Sabtu, Januari 16, 2021

Ir. H. Joko Widodo dan Mengapa Ia Kurus

Dari Obrolan Warung Kopi Sampai Purwakarta Kini

Sekali waktu, berjalanlah di sepanjang Taman Air Mancur Sribaduga. Akan Anda jumpai banyak hal yang menyegarkan mata: pepohonan yang mengitari seluruh taman, air mancur...

Jangan Sepelekan Orang Miskin

Keberadaan orang miskin dari hari ke hari semakin meningkat tajam. Secara mikro, di Jawa Barat saja, menurut catatan BPS, penduduk miskin lebih dari 4,2...

Timnas U-22 dan Catatan Kecil Dibalik Performanya

Tuntas Sudah semua pertandingan timnas U-22 dalam ajang Sea Games 2017 yang dihelat di Malaysia. Mendapatkan 11 point dalam grup neraka yang dihuni Thailand...

Saudaraku, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa

Kini jelang Bulan Ramadhan 1440 H. Bersyukur sekali Anda yang menjalankan Ibadah Puasa. Pada Bulan yang penuh berkah ini, semua menyambutnya dengan penuh bahagia....
Sofah D. Aristiawan
Mahasiswa S1 Administrasi Publik Universitas Padjadjaran | Pengagum Demokrasi | Mari berteman dan berdiskusi: @sofaharistiawan (twitter)

“Sederhana itu baik. Mengultuskan kesederhanaan itu buruk. Itu politik manipulatif,” kicau Rocky Gerung dalam twitterland. Pengajar filsafat Universitas Indonesia itu tentu ingin menyindir followers Joko Widodo yang terlampau memujinya mendekati semacam pengultusan.

Tepatkah kicauan itu? Katakanlah ya. Sebab, selain nalar jadi sulit untuk objektif, cara-cara mengultuskan dari followers-nya itu bisa jadi bumerang bagi diri sang RI 1 itu sendiri. Alih-alih memberi madu serta manisnya langkah yang men-support, yang ada, malahan timbulkan ngilu tepat di geraham sang presiden. Mengapa pula sepet madu itu buat ngilu? Karena ada aksioma: memuji itu perlu, yang tak perlu, kedunguan dalam memuji. Dan mestinya, kebebalan itu patut disetop, bila kita sama-sama tak mau melihat Joko Widodo yang memang sederhana itu jatuh secara perlahan.

Lalu mengapa jadi politik manipulatif? Karena ingar-bingar apa-yang-tampak dalam diri Joko Widodo (yang rasanya tak pernah ada dalam diri elite negeri ini di mana tubuhnya itu persis, serasi disandingkan dengan tubuh kebanyakan masyarakat Indonesia): wajah yang lugu itu menutupi apa-yang-tak-tampak darinya, yang jadi sebuah kecemasan publik, semisal -yang paling jadi catatan saya- kekeliruannya dalam memahami arti kebebasan. Tentang ini bisa baca https://www.qureta.com/post/munir-dan-perppu-no-2-tahun-2017Entakan tangan Joko Widodo nyatanya tak seramah parasnya. Dan percakapan publik -apalagi di sosial media- sebatas membedah siapa, tanpa mendedah apa yang telah dan belum dilakukan siapa. Jadi ada suasana semacam “teks” yang mengubur “konteks”. Itu yang salah, dan barangkali itu yang disebut politik manipulatif –hasil kerja yang justru dominan dibuat followers-nya itu.

Namun benarkah kicauan itu? Saya katakan tidak. Sebab, kejemuan kolektif atas sikap para elite yang susah untuk cukup, terus serba kekurangan itu seakan terbayar sudah akan hadirnya sosok Joko Widodo yang sederhana itu. Mungkin itulah yang mengantarkannya pula jadi RI 1. Jadi bukan pengultusan, yang benar ialah keteladanan. Lebih-lebih, negeri ini memang sedang defisit keteladanan. Sepakat atau tidak, kita perlu mengakui bahwa Joko Widodo ialah sosok yang mampu mendefinisikan apa itu hidup sederhana –kendati, belum sepenuhnya menjalar ke mereka yang sedang membantunya di pemerintahan. Bagi saya, ini penting dan perlu, bukan sekadar “teks” apalagi sebab dari politik manipulatif itu, karena meminjam premis Rocky di atas: “sederhana itu baik.”

Maka, terlepas dari belum cukupnya kinerja Joko Widodo, utamanya minusnya ia dalam meredefinisi kebebasan + kedunguan yang dipertontonkan sebagian besar followers-nya, kita perlu sejenak menengok tubuh kurusnya itu yang setidaknya jadi simbol apa yang sederhana –salah satu kemewahan yang tersisa dari keteladanan.  

***

Mengapa kurus itu sederhana? Karena sederhana itu menampik tubuh dengan pinggang yang tebal. Dan Joko Widodo punya cerita soal ini. Dari sekian banyak contoh, yang selalu saya ingat saat Hari Pers Nasional, awal tahun 2017. Sang presiden bersama Panglima TNI, Kapolri, jajaran kabinetnya beradu futsal. Sang presiden mengenakan jersey + celana pendeknya, tentu tak ketinggalan sepatu sport merek Reebok dengan tipe TwistForm berwarna putih. Yang nampak darinya, perawakannya kian terlihat kurus. Menariknya, bagi saya, sosoknya di lapangan futsal itu jadi pembeda, atau juga sebuah sindiran bagi tubuh-tubuh dengan perut yang membuncit: pejabat lainnya yang turut bermain di sana itu.

Kita tahu, besarnya perut itu sering diidentikkan sebagai tubuh seorang pria yang makmur dan tanda apa yang sukses. Oleh sebabnya, bagi Joko Widodo, kurus itu sebuah sikap. Bukan karena tak doyan makan, apalagi tak bisa makan. Ia, sang RI 1 dengan fasilitas menterengnya itu punya sikap bahwa sebagai pemimpin, ia ialah teladan. Maka untuk dapat mengubah, perlulah terlebih dahulu dimulai dari dirinya. Menurutnya, tak elok hidup bermegah-megahan bila masih banyaknya anak Indonesia yang busung lapar. 7,6 juta balita di Indonesia terhambat pertumbuhannya akibat kurangnya gizi (MCA Indonesia, 2013). Tentu pekerjaan rumah bagi Joko Widodo untuk mengentaskan itu. Selain menawarkan cara pandang baru tentang tubuh seorang yang dikatakan telah berhasil: hidup sederhana memang tak mesti jadi kurus, tapi kurus itu bisa jadi ciri hidup sederhana.

Berarti, kesederhanaannya itu bukanlah sebuah politik manipulatif. Justru Joko Widodo menawarkan dirinya sebagai cermin bagi para pembantu dan pendukungnya (lebih tepat pengikut, sepertinya) itu agar bisa mengomentari tubuhnya sendiri: “Pantaskah?” “Sudah tepatkah?” Sebab bagi Joko Widodo, Indonesia bukanlah hasil garapan orang-orang Eropa yang terbiasa melihat raja-rajanya berbadan besar nan gemuk sebagai tanda kewibawaan. Apalagi sampai gembrot.

Yang selalu diingat sejarah soal kegembrotan itu tentu kisah William Sang Penakluk. Terbuai dengan kemenangan dan kekuasaan, terus menerus menegak minuman keras jadikannya lemah dan tak perkasa lagi. Lantas, sampailah kita pada cerita konyol pemakaman Raja Inggris yang buncit itu. Sarkofagus, tempat peristirahatan terakhir yang terbuat dari batu itu terlalu sempit untuk tubuh gendut sang raja. Seperti tak ada cara lain, dipaksakanlah tubuh itu untuk masuk, sebelum akhirnya perut jenazah itu pecah dan bau tak sedap menyebar…

Mungkin, menurut Joko Widodo, Indonesia tak punya riwayat setragis, juga selucu itu. Malahan, bagi sang presiden yang seorang Jawa, agaknya, sejarah Indonesia lebih akrab dengan lakon-lakon pewayangan. Dalam dunia wayang kulit di Jawa, entah kenapa para protagonis biasanya digambarkan dengan tubuh yang tidak gemuk, melainkan kurus bahkan cenderung terlihat kerempeng. Boleh jadi, dalam tradisi kita, kegembrotan itu sesuatu yang gak ilok (tidak bagus), ia justru lambang sebuah kerakusan. Bukan kemapanan. Pondasi seperti itu, sejak dulu, semisal di era Majapahit, lapisan masyarakat tertingginya diduduki bukan oleh para saudagar atau para tuan tanah, bukan pula mereka yang diberi kepercayaan untuk mengurusi negara, melainkan oleh kaum rohaniawan, resi yang hidup jauh dari keramaian perebutan akses atas urusan dunia dan materi –yang dimintai nasihat selalu oleh masyarakat: Brahmana, Empu, Wali Songo.

 Artinya, hidup sederhana itu menolak ketamakan. Dan ketamakan itu kerap mewujud dalam tebalnya timbunan lemak di pinggang. Jadi, tubuh Joko Widodo menolak keserakahan. Karena ia kurus. Sebab ia memilih hidup sederhana. Dan “sederhana itu baik,” saya tambahkan, “juga perlu.”

Sofah D. Aristiawan
Mahasiswa S1 Administrasi Publik Universitas Padjadjaran | Pengagum Demokrasi | Mari berteman dan berdiskusi: @sofaharistiawan (twitter)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.