Senin, April 12, 2021

Investasi Generasi Milenial

Gagalnya Kita sebagai Masyarakat

Jumlah peserta Aksi Kamisan Surabaya pada 15 November lalu, lebih banyak daripada biasanya. Tapi saya tidak begitu terkejut, karena peserta-peserta baru itu datang untuk...

Manifesto Cendekiawan Berpribadi

Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (PK IMM FKIP UHAMKA) bekerja sama dengan LPP AIKA UHAMKA menggelar launching buku dan...

Literasi Merawat Kebersamaan, Pengalaman di Pulau Lombok

Kita hidup di sebuah ruang bersama yang, sayangnya, masih saja kurang terasa komitmen kebersamaannya. Mestinya, hidup bersama mensyaratkan adanya kesiapan untuk adil dalam akses-akses...

Penerapan Kurikulum Berbasis KKNI di Perguruan Tinggi

KKNI merupakan kerangka acuan yang dijadikan ukuran dalam pengakuan penjenjangan pendidikan. KKNI juga disebut sebagai kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi yang dapat menyandingkan,menyetarakan, dan mengintegrasikan...
Indah Wahyuningsih
Alumni SKSG UI

Bagi generasi milenial, investasi menjadi bagian untuk menopang gaya hidup. Generasi milenial cenderung akrab dengan budaya konsumtif, mulai dari aktivitas nongkrong di kafe atau restoran mewah, konsumsi barang-barang branded, belum lagi pelesiran demi menopang popularitas di sosial media hingga hiburan-hiburan lainnya. Karenanya untuk menghidupi budaya konsumtif ini generasi milenial yang memuja kemudahan memilih untuk mendapatkan passive income dari berivestasi.

Falsafah ekonomi yang dianut oleh generasi milenial yang gemar berinvestasi adalah “Let your money works for you, not you work for money”. Jadikan uangmu yang bekerja untukmu bukan kau yang bekerja untuk uang.

Generasi milenial yang sadar investasi memanfaatkan berbagai kemudahan yang ditawarkan untuk mendapatkan pendapatan pasif. Generasi milenial membutuhkan instrumen untuk memaksimalkan pendapatan pasif mereka, diantaranya dengan berinvestasi melalui saham, emas, deposito, obligasi dan sebagainya.

Kemudahan mengakses informasi yang tawarkan perkembangan teknologi membuat generasi milenial sadar pentingnya berinvestasi. Meskipun sebagian besar generasi milenial cenderung berinvestasi untuk menopang gaya hidup, namun sebagian juga telah memiliki kesadaran investasi jangka panjang seperti mempersiapkan dana pensiun dan sebagainya.

Investasi pada hakikatnya menunda konsumsi saat ini dengan harapan memiliki kesempatan besar untuk menikmati konsumsi di masa yang akan datang. Generasi milenial lebih memilih melakukan investasi dari pada menabung. Meskipun menabung memiliki resiko lebih kecil dari investasi.

Generasi milenial memilih investasi karena telah memiliki kesadaran akan resiko yang timbul akibat infasi. Uang yang disimpan memang bertambah jumlahnya, namun nilai uang akan tergerus oleh inflasi. Inflasi sendiri adalah keadaan di mana harga-harga barang naik. Dahulu uang Rp. 500 sudah bisa membeli es krim sedangkan saat ini dengan uang yang sama kita tidak dapat membeli es krim.

Oleh karena itu generasi milenial harus melawan inflasi dengan berusaha meningkatkan nilai uangnya. Untuk bisa mencapai target keuangan, generasi milenial harus cermat memilih instrumen investasi yang memiliki imbal hasil melebihi tingkat inflasi.

Investasi yang ideal haruslah memenuhi beberapa syarat, di antaranya pertama, capital gain yaitu memiliki harga jual yang meningkat. Jadi apapun bisa dijadikan instrument investasi selama memiliki harga jual yang naik.

Kedua, collateral yaitu bisa dijadikan jaminan dalam bertransaksi pinjam meminjam. Jadi bahkan tupperwarejuga bisa dijadikan investasi selama ada yang mau menerimanya sebagai jaminan pinjaman, dalam hal ini PT. Pegadaian Indonesia misalnya.

Ketiga, ada return dari cashflow, artinya instrumen yang kita miliki memberikan pemasukan. Contohnya, generasi milenial yang mendapatkan pendapatan dari properti yang disewakan ataupun deviden yang diperoleh dari deposito.

Ketika investasi memenuhi ketiga syarat tersebut maka investasi itu tergolong investasi yang ideal. Bagaimana ketika instrumen investasi yang dimiliki tidak ideal? Tidak masalah, selama bersedia menanggung resiko investasi.

Lantas apa yang harus dilakukan generasi milenial yang baru akan memulai berinvestasi? Generasi milenial bisa memulai dengan mengatur cashflow atau arus kas. Mengelompokkan pandapatan yang peroleh sesuai dengan pos kebutuhan. Generasi milenial bisa menyisihkan 10-15% pendapatannya untuk investasi.  Ada banyak pilihan instrumen investasi yang bisa dipilih generasi milenial.

Investasi saham adalah yang paling banyak digandrungi generasi kelahiran tahun 1980 hingga 2000 ini. Sederhananya, kita investasi di saham dengan membeli saham salah satu perusahaan. Artinya sama dengan kita memiliki perusahaan tersebut meskipun presentase kepemilikan yang kita miliki sangat kecil.  Jadi jika perusahan tersebut untung, maka kita mendapat deviden, jika perusahaan rugi maka harga saham kita turun.

Untuk memulai investasi di saham, generasi milenial harus memulai dengan membuka akun Rekening Dana Investor (RDI) di sekuritas terdekat. Selanjutnya generasi milenial bisa belajar sambil praktek, dengan mencari berbagai referensi.

Generasi milenial yang ingin terjun di dunia saham harus sedikit banyak memahami perekonomian global maupun membaca pergerakan trend perekonomian nasional. Karena hal ini akan berpengaruh terhadap sektor industri, termasuk perusahaan yang akan kita beli sahamnya.

Apabila generasi milenial merasa belum memiliki skill (analisis fundamental dan teknikal) untuk terjun langsung di dunia saham, maka bisa berinvestasi melalui reksadana saham. Melalui reksadana, generasi milenial bisa membeli berinvestasi di saham melalui pihak ke tiga. Jadi dana yang kita miliki akan dikelola oleh expert untuk membeli saham yang menurut analisis mereka menjanjikan.

Selain saham, generasi milenial juga bisa berinvestasi melalui Surat Utang Negara atau biasa dikenal dengan obligasi atau dalam istilah ekonomi syariah dikenal dengan sebutan sukuk. Sederhananya obligasi adalah surat utang yang dikeluarkan negara, dijual secara ritel dan dijamin oleh Undang-undang serta dibebankan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Obligasi dikeluarkan dengan berbagai tujuan sesuai dengan serinya. Sederhananya negara meminjam dana ke masyarakat melalui obligasi. Dana tersebut bisanya digunakan untuk pembangunan infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, peningkatan layanan kesehatan, biaya pertahanan negara dan lain sebagainya.

Jadi selain berinvestasi generasi milenial juga turut berkontribusi dalam membangun negara kita tercinta ini. Negara bisa meminimalisir utang luar negeri jika masyarakat mau berkontribusi melalui obligasi.

Selain itu obligasi ritel ini juga menawarkan deviden yang lebih tinggi dibandingkan deposito bank. Serta memiliki resiko yang tergolong rendah. Generasi milenial bisa memperoleh pendapatan pasif setiap bulannya melalui kupon atau deviden. Namun obligasi tidak memiliki likuiditas yang tinggi, beberapa seri obligasi hanya bisa dicairkan ketika jatuh tempo, atau pada early redemption ataupun dengan menjualnya di pasar sekunder bagi seri obligasi tertentu.

Apabila generasi milenial ingin berinvestasi dengan resiko kecil dan likuiditas tinggi, maka bisa memilih deposito bank. Sederhananya deposito adalah tabungan berjangka yang devidennya lebih tinggi dibandingkan dengan tabungan biasa. Setiap bank maupun lembaga keuangan lainnya menawarkan deviden yang berbeda-beda. Biasanya deposito memiliki jangka waktu 1, 3, 6, hingga 12 bulan.

Generasi milenial bisa memperoleh deviden dari deposito setiap bulannya, selain itu kemudahan yang ditawarkan bank melalui internetatau mobile banking juga bisa memudahkan generasi milenial untuk membuka rekening deposito dan mencairkan dana kapan saja dan di mana saja.

Selain beberapa instrumen investasi di atas, generasi milenial juga bisa berinvestasi melalui asset lain, seperti properti. Sebenarnya, ada begitu banyak instrumen investasi yang bisa dipilih oleh generasi milenial.

Indah Wahyuningsih
Alumni SKSG UI
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.