Rabu, Januari 27, 2021

Inggris Kembali “Menguasai Dunia”

Memaknai May Day: Memutus Keresahan Tenaga Kerja Asing

Akhir-akhir ini wacana publik dipenuhi dengan perbincangan tentang Undang-undang Tenaga Kerja Asing, yang tak jarang dipenuhi dengan kekhawatiran dan ketakutan akan “hilangnya pekerjaan” bagi...

Islam Rasa Eropa Abad Pertengahan di Zaman Now

Keruntuhan Kekaisaran Romawi pada penghujung abad ke-5 M menandai akhir dari zaman klasik di Eropa. Tidak adanya imperium yang bisa mengisi kekosongan politik tersebut...

Dua Dekade Politik HAM Di Era Reformasi

Menjelang dua dekade Reformasi, belum juga kita melihat hilal perubahan yang berarti bagi penegekan HAM dan perkara kesejahteraan di Indonesia. Bagaimana tidak, kasus pelanggaran...

Ada Apa Dengan Hak Angket DPR

Oleh Benni Sinaga Hak angket yang dilakukan oleh dewan perwakilan Rakyat (DPR) dalam kasus mega korupsi e-ktp mencoreng nama baik DPR di mata publik, kasus...
Desvian Bandarsyah
Dekan FKIP UHAMKA dan Intelektual Muhammadiyah

Bahasa Inggris menjadi bahasa dunia, lebih dari sepertiga bangsa-bangsa di dunia menggunakannya. Mengapa? Itu karena Inggris pernah menguasai dunia. Mereka memiliki rekam jejak yang kuat sebagai negeri dengan koloninya yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Kali ini mereka ingin menguasai dunia kembali, meski “hanya” lewat sepakbola. Mereka telah melangkah jauh, sejak Paul “Gazza” Gascoin, gelandang elegan yang pernah mereka miliki membawa Inggris mencapai Semi Final beberapa puluh tahun lampau.

Warisan Hegemoni Sejarah

Dalam sejarah panjang perjalanan bangsa itu, mereka merajai dan menghegemoni berbagai wilayah di berbagai belahan dunia. Sebut saja, kawasan Asia, mulai dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Barat Daya dan bahkan Asia Timur, merupakan kekuasaan Inggris.

Eropa juga demikian, sebagian Afrika ceritanya hampir mirip. Bahkan Amerika dan Australia juga koloni Inggris. Singkatnya, Inggris pernah menebar ancaman dan ketakutan sekaligus pengaruh dan hegemoni yang kokoh beberapa abad lalu, sampai di pertengahan abad ke-20. Hingga akhirnya, mereka harus melepas koloni dan pengaruhnya satu demi satu diberbagai kawasan itu, untuk selanjutnya perannya digantikan oleh Amerika Serikat.

Pasca Perang Dunia kedua, Inggris mengalami penurunan pengaruh yang signifikan. Itulah mengapa pada sekitar tahun 1950 sampai dengan 1960. Beberapa negeri koloni mereka “dibiarkan merdeka”. Bahkan beberapa kawasan strategis yang menopang pengaruh mereka juga dilepas dalam periode yang sama.

Bagaimana Inggris melepas kawasan pasifik dengan meminta Amerika Serikat berbagi tanggungjawab atas keamanan kepentingan dan kelangsungan dominasi politik mereka di kawasan itu. Pada akhirnya Inggris benar benar angkat kaki pada awal 1960 an dan digantikan secara penuh oleh Amerika Serikat dalam peran dan hegemoni politik serta militer yang panjang itu.

Malam itu, sebagaimana malam malam sebelumnya sejak Piala Dunia bergulir, Inggris berupaya memperlihatkan hegemoninya kembali. Ya hegemoninya kembali, meskipun itu terjadi “hanya dalam sepak bola”. Mereka pernah menjadi kekuatan dunia dalam sepak bola. Bahkan kompetisinya menjadi yang paling menarik dan kompetitif dibandingkan dengan liga beberapa negara adi daya dalam sepak bola.

Tahun 1966 mereka memenangkan piala itu, yang menandai hilangnya inferioritas mereka terhadap negara adi daya sepak bola lainnya, seperti Brazil, Jerman, Italia, Argentina, Uruguay, setidaknya. Sebagai tuan rumah mereka tidak ingin gagal dan memenangi pertandingan pada partai final, mengalahkan Jerman Baratdengan skor 4–2. Maka Piala Dunia kembali ke asal muasal permainan itu di mulai.

Komposisi yang Berimbang

Sejak fase grup bergulir, mereka memperlihat kelas sebagai tim yang solid dan mapan. Permainan berjalan dalam setiap pertandingan dengan baik dan bahkan sangat baik. Bermodal kekuatan merata antar lini yang dimilikinya dan organisasi permainan yang rapi, disertai sinergi sang pelatih, Gareth  Southgate yang piawai dalam mengenal kapasitas para pemainnya dan kemampuan menerapkan setrategi permainan, Inggris menjadi di tim solid dan semakin diperhitungkan bahkan ditakuti oleh lawannya. Mereka mulai mendikte dunia dan kini menjejakkan kakinya di semi final Piala Dunia.

Data lainnya, mereka salah satu tim paling subur dalam Piala Dunia ini. 11 gol kemenangan mereka ciptakan dalam total 5 pertandingan yang telah dijalaninya. Rata rata memproduksi 2,2 gol dalam setiap pertandingan. Statistik yang membuat lawan wajib untuk waspada dan menjaga gawangnya dengan serius. Statistik berikutnya memaksa lawan untuk meningkatkan kewaspadaan sepanjang pertandingan.

Yang menarik, rangkaian kemenangan itu diperoleh  melalui kemampuan mereka mengkonversi bola mati. Hal ini yang mengantar mereka secara signifikan sampai ke semi final dalam Piala Dunia kali ini. 80 persen gol Inggris lahir dari skema bola mati. Salah seorang pemain pentingnya, Harry Maguire sebagaimana dilansir situs FIFA mengatakan bahwa skema bola mati menjadi aspek penting dalam permainan dan mereka melatihnya dengan sangat serius dan hasilnya dapat dibuktikan oleh Inggris.

Malam itu juga, ketika menghadapi Swedia di Samara Arena, Maguire menunjukkan kapasitasnya sebagai eksekutor yang dingin dalam skenario bola mati. Tandukannya dalam meneruskan umpan sepak pojok yang dilayangkan Ashley Young, berhasil menjebol gawang Swedia pada menit ke 30.

Gol kedua yang dicetak oleh Delle Ali juga melalui sundulan atas respon umpan silang dari Jesse Lingard dimenit ke 58. Itulah hasil yang saling berkelindan antara ketekunan dalam latihan, kerja keras dan kolektifitas permainan, kecepatan membaca peluang dalam hitungan sepersekian detik, serta nasib baik yang mengiringi mereka.

Harapan Masa Depan

Sejauh ini Inggris sangat menjanjikan. Kemenangan demi kemenangan dan bagaimana mereka memperoleh kemenangan, mengapa kemenangan itu dihadirkan, serta bagaimana hasil akhirnya, benar benar menggambarkan tim dengan peluang dan pencapaian terbaik jika dibandingan dengan kontestan lainnya.

Di samping itu juga pesaing utama mereka dan tim unggulan semacam Jerman, Argentina, Brazil sudah gugur di fase perempat final. Pesaing mereka “tinggal” Kroasia yang akan dihadapinya dalam semi final. Meskipun tidak mudah namun peluang untuk mengalahkan Kroasia dan melenggang ke final bukan sesuatu yang mustahil bahkan sangat besar, jika melihat cara mereka bermain dalam Piala Dunia kali ini.

Sambil menunggu partai semi final lainnya yang mempertemukan “debutan” Piala Dunia, Perancis dengan Belgia, maka Inggris menjadi favorit juara yang tidak terbantahkan. Mereka adalah juga tim dengan usia rata rata muda, 26 tahun. Memiliki tradisi sepak bola dengan sistem kompetisi yang rapi, Liga Priemer.

Mereka memiliki peluang dan masa depan yang panjang. Selamat datang The Three Lion, hegemoni tengah di mulai. Inggris kembali “menguasai dunia”.

Desvian Bandarsyah
Dekan FKIP UHAMKA dan Intelektual Muhammadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.