Minggu, Oktober 25, 2020

Inti Pendidikan dalam Pesantren

Mempertanyakan Keberadaan

http://www.chrisakins.com/wp-content/uploads/2014/12/self-reflection.jpgSebuah ungkapan kegelisahan yang terus-menerus muncul dalam sebuah pikiran yang meragukan segala sesuatu. Itulah dasar di mana Descartes mempertanyakan keadaan “Co geto Ergo Sum”...

Hate Spin: Politik Manipulasi Kebencian

Intoleransi menjadi tema sentral dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini menyusul dominannya diskursus kesetaraan dan kebebasan. Tentu boleh dikatakan bahwa keduanya menandakan sebuah relasi kausalitas. Ide...

Tuhan, Kemaksiatan, dan Siksaan

Bayangkan di hadapan Anda ada tiga ekor semut yang berjalan secara beriringan. Di depan tiga ekor semut itu ada tiga buah botol minuman yang...

Aroma Orba Kian Terasa

Memasukkan elite militer ke dalam sektor pemerintahan merupakan pola kepemimpinan di masa Orde Baru. Tujuannya sederhana, yaitu untuk menjaga stabilitas nasional dan menstabilkan sistem...
Ahmad Umam Aufi
Pembaca apapun

Salah satu the great tradition di Indonesia ialah tradisi pengajaran agama Islam seperti pesantren di Jawa. Alasan mendasar kehadiran pesantren ialah untuk mentransmisikan Islam tradisional yang terdapat di kitab-kitab klasik yang kebanyakan ditulis di abad pertengahan (Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, 2015).

Cara berfikir yang moderat dalam pemikiran tokoh sunni abad pertengahan terus ditransmisikan melalui pesantren. Ini terlihat dari kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren. Pendidikan Islam pada abad ini ikut melanggengkan corak Islam tradisional, yang berpijak pada faham Asy’ariyah dalam bidang akidah, Syafi’i dalam fikih dan Al-ghazali dalam tasawuf, di Indonesia.

Pemikiran sufistik Al-Ghazali yang mementingkan laku (akhlak) menjadi mainstream utama orientasi pendidikan Islam. Karakteristik yang membedakan lembaga pendidikan di luar pesantren dan pesantren adalah perilaku santrinya. Baik akhlak terhadap sesama santri, kiai dan masyarakat pada umumnya.

Keberhasilan pesantren dalam mencetak ulama yang berkualitas tinggi menyebabkan lembaga ini memegang posisi yang dominan di masyarakat. Selain itu, pesantren juga mendidik guru-guru madrasah, guru-guru lembaga pengajian, dan para khotib Jumat. Keberhasilan para kiai dalam menelurkan ulama dengan kualitas tinggi merupakan keberhasilan metode yang digunakan para kiai (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 1985).

Output pendidikan Islam di pesantren menempati posisi yang sentral di masyarakat Jawa. Produknya pun beragam, ada yang ahli dalam bidang dakwah (ceramah), intelektual, dan yang paling banyak dihormati dan disegani adalah mereka yang memiliki kharisma spiritual dan akhlak yang mulia. Pada dasarnya, tujuan didirikannya pesantren yaitu untuk menciptakan dan mengembangkan kepribadian seorang muslim yang beriman, bertakwa kepada Allah, berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat (Syamsul Maarif, Pesantren Vs Kapitalisme Sekolah, 2008).

Tujuan pendidikan tidak untuk memperkaya pikiran murid dengan berbagai penjelasan, melainkan meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan,  mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan para murid untuk hidup sederhana dan bersih hati.

Tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk kepentingan duniawi, tetapi untuk kepentingan kewajiban sebagai manusia dan pengabdian kepada Tuhan. Ini memiliki implikasi bahwa pesantren memiliki cita-cita kemandirian untuk tidak menggantungkan sesuatu kecuali hanya kepada Tuhan (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 1985).

Cita-cita dan tujuan tentang penghambaan kepada Tuhan inilah yang membuat karakter kemandirian bagi seorang santri. Bagi seorang santri, hanya Tuhan yang menjadi tujuan hidup di dunia, bukan manusia. Bahkan kemunculan perlawanan terhadap pemerintah kolonial juga termasuk pemaknaan mereka akan tauhid yang mewujud kepada keyakinan bahwa tiada yang berhak mendominasi yang lain melainkan Allah.

Kemandirian seorang santri akan dibentuk tidak dengan pengkhususan materi-materi keterampilan yang kita kenal di lembaga pendidikan saat ini. Akan tetapi, sebagaimana para kiai yang memilih berdikari dan tidak bergabung kepada pemerintah kolonial, santri dilatih setiap hari untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan saat nanti hidup di masyarakat tanpa mengkhusukan menjadi pelajaran.

Gus dur dalam artikelnya pesantren sebagai subkultur menjelaskan bahwa Pandangan kehidupan yang memiliki orientasi ukhrawi ini yang menjadi dasar kehidupan pesantren. Kepentingan atau urusan dunia bukan menjadi fokus utama kalangan pesantren.

Selain itu, pendidikan di pesantren juga turut andil dalam penciptaan tata nilai yang memiliki dua unsur utama, yaitu peniruan dan pengekangan. Peniruan yang dimaksud ialah upaya memindahkan pola kehidupan sahabat Nabi SAW dan ulama salaf ke dalam kehidupan pesantren.

Ini terlihat dalam ketaataan  ibadah secara rituil, keberterimaan atas kondisi yang kurang, dan kesadaran kelompok yang tinggi. Sedangkan yang dimaksud pengekangan ialah disiplin sosial yang berupa kesetiaan tunggal kepada pesantren. Ini diukur dengan kesetiaan seorang santri dalam melaksanakan pola kehidupan yang tertera dalam literatur fikih dan tasawuf.

Dalam hal ini, kitab fikih lebih banyak diajarkan dibanding kitab tasawuf yang menjadi kitab minoritas. Meskipun, aspek spritual (tasawuf) mendominasi dalam aktivitas di pesantren. Lebih detail tentang kitab yang dipelajari dalam pesantren abad 19 akan dibahas di lain kesempatan.

Dengan begitu, inti tujuan dari pendidikan pesantren ialah mencetak manusia yang punya kedalaman spiritual dan moral yang tinggi sebagai perwujudan dari sikap ketauhidan. Sehingga kekhawatiran dengan persoalan duniawi bukan sebuah persoalan. Ajaran fikih dan tasawuf menjadi patokan perilaku seorang santri dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Ahmad Umam Aufi
Pembaca apapun
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Refleksi Bulan Bahasa: Apa Kabar Perpres 63/2019?

Oktober adalah bulan yang sangat bersejarah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada bulan inilah, 92 tahun silam terjadi peristiwa Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak lahirnya...

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Memperkuat Peran Politik Masyarakat

Salah satu kegagalan konsolidasi demokrasi elektoral adalah tidak terwujudnya pemilih yang cerdas dalam membuat keputusan di hari pemilihan. Menghasilkan pemilih cerdas dalam pemilu tentu...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.