Senin, April 12, 2021

Ironi Rasisme Global

Assassin dan Upaya Pembusukan Sejarah Islam

Game Assassin’s Creed memilik reputasi mendunia di kalangan para pecintanya. Permainan jenis Role Playing Game (RPG) besutan Ubisoft ini telah melahirkan banyak episode permainan selama...

Panggilan Alam Liar Alex

Anak muda, kasta yang mendapat predikat sebagai labil maupun membara. Entah darimana predikat tersebut didapat. Atau malah jangan-jangan orang-orang di kasta tersebut menamakan diri...

DPR, Cinta Dibalik Kritik

Judul diatas kurang lebih sama dengan ungkapan kepada seorang sahabat, “aku peduli kau, makanya kau kumarahi, supaya bisa berbuat lebih baik”. Tidak dapat dipungkiri,...

Gus Dur, Cak Nur, dan Nilai Rasa Sastra

Gus Dur dan Cak Nur adalah salah dua tokoh intelektual yang digelari guru bangsa. Mereka menyemai perdamaian, toleransi, dan pesan-pesan kemanusiaan yang sampai sekarang...
Nurul Huda
Moh Nurul Huda Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Walisongo Semarang, Pengajar di Ponpes Daar al-Qalaam, dan Pengurus Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Wilayah Jateng

Beberapa waktu lalu, dalam acara diskusi kelas di kampus, ada pertanyaan menarik dari seorang kawan. “Mengapa orang berkulit hitam tidak akan pernah mau bermain catur?” Dengan sedikit mengernyitkan dahi, saya pun berpikir panjang tentang pertanyaan tersebut. Sebab saya dan beberapa kawan sekelas juga tidak mengetahui tentang hal ikhwal demikian. Bahkan ini adalah kali pertama kami mendengar tentang pertanyaan tersebut.

Seolah menang dengan apa yang ia tanyakan, dia pun menjawab pertanyaannya tadi. “Karena permainan catur, selalu diawali dengan pion berwana putih. Tidak akan pernah, permainan itu diawali pion hitam berjalan lebih dahulu. Dan, orang-orang berkulit hitam akan mau bermain catur, apabila pion warna hitam memulai permainan lebih dulu.” Ungkapnya.

Kami berpikir sejenak, tentang apa yang diungkapkan oleh seorang kawan tadi. Sebab tanpa disadari, peraturan demikian ternyata juga berkaitan erat dengan harga diri sebuah bangsa, bahkan warna kulit sekalipun.

Tak pernah terfikirkan dibenak saya, apabila hal demikian akan beranjak menjadi kanyataan pahit bagi sebagian golongan, bahkan seolah menjadi ironisme kepada golongan tertentu. Namun terlepas dari perbincangan demikian, pada dekade ini rasisme juga masih menjadi pemasalahan serius di mata dunia.

Pasalnya, ironi rasisme yang seharusnya sudah menghilang semenjak aturan kemerdekaan—piagam PBB—digulirkan, kenyataannya masih menjadi insiden yang cukup mengkhawatirkan. Bahkan pada beberapa pekan lalu, Parlemen Israel mensahkan Undang-undang (UU) Negara Israel yang mengandung kontrofersial di hadapan publik.

Sejumlah analisis, akademis, dan pemerintah di berberapa negara mengecam undang-undang demikian. Sefaham dengan itu, Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen DPR RI, Rofi Munawar menilai bahwa langkah parlemen (Knesset) Israel dalam meloloskan UU tersebut adalah bukti bahwa Israel telah berbuat rasis dan diskrimatif.

Ia juga menambahkan bahwa UU demikian juga akan mengantarkan Israel untuk mewujudkan cita-cita pendirinya, Theodor Herzl, yang berkeinginan untuk mendirikan negara berdasarkan ras Yahudi (Hidayatullah.com).

Terlepas dari kenyataan pahit demikian, munculnya UU kebangsaan Yahudi secara terbuka telah memberikan dampak yang berlanjut kepada kelindan kehidupan di dunia. Sebab UU itu secara seksama akan merenggut hak-hak minoritas Arab atau Palestina untuk hidup dan tinggal di sana.

Tompson (2009) dalam Keadilan dan Perdamian mengatakan bahwa rasisme ialah suatu keyakinan akan superioritas rasial. Artinya, faham demikian secara sadar menyatakan bahwa ada hubungan langsung antara nilai-nilai, perilaku, sikap-sikap kelompok, dan ciri-ciri fisiknya adalah persoalan yang serius sehingga tidak dapat disatukan dan tak bisa hidup secara berdampingan.

Jones (1981) secara terbuka sangat menentang paham-paham seperti ini. Bahkan ia sendiri mencetuskan faham etnosentrisme untuk mengubur ironitas rasisme. Etnosentrisme ialah faham yang menerima segala bentuk tindakan, perbedaan, perilaku dan nilai individu, asalkan tidak bertentangan dengan norma-norma kemanusiaan yang dimiliki oleh masyarakat.

Terlepas dari kenyataan pahit demikian, Dr. Mohammad Nasih (2014) menyatakan bahwa kelindan tujuan penjajahan Israel yang digelar sejak beberapa tahun lalu terhadap Palestina adalah awal dari langkah untuk memperoleh “tanah” yang dijanjikan.

Tanah yang dijanjikan itulah yang sejujurnya menyedot minat bangsa Israel untuk menguasai tanah-tanah tersebut. Kelindan tanah itu dianggap memiliki kehariban tertinggi untuk memperoleh kejayaan di masa mendatang. Pun, hal demikian juga tidak bisa lepas dari sejarah historis bangsa yahudi terdahulu.

Kerangka Historis

Dalam kacamata historis, tanah Yerussalem memiliki kerangka yang diminati oleh beragam kalangan. Bahkan tiga agama samawi, Kristen, Yahudi, dan Islam silih berganti memperebutkan kekuasaan di tanah tersebut. Seolah kota suci Yerussalem telah bergema di hati ketiga agama samawi itu, sehingga perlu, bahkan harus diperebutkan. Secara konsep kesejarahan, dalam al-Qur’an kisah-kisah bangsa Yahudi terangkum jelas dan terabadikan dalam kitab demikian.

Dalam pangsa yang lebih jauh, kisah Bani Israel dimulai dari keturunan Nabi Yaqub. Yaqub yang pada saat itu senantiasa bertaqwa kepada Allah kemudian mendapatkan julukan sebagai Isra’ El. Secara etimologis, arti Isra’ dalam bahasa Ibrani berarti “hamba” dan El yang berarti Tuhan. Selaras dengan itu, sesungguhnya julukan Isra’El yang kini digunakan nama sebuah bangsa sejatinya memiliki arti sama dengan abdullah (Baca: Kisah Yaqub).

Singkat cerita, Yusuf—salah satu dari 12 bersaudara keturunan Yaqub—berimpi bertemu sebelas bintang, matahari dan rembulan yang bersujud kepadanya (Qs. Yusuf: 4). Hingga jauh setelah itu, Ia dibuang oleh saudara-saudaranya ke dalam sumur dan ditemukan oleh beberapa saudagar, kemudian dibawa ke Mesir untuk dijual. Di Mesir itulah, Yusuf menemukan jalan kehidupannya.

Dengan kecerdasaanya dalam menafsirkan mimpi, pada akhirnya Ia diangkat menjadi menteri urusan bahan pangan. Pada tahap yang sama, Kan’an juga mengalami masa paceklik hingga mengharuskan keluarga Yusuf meninggalkan Kan’an dan bertemu Yusuf di Mesir. Disanalah kehidupan Bani Israel berkembang dan mendapatkan kejayaannya pada masa Nabi Sulaiman. Hanya saja, akibat kesombongannya, bani Israel ditimpakan kehinaan. Bahkan pada masa Firaun kebanyakan dari mereka dijadikan budak oleh bangsa lainnya.

Berangkat dari kenyataan itulah, Musa kemudian menyelamatkan Bani Israel. Dari sanalah, ditempuhlah jalan sulit sehingga Allah menyelamatkan mereka dengan membelah lautan untuk menyebranginya (al-Baqarah: 50). Setelah itu, Allah juga menjanjikan sebuah negeri (Baitul Maqdis) yang disana mereka bisa melangsungkan kehidupannya (Qs. al-Baqarah :58).

Akan tetapi, karena takut dengan penghuni yang ada di dalamnya, mereka justru menyuruh Musa dan Tuhannya memerangi kaum di dalamnya (Qs. al-Maidah: 24). Karena realitas itulah, kemudian Allah murka dan mengharamkan tanah itu selama 40 tahun kepada bani Israel. Alhasil, kemudian keturunan bani Israel terespora dan menerima kehinaan sehingga hancurlah ke-12 suku tersebut (Qs. Ali Imron: 112).

Terlepas dari kisah historis demikian, tentu langkah yang dilakukan bangsa Yahudi dalam mengeluarkan UU tersebut adalah kesalahkaprahan yang memilukan. Karena itulah, perlu diwujudkan gerakan solidaritas antar bangsa, agar UU demikian bisa ditarik kembali, hingga tidak merugikan bangsa-bangsa yang lain.

Sudah saatnya kecaman-kecaman kita hentikan. Mulai sekarang, beragam gerakan yang mesti kita wujudkan. Jeritan ketidakadilan sudah berada pada ujungnya. Bangsa Palestina dan sekitarnya pun sangat membutuhkan tangan-tangan kita. Sebab itulah, mari kita bergerak. Mengejawantahkan hakikat perdamaian yang selalu kita jaga dan mendesak PBB untuk mengembalikan hierarki kemerdekaan yang direnggut secara nyata. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

Nurul Huda
Moh Nurul Huda Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Walisongo Semarang, Pengajar di Ponpes Daar al-Qalaam, dan Pengurus Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Wilayah Jateng
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.