Sabtu, Maret 6, 2021

Industri Manufaktur Jadi Indikator Revolusi Industri 4.0

Logistik Halal untuk Indonesia

Saya sering mendapatkan pertanyaan, kenapa perusahaan logistik harus sertifikasi halal? Apanya yang harus di halalkan?Sertifikasi halal untuk logistik bertujuan untuk menjamin produk yang halal...

Ketika Perempuan Mengumandangkan Azan

Jumhur Ulama sepakat bahwa suara perempuan bukan aurat, karena para sahabat perempuan dahulu sering kali mendengarkan suara istri-istri Nabi saw. ketika belajar hukum-hukum agama...

G20 dalam Pusaran Pandemi Global

Virus Corona telah dinyatakan sebagai Pandemi Dunia oleh World Health Organization (WHO). Semakin parah lagi, beberapa minggu lalu pernyataan-pernyataan oleh pemerintah yang menyatakan bahwa...

Mengapa Kampanye #2019GantiPresiden Dilarang?

Kritik Hasanudin Abdurakhman atas gerakan (atau kampanye?) #2019GantiPresiden pada tulisan yang diunggah di GeoTimes (27/8) membuat saya berusaha memahami ulang tentang apa itu kampanye...
rizka nur safitiri
Rizka Nur Safitri pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Indonesia  siap menyongsong era revolusi industri 4.0 yang ditargetkan akan berpenggaruh pada industri manufaktur. Jika dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional industri manufaktur konsisten menjadi kontributor terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yang tercatat di angka 19,83% pada triwulan II-2018.

Pada era revolusi industri 4.0 yang tentunya membutuhkan komitmen untuk saling bekerjasama melalui pelaksanaan program regional yang strategis dengan membawa kesejahteraan ekonomi. Serta untuk berbagi kebijakan, pengalaman, teknologi, pengetahuan dan praktik terbaik terkait pengembangan sektor manufaktur dan implementasi industri 4.0. Menteri Perindustrian menyatakan, ia percaya bahwa transformasi terhadap industri 4.0 akan membawa ke model bisnis baru pada industri manufaktur yang dapat berdaya saing global.

Mengapa harus  industri manufaktur yang diandalkan dalam revolusi industri 4.0 ke depan? Hal itu dikarenakan, sektor industri manufaktur merupakan sektor yang stabil dan menjadi salah satu penopang perekonomian  negara ditengah ketidak pastian perekonomian dunia dengan tingkat  pertumbuhan yang positif.

Selama industri manufaktur tumbuh, Kontribusi yang dihasilakan pun cukup menjanjikan seperti, industri manufaktur menyediakan lapangan pekerjaan, penambahan pajak dan cukai, serta penerimaan devisa dari ekspor. Biasanya industri manufaktur memproduksi dalam jumlah skala yang besar sehingga  tenaga kerja yang dibutuhkann pun relatif banyak. Artinya berbagai perusahaan skala besar yang bergerak dibidang industri manufaktur  mampu menyerap banyak tenaga kerja  sehingga angka pengganguran pun bisa berkurang. Hal ini bisa terjadi apabila perkembangan perusahaan yang ada di sektor industri manufaktur tersebut dikelola secara optimal.

Mengenai penyerapan tenaga kerja, Kemenperin memprediksi total tenaga kerja yang terserap di sektor manufaktur pada 2017 sebanyak 17,01 juta orang, naik dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 15,54 juta orang. Capaian ini mendorong pengurangan tingkat pengangguran dan kemiskinan di Indonesia yang cukup signifikan. Sedangkan dalam penerapan Revolusi Industri 4.0 di Indonesia bakal mampu menciptakan 10 juta lapangan pekerjaan waktu hingga 2030 mendatang.

Industri manufaktur menciptakan nilai tambah artinya produksi atau produk yang dihasilkan oleh berbagai perusahaan dibidang manufaktur seperti, makanan, minuman, otomotif tekstil, farmasi, elektronik dan lain sebagainnya. Apabila dalam proses pengolahannya  dilakukan secara baik dan optimal, maka semua bahan dasar yang diolah dalam industri manufaktur dapat menciptakan nilai tambah produk yang dihasilkan.

Semakain banyak variasi dan inovasi produk yang dihasilkan, maka semakin besar pula potensinya untuk berkembang. Apalagi mengingat bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, sehingga dapat dijadikan pendorong untuk meningkatakan pertumbuhan sektor industri di Indonesia terutama pada sektor industri manufaktur.

Di balik meningkatnya  pertumbuhan ekonomi di Indonesia melalui industri manufaktur, maka perlu adanya dorong dari segi  investasi juga untuk penanaman modal. Dengan adanya investasi akan menciptakan iklim yang menarik dan juga kondusif di Indonesia. Sehingga para investor dalam negeri maupun luar negeri tertarik untuk menanamkan saham-nya di Indonesia.

Dampak yang diperoleh dari kegiatan invetasi tersebut yaitu perusahaan industri manufaktur semakin tertunjang. Hal ini juga membuat pembangunan ekonomi di Indonesia secara tidak langsung dapat berkembang secara cepat dan pesat. Selain itu  kesenjangan sosial dapat diperbaiki berkat kesejahteraan yang lebih meingkat.

Rencananya, sektor industri yang memanfaatkan pendidikan vokasi bisa mendapatkan fasilitas pengurangan penghasilan kena pajak hingga 200 persen. Sementara perusahaan yang aktif dalam kegiatan R&D bisa mendapat  pengurangan penghasilan kena pajak hingga 300 persen. Selain itu, pengenaan kenaikan pajak penghasilan (PPh) impor kepada 1.147 pos tarif diharapkan  bisa mendorong produksi dalam negeri, peningkatan penggunaan produk lokal, dan perbaikan neraca perdagangan.

Regulasi ini tertuang dalam Peraturan Mentri Keuangan (PMK) No 110 tahun 2018 tentang pembayaran atas penyerahan barang dan kegiatan dibidang impor atau kegiatan usah dibidang lain. Apalagi  kebijakan pemerintah dalam pemberian fasilitas pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan (PPh) dalam waktu dan besaran tertentu (tax holiday) dan fasilitas pengurangan penghasilan kena pajak.

Indonesia telah berkomitmen mengenai implementasi industri 4.0 terhadap industri manufaktur yang dapat berdaya saing global. Dengan ditandai adanya peluncuran Roadmap Making Indoneisa 4.0 oleh Presiden Joko Widodo pada awal April 2018 lalu. sebagai sebuah peta jalan dan strategi Indonesia memasuki era digital yang tengah berjalan.

Menurut Presiden, penanaman Making Indonesia 4.0 sangat tepat karena memiliki arti yang bagus, yaitu membangun kembali perindustrian Indonesia ke era baru pada revolusi industri keempat dan merevitalisasi industri nasional secara menyeluruh. Harapanya dengan implementasi Industri 4.0, Indonesia dapat mecapai Top Ten (10 besar) ekonomi global pada tahun 2030.

Salah satu langkah yang strategis dalam menerapkan peta jalan (roadmap making) Indonesia 4.0, yakni pembangunan infrastruktur digital, ekosistem inovasi serta yang lebih penting yaitu human investment. Pemerintah perlu lebih banyak mentransformasi desain kurikulum untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM) sesuai kebutuhan dunia industri saat ini. Sehingga manusia dapat bersaing secara kompetitif.

Dalam menyikapi revolusi industri 4.0 industri manufaktur haruslah ada kerjasama antara pihak pemerintah serta pihak pengelola industri. Pemerintah juga harus membuat terobosan dari segi kebijakan, agar  manufaktur nasional dapat meningkat produktivitas dan inovasi ditengah penerapan revolusi industri 4.0 ke depan.

rizka nur safitiri
Rizka Nur Safitri pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.