OUR NETWORK

Refleksi Akhir Tahun 2019
Investasi dan Perimbangan Manfaatnya di Daerah

Diperlukan penanganan dan terbososan berupa social engineering dalam menangani banyaknya investasi di daerah agar memberikan perimbangan manfaat kepada masyarakat lokal dan investor.
Pekerja menyelesaikan pembangunan Jalan Tol layang Jakarta-Cikampek II, di ruas Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Cibitung, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (17/7). Pembangunan jalan tol layang sepanjang 36 kilometer yang akan membentang dari Cikunir hingga Karawang Barat tersebut ditargetkan selesai pada 2019. ANTARA FOTO/Risky Andrianto/aww/17.

Pemerintah terus berupaya membuat kebijakan strategis untuk semakin menciptakan iklim investasi yang kondusif. Upaya ini salah satunya bertujuan agar pelaku industri yang sudah ada di Indonesia lebih aktif melakukan ekspansi dan dapat menarik banyak investor baru.

Guna menjaga keberlangsungan investasi, khususnya sektor industri, langkah pemerintah yang telah dijalankan antara lain memberikan kemudahan perizinan usaha, menjaga ketersediaa bahan baku, serta menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) terampil melalui pendidikan dan pelatihan vokasi.

Diharapkan, dengan kemudahan untuk berinvestasi itu bisa menjadi multiplier effect terhadap aktivitas industrialisasi, terutama terhadap peningkatan penyerapan tenaga kerja. Hal ini mendorong terciptanya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, itulah inti sambutan yang saya sampaikan dalam “Refleksi Akhir Tahun 2019 Bidang Penelitian dan Pengembangan Daerah” di Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi, 30 Desember 2019.

Banyak nilai-nilai positif dari investasi dan investasi asing ke dalam negeri di Indonesia dan secara khusus di Kabupaten Bekasi. Dalam hasil penelitian yang dibuat oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Bekasi selama tahun 2019 ditemukan beberapa dampak negatif dari adanya investasi.

Pertama, terbengkalainya sektor pertanian. Investasi asing banyak dilakukan di sektor industri. Hal ini berarti banyak tenaga kerja yang tersedot ke dalam sektor tersebut. Keberadaan industri yang lebih menjanjikan secara pendapatan, mendorong banyak tenaga kerja beralih ke sektor industri. Akibatnya, kegiatan di sektor-sektor penunjang industri menjadi terbengkalai. Akhirnya sektor-sektor non industri mengalami kekurangan tenaga kerja.

Kedua, kerusakan lingkungan. Salah satu komponen yang akan muncul dalam kegiatan industri adalah pencemaran lingkungan. Pencemaran ini dapat berupa limbah maupun pencemaran udara. Makin banyak perusahaan industri, makin meningkatkan produksi limbah. Limbah yang tidak dikelola dengan baik akan merusak lingkungan.

Misalnya, terjadinya polusi udara, pencemaran tanah, dan pencemaran sungai. Pencemaran pada lingkungan bisa mengganggu kesehatan manusia, serta kehidupan hewan dan tumbuhan. Mak dari itu perlu ditegakkan aturan yang jelas mengenai pengelolaan limbah industri.

Keempat, berkurangnya lahan produktif. Dampak negatif lain dari berkembangnya kawasan industri adalah berkurangnya lahan produktif. Areal yang dapat digunakan sebagai lahan produktif seperti untuk usaha pertanian akan habis karena dimanfaatkan untuk mendirikan pabrik. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya tenaga kerja di bidang pertanian.

Makin banyak tenaga kerja yang tersedot di sektor industri, menyebabkan berkurangnya tenaga kerja pertanian. Pada saat tidak ada lagi tenaga kerja di bidang pertanian, maka pemilik lahan lebih memilih mengalokasikan lahan untuk kepentingan industri.

Eksplorasi sumber daya alam secara berlebihan. Beberapa perusahaan asing melakukan eksplorasi sumber daya alam secara berlebihan. Akibatnya sumber daya alam di Kabupaten Bekasi dan secara lebih luas di Indonesia akan habis atau rusak.

Kelima, hasil usaha lebih banyak dibawa ke negara asalnya. Dalam beberapa investasi asing memberikan keuntungan yang lebih besar kepada penanam modal. Hasil usaha penanaman modal asing banyak yang dibawa ke negara investor. Untuk itulah pemerintah perlu mempertimbangkan faktor keuntungan dan kerugian secara cermat.

Dan terakhir, retaknya kohesivitas sosial dan kebudayaan masyarakat lokal. Disebabkan pergeseran ekonomi industrial yang massive dan banyaknya pendatang asing juga memberikan kontribusi bagi persoalan sosial dan kebudayaan.

Oleh karena itu, diperlukan penanganan dan terbososan berupa social engineering dalam menangani banyaknya investasi di daerah agar memberikan perimbangan manfaat kepada masyarakat lokal dan investor.

Edi Supriadi
PhD Candidate dalam bidang Public Management dari School of Government, Universiti Utara Malaysia dan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah, Kabupaten Bekasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…