OUR NETWORK

Inti Pendidikan dalam Pesantren

Cara berfikir yang moderat dalam pemikiran tokoh sunni abad pertengahan terus ditransmisikan melalui pesantren

Salah satu the great tradition di Indonesia ialah tradisi pengajaran agama Islam seperti pesantren di Jawa. Alasan mendasar kehadiran pesantren ialah untuk mentransmisikan Islam tradisional yang terdapat di kitab-kitab klasik yang kebanyakan ditulis di abad pertengahan (Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, 2015).

Cara berfikir yang moderat dalam pemikiran tokoh sunni abad pertengahan terus ditransmisikan melalui pesantren. Ini terlihat dari kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren. Pendidikan Islam pada abad ini ikut melanggengkan corak Islam tradisional, yang berpijak pada faham Asy’ariyah dalam bidang akidah, Syafi’i dalam fikih dan Al-ghazali dalam tasawuf, di Indonesia.

Pemikiran sufistik Al-Ghazali yang mementingkan laku (akhlak) menjadi mainstream utama orientasi pendidikan Islam. Karakteristik yang membedakan lembaga pendidikan di luar pesantren dan pesantren adalah perilaku santrinya. Baik akhlak terhadap sesama santri, kiai dan masyarakat pada umumnya.

Keberhasilan pesantren dalam mencetak ulama yang berkualitas tinggi menyebabkan lembaga ini memegang posisi yang dominan di masyarakat. Selain itu, pesantren juga mendidik guru-guru madrasah, guru-guru lembaga pengajian, dan para khotib Jumat. Keberhasilan para kiai dalam menelurkan ulama dengan kualitas tinggi merupakan keberhasilan metode yang digunakan para kiai (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 1985).

Output pendidikan Islam di pesantren menempati posisi yang sentral di masyarakat Jawa. Produknya pun beragam, ada yang ahli dalam bidang dakwah (ceramah), intelektual, dan yang paling banyak dihormati dan disegani adalah mereka yang memiliki kharisma spiritual dan akhlak yang mulia. Pada dasarnya, tujuan didirikannya pesantren yaitu untuk menciptakan dan mengembangkan kepribadian seorang muslim yang beriman, bertakwa kepada Allah, berakhlak mulia dan bermanfaat bagi masyarakat (Syamsul Maarif, Pesantren Vs Kapitalisme Sekolah, 2008).

Tujuan pendidikan tidak untuk memperkaya pikiran murid dengan berbagai penjelasan, melainkan meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan,  mengajarkan sikap dan tingkah laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan para murid untuk hidup sederhana dan bersih hati.

Tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk kepentingan duniawi, tetapi untuk kepentingan kewajiban sebagai manusia dan pengabdian kepada Tuhan. Ini memiliki implikasi bahwa pesantren memiliki cita-cita kemandirian untuk tidak menggantungkan sesuatu kecuali hanya kepada Tuhan (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, 1985).

Cita-cita dan tujuan tentang penghambaan kepada Tuhan inilah yang membuat karakter kemandirian bagi seorang santri. Bagi seorang santri, hanya Tuhan yang menjadi tujuan hidup di dunia, bukan manusia. Bahkan kemunculan perlawanan terhadap pemerintah kolonial juga termasuk pemaknaan mereka akan tauhid yang mewujud kepada keyakinan bahwa tiada yang berhak mendominasi yang lain melainkan Allah.

Kemandirian seorang santri akan dibentuk tidak dengan pengkhususan materi-materi keterampilan yang kita kenal di lembaga pendidikan saat ini. Akan tetapi, sebagaimana para kiai yang memilih berdikari dan tidak bergabung kepada pemerintah kolonial, santri dilatih setiap hari untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan saat nanti hidup di masyarakat tanpa mengkhusukan menjadi pelajaran.

Gus dur dalam artikelnya pesantren sebagai subkultur menjelaskan bahwa Pandangan kehidupan yang memiliki orientasi ukhrawi ini yang menjadi dasar kehidupan pesantren. Kepentingan atau urusan dunia bukan menjadi fokus utama kalangan pesantren.

Selain itu, pendidikan di pesantren juga turut andil dalam penciptaan tata nilai yang memiliki dua unsur utama, yaitu peniruan dan pengekangan. Peniruan yang dimaksud ialah upaya memindahkan pola kehidupan sahabat Nabi SAW dan ulama salaf ke dalam kehidupan pesantren.

Ini terlihat dalam ketaataan  ibadah secara rituil, keberterimaan atas kondisi yang kurang, dan kesadaran kelompok yang tinggi. Sedangkan yang dimaksud pengekangan ialah disiplin sosial yang berupa kesetiaan tunggal kepada pesantren. Ini diukur dengan kesetiaan seorang santri dalam melaksanakan pola kehidupan yang tertera dalam literatur fikih dan tasawuf.

Dalam hal ini, kitab fikih lebih banyak diajarkan dibanding kitab tasawuf yang menjadi kitab minoritas. Meskipun, aspek spritual (tasawuf) mendominasi dalam aktivitas di pesantren. Lebih detail tentang kitab yang dipelajari dalam pesantren abad 19 akan dibahas di lain kesempatan.

Dengan begitu, inti tujuan dari pendidikan pesantren ialah mencetak manusia yang punya kedalaman spiritual dan moral yang tinggi sebagai perwujudan dari sikap ketauhidan. Sehingga kekhawatiran dengan persoalan duniawi bukan sebuah persoalan. Ajaran fikih dan tasawuf menjadi patokan perilaku seorang santri dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

Pembaca apapun

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…