Sabtu, Maret 6, 2021

Indonesia yang Tak Mudah

Mengutuk Israel, AS, dan Yahya

Umat Islam terlalu sering mengutuk Israel dan Amerika Serikat (AS) bahkan telah over dosis. Dalam kasus Palestina, mengutuk Israel sia-sia saja. Israel tidak memiliki...

Perempuan dalam Belenggu Bahasa

Seperti yang telah kita semua ketahui, bahasa ialah instrumen penting dalam berkomunikasi. Bahasa juga merupakan bagian atau unsur dari sebuah kebudayaan. Bisa dibilang, bahasa...

Transportasi Online Sebagai Pelayan Publik

Berkembangnya transportasi online di Indonesia tidak bisa di pungkiri mengalami pertumbuhan yang pesat. Keberadaan provider transpontasi online tidak hanya di kota besar semata, akan...

Saatnya Reformasi BPJS Kesehatan

Dunia kesehatan Indonesia akhir-akhir ini dikejutkan dengan tiga aturan baru Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS Kesehatan), yang termaktub dalam Peraturan Direktur (Perdir) Jaminan...
@kalongmilitan
penulis. tinggal di semarang.

“Men-jadi Indonesia” terdapat dua hal, yakni tentang “luar” dan “dalam”. Sedangkan “tak mudah” adalah syarat yang selalu mengikuti kedua hal tersebut.

“Luar” di sini maksudnya adalah sebuah usaha apapun untuk menjadikan Indonesia menjadi satu warna saja. Siapapun maupun kelompok manapun yang memiliki kepentingan dipaksa harus menyusun ratusan rencana untuk membantu suksesi kepentingannya.

Sebuah kepentingan ideologi dan politik misalnya, akan menemui banyak tantangan dan pantangan yang bahkan akan terpatahkan.

Indonesia, yang hingga kini tak henti digempur liberalisme, fundamentalisme, dan semacamnya, untuk menjadikan negeri ini menjadi seperti wajahnya dan rumusan-rumusan jitunya, harus terus-terusan memegang kepala menanti keberhasilan yang bak “jauh arang dari api”.

Terkadang “luar” ini besorak kesenangan, akan tetapi selalu ada batasannya. Dalam artian, seperti ketika terjadi kerusuhan dan bentuk ketidakstabilan bangsa ini dari esensi berbangsanya (daulat berprikemanusiaan). Namun pada praktiknya, bangsa ini masih belum juga dapat diambil alih layaknya bangsa Irak dan Suriah yang hingga kini masih dihujam senjata.

Sedangkan “dalam” maksudnya yakni sebuah langkah-langkah yang selalu menghambat jalannya mimpi bangsa itu sendiri. Seperti korupsi, plutokrasi, dan semacamnya.

Mereka-mereka ini adalah seonggok daging yang selalu membuat “tidak mudahnya” internasionalisme. Meski di era semua orang di tubuh bangsa ini telah cukup sadar dan mampu “melihat” cahaya sebab modernisme, yang jika penglihatan atas cahaya itu ditempuh sebagai sebuah bangsa akan dengan mudah menjadikan Indonesia merebut mimpinya.

Namun, masih saja ironi seonggok daging tersebut masih bangga dengan dirinya sendiri. Meski demikian, “tidaklah mudah” pula bagi mereka untuk merobek-robek dan memperkosa bangsa ini.

Membaca Sejarah

Kita bisa membaca tentang hal di atas melalui sejarah, yakni saat lebih dari 3 abad lamanya, eropa mencoba menguasai tanah dan bangsa ini. Abad demi abad, selalu ada counter akan segala yang pada prinsip dan esensinya tidak selaras dan diamini kelayakannya di sini.

Meski eropa telah merasa bisa “melihat” lebih dulu dengan membuktikan diri bisa bertahan lebih dari 3 abad lamanya, namun sejarah mengungkapkan, untuk menjadikan Indonesia seperti kepentingannya tersebut bahwa “melihat” bukanlah diartikan “meraba”, “mendengar”, dan “memiliki” secara sepenuhnya.

Dus, eropa harus patah arang dan kembali ke negerinya. Di sini, “men-jadi Indonesia” dan “menjadikan Indonesia” tidaklah “mudah”.

Selanjutnya, yang terkait dengan “dalam” sebagaimana dijelaskan di atas. Kita bisa membaca dari masa Majapahit, sebuah bentuk teror dan pemberontakan dari dalam tubuh bangsa sendiri selalu ada.

Pemberontakan Ra Kuti (1319) yang hingga membuat sang raja Jayanegara memngungsi bersama keluarganya, namun apalah daya, Majapahit di saat yang tepat telah direbut lagi hingga bertahan dua abad lagi lamanya.

Yang tak Mudah

Dalam buku Friends and Exiles yang diterbitkan Cornell University, mengatakan bahwa “menjadi Indonesia“, sejak dari darah dan dagingnya, sampai dengan ketika ia terlibat, sengaja atau tidak, dalam peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang dan membentuk tanah airnya.

Indonesia, baik “menjadi” dan “menjadikan”, adalah misteri yang belum pernah dapat terbukti. Di sini, karena Indonesia adalah tentang warna-warna dan jiwa. Siapapun yang hanya memiliki satu warna dan raga serta hasratnya saja adalah sebuah usaha yang akan ditemui batasnya; tak mudah.

“Tak mudah” bukanlah ungkapan paten, namun sebuah penegasan dan “liyan”. [k]

@kalongmilitan
penulis. tinggal di semarang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.