OUR NETWORK

Indonesia yang Tak Mudah

Terkadang “luar” ini besorak kesenangan, akan tetapi selalu ada batasannya.

“Men-jadi Indonesia” terdapat dua hal, yakni tentang “luar” dan “dalam”. Sedangkan “tak mudah” adalah syarat yang selalu mengikuti kedua hal tersebut.

“Luar” di sini maksudnya adalah sebuah usaha apapun untuk menjadikan Indonesia menjadi satu warna saja. Siapapun maupun kelompok manapun yang memiliki kepentingan dipaksa harus menyusun ratusan rencana untuk membantu suksesi kepentingannya.

Sebuah kepentingan ideologi dan politik misalnya, akan menemui banyak tantangan dan pantangan yang bahkan akan terpatahkan.

Indonesia, yang hingga kini tak henti digempur liberalisme, fundamentalisme, dan semacamnya, untuk menjadikan negeri ini menjadi seperti wajahnya dan rumusan-rumusan jitunya, harus terus-terusan memegang kepala menanti keberhasilan yang bak “jauh arang dari api”.

Terkadang “luar” ini besorak kesenangan, akan tetapi selalu ada batasannya. Dalam artian, seperti ketika terjadi kerusuhan dan bentuk ketidakstabilan bangsa ini dari esensi berbangsanya (daulat berprikemanusiaan). Namun pada praktiknya, bangsa ini masih belum juga dapat diambil alih layaknya bangsa Irak dan Suriah yang hingga kini masih dihujam senjata.

Sedangkan “dalam” maksudnya yakni sebuah langkah-langkah yang selalu menghambat jalannya mimpi bangsa itu sendiri. Seperti korupsi, plutokrasi, dan semacamnya.

Mereka-mereka ini adalah seonggok daging yang selalu membuat “tidak mudahnya” internasionalisme. Meski di era semua orang di tubuh bangsa ini telah cukup sadar dan mampu “melihat” cahaya sebab modernisme, yang jika penglihatan atas cahaya itu ditempuh sebagai sebuah bangsa akan dengan mudah menjadikan Indonesia merebut mimpinya.

Namun, masih saja ironi seonggok daging tersebut masih bangga dengan dirinya sendiri. Meski demikian, “tidaklah mudah” pula bagi mereka untuk merobek-robek dan memperkosa bangsa ini.

Membaca Sejarah

Kita bisa membaca tentang hal di atas melalui sejarah, yakni saat lebih dari 3 abad lamanya, eropa mencoba menguasai tanah dan bangsa ini. Abad demi abad, selalu ada counter akan segala yang pada prinsip dan esensinya tidak selaras dan diamini kelayakannya di sini.

Meski eropa telah merasa bisa “melihat” lebih dulu dengan membuktikan diri bisa bertahan lebih dari 3 abad lamanya, namun sejarah mengungkapkan, untuk menjadikan Indonesia seperti kepentingannya tersebut bahwa “melihat” bukanlah diartikan “meraba”, “mendengar”, dan “memiliki” secara sepenuhnya.

Dus, eropa harus patah arang dan kembali ke negerinya. Di sini, “men-jadi Indonesia” dan “menjadikan Indonesia” tidaklah “mudah”.

Selanjutnya, yang terkait dengan “dalam” sebagaimana dijelaskan di atas. Kita bisa membaca dari masa Majapahit, sebuah bentuk teror dan pemberontakan dari dalam tubuh bangsa sendiri selalu ada.

Pemberontakan Ra Kuti (1319) yang hingga membuat sang raja Jayanegara memngungsi bersama keluarganya, namun apalah daya, Majapahit di saat yang tepat telah direbut lagi hingga bertahan dua abad lagi lamanya.

Yang tak Mudah

Dalam buku Friends and Exiles yang diterbitkan Cornell University, mengatakan bahwa “menjadi Indonesia“, sejak dari darah dan dagingnya, sampai dengan ketika ia terlibat, sengaja atau tidak, dalam peristiwa-peristiwa besar yang mengguncang dan membentuk tanah airnya.

Indonesia, baik “menjadi” dan “menjadikan”, adalah misteri yang belum pernah dapat terbukti. Di sini, karena Indonesia adalah tentang warna-warna dan jiwa. Siapapun yang hanya memiliki satu warna dan raga serta hasratnya saja adalah sebuah usaha yang akan ditemui batasnya; tak mudah.

“Tak mudah” bukanlah ungkapan paten, namun sebuah penegasan dan “liyan”. [k]

penulis. tinggal di semarang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…