Sabtu, Januari 16, 2021

Infomalisasi Tenaga Kerja di Era Digital

Ceritakan Walau Satu Dongeng: Refleksi Hari Dongeng Sedunia

Jauh sebelum tulisan ditemukan, manusia hidup terlebih dahulu dalam budaya oral. Dari menghibur hingga menularkan beragam ilmu dan informasi, kala itu semua disalurkan lewat...

Krisis Kesadaran Politik dan Kemanusiaan

Dinamika Pilpres di Indonesia selalunya melahirkan cerita yang mendrama dalam setiap episodenya. Pilpres 2019 yang notabene masih hitungan bulan, tetapi berbagai kisah heroiknya telah...

Capres Nomor Urut 10, Golput?

Hanya ada dua pilihan untuk memilih capres, jika tidak 01 maka 02. Itu yang disuguhkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia. Lantas bagaimana dengan...

Puncak ‘Mantra’ Patah Hati, Sobat Ambyar

Mantra-mantra adalah nyanyian langit. Ditangkap oleh para mistikus sebagai nyanyian jiwa. Di dalamnya bertumpuk rahasia langit. Mungkin rahasianya rahasia. Itulah mengapa mantra oleh para...
Fuat Edi Kurniawan
Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Perkembangan ekonomi digital saat ini mengalami kemajuan yang pesat. Hampir seluruh sektor bisnis dituntut untuk mengikuti tren digital yang saat ini berkembang, diantaranya melalui medium jaringan dan piranti canggih.

Perkembangan digitalisasi dalam sektor ekonomi ini juga semakin memudahkan aktivitas masyarakat, namun juga memunculkan risiko baru yang berdampak pada perubahan sektor ketenagakerjaan. Digitalisasi pada dasarnya telah melahirkan inovasi baru yang menuntut persaingan ekonomi global menjadi semakin luas dan bebas, namun juga menimbulkan digital disruption antara tenaga kerja yang mampu mengakses teknologi dan yang tidak.

Digitalisasi juga telah merubah sistem di banyak industri manufactur menjadi sistem robotic atau otomasi yang juga menimbulkan dampak pengurangan tenaga kerja manusia. Meskipun saat ini masih terdapat eksistensi pelaku usaha yang menggunakan cara konvensional, tapi dapat diproyeksikan bahwa industri konvensional akan bergeser dalam penggunaan teknologi modern di masa depan.

Hal ini juga akan dibarengi dengan banyak pelaku usaha yang memilih untuk mengurangi tenaga kerja manusia dan digantikan dengan teknologi. Tentunya pilihan rasional ini diambil untuk memangkas modal dan meningkatkan profit.

Industri yang berbasis digital tidak bisa dipisahkan dengan proses komersialisasi dan massifikasi kapitalisme modern. Pelaku usaha dan industri yang saat ini masih menggunakan cara-cara konvensional secara sistemik dipaksa bertranfsormasi menjadi industri yang mengedepankan teknologi digital.

Pelaku usaha yang mampu mengelola transformasi tersebut dengan baik, relatif bisa bertahan menghadapi perkembangan. Namun sebaliknya, jika itu tidak mampu dilakukan, perusahaan terancam gulung tikar. Dampaknya, industri konvensional tetap mampu bertahan namun berpeluang melakukan efisiensi yang mengakibatkan pada pemutusan hubungan kerja (PHK).

Disisi lain, digitalisasi juga telah membuka peluang kerja baru dibanyak sektor, terutama di sektor informal, misalnya E-commerce, transportasi berbasis online, dan UMKM berbasis jaringan. Sektor informal ini menjadi alternatif baru bagi tenaga kerja yang terdampak digital disruption.

Inilah yang menjadikan resiko tenaga kerja di Indonesia, dimana sebelumnya banyak yang bekerja pada sektor formal dan manufaktur. Setelah peralihan teknologi, mereka yang kurang mampu dalam akses teknologi tergeser dari sektor formal tersebut.

Sesuai data Badan Pusat Statistik (BPS), penciptaan lapangan kerja pada kegiatan ekonomi formal selama 2012-2014 rata-rata sebanyak 1 juta orang per tahun. Pada 2015-2017, penciptaan lapangan kerja ini turun rata-rata 0,47 juta orang per tahun. Pada kegiatan ekonomi informal selama 2011-2014, rata-rata terdapat 1 juta kenaikan tenaga kerja per tahun. Pada 2015-2017, jumlah tenaga kerja bertambah rata-rata 1,5 juta per tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan ekonomi digital juga telah melahirkan informalisasi pekerjaan. Definisi informalisasi ini mengacu pada tumbuhnya aktivitas penciptaan pendapatan di luar dimensi kelembagaan formal. Pekerja informal terlibat dalam rantai pasok produksi untuk industri mapan.

Di sisi lain, perkembangan industri informal, seperti usaha kecil menengah, menjadi cara agar terus terjadi serapan tenaga kerja. Selama ini, informalisasi pekerjaan dipandang sebagai mekanisme penyelamat untuk mengatasi kegagalan sektor formal menyerap tenaga kerja, yang mampu menjadi solusi mengatasi pengangguran.

Informalisasi pekerjaan bukan suatu hal yang baru, melainkan sudah lama dipraktekan ke dalam praktek ekonomi. Informalisasi ini muncul dengan bentuk kemitraan antara pelaku usaha / industri dengan tenaga kerja. Bentuk kemitraan di era ekonomi digital tidak berbeda dengan informalisasi pekerjaan yang telah berkembang sebelumnya. Para mitra dari penyedia atau perusahaan teknologi digital menerapkan target tugas yang harus diselesaikan dan itu semua biasanya tidak tertuang dalam perjanjian tertulis.

Namun, fenomena ini nyaris tanpa regulasi yang mengatur. Terlebih pada hubungan industrial yang terbentuk. Padahal, kejelasan hubungan industrial merupakan hal yang krusial terkait dengan hak dan tanggungjawab antar kedua subyek; pelaku usaha dan tenaga kerja. Alphanya regulasi ini menjadikan posisi tenaga kerja menjadi rentan dan rawan dieksploitasi.

Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bersama, dimana kemajuan teknologi digital dalam hal kegiatan perekonomian belum dibarengi dengan regulasi yang mengatur dampak-dampak ketidakadilan yang timbul. Sehingga perlu perhatian dari stakeholder terkait dalam penyelesaian permasalahan tenaga kerja di sektor informal. Perlu jejaring pengaman dalam hubungan kerja, sehingga pekerja di sektor informal juga mendapat perlindungan layaknya para pekerja di sektor formal.

Fuat Edi Kurniawan
Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Soe Hok Gie, Perihal PKI dan Humanity

Soe Hok Gie sendiri adalah salah satu tokoh kunci dalam gerakan anak muda yang kemudian berujung dengan kejatuhan Orde Lama. Ia memainkan peran yang...

Ihwal Teori Keadilan John Rawls

Keadilan merupakan salah satu diskursus dalam filsafat yang paling banyak dibahas, bahkan menjadi topik utama dalam dunia global saat ini. Para filsuf sejak zaman...

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.