OUR NETWORK

Ironi Tentang Pendaki Gunung

Semasa duduk di bangku sekolah menengah pertama, naik turun bukit adalah rutinitas keseharian. Jarak rumah dari sekolah sekitar satu kilometer, ditempuh selama dua puluh menit. Rumah berada di puncak bukit, sekolah di tepian lembah.

Di perjalanan, Aku menikmati udara segar di saban hari, keperawanan embun pagi membasahi lidah-lidah kaki. Rutinitas itu terlakoni di masa bergelut di palang merah (PMR) dan Pramuka. Kebiasaan ini berlanjut ketika menginjakkan kaki di kota Daeng (Makassar), Kampus merah [UNHAS], tempat persinggahan menapaki langit pengetahuan. Selama bertetira di sana, kebiasaanku mendaki gunung, tak lekas menjadi kenangan. Ia tumbuh bersama riwayat kecintaan terhadap alam.

Pekik kampus yang menumbuhkan imajinasi-imajinasi keprihatinan, penderitaan, dan kecintaan terhadap sesama dan lingkungan. Kami dihinggapi penyakit “pencinta alam”, yang dihimpun dan digerakkan oleh organisasi pecinta alaman (Mapala). Kebiasaan demikian telah menjadi hobi mengakibatkan aku tertarik masuk dalam organisasi ini.

Sebuah keberuntungan buat aku dimana jurusan kedokteran hewan (yang aku geluti) terbilang masih baru sampai sekarang (2017). Akhirnya, gerombolan senior tampan mengajak aku untuk merintis Mapala di kedoteran Hewan (KH). Sibuklah kami berkeliling dari satu sekret ke sekret Mapala lainnya untuk belajar kemapalaan.

Tersimpan rapi dalam ingatan aku sewaktu ajakan mendirikan mapala di KH dimana hasrat ku amatlah sangat besar dan tentunya harus dibarengi direstui oleh kedua orang tua dan keluarga. Sebelumnya aku sudah aktif dalam himpunan, ikatan mahasiswa KH seindonesia, dan HmI FK-UH dimana pikiranku ini akan menjadi penghalang restu dari mereka.

“Halo ma’, mau ka masuk Mapala ini?” (Logat Makassar)

“Apa itu Mapala nak?”

“Organisasi pencinta alam ma”

“Ohh.. yang naik-naik gunung itu? masuk mi nak, jangan buat malu keluarga. Dari nenekmu sampai sekarang kita tinggal di Malanyin (Desa di Enrekang Sulsel), tiap hari naik turun gunung.”“Siap komandan 01”

Demikian itulah kenangan indah aku awal mula bermapala.

Sebentar lagi di Makassar pada khususnya di kampus Unhas nuansa pendidikan dasar [diksar] dari berbagai Mapala akan dirasakan. Secara umum mahasiswalah paling banyak berkecimpung di organisasi-organisasi kepencita alaman (Mapala). Walaupun demikian, yang bukan mahasiswa tentu bisa ikut Mapala.

Bermapala tentu tidak semudah memikul beras 5 kg keliling lapangan.

Untuk diakui sebagai anggota membutuhkan perjuangan serta pengorbanan besar; tenaga, waktu, dan materi. Hampir semua Mapala dalam merekrut anggotanya membutuhkan waktu setidaknya dua bulan. Selama proses demikian, umumnya dibagi menjadi tiga tahap; indoor, outdoor, dan lapangan.

Indoor merupakan tahap paling membosankan bagi peserta. Suka atau tidak suka materi dasar kepencitaalaman harus dilahap habis. Outdoor adalah bagian paling menyenangkan bagi peserta. Materi-materinya dikemas rapi hingga terasa seperti game, dan tahap lapangan merupakan tahap akhir diksar. Peserta akan menyapa dan berkenalan dengan kekasihnya (alam bebas). Segala tentang kekasih butuh perjuangan, tahap inilah hidup dipertaruhkan.

Banyak ironi prihal kemapalaan. Para pendaki gunung hanya mengotori gunung dan tidak bertanggung jawab, berita kehilangan atau tersesat dalam hutan, serta kekerasan bahkan sampai pada pembunuhan. Mari kita sedikit bijak dalam menilai serta menanggapi hal-hal tersebut.

Pertama, anggota di suatu Mapala tidaklah tertalu banyak. Hanya segelintir orang berhasil menyelesaikan diksar, jari-jari kita cukup untuk menghitungnya. Bahkan ada Mapala rentang waktu penerimaannya dua tahun sekali dan kadang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh. Menurut aku, ini menunjukkan minat serius dalam bermapala tidaklah begitu tinggi secara matematis.

Ironi tentang pendaki gunung hanya mengotori gunung, pada dasarnya memang benar adanya. Akan tetapi, tanya dalam hati segera keluar dan menghantam pikiran teman-teman saat berdiskusi terkait topik ini “Siapa sebenarnya pendaki yang mengotori gunung itu?”, “Apkah sampah di gunung dan sampah di pemukiman terdapat perbedaan dalam kausanya?”, dan  “Apakah di desa maupun di perkotaan orang-orangnya lebih bijak mengenai sampah?” sedang pendaki gunung adalah masyarakat kota maupun desa itu sendiri.

Seseorang dengan bangga menyatakan dirinya pecinta alam, niscya akan terikat kode etik “pecinta alam” dan “lingkungan hidup universal” : Take nothing but picture, Leave nothing but footprint, and Kill noting but time”. Sunggu ironis saat aku membaca berita tentang peningkatan jumlah sampah di lingkungan.

Mencermati semua berita dari gawaiku mengantarkan aku pada dua simpulan. (1) Tempat yang telah terjamah manusia, bisa dipastikan akan ada sampah jadi, persoalan sampah adalah soal perilaku. (2) Dimasa awal aku bercinta dengan alam, ia tidaklah begitu sexy untuk dijadikan kekasih.

Tibalah saat film 5 cm tanyang dibioskop, seperti virus menyebar dengan cepat di kalangan pemuda. Muda mudi yang terinfeksi virus tersebut berbondong-bondong menuju puncak. Akan tetapi, sikap dalam mencintai alam antara pendaki gunung yang berkecimpung di Mapala dan pendaki gunung jebolan film 5 cm patut kita diskusikan. Aku tidak mau disamakan dengan pendaki 5 cm.

Saat manusia pertamakali mengenal cinta tidak ada kesepakatan defenisi dari cinta, sehingga tiap orang bebas mendefinisikan dan mempunyai konsep cintanya sendiri, sekalipun nantinya telah ada kesepakatan tentang defenisi cinta tetap akan melahirkan perbedaan.

Sikap Budi dalam mencintai kekasihnya adalah dengan menghormatinya serta menyanjungnya sedang Aco pada kekasihnya adalah semua tentang percumbuhan. Begitupun cinta pada alam, akan ada seseorang  datang hanya mencumbuinya dan mencampakkannya dan saat birahi kembali Ia memperkosanya. Namun, perihal sampah kita kembali menengok pribadi masing-masing.

Olehnya itu, menghujat Mapala sebagai oknum tidaklah benar. Kalaupun ada yang demikian itu bukan karena kemapalaannya, melainkan persoalan “pribadi” semata-mata.

Kedua, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dalam diksar diberikan modal dasar terkait pahaman dan pembekalan berkegiatan di alam bebas. Bekal tersebut, diantaranya skill navigasi dan survival. Kebersihan hati pun menjadi kunci utama saat hendak menjajaki kaki di alam. Sangat popular dikalangan anggota mapala saat bernostalgia prihal mistik alam.

Ketiga, dalam pendidikan dasar hal utama yang dibina adalah fisik. Pembinaan fisik semuanya di muat dalam program TC (training center/training condition) dengan porsi yang telah ditentukan oleh panitia pendidikan dasar. Sepanjang tour aku dari sekret ke sekret mapala, berkenaan dengan kontak fisik baik saat program TC maupun di tahap lapangan tidak aku temukan dalam rumusan pendidikan dasar. Benar adanya bahwa ada beberapa Mapala yang melakukan kontak fisik kepada peserta, tetapi aku menyakini bahwa itu bukan bagian dari pengaderan melainkan soal semena-semena dari anggota malapa tersebut.

Sekali lagi, Bermapala tidak semudah memikul beras 5 kg keliling lapangan.

Pria asal Sulawesi Selatan yang kini berstatus mahasiswa pascasarjana Entomologi Kesehatan di Institut Pertanian Bogor.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…