in

Indonesia, Multikultural dan Konflik


Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang unik karena memiliki ribuan adat-istiadat. Memiliki apa yang disebut sebagai SARA (Suku, Agama dan Ras) yang menyebar dari Sabang sampai dengan Merauke, tiap daerah bahasanya bisa berbeda. Sebuah persamaan dicetuskan saat Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, dimana Bangsa, Bahasa dan Tumpah Darah semua satu yakni, Indonesia. Hal ini membuat kita yang tidak dapat menggunakan bahasa daerah tetap dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.

Indonesia merupakan sebuah satu kesatuan besar yang terdiri dari beberapa kelompok kecil. Dari Aceh sampai Papua terbentuk dari sekumpulan kelompok, dimana kelompok terdiri dari beberapa individu yang saling berinteraksi. Layaknya sebuah ekosistem, tahapan menuju individu, populasi, komunitas juga terbentuk karena proses panjang. Kita mengenal kata Indonesia yang dipopulerkan oleh Perhimpunan Indonesia yang salah satu tokohnya menjadi wakil presiden pertama, Moh. Hatta.

Jauh sebelum ada Indonesia, kerajaan-kerajaan menamakannya Nusantara, atau sesuai dengan nama daerahnya. Sriwijaya dan Majapahit merupakan sebuah kerajaan besar, dimasa raja Balaputradewa (Sriwijaya) dia menguasai pulau besar Sumatera dan mencakup separuh pulau Jawa dan Kalimantan. Lebih hebat lagi di masa Hayam Wuruk dan sang Patih Gajah Mada yang menyatukan hampir seluruh wilayah Nusantara (kecuali kerajaan Padjajaran). Dilihat dari sini pun kejayaan yang besar itu runtuh bukan karena hasutan dan hoax, mereka hancur karena tidak adanya raja yang cakap untuk kembali mengelola warisan raja sebelumnya.

Baca Juga :   Pak Polisi, piye Novel Baswedan?

Sebagai sebuah negara dengan multikulturalnya dan kelompok-kelompok, memang tidak mudah mengaturnya. UU yang dibuat seakan hanya menjadi UU tanpa bentuk aplikasinya, aturan hanya dibuat untuk dilanggar. Buktinya, konflik-konflik merajalela dan tak jarang menghilangkan nyawa seseorang. Konflik sosial ditahun-tahun masa awal reformasi (1998-2000-an), ketegangan karena peralihan presiden Soeharto ke presiden B.J Habibie membuat daerah bergejolak. Jika dilihat konflik tersebut cukup kompleks, karena budaya, sosial dan ekonomi.

Selalu saja karena ekonomi yang membuat adanya kesenjangan kelompok si kaya dan si miskin. Si miskin bisa tersinggung karena hal sepele, saling mengumpat antar individu berakhir dengan pertengkaran antar kelompok. Muncul konflik. Tentu saja kita tidak menginginkan itu, walaupun konflik membuat resah dan dapat berujung perpecahan namun disisi lain ada positifnya. Konflik dapat membuat kelompok saling bersatu-padu, saling bahu-membahu, saling menguatkan bahwa yang masalah yang mereka alami sama.

Konflik yang tengah terjadi sekarang ialah konflik digital (Saracen), pertarungan kebencian melalui media sosial. Mereka dapat menghujat satu sama lain tanpa mempermasalahkan jarak, jika dia di Aceh maka dia dapat menghujat seseorang yang ada di Merauke. Masif. Dampaknya, karena masyarakat Indonesia sudah terkoneksi dengan internet maka hal ini dapat dilakukan dengan mudah, apalagi mohon maaf ditambah dengan mereka yang tingkat literasinya rendah. Mudah tersulut konflik.

Ada konflik hebat yang sudah membuat negara ini kehilangan provinsinya yang ke-27, yakni Timor Tmur. Timor Timur merupakan bagian dari negara Portugis yang ingin memerdekakan diri, hanya saja rakyatnya kurang setuju. Individu-individu membentuk sebuah kelompok yang berbentuk partai, ada tiga partai besar yang salah satunya mendukung untuk bergabung dengan Indonesia.

Baca Juga :   Tradisi Epicurean dan Puasa Kita

Akhirnya, melalui jajak pendapat (karena takut dimasuki komunis, didukung oleh AS dan Australia) Timor Timur bergabung di tahun 70-an. Pada tahun 1998 mendadak berpisah setelah pergantian Soeharto ke B.J Habibie. Hal itu disebabkan karena konflik parah di daerah tersebut membuat Habibie enggan untuk menentramkannya. Sudah banyak energi dan nyawa memadamkan konflik tersebut, hingga presiden ketiga tersebut mengembalikan keinginan rakyat Timor Timur. Pada tahun 1999, mereka (melalui referendum) mereka berpisah.

Konflik juga tengah terjadi pada masa Alm. Presiden ke-4 KH. Abdurrahman Wahid, 80 kali (4 kali sebulan) ke Luar Negeri merupakan aktivitasnya. Dalam pengakuannya di sebuah Talk Show, beliau menyatakan bahwa itu merupakan harga yang harus dibayar demi kedamaian (meredam konflik) negeri ini. Lantas mengapa kita tak pernah belajar bahwa kebencian yang berujung konflik itu dapat mengakibatkan perpecahan, jika terjadi perpecahan, maka siapa yang berbahagia dengan itu?

Ujaran kebencian terjadi karena seseorang belum paham dan mengerti secara realitasnya. Secara fakta boleh membenci tapi secara sesungguhnya tak patut kita membenci jika apa yang dilakukannya itu bernilai positif. Gus Dur mengajari kita dengan membela Inul Daratista ketika dia dihujat. Mari, kita intropeksi dengan tidak menilai tindakan seseorang secara tergesa-gesa.


Written by submarinejr

Masih belajar menjadi komentator Sosial-Sejarah juga Agama

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR