Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Indonesia Mendamba Negarawan

Catatan dari Harvard, Harapan Siswa Labschool Jakarta

Sebanyak 10 (sepuluh) orang siswa SMA Labschool Jakarta, berkesempatan mengunjungi kampus tertua dan ternama di Amerika Serikat, yakni Universitas Harvard di Boston, negara bagian...

Beda Tipis Palak dan Pajak: Antara Norma dan Keterpaksaan

Anda pernah dipalak preman? Syukur jika belum pernah. Amit-amit jabang bayi. Biarpun begitu, pemalakan bukan hal yang asing dalam masyarakat kita. Bahkan bisa dikatakan bahwa...

Sakit Hatinya Yusril dan Potensi Koalisi Oposisi Retak

Kekuasaan dan kekayaan memang bisa menjadi sumber utama perpecahan. Sering kita mendengar diantara saudara, kakakdan adik bertengkar, berselisih paham bahkan saling membunuh karena memperebutkan...

Nietzsche, Tuhan, dan Terorisme

Menarik untuk membicarakan Nietzsche, di saat mencuatnya kasus terorisme di Indonesia. Atas nama sebuah kepercayaan, tindak terorisme mencuat ke permukaan. Sebuah kepercayaan yang mengklaim...
@kalongmilitan
penulis. tinggal di semarang.

Di usia yang tak muda lagi, Indonesia masih terus dilanda dilema, di mana mencari sosok dan tokoh yang benar-benar nasionalis, patriot, negarawan, adalah hal yang begitu sulit. Seakan-akan orang-orang yang belakangan ditokohkan, selalu syarat akan unsur politik golongan penuh kepentingan.

Kenapa demikian? Sebab pada praktik jalannya politik, justru yang terjadi malah menunjukkan ketidaknegarawan dan bentuk pengkhianatan seperti halnya masih tumbuh suburnya koruptor, radikalis, penjahat politik, dan model lainnya, yang hampir semuanya merujuk ke arah egoisme diri maupun kelompok khususnya di hasrat ekonomi.

Oleh karena itu, ancaman demi ancaman atas jalannya revolusi Indonesia ke arah kemajuan menjadi tersendat dan bahkan mengarah pada hal-hal yang sangat dihindari. Perpecahan, ketimpangan sosial dan hukum, dan lain sebagainya.

Sosok dan tokoh negarawan yang didamba-dambakan akan membawa revolusi Indonesia ke arah yang berkemajuan akhirnya adalah seperti menghisap jempol. Malah kita (bangsa Indonesia) akan menahan pil pahit di hari-hari yang terus berganti.

Belajar dari Bung Karno

Tampaknya kita, khususnya para petinggi di negeri ini memang harus membaca ulang bagaimana tokoh negarawan terdahulu yang namanya, semangatnya, dan pemikirannya terus hidup di hati bangsa Indonesia. Salah satunya tentang kenegarawanan Bung Karno.

Ada sebuah kisah tentang sosok Bung Karno yang menginspirasi, mengedukasi kebangsaannya, dan jauh dari sebagaimana disebutkan di atas, yakni sebuah egoisme yang mengarah pada hasrat diri untuk kesejahteraannya sendiri maupun kelompoknya.

Di dalam buku yang berjudul “Maulwi Saelan, Penjaga Terakhir Soekarno” yang ditulis oleh Asvi Warman Adam, Bonnie Triyana, Hendri F. Isnaeni, dan M.F. Mukti, menjelasakan kisah tragis di akhir kepemimpinan Bung Karno yang sejauh kita ketahui, dipolitisasi dan dihancurkan kehidupannya oleh Soeharto.

Soekarno, di suatu pagi di Istana Merdeka meminta sarapan roti bakar seperti biasanya kepada pelayan. namun para pelayan malah menjawab, “Tidak ada roti.” Soekarno lantas menyahut, “Kalau tidak ada roti, saya minta pisang”. Dijawab lagi oleh pelayan, “Itu pun tidak ada”. Karena lapar, Soekarno meminta, “Nasi dengan kecap saja saya mau”. Lagi-lagi pelayan menjawab, “Nasinya tidak ada.” Akhirnya, Soekarno berangkat ke Bogor untuk mendapatkan sarapan di sana.

Maulwi Saelan, mantan ajudan dan kepala protokol pengamanan presiden juga menceritakan penjelasan Soekarno bahwa dia tidak ingin melawan kesewenang-wenangan yang dilakukan Soeharto terhadap dirinya tersebut. Bung Karno berkata, “Biarlah aku yang hancur asal bangsaku tetap bersatu”.

Di saat yang lain, setelah menjemput dan mengantar Soeharto berbicara empat mata dengan Presiden Soekarno di Istana, Maulwi Saelan mendengar kalimat atasannya itu, ”Saelan, biarlah nanti sejarah yang mencatat, Soekarno apa Soeharto yang benar”.

Soekarno sangat negarawan di dalam kisah tersebut. Terbukti bahkan sampai nasi kecap pun tidak didapatkan sosok proklamator kemerdekaan itu dan ia tidaklah protes dan bersikap layaknya pemilik negeri. Apalagi sampai saat ia harus dikurung di dalam penjara, ia tidak sampai mengorbankan nyawa rakyatnya oleh karena politik.

Untuk Para Tokoh Kini

Pilpres ronde kedua tahun 2019 yang begitu riuh hingga kini, dan telah memakan banyak korban dan perpecahan bangsa Indonesia, serta para sosok yang mengaku politisi dan negarawan yang malah menunjukan tindakan yang bertentangan dari yang semestinya seperti terus-terusan melakukan konspirasi, janji palsu, korupsi, mementingkan diri dan kelompoknya, dan semacamnya mau tidak mau harus menyadari bahwa Indonesia sedang kritis karena ulahnya.

Menyadari bahwa sejarah bangsa ini lahir dari darah dan nyawa orang-orang yang ikhlas berkorban agar tidak lagi ada yang disebut dengan penjajahan dalam model apapun.

Menyadari bahwa jalannya sejarah bangsa ini telah dibelokkan oleh mereka yang selalu mendengungkan secara lantang tentang kemajuan, namun justru sebaliknya yakni justru ke arah kemunduran. Sekian.

@kalongmilitan
penulis. tinggal di semarang.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.