Jumat, Januari 15, 2021

Ingin Pulang Kampung

Ketika Ragam Klasik dan Tak Lazim Kembali ”Bernyawa”

Salah satu kesenangan membaca adalah tatkala menemukan diksi-diksi ”baru”. Kata baru mesti diberi kutip karena bisa jadi memang bukan definisi baru yang sebenarnya. Yang...

Menyoal Kebijakan Larangan Bercadar di Perguruan Tinggi

Publik tanah air sontak menjadi heboh usai Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN Suka) pada Senin, 5 Maret yang lalu mengeluarkan surat keputusan...

Rekonsiliasi Agama Dan Budaya

Isu-isu benturan antara agama dan budaya di Nusantara ini harusnya adalah kisah usang, namun ekspresi beragama mengancam ekspresi berbudaya masih saja terjadi di republik...

Idul Qurban dan Kemerdekaan

Agustus kali ini demikian unik lantaran memperingati dua momentum sejarah sekaligus. Hari raya Idul Qurban dan kemerdekaan Indonesia. Dua peristiwa ini memiliki arti mendalam...
Dede Sulaeman
Blogger dan penulis buku Gagasan Tokoh Benny K Harman, “No Justice, No Peace!”

Seperti dikutip Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komaruddin Hidayat (2016), menurut sejarahnya, di Eropa hari libur Sabtu dan Minggu disebut holiday karena diinspirasi Bibel bahwa Tuhan istirahat mengurus dunia pada Sabtu. Karena itu, manusia juga istirahat dari kerja mengejar duniawi lalu diganti dengan acara ritual memuja Tuhan sehingga pada holy-day, hari suci, orang pergi ke gereja atau kuil untuk memuja Tuhan.

Ada bagian waktu yang dikhususkan manusia untuk mengabdi kepada Tuhan dengan beribadah dan berbagi kasih sayang kepada sesama manusia.

Dalam tradisi Islam, setiap menjelang lebaran, hari raya Idul Fitri, hampir semua umat Islam berbondong-bondong mudik, kembali ke kampung, tidak hanya untuk merayakan hari raya, tapi lebih dari itu mereka saling membebaskan kesalahan, berbagi, dan menghormati satu sama lain.

Juga, pada momen itu, perputaran ekonomi yang tadinya lebih banyak di kota berpindah ke kampung secara signifikan. Ini menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat di kampung.

Momen itu menjadi sangat sakral bagi masing-masing orang. Pulang kampung memiliki makna spiritual, sekaligus sosial yang sangat kental. Dan, ternyata tradisi pulang kampung yang khas Indonesia, tidak hanya hidup bagi orang Jawa, tapi juga luar Jawa; tidak hanya umat Islam tapi juga umat-umat agama lain.

Ketika seseorang mengatakan ingin pulang kampung, artinya ia menginginkan kembali ke kampung halaman dengan tujuan spiritual juga sosial. Ia ingin mengabdi kepada Tuhan, sekaligus berbagi kepada sesama, tempat di mana pertama kali ia dilahirkan. Sebab mengabdi kepada Tuhan selalu memiliki makna ganda: pengabdian hamba kepada-Nya dan kepada sesama manusia. Karena itu, pulang kampung selalu memiliki makna luhur yang bernilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Benny K Harman, salah seorang politisi senior nan mapan yang hampir tiga periode duduk sebagai anggota DPR RI, seolah terbawa hanyut oleh tradisi mudik itu. Ia ingin pulang kampung, kembali ke Nusa Tenggara Timur (NTT), tempat di mana ia dilahirkan dan tumbuh menjadi besar.

Ia mengatakan, “Kalau NTT mau maju, para perantau harus pulang kampung, dan saya adalah salah satu perantau yang hendak pulang kampung.”

Dalam konteks politik lokal yang sebentar lagi akan melangsungkan hajatan pilkada serentak di beberapa daerah, termasuk NTT, kalau ada politisi yang sudah malang melintang sebagai politisi senior di level nasional berterus terang ingin pulang kampung, tentu kita mafhum apa maksudnya.

Ya, Benny ingin ikut bertarung di pilkada. Tapi kenapa ia membawa-bawa istilah pulang kampung? Apakah itu benar-benar berhubungan dengan makna spiritual, sekaligus sosial; pengabdian kepada Tuhan, juga kepada sesama manusia?

Secara kasat mata, tak seorang pun tahu apa isi hati seseorang, kecuali Tuhan dan dirinya sendiri. Mungkin seseorang bermaksud baik, bisa juga bermaksud sebaliknya. Ini menjadi bagian misteri dari sosok manusia yang memiliki unsur malaikat, juga unsur setan.

Akan sangat sulit menilai sebuah misteri semacam ini. Karena itu, kita tidak perlu menilai isi hati yang tidak tampak. Memaksakan diri untuk tahu isi hati orang, hanya akan membuat seseorang senewen, stres, bahkan depresi. Mari fokus saja pada apa yang tampak diucapkan. Mengenai niat baik yang misteri, biarlah Tuhan yang menilai.

Dalam beberapa kesempatan Benny yang dikabarkan akan berpasangan dengan wakil gubernur sekarang, Beny Litelnoni, mengatakan hal pokok yang menjadi motivasinya pulang kampung, yaitu pengabdian.

Pengabdian menjadi kata ajaib bagi Benny dan tampaknya ini diilhami oleh sang ibu yang menohok dirinya, “Untuk apa kamu pintar dan hebat di negeri orang, sedangkan orang-orang di kampungmu miskin dan menderita. Untuk apa kamu berkedudukan dan kaya raya, tapi orang-orang itu tidak bisa kamu ubah nasibnya.” (Widodo dan Sulaeman, No Justice, No Peace, 2017: 173)

Mengubah nasib orang-orang yang miskin supaya menjadi berkecukupan bukanlah persoalan mudah, apalagi sebagian masyarakat yang hidup di provinsi seluas NTT. Perlu ada upaya sistematis yang melibatkan banyak pihak: pemerintah daerah, pihak swasta, dan masyarakat.

Di antara tiga pihak itu, pemerintahlah yang menjadi faktor paling penting dengan tanpa menafikan dua faktor lainnya. Sebab pemerintah memiliki kebijakan yang mengandung unsur hukum yang mengikat untuk mengatur semua penyelenggaraan tata kelola masyarakat di sebuah daerah. Karena itu, pemerintah menjadi kata kunci bagi maju tidak sebuah masyarakat. Faktor inilah yang menjadi motivasinya untuk pulang kampung, memimpin NTT.

Membangun Kampung Sendiri

Tak mau sendirian, Benny K Harman juga mengajak orang-orang asli NTT yang sudah merantau dan sukses, baik itu pengusaha, ilmuwan, akademisi, politisi, dan sebagainya, untuk kembali ke kampung halaman demi membangun NTT yang maju. Tak segan ia mengajak perantau asal NTT pulang kampung untuk membangun kampung sendiri. Menurutnya, daerah akan maju apabila para perantau mau pulang kampung (Widodo dan Sulaeman, 2017: 195).

Benny menuturkan, pengalaman keliling Indonesia selama duduk di DPR RI membuat dirinya sampai pada kesimpulan bahwa kalau mau membangun kampung, maka para perantau juga ikut bertanggung jawab membangun kampung sendiri. Para perantau, kata dia, tidak boleh menutup mata dan apatis dengan kampung halaman. Kalau mau membangun daerah butuh pengorbanan untuk mau kembali ke kampung.

Pengusaha yang sukses di rantau, menurutnya harus pulang untuk bangun daerah. Ia mengatakan bahwa uang yang diperoleh orang-orang sukses dari NTT harus diinvestasikan ke kampung halaman. Selain itu, kaum intelektual atau cendikiawan juga harus mengorbankan kepintarannya untuk membangun daerah. Kemudian, para politisi harus pula kembali ke kampung untuk membangun daerah; anak muda yang sudah selesai kuliah harus berani pulang kampung membangun daerah.

Benny mewanti-wanti, Provinsi NTT mempunyai potensi pariwisata yang luar biasa untuk meningkatkan pendapatan per kapita. Kalau tidak diantisipasi dengan baik dari sekarang, maka bisa menjadi orang asing di kampung sendiri.

Benny juga menandaskan, walaupun ada cerita yang memilukan di NTT, seperti kasus human traffiking, konflik tanah, masalah pembangunan, tapi hal itu tidak akan menyurutkan semangat untuk membangun kampung halaman sendiri (Widodo dan Sulaeman, No Justice, No Peace, 2017: 196-197). Ia berharap, provinsi NTT akan bisa sejajar dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia, bahkan dapat melebihinya.

Apakah semua yang dikatakan Benny bisa terwujud? Tunggu tanggal mainnya, ketika pilkada di NTT telah selesai digelar. Tentu kita sebagai warga negara yang netral yang cinta kepada NKRI dan sesama anak bangsa, sangat berharap kesejahteraan bisa terwujud di banyak daerah melalui proses politik lokal, siapa pun orang yang menjadi pemimpinnya dan apa pun partai pengusungnya. Semoga.[]

Dede Sulaeman
Blogger dan penulis buku Gagasan Tokoh Benny K Harman, “No Justice, No Peace!”
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.