, ukhuwah Islam bukanlah pada tataran eksoteris (lahir), melainkan pada tataran esoteris (hakikat) transendental nya (Sayyed Hossein Nasr: 2010), memaksakan penyatuan pada tataran eksoteris, sama saja mengupayakan keseragaman bentuk pemahaman lahir dari jiwa yang menerima pancaran spiritual illahi, dimana hal ini adalah sesuatu yang mustahil, karena keragaman (pluralitas) adalah sebuah keniscayaan pada sisi lahiriyah. ​

Secara Filosofis, sintesis atau penggabungan dua hal (apalagi lebih) yang berbeda secara bersamaan adalah mustahil (prinsip non-kontradiksi), pemahaman Nazharia’ Intiza (realisme instingtif/falsafatuna) menjelaskan bahwa disposesi adalah menemukan hakikat immaterial pada yang material melalui proses pelepasan (tajarud), sehingga bentuk yang dicapai adalah akal murni (non-material) yang sudah teraktual, sedangkan materi adalah substansi yang murni bersifat potensial, jadi niscaya bahwa yang menggerakkan materi (potensi) adalah dari dan menuju kepada yang non-materi yang sudah aktual (Muhammad Bagir Sadr: 2000). ​

Baca Juga :   Ahok Belum Selesai!

Dalam bahasa sederhana nya, bahwa keragaman/kemajemukan bentuk material, hanya akan kembali pada ketunggalan perjalanan immaterial, maka ungkapan Muthahhari menjadi sikap yang rasional bahwa: Kita menerima kebenaran mutlak sebagai keniscayaan. Karena itu, kita percaya keterbukaan pemikiran. Kita menghargai pluralitas. Kita akan perjuangkan kebenaran mutlak dengan keterbukaan dan pluralitas. ​

Yang bermaksud bahwa pada tataran Esoteris (ide dan bathin) kita memiliki kemutlakan dan ketunggalan perjalanan yang oleh Allah disebut sebagai Sirath Al-Mustakim (jalan yang lurus), tapi sekaligus tidak menafikan realitas keragaman bentuk pada tataran material (eksoteris). ​Sikap yang ingin menyatukan keragaman eksoteris malah menyalahi kodrat alam itu sendiri yang plural, seperti firman Allah: kuciptakan perbedaan (laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa) untuk saling mengenal (Al-Hujuraat: 13).


Sehingga perbedaan sendiri adalah bagian dari asma Tuhan yang memanifestasi dalam bentuk yang tak terbatas dan tak terelakkan. Gerakan yang ingin menyatukan atau menyeragamkan keyakinan, tak lain berangkat dari semangat Humanisme Barat, dimana ukuran nilai berdasarkan prinsip kemanusiaan dan kesepakatan, yang malah akan mereduksi nilai Ketuhanan itu sendiri (Muhammad A. Shomali: 2011). ​

Alam Modernisme yang berusaha menemukan essensi (kemendasaran) kehidupan, tapi keliru dalam proses mentasdiq/menyimpulkan nya, malah menggiring kehidupan manusia yang berdasarkan pada alam atau alat yang material dan partikular, sehingga niscaya terbatas. Maka konsekuensi nya adalah melahirkan manusia yang tidak saling mengenal, dan teralienasi. ​Kondisi manusia yang semakin tidak mengenal dan teralienasi, bahkan pada tahap tidak mengenal dan teralienasi terhadap diri sendiri, memuncak pada Alam Posmodernisme, yang menggiring manusia pada pencarian essensi ke fenomena (baca: eksistensi yang nampak, tapi pemahaman eksistensi dunia barat sedikit berbeda dengan para filsuf muslim) (Edmund Husserl: 2006).

Baca Juga :   Hindari Sikap Saling Mengafirkan

​Penghentian pencarian hakikat (essensi) kepada yang nampak (fenomena), telah membuat manusia bukan hanya teralienasi dan menjadi relatif karena sibuk terhadap realitas yang nampak (aksiden), tapi juga nihilistik dan absurd (Albert Camus: 1955), manusia mendapati dirinya berada pada kesimpang-siuran informasi, yang pada titik parahnya menjadi apatis terhadap kebenaran yang hakiki, sehingga kebenaran sekedar dianggap sebagai kepentingan atau hasrat mendominasi, dan menyebabkan manusia tersesat, dan kehilangan arah tujuan hidup (Connor Cunningham: 2006).

Karenanya menurut Nasr, manusia perlu kembali menemukan pencarian hakikat (essensi) kehidupan nya, tapi bukan seperti Modernisme yang menjadikan material sebagai essensi kehidupan (David Hume: 1996) atau sikap Kantian yang menganggap essensi tak bisa diketahui (das ding an sich), sehingga menyebabkan keterpisahan pengetahuan subjek-objek (dualitas), serta hakikat kebenaran pengetahuan menjadi tak bisa dikenali (Immanuel Kant: 1997). ​

Pencarian hakikat atau essensi menurut Nasr adalah realitas immaterial yang universal, sekaligus bisa dikenali dan dipahami dialam material, sehingga bisa menjadi acuan bagi kehidupan manusia (tidak menjadi nihilistik), sekaligus saling berelasi karena sikap universal nya (antrokoposmik), yang membuat manusia terhindar dari sikap alineasi, baik terhadap diri, maupun orang lain, alam dan realitas profisik (baca: metafisik). Sikap manusia yang tidak teralienasi, tentu akan membuat manusia bisa memahami (verstehen) satu sama lain, karena sekat dan batas telah terlampaui, sehingga memahami bukan hanya menjadi perjalanan akal (Hushuli), tapi juga jiwa (Hudhuri) (Sayyed Hossein Nasr: 1994). ​

Baca Juga :   Dari Pinggir, Catatan untuk PB. PMII

Tabataba’i berpendapat bahwa agama adalah manifesitasi dari bentuk alami manusia dan alam semesta (realisme instingtif), karena nya agama mengatur tindakan dan performa manusia dalam menjalani hidupnya, agama tak lain adalah seperangkat aturan dan regulasi untuk memenuhi hasrat-hasrat manusia baik di alam materi maupun setelahnya. Jadi agama bukan semata-mata berangkat dari prinsip Ketuhanan, melainkan juga berangkat dari prinsip Kemanusiaan. ​Elaborasi agama (dalam hal ini Islam) sebagai aspek yang lahir dari fitrahwi kemanusiaan (Muthahhari: 1998), prinsip keagamaan yang berangkat dari sisi kemanusiaan nya meniscayakan bagi adanya aspek ilmu pengetahuan sebagai bagian integral dari agama (relasi teks/Qur’an dan konteks/Ilmu), yang memiliki relasi dengan kehidupan sosial dan ekologi, sehingga menciptakan insan intelektual yang profetik (Kuntowijoyo: 2005).

Kuntowijoyo berpandangan bahwa Islam yang lahir dari sejarah abad 7, tidak menyebabkan terjebaknya struktur ummat muslim dengan masa lalu, melainkan gerak sejarah Islam itu selalu bergerak maju (progress) dan transformatif untuk menjawab tantangan kekinian dan masa depan (modern), yang akan menciptakan islam sebagai ilmu dan paradigma dengan tetap berdasarkan prinsip Tauhid (Kuntowijoyo: 2001). ​

Kesimpulannya bahwa Islam tidak hanya berbicara pada aspek yang eksoteris (lahir) seperti syari’at, politik, dsb. Dan tidak juga semata-mata berbicara pada aspek esoteris (bathin) nya, yaitu dalam bentuk hiqmah/falsafah dan tasawuf/irfan, melainkan islam adalah hubungan/integralisme antara esoteris dan eksoteris itu sendiri (Muhammad Iqbal: 2008). Islam kontemporer adalah orang-orang Islam yang tidak menjadi modernisme maupun posmodernisme, tapi tidak pula menjadi radikal dan puritan. melainkan menjadi manusia insan-kamil, manusia tercerahkan karena prinsip Ketauhidan dan Kemanusiaan (Rausyan-Fikr), dimana aspek lahir dan bathin Islam telah disentuhnya (Ali Syariati: 2011).


Written by Dudi Saputra

Menyukai membaca, menulis dan berorganisasi.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR