Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Ingat, 2018 Tahun Politik Bukan ‘Jomblo’

Catatan Halaqah Kebangsaan: Menjadi Payung Besar Minoritas

Umat Islam Indonesia harus memberikan harapan bagi masyarakat Indonesia, mampu menjadi payung (pelindung), memberikan kenyamanan, ketentraman dan keamanan bagi kalangan minoritas. Meskipun berbeda suku,...

Agama, Negara dan Kohesi Sosial

Bukan tanpa alasan mengapa para pendiri bangsa (founding parents) merumuskan dan memproklamirkan Indonesia sebagai negara-bangsa (nation-state), bukan sebagai negara agama (religious state). Jika flashback ...

Kontroversi Dokter Terawan dan Posisi Penelitian

Kerap orang berkata “ini sudah diteliti” atau “itu sudah ada penelitiannya” dengan maksud memberi argumen bahwa hal yang sudah diteliti tersebut pasti benar atau...

Menulis di Kertas Masih Menjadi Pilihan

Menulis adalah salah satu cara merekam informasi  untuk suatu saat diingat (dibaca) kembali. Meski kini perkembangan teknologi informasi menawarkan alat dan media yang canggih...
Muit ElAbbas
Penulis bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, bisa jadi enggak penting bagi pembaca.

Betul apa kata pepatah,”waktu itu bagaikan pedang”, jika kita tidak bisa memanfaatkannya kita akan terbunuh oleh waktu yang setiap saat silih berganti. Maafkanlah diri ku.

Hari-hari yang kita lalui saat ini memang begitu cepat, tidak terasa waktu terus berganti dimulai Senin, diakhiri Minggu, dimulai lagi Senin. Rasa-rasanya cepat sekali, bagaikan kedipan mata tak terasa terus berkedip.

Kalau setia hari saya berpikir “waktu” bisa jadi saya akan galau sekali, karena target “07-15-2017” itu sudah berlalu tidak sesuai dengan harapan hati yang selalu menanti. Jawabannya, entah karena belum dipancegkeun atau mungkin Tuhan sedang membimbing mempersiapkan yang terbaik, untuk agama ku, orang tua ku, diri ku dan lingkungan ku.

Resah dan gelisah, bimbang tanpa arah memang tengah menyelimuti hati dan pikiran ini. Sekarang sudah memasuki September 2017, untuk menuju Tahun baru 2018 tinggal menghitung bulan sedangkan target yang telah ditentukan sudah tidak bisa terulang.

Padahal tahap tidak lama lagi segera dimulai, namun hingga kini belum ada kepastian. Tapi saya terus bersabar menjalani segala ikhtiar yang tengah dilakukan.

Tahapan yang dilakukan pun, bukan hanya menunggu tapi dengan ikhtiar kecil-kecil yang belum maksimal. Sisanya banyakin doa dan tawaqal. Insyallah ada mandat pasti yang datang menghampiri, walau kadang lelah tapi harus semangat.

Kegalauan saya ini, mungkin dirasakan pula oleh Megawati (Ketum DPP PDIP), Setya Novanto (Ketum Golkar), Prabowo (Ketum Gerindra) serta yang lainnya.

Semenjak Pilgub DKI Jakarta, arah koalisi partai terlihat masih galau dan terlihat hati-hati untuk menentukan koalisi dan memilih calon Gubernur Jawa Barat, terutama koalisi partai penguasa yang kalah telak dengan rivalnya.

Ke hati-hatian ini bisa dibilang cukup wajar. Jika salah langkah menentukan arah koalisi partai dan calon, galaulah sekali. Karena Jawa Barat ini memang target operasi dan lumbung suara terbesar, jumlah pemilihnya kira-kira mencapai 30 juta orang. Katanya sih, jika dibandingkan jumlah penduduk Australi atau Singapur, jumlahnya masih lebih banyak penduduk Jawa Barat. Maka wajar saja, para calon yang sudah muncul diminta untuk bersabar dulu. Kami oge lieur keneh he he.

Mengutif ungkapan pengamat, lupa lagi namanya”kalau Pilgub DKI, Pilgub rasa Pilpres. Di Jawa Barat, Pilpres rasa Pilgub, he he”

Jika menghitung tahapan Komisi Pemilihan Umum (KPU) memang waktunya sudah mepet banget. Ya mau bagaimana lagi, pasrah saja, sampeyan semuannya.

Mengutif dari berbagai sumber, Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah (Pilkada) tahun 2018 akan digelar serentak di 171 daerah di Indonesia. Pilkada ini diikuti 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota.

Ketentuan tentang tahapan itu tertuang dalam Peraturan KPU Nomor 1 Tahun 2017 tentang Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pilkada tahun 2018. Dalam peraturan itu, pemungutan suara digelar serentak pada 27 Juni 2018.

Sementara tahap awal akan dimulai pada Oktober bulan depan, seperti apa yang disampaikan Ketua KPU Arief Budiman, Kalau tidak ada perubahan yang signifikan maka kita akan mulai bulan Oktober.

Ya sudahlah, dari pada galau-galau teuing mikirin bentar lagi 2018, karena sementara ini masih sendiri alias jomblo. Lebih baik berdoa dan ikhtiar, biar hasilnya Tuhan yang menentukan. Cag!

Muit ElAbbas
Penulis bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, bisa jadi enggak penting bagi pembaca.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.