in

Ingin Anak Hobi Baca? Mulai dari Guru dan Orang Tua


Rasanya ponsel pintar dan internet kini sudah menjadi kebutuhan pokok semua orang, termasuk anak-anak. Bagi ibu zaman sekarang, ponsel menjadi senjata paling ampuh agar anak-anak tidak ‘keluyuran’. “Ya, dari pada jauh-jauh main di luar, takut ada apa-apa, mending main game aja di rumah”, begitu alasan para orang tua yang sudah membelikan anaknya ponsel, bahkan sejak masih kelas 1 SD.

Tak hanya pada anak, ponsel kerap menjadi senjata paling ampuh untuk menenangkan balita ketika menangis, atau saat sang ibu hendak mengurus pekerjaan rumah tangga. Tinggal aktifkan Youtube, maka si dedek langsung duduk manis dan diam. Hal itu membuat ponsel seperti candu.

Jika anak bisa memanfaatkan ponsel untuk hal positif, seperti membaca, menulis, atau mencari info tak masalah, tapi mayoritas anak menggunakan ponselnya untuk hal yang kurang produktif, seperti bermain game. Saya bukan hendak mengatakan game tidak bermanfaat, tetap ada manfaatnya sebagai hiburan, tetapi alangkah baiknya jika hiburan tersebut bisa diganti dengan membaca buku.

Di sisi lain, orang tua kerap mengeluhkan, kenapa tingkat literasi anak SD zaman sekarang sangat rendah? Kok anak lebih asyik dengan ponselnya dari pada membaca buku dongeng? Ya, sebagai orang tua, kita sering egois. Menyuruh anak membaca, tapi diri-sendiri malah berkutat dengan ponsel. Meminta anak berhenti main game, tapi tiap setiap saat sibuk berinteraksi di media sosial.

Begitu juga dengan para guru, meminta siswa baca buku di perpustakaan saat jam istirahat, tapi di waktu yang sama malah asyik bercengkrama atau makan-makan. Padahal anak adalah peniru ulung. Apa yang dilakukan dan dicontohkan orang tuanya akan dilakukannya juga. Demikian juga dengan guru, para murid tidak akan melaksanakan perintah, jika tidak diberi teladan yang baik. Jangan berharap anak senang membaca, jika orang tua dan gurunya tidak mau ikutan membaca. Jadi sisakanlah waktu untuk membaca sehari dua jam, misalnya. Mulailah dengan buku, majalah, atau novel yang kita sukai.

Baik, keinginan orang tua dan guru untuk membaca sudah ada, tapi buku nya yang tidak ada. Nah, inilah yang menjadi sumber permasalahan negara kita: harga buku yang dijual di toko masih tergolong mahal.

Baca Juga :   Jumlah Huruf Han Zi dan Kecerdasan Bangsa China

Taruhlah buku yang paling diminati adalah novel. Untuk novel best seller harganya bisa sama dengan lima kilo beras”. Bagi golongan rumah tangga menengah ke bawah dan guru (apalagi yang honorer), harga segitu akan dirasa sangat memberatkan. Saya pun merasakannya.

Sebagai ibu rumah tangga, mengatur keuangan untuk bisa membeli sebuah buku kesukaan agak susah-susah gampang. Hal yang berbeda ketika masih sekolah atau kuliah, saya bisa menyisihkan uang untuk membeli satu-dua novel per bulan. Namun saat sudah menikah, rasanya kebutuhan hidup tak pernah ada habisnya. Menyisakan uang 80-100 ribu untuk satu buah novel rasanya berat sekali. Ada saja kebutuhan lebih mendesak yang harus ditunaikan. Mulai dari cicilan, interaksi sosial, dan sebagainya. Maka, bagaimana solusinya?

Ada tiga hal yang menurut saya bisa menjadi solusi atas permasalahan ini.

Pertama : Subsidi Buku

Agar sebuah buku bisa terjangkan oleh masyarakat luas, terutama bagi orang tua dan guru, pemerintah seharusnya bisa mengucurkan dana untuk subsidi buku. Dalam hal ini perlu ada kerja sama dengan penerbit. Bayangkan jika misalnya sebuah novel best seller bisa didapatkan dengan harga 10 ribu, bukan tak mungkin di rumah ataupun di tempat umum kita bisa melihat pemandangan masyarakat yang berkutat dengan bukunya.


Sebenarnya, jika kita mau flashback ke ratusan tahun silam, dimana Islam mencapai puncak kejayannya, yaitu pada masa kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad, penggeraknya tak lain adalah literasi. Saat pemerintahan Khalifah Al Makmun (813-833 M), ia menerapkan kebijakan agar tiap desa dibangun perpustakaan, dengan koleksi ribuan buku. Penjual buku disubsidi dari uang negara, agar harganya tak lebih dari sepotong roti.

Berkat kebijakan ini, tradisi literasi begitu hebat. Setelah sibuk bekerja di pasar, masyarakat masih sempat membaca dan berdiskusi, sementara yang lain sibuk menulis dan menerjemahkan karya Yunani kuno.

Tak haya itu, akademi terbaikpun menjamur, seperti Bait Al Hikmah, Dar Ilmi, dan lainnya. Hanya selang beberapa waktu, lahirlah cendekiawan muslim terkemuka dunia, seperti Al Kindi , Al Khawarizmi, dan ilmuan besar lainnya.

Baca Juga :   Gagasan: Sentuhan Hati Seorang Penulis

Masih di Baghdad, saat tampuk kekuasaan jatuh pada Khalifah Muntashir Billah (1277 M), ia mencetak buku dan membagi-bagikan sendiri secara percuma di tiap kunjungan kenegaraannya. Ia bahkan mendirikan lebih banyak perpustakaan ketimbang tempat ibadah. Tak hanya sebagai tempat membaca, perpustakaan masa itu juga dijadikan tempat riset berbagai penelitian.

Begitulah, sejarah telah mencatat bahwa peradaban akan lahir dari membaca. Jika budaya membaca sudah mulai ditinggalkan, jangan harap sebuah negara bisa maju dan memiliki peradaban tinggi.

Kedua: Perbanyak Perpusatakan Online

Memperbanyak buku tak harus dalam bentuk cetak. Era telah berubah, segala hal yang berbau percetakan perlahan mulai ditinggalkan. Banyak orang yang lebih senang membaca buku dari layar ponselnya. Selain praktis, menerbitkan buku dalam bentuk digital membutuhkan biaya yang jauh lebih murah.

Dalam hal ini pemerintah perlu membuat aplikasi perpustakaan digital yang bisa diakses secara cuma-cuma oleh para pembaca. Sejak tahun 2016, pemerintah memang telah meluncurkan Ipusnas, sebuah aplikasi perpustakaan digital dengan ribuan koleksi buku.

Sama seperti perpustakaan biasa, buku yang dipinjam di Ipusnas akan dihitung sesuai banyaknya salinan dari buku tersebut. Sayangnya jumlah setiap buku tidak terlalu banyak, maksimal hanya 10 copy. Untuk karya sastra mayoritas malah tidak ada copy-an nya. Sehingga banyak buku yang tidak bisa dipinjam dikarenakan jumlah antrian yang terlalu panjang. Pun untuk buku kategori anak usia sekolah dasar, tidak banyak koleksi yang bisa dipinjam.

Alangkah bagusnya jika koleksi buku untuk anak diperbanyak atau dibuat apliksi perpustakaan khusus, yang menyediakan komik dan buku yang banyak diminati oleh mereka. Media pemasaran dan iklan juga harus ditingkatkan. Tanggal 10 September 2017, baru 50 ribu orang yang mendownload. Kalau jauh dengan aplikasi game, musik, belanja, dan lainnya. Tapi saya optimis jika perpustakaan semakin dikembangkan, bukan tidak mungkin budaya literasi masyarakat akan meningkat.

Baca Juga :   Pembubaran Ormas dan Pelemahan Kehendak Politik Masyarakat

Ketiga: Mendorong Karya Penulis Cilik dan Mengapresiasinya

Sebagian penerbit memang telah mulai memberi dorongan pada anak untuk mau menuangkan karyanya, seperti penerbit Mizan. Salah satu programnya, yaitu KKPK (Kecil-kecil Punya Karya) mampu menghasilkan banyak penulis cilik. Hasil karya mereka pun kerap dibagikan cuma-cuma ke perpustakaan berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Terobosan Mizan ini menurut saya brilian sekali. Selama ini buku anak mayoritas ditulis oleh pengarang dewasa yang tentu tingkat imajinasi nya tak se ‘liar’ anak-anak. Oleh karena itu karya yang dihasilkan tak melulu bisa masuk ke dalam pikiran mereka.

Hal yang berbeda jika yang menulis anak-anak. Daya khayalnya masih tinggi, sehingga apa yang ditulis lebih mudah masuk ke dalam nalar pembaca sebayanya. Saat saya bertanya ke beberapa guru di sekolah yang tersebar di Jawa buku apa yang paling diminati anak-anak? mereka menjawab: buku KKPK.

Apa yang dilakukan Mizan harus dicontoh penerbit lain, terlebih pemerintah. Negaralah yang seharusnya turun tangan dan begerak lebih aktif menumbuhkan literasi untuk anak. Caranya, bisa dengan membuat penerbit berplat merah khusus untuk menerbitkan karya mereka.

Agar mudah dijangkau, pemerintah bisa bekerja sama dengan sekolah-sekolah. Nah karangan yang dianggap terbaiklah yang nantinya bisa diterbitkan. Mereka yang menelurkan karya juga harus diapresiasi setinggi-tingginya. Bagi karya best-seller misalnya, penulisnya dihadiahi beasiswa hingga kuliah, atau dipermudah masuk sekolah terbaik di Indonesia. Saya rasa hal itu bisa menjadi pelecut semangat adik-adik untuk bisa berkarya sedini mungkin.

Terakhir, sia-sia saja pemerintah mengadakan lokakarya, seminar, atau apapun itu untuk menumbuhkan minat baca anak, jika para orang tua dan guru tidak memberi contoh nyata. Pun untuk menyelesaikan masalah tersebut tak cukup hanya dengan mengirim buku bacaan ke perpustakaan sekolah. Tidak. Perlu ada solusi yang lebih konkrit untuk menuntaskannya.

Semoga tulisan saya di atas bisa menjadi jalan keluar, mengurai problematika menurunnya minat baca anak usia di Sekolah Dasar. Ya, semoga.


Written by aneeza

Baca tulisan aku di fb: Anisatul Fadhilah

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR