OUR NETWORK

Indonesia Tanpa Pacaran Bergaun Kapital

Salah satu komunitas yang selaras menggunakan gerakan sosial media sebagai awal mula membentuk sebuah komunitas, salah satunya Indonesia Tanpa Pacaran (ITP)

Era milenial dimana manusia mudah di doktrin tanpa harus terjun kelapangan membuat sebuah gerakan seperti layak aktivis 98  yang rela berkorban waktu dan tenaga mereka mensosialisasikan kemasyarakat dan para mahasiswa.

Dengan melaju pesatnya teknologi informasi memudahkan manusia membuat sebuah kelompok atau organisasi, bahkan sebuah partai politik, seperti halnya Partai Solidaritas Indonesia (PSI), awalnya dari akun sosial media kemudian memiliki banyak pengikut untuk berpartisipasi dan menjadi Anggota PSI.

Salah satu komunitas yang selaras menggunakan gerakan sosial media sebagai awal mula membentuk sebuah komunitas, salah satunya Indonesia Tanpa Pacaran (ITP). Komunitas ini di gagas La Ode Munafar pada tanggal 7 September 2015 yang awalnya dari curhatan kaum remaja, karna La Ode Munafar juga penulis, buku yang dia tulis itu adalah sesuai dengan nama komunitasnya “Indonesia Tanpa Pacaran”. Dari curhatan di akun sosial medianya, hingga berinisiatif menggagas sebuah komunitas yang sesuai dengan judul buku yang dibuat.

Lambat laun komunitas ini berkembang dimasyarakat dengan melaksanakan seminar ditiap daerah. Target utama komunitas ITP lebih kepada kaum muda-mudi yang masih lajang, dan banyak pula yang mengikuti seminarnya berstatus pelajar yang masih duduk dibangku SMP/SMA.

Seminar dibawakan dibalut dengan nuansa syar’iat Agama Islam, dan dikuatkan dalil dan ayat Al –Qur’an meskipun dalam menyampaikan kurang rujukan para alim ulama dan terkesan tekstualis.

Isi seminarnya lebih kepada haramnya berpacaran dan mempresentasekan hal – hal negatif berpacaran. Para peserta seminar ITP diajak berbondong-bondong berjanji memutuskan pacaranya, bahkan salah satu peserta seminar rela memutuskan pacarnya dengan menelpon pacarnya demi membuktikan dihadapan peserta seminar dan la Ode Munafar. Usai menyampaikan keberanian memutuskan pacarnya dihadapan peserta seminar disambut suara takbir dan tapuk tangan.

Tak hanya peserta dibekali ilmu haramnya berpacaran, para peserta seminar ITP diberikan siraman rohani melaksanakan nikah muda, demi menghindari perzinahan dan dampak negatif hubungan pacaran. Disamping akan hal menhindari dampak negatif pacaran, menikah muda pula dapat mendatangkan rezeky lebih cepat dari Tuhan serta di janjikan pahala besar yang ujung–ujungnya lagi adalah surga.

Melihat gerakan masif Indonesia Tanpa Pacaran ditiap daerah, Tunggal Pawestri Aktivis perempuan yang pernah berkampanye anti–pernikahan anak, angkat bicara dan merasa geram atas gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, yang tujuannya mengajak nikah muda lewat kampanye yang masif di sosial media, terutama di Instagram.

Ketika ada kelompok progresif yang memperjuangkan usia pernikahan di atas 18 tahun, pada saat yang sama, ada ribuan remaja berusia belasan atau menginjak 20-an tahun melakukan pawai gerakan Indonesia Tanpa Pacaran di Bekasi, April tahun ini.

Kepintaran La Ode Munafar bukan hanya dari segi pendoktringan bahaya berpacaran dan anjuran nikah muda tapi pandai juga menaruh ceruk dalam pasar. Dari kegiatan seminarnya ITP setiap peserta seminar membayar sekitar 185 ribu dan untuk menjadi menjadi anggota komunitas ITP harus membayar 180 ribu demi mendapatkan kartu keanggaotaan plus satu buah buku yang dia karang oleh La Ode Munafar yang bertajuk Indonesia Tanpa Pacaran.

Bila merujuk klaim anggota ITP sebanyak 20 ribu orang, bisa mengalikan jumlah kepala itu dengan biaya pendaftaran antara Rp100 ribu dan Rp180 ribu. Hasil pendapatannya: antara Rp2 miliar sampai Rp3,6 miliar.

Bukan hanya dari segi pendapatan setiap anggota yang ikut dalam komunitas ITP, perkembangan pesat akun sosial media kerap kali dijadikan pula lahan bisnisnya dengan mempromosikan aksesoris ITP seperti, topi, maker yang kerap kali digunakan muslimah sebagai pengganti cadar, jilbab berukuran besar, gantungan kunci, baju, buku ITP, kesemuanya bukanlah barang gratis, sampai mempromosikan gaun pengantin bersyariah.

Akun sosial media ITP sudah mencapai 761 ribu follower di akun instagramnya dan fan fage facebooknya 459 ribu yang menyukai. Hampir setiap harinya akun sosial medianya bertambah antara 1000 sampai 5000 mengikuti. Dengan perkembangan akun sosial media ITP kita mampu menafsirkan bahwa para pengguna sosial media di Indonesia setiap harinya banyak terjebak pada ilusi kafitalis berbalut Agama.

Masifnya perkembangan akun sosial media ITP kedepannya kita tak akan terlepas dari pemikiran Islam konservatif. Sebab generasi muda milenial yang mengisi akun pengikut ITP dan seminar di tiap daerah. Hal yang merisaukan pula bukan hanya pemikiran Islam konservatif akan tetapi  remaja yang masih duduk di bangku SMP/SMA sudah berpemikiran nikah muda. Kita tau bahwa resiko nikah mudah dapat meningkatnya angka percaraian dan kasus KDRT, akibat perilaku usia yang masih remaja dan terkadang labil.

Apa yang dikatakan oleh ibnu Rusyd “jika ingi mengusai orang bodoh, bungkuslah segala segala sesuatu yang bathil itu dengan Agama”. Banyaknya komunitas muslim di Indonesia kadang meraup keuntungan rupiah dari bentukan komunitasnya. Hal ini kurang disadari oleh kalangan awam yang masih kurang memahami Agama Islam.

Apalagi orang–orang yang masa hidupnya penuh dengan perbuatan kelam dan ingin bertobat. Pastinya hal yang pertama dia cari untuk bertobat pasti mencari guru dengan melihat bukusan Agamanya saja dan ikut bergabung pada komunitas Islam berbalut kafitalis karna isinya penuh dalil–dalil pertobatan. Namun lagi – lagi hanya mengiring pada pemikiran Islam konservatisme.

Memang dari dulu kafitalisme dan Agama saling erat hubungannya. Saling menghidupi satu sama lainnya dan orang–orang mengambil dari keuntungan nilai – nilai Agama untuk dijadikan lahan bisnis menggiurkan. Jualan yang paling laris manis dalam Agama yaitu iming – iming pahala besar dan surga.

Maka tak jarang ummat beragama tergiur mengikuti kajiannya meski harus berbayar tanpa memperhitungkan, mau makan apa besok? Perut kosong tak jadi masalah yang penting janji surga menanti, meski itu semua hanyalah angan–angan.

Berharap kaum gernerasi milineal mampu memahami Agama Islam secara subtansial dengan perkembangan teknologi yang makin maju, namun nyatanya lebih banyak penggiringan akun-akun sosial media mengarah pada konsep pemikiran tekstualis yang bersifat konservatif. Bagi kaum moderasi hanya bisa menyisahkan pertanyaan, apakah kedepannya generasi penerus bangsa mampu memahami Agama secara kaffah?

Nama : Ikhlasul amal Musli alamat : Jl. Andi Mappijjalan, No.28 Kelurahan Loka, Kecamatan Ujung bulu, Kab. Bulukumba, provinsi sulawesi selatan hoby : lebih suka menulis, membaca buku, berita, dan opini public

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…