Selasa, Maret 2, 2021

Islam Kontemporer: Harmoni Kebenaran dan Perbedaan

Peran Media di Era Millenial

Seiring perkembangan zaman, kebutuhan akan informasi menjadi suatu hal pokok sekarang ini. Menjadikan media, baik cetak maupun daring semakin berlomba dalam menyajikan konten beritanya....

Pentingnya RUU PKS dan Pengawalannya

Kekerasan terhadap perempuan perlu dipahami sebagai suatu pelanggaran terhadap hak dasar perempuan, yakni hak perempuan untuk menjalani kehidupannya secara bermartabat. Merujuk pada laporan Komnas...

Obrolan Jokowi dan Prabowo di Gerbong MRT [Satire]

Pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto, yang ditunggu-tunggu sekaligus didorong-dorong oleh sekian banyak orang, akhirnya terjadi juga. Janjian di Stasiun MRT Lebakbulus, kedua...

DPR Harus Menghentikan Panitia Angket KPK

Sulit bagi masyarakat untuk mempercayai bahwa Pantia Angket Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memiliki visi untuk memperkuat KPK dan bukannya melemahkan KPK. Panitia Angket KPK diduga...
Avatar
Dudi Saputra
Menyukai membaca, menulis dan berorganisasi.

 

Dalam tesisnya yang berjudul The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, Huntington mencoba menganalisa bagaimana bentuk baru dari kondisi dunia, didalam penelitiannya Huntington menjelaskan bahwa kondisi dunia pasca perang dingin bukan lagi aspek ideologi atau ekonomi tetapi akan lebih berfokus kepada persinggungan antara peradaban, menurut Huntington Peradaban adalah identitas suatu kelompok dimana identitas tersebut menjadi sebuah paradigma cipta, rasa dan karsa dari kelompok tersebut, identitas itu bisa berupa kebangsaan, kebudayaan, suku dan agama. ​

Kebangsaan, agama dan sebagainya, dan dalam analisanya dunia menurutnya akan dibentuk sebagian besar oleh hubungan timbal-balik antara 7 atau 8 peradaban besar yaitu Peradaban Barat, Konghocu, Jepang, Islam, Hindu, Ortodoks-Slavik, Amerika Latin dan kemungkinan besar peradaban Afrika (Samuel P. Huntington: 1996). ​

Terkait hal ini, penulis mencoba menjawab tantangan dari barat yang memandang bahwa Islam adalah bagian dari pencipta gesekan peradaban dan konflik, Islam sebagaimana penulis jelaskan sebelumnya, menerima perbedaan (pluralitas), kehidupan harmoni dan persatuan (ukhuwah) antar identitas pada diri manusia, yang secara langsung membantah pandangan sempit dari Huntington (Hamid Mowlana: 2010). ​

Tapi, ukhuwah Islam bukanlah pada tataran eksoteris (lahir), melainkan pada tataran esoteris (hakikat) transendental nya (Sayyed Hossein Nasr: 2010), memaksakan penyatuan pada tataran eksoteris, sama saja mengupayakan keseragaman bentuk pemahaman lahir dari jiwa yang menerima pancaran spiritual illahi, dimana hal ini adalah sesuatu yang mustahil, karena keragaman (pluralitas) adalah sebuah keniscayaan pada sisi lahiriyah. ​

Secara Filosofis, sintesis atau penggabungan dua hal (apalagi lebih) yang berbeda secara bersamaan adalah mustahil (prinsip non-kontradiksi), pemahaman Nazharia’ Intiza (realisme instingtif/falsafatuna) menjelaskan bahwa disposesi adalah menemukan hakikat immaterial pada yang material melalui proses pelepasan (tajarud), sehingga bentuk yang dicapai adalah akal murni (non-material) yang sudah teraktual, sedangkan materi adalah substansi yang murni bersifat potensial, jadi niscaya bahwa yang menggerakkan materi (potensi) adalah dari dan menuju kepada yang non-materi yang sudah aktual (Muhammad Bagir Sadr: 2000). ​

Dalam bahasa sederhana nya, bahwa keragaman/kemajemukan bentuk material, hanya akan kembali pada ketunggalan perjalanan immaterial, maka ungkapan Muthahhari menjadi sikap yang rasional bahwa: Kita menerima kebenaran mutlak sebagai keniscayaan. Karena itu, kita percaya keterbukaan pemikiran. Kita menghargai pluralitas. Kita akan perjuangkan kebenaran mutlak dengan keterbukaan dan pluralitas. ​

Yang bermaksud bahwa pada tataran Esoteris (ide dan bathin) kita memiliki kemutlakan dan ketunggalan perjalanan yang oleh Allah disebut sebagai Sirath Al-Mustakim (jalan yang lurus), tapi sekaligus tidak menafikan realitas keragaman bentuk pada tataran material (eksoteris). ​Sikap yang ingin menyatukan keragaman eksoteris malah menyalahi kodrat alam itu sendiri yang plural, seperti firman Allah: kuciptakan perbedaan (laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa) untuk saling mengenal (Al-Hujuraat: 13).

Sehingga perbedaan sendiri adalah bagian dari asma Tuhan yang memanifestasi dalam bentuk yang tak terbatas dan tak terelakkan. Gerakan yang ingin menyatukan atau menyeragamkan keyakinan, tak lain berangkat dari semangat Humanisme Barat, dimana ukuran nilai berdasarkan prinsip kemanusiaan dan kesepakatan, yang malah akan mereduksi nilai Ketuhanan itu sendiri (Muhammad A. Shomali: 2011). ​

Alam Modernisme yang berusaha menemukan essensi (kemendasaran) kehidupan, tapi keliru dalam proses mentasdiq/menyimpulkan nya, malah menggiring kehidupan manusia yang berdasarkan pada alam atau alat yang material dan partikular, sehingga niscaya terbatas. Maka konsekuensi nya adalah melahirkan manusia yang tidak saling mengenal, dan teralienasi. ​Kondisi manusia yang semakin tidak mengenal dan teralienasi, bahkan pada tahap tidak mengenal dan teralienasi terhadap diri sendiri, memuncak pada Alam Posmodernisme, yang menggiring manusia pada pencarian essensi ke fenomena (baca: eksistensi yang nampak, tapi pemahaman eksistensi dunia barat sedikit berbeda dengan para filsuf muslim) (Edmund Husserl: 2006).

​Penghentian pencarian hakikat (essensi) kepada yang nampak (fenomena), telah membuat manusia bukan hanya teralienasi dan menjadi relatif karena sibuk terhadap realitas yang nampak (aksiden), tapi juga nihilistik dan absurd (Albert Camus: 1955), manusia mendapati dirinya berada pada kesimpang-siuran informasi, yang pada titik parahnya menjadi apatis terhadap kebenaran yang hakiki, sehingga kebenaran sekedar dianggap sebagai kepentingan atau hasrat mendominasi, dan menyebabkan manusia tersesat, dan kehilangan arah tujuan hidup (Connor Cunningham: 2006).

Karenanya menurut Nasr, manusia perlu kembali menemukan pencarian hakikat (essensi) kehidupan nya, tapi bukan seperti Modernisme yang menjadikan material sebagai essensi kehidupan (David Hume: 1996) atau sikap Kantian yang menganggap essensi tak bisa diketahui (das ding an sich), sehingga menyebabkan keterpisahan pengetahuan subjek-objek (dualitas), serta hakikat kebenaran pengetahuan menjadi tak bisa dikenali (Immanuel Kant: 1997). ​

Pencarian hakikat atau essensi menurut Nasr adalah realitas immaterial yang universal, sekaligus bisa dikenali dan dipahami dialam material, sehingga bisa menjadi acuan bagi kehidupan manusia (tidak menjadi nihilistik), sekaligus saling berelasi karena sikap universal nya (antrokoposmik), yang membuat manusia terhindar dari sikap alineasi, baik terhadap diri, maupun orang lain, alam dan realitas profisik (baca: metafisik). Sikap manusia yang tidak teralienasi, tentu akan membuat manusia bisa memahami (verstehen) satu sama lain, karena sekat dan batas telah terlampaui, sehingga memahami bukan hanya menjadi perjalanan akal (Hushuli), tapi juga jiwa (Hudhuri) (Sayyed Hossein Nasr: 1994). ​

Tabataba’i berpendapat bahwa agama adalah manifesitasi dari bentuk alami manusia dan alam semesta (realisme instingtif), karena nya agama mengatur tindakan dan performa manusia dalam menjalani hidupnya, agama tak lain adalah seperangkat aturan dan regulasi untuk memenuhi hasrat-hasrat manusia baik di alam materi maupun setelahnya. Jadi agama bukan semata-mata berangkat dari prinsip Ketuhanan, melainkan juga berangkat dari prinsip Kemanusiaan. ​Elaborasi agama (dalam hal ini Islam) sebagai aspek yang lahir dari fitrahwi kemanusiaan (Muthahhari: 1998), prinsip keagamaan yang berangkat dari sisi kemanusiaan nya meniscayakan bagi adanya aspek ilmu pengetahuan sebagai bagian integral dari agama (relasi teks/Qur’an dan konteks/Ilmu), yang memiliki relasi dengan kehidupan sosial dan ekologi, sehingga menciptakan insan intelektual yang profetik (Kuntowijoyo: 2005).

Kuntowijoyo berpandangan bahwa Islam yang lahir dari sejarah abad 7, tidak menyebabkan terjebaknya struktur ummat muslim dengan masa lalu, melainkan gerak sejarah Islam itu selalu bergerak maju (progress) dan transformatif untuk menjawab tantangan kekinian dan masa depan (modern), yang akan menciptakan islam sebagai ilmu dan paradigma dengan tetap berdasarkan prinsip Tauhid (Kuntowijoyo: 2001). ​

Kesimpulannya bahwa Islam tidak hanya berbicara pada aspek yang eksoteris (lahir) seperti syari’at, politik, dsb. Dan tidak juga semata-mata berbicara pada aspek esoteris (bathin) nya, yaitu dalam bentuk hiqmah/falsafah dan tasawuf/irfan, melainkan islam adalah hubungan/integralisme antara esoteris dan eksoteris itu sendiri (Muhammad Iqbal: 2008). Islam kontemporer adalah orang-orang Islam yang tidak menjadi modernisme maupun posmodernisme, tapi tidak pula menjadi radikal dan puritan. melainkan menjadi manusia insan-kamil, manusia tercerahkan karena prinsip Ketauhidan dan Kemanusiaan (Rausyan-Fikr), dimana aspek lahir dan bathin Islam telah disentuhnya (Ali Syariati: 2011).

 

Avatar
Dudi Saputra
Menyukai membaca, menulis dan berorganisasi.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Gangguan Jiwa Skizofrenia

Kesehatan jiwa adalah kondisi dimana individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan social sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri. Dapat mengatasi tekanan,...

Mencermati Inflasi Menjelang Ramadhan

Beberapa pekan lagi, Bulan Ramadhan akan tiba. Bulan yang ditunggu-tunggu sebagian umat muslim ini adalah bulan yang istimewa karena masyarakat muslim berusaha berlomba-lomba dalam...

Kasus Khashoggi Makin Mendunia

Hari ini, 1 Maret 2021, Biden mau umumkan resmi di Washington keterlibatan MBS dalam pembunuhan Kashoggi. Menarik. KAS pasti meradang. Ini konflik pertama, yg sulit...

Jujur Itu Hebat, Artidjo Personifikasi dari Semua Itu

Satu demi satu orang tumbang dibekap covid, penyakit lain atau karena usia. Pagi ini saya kembali dikejutkan oleh berpulangnya Artidjo Alkostar, kawan lama yang...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.