OUR NETWORK

Inisiasi Nasionalisme dalam MPLS Peserta Didik Baru

Terlepas dari hal tersebut, kehidupan intoleran di sekitar siswa memang perlu diwaspadai

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali menyita perhatian publik, melalui rencana menggandeng Tentara Nsional Indonesia (TNI) dalam pembinaan pada masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS).

Digandengnya TNI dalam pembinaan tersebut bertujuan untuk memupuk jiwa nasionalisme peserta didik baru dari tingkat SD – SMA /SMK Se-Derajat. Rencana tersebut resmi dipublikasikan akun resmi @Kemdikbud_RI, pada 21 Juni 2019.

Berdasarkan pemaparan menteri pendidikan RI, yang menjadi pertimbangan dilibatkannya TNI adalah untuk menangkal paham radikalisme di kalangan siswa. Publik pun bereaksi terhadap dasar pemikiran tersebut, bahkan tidak sedikit yang mengaitkan dengan perjalanan tahun politik yang baru saja kita lalui.

Terlepas dari hal tersebut, kehidupan intoleran di sekitar siswa memang perlu diwaspadai, jika berkaca pada beberapa hasil survey yang berkembang. Misalkan saja berdasarkan survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) pada tahun 2011, ditemukan 50% pelajar di Jakarta mendukung cara-cara keras dalam menghadapi masalah moralitas dan konflik keagamaan.

Senada dengan LaKIP, hasil survei Mata Air Fondation di tahun 2017 menemukan bahwa paham radikal mulai merasuk ke 24 % pelajar dan mahasiswa di Indonesia.

Persoalannya adalah, apakah pembinaan yang dilakukan saat kegiatan PLS tepat dilakukan? Lalu, materi apa yang relevan diberikan?

Berbagai Pertimbangan

Panglima TNI, Hadi Tjahjanto, dalam pertemuan bersama Kemendikbud menyampaikan bahwa materi pembinaan akan bersumber kepada penyiapan karakter siswa berdasarkan empat pilar kebangsaan Indonesia, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Selain itu Cinta tanah air, dan bela negara akan disiapkan, menyesuaikan dengan materi Kemendikbud.

Dengan konsep tersebut, Kemendikbud perlu menguraikan kurikulum ataupun silabus materi yang relevan dengan level pemahaman dan karakteristik di setiap strata pendidikan mulai dari dasar hingga menengah.

Di lain pihak dalam struktur kurikulum pelajaran kewarganegaraan pembahasan empat pilar kebangsaan sudah teruarai dengan baik, oleh karena itu rasanya akan lebih efektif jika konsep tersebut dibahas bersama guru kewarganegaraan dalam pertemuan di Kelas. Selanjutnya, porsi waktu dan jumlah sesi pembinaan pun perlu dipertimbangkan, jika memang program bersama Kemendikbud dengan TNI tetap akan dijalankan.

Masa PLS pada dasarnya berfokus pada upaya untuk membantu peserta didik beradaptasi dengan peran barunya sebagai siswa di sekolah tersebut dengan berbagai aspek lingkungan sekolah, seperti lingkungan fisik sekolah, peraturan, tuntutan, dan budaya belajar di sekolah yang baru.

Bahkan tantangan terberat dari PLS tahun ini adalah mengubah persepsi dan membentuk semangat peserta didik baru, dengan harapan potensi luar biasa mereka tidak terhambat oleh rasa kecewa dan setengah hati mereka karena tidak masuk disekolah yang di luar zonanya.

Berbagai penelitian membuktikan bahwa kegagalan untuk menyesuaikan diri dapat menyebabkan masalah psikologis seperti stres dan frustrasi, penolakan terhadap kehidupan sekolah seperti membolos dan menunda tugas (prokastinasi), yang dapat berujung pada kegagalan belajar bahkan putus sekolah. Masa PLS merupakan fase penting saat awal siswa memasuki lingkungan sekolah, yang kan menjadi bagian kehidupan sehari hari.

Porsi waktu dan sesi dalam masa PLS harus lebih banyak dalam memberikan kekayaan informasi akan berbagai peluang untuk berprestasi di sekolah.

Informasi yang paling sederhana misalnya wakasek kesiswaan menjelaskan makna dan fungsi setiap aturan sekolah bagi keberhasilan peserta didik, guru BK memberikan informasi dan melatih keterampilan psikologis untuk dapat belajar dengan efektif, dan senior memberikan pengalaman mereka berprestasi di sekolah melalui aktivitas yang dilakukannya baik secara kurikuluer maupun ekstrakulikuler.

Inisiasi Nasionalisme

Muatan Cinta tanah air dan bela negara masih berpeluang untuk disisipkan dalam masa PLS, sebagai bentuk inisiasi nasionalisme bagi pelajar, dan perannya dalam menjaga nama baik negara. Kaitannya dengan PLS adalah menanamkan semangat untuk berprestasi yang diharapkan menjadi kontribusi anak bangsa mengharumkan nama baik Indonesia.

Jika dipahami kembali makna karakter nasionalis, yaitu cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan menghargai budaya, kekayaan, keberagaman, bangsa, serta rela berkorban, peduli, dan mau membangun bangsa ini.

Ki Hadjar Dewantara pun merumuskan bahwa hasil dari pendidikan adalah kemampuan peserta didik mau menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk negara dan masyarakat, sehingga menjadi bangsa yang mandiri, tidak bergantung, dan siap dengan perubahan zaman. Kemampuan itulah yang disebut prestasi.

Berkenaan dengan target tersebut, ada tiga pokok materi / isu utama yang dapat menjadi inisiasi nasionalisme yang relevan dengan konteks PLS.

Bangga Pada Negeri

Peserta didik kembali dikenalkan dan dikuatkan perasaan bangga akan keanekaragaman alam dan kebudayaan yang luar biasa. Dari rasa bangga tersebut ada sebuah alasan yang kuat mengapa kita haru mau menjaga dan membela negara.

Dalam masa PLS peserta didik pun diajak untuk memahami sekolah sebagai miniatur Indonesia, dimana akan ada keberagaman dan perbedaan. Sehingga sikap toleran dan multikulturisme kembali ditegaskan sebagai kebiasaan sehari- hari peserta didik, karena negeri ini bertahan dengan sikap saling menghargai perbedaan.

Cintai Negeri

Mencintai negeri berati menjaga harmoni negeri ini. Secara fisik, kita memiliki keindahan alam yang luar biasa, dan secara psikis ada perdamaian yang harus dijaga di tengah perbedaan.

Peserta didik baru dapat diajak untuk mengenali lingkungan fisik di sekitar sekolah, kearifan lokal daerah, dan keunikan masing masing warga sekolah. Sebagai upaya menjaga potensi alam Indonesia, pembiasaan untuk memelihara alam sekitar sesederhana membuang sampah pada tempatnya, melakukan kerja bakti perlu digalakan dalam masa PLS.

Sementara itu untuk pembiasaan menjaga perdamaian, peserta didik baru perlu dilatih kemampuan menghadapi konflik secara bijaksana, melakukan negosiasi, dan tidak mudah terpengaruh oleh isu hoax, Tim fasilitator dari TNI dapat bekerjasma dengan guru Bimbingan dan Konseling untuk menyusun realisasi kegiatan yang menarik.

Berkarya Untuk Negeri

Pada akhirnya, pembuktian nasionalisme yang paling penting di era disrupsi adalah menorehkan prestasi dalam karya nyata. Karyalah yang menjadi bukti bahwa kita adalah bangsa yang mandiri, siap bersaing, dan tidak tergantung.

Dalam berkarya bagi negeri, komitmen dan disiplin TNI dapat menjadi contoh bagi peserta didik baru dalam menjalani proses belajar di sekolah, karena dalam belajar selalu saja ada godaan. Selain itu, untuk memotivasi peserta didik ada baiknya dilibatkan juga putera daerah berprestasi, upaya kolaborasi dapat dilakukan dengan pemerintah daerah, BUMN, komunitas seperti kelas inspirasi, maupun alumni sekolah.

Demikianlah masukan terhadap inisiasi nasionalisme yang direncanakan Kemendikbud. Semoga Nasionalisme yang ditanamkan menjadi inisiasi siswa untuk berprestasi.

Beraktivitas sebagai Dosen Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Palembang. Selain itu, aktif juga sebagai Peneliti perkembangan remaja yang positif (positive youth development), Melayani konsultasi remaja, Konsultan program pengembangan remaja , serta menjadi Relawan di Kelas Inspirasi Palembang dan Lentera Sekolah. Kontak dan korespondensi : 085659011096 & Rofi3003@gmail.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…