OUR NETWORK

Indonesia Kita Tetap Baik-Baik Saja ke Depannya

Sudah barang tentu jeritan luka, tangis, serta trauma masih menggema-mendaging di sana-sini.

Hingga hari ini, sekira satu bulan berlalu setelah bencana gempa dan tsunami menimpa saudara-saudara kita yang ada di Sulawesi Tengah, dan dua bulan lamanya setelah gempa menerjang tempat tinggal saudara-saudara kita yang ada di Lombok sana.

Sudah barang tentu jeritan luka, tangis, serta trauma masih menggema-mendaging di sana-sini. Tenda-tenda pengungsian masih terpancang tegak di mana-mana. Kekurangan air bersih, makanan dan ratap sendu masih juga menjadi hal umum yang banyak ditemui di berbagai tempat yang ada di sana. Semuanya itu masih begitu melekat dalam benak, begitu dekatnya menyekap sanubari mereka.

Tapi duka mereka tak sendiri

Hingga kini, berbagai macam bantuan terus mengalir. Mulai dari bantuan pokok yang datang dari pemerintah ataupun organ terkait yang ada. Juga turut serta berdatangan relawan-relawan dari berbagai latar belakang yang datang dari seluruh penjuru negeri bahkan dunia—turut mengulurkan sumbangsih dukungannya baik dalam bentuk harta-bendawi, pemikiran-pemikiran, ataupun tenaga.

Di sekeliling kehidupan saya sendiri, di Yogyakarta ini. Anak-anak muda dari seluruh penjuru kampus yang ada, juga sedang bergerak bersama—mencari bantuan dana sekuat-sekemampuan mereka. Ada yang memulainya dari menggalang dana seadanya di perempatan lampu merah jalan.

Nampak juga ada yang berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain sembari membentangkan baliho kecil bertuliskan “sedang mencari dana dan dukungan dari masyarakat sekitar untuk saudara-saudara kita yang terkena musibah di Sulawesi Tengah dan Lombok.”.

Serta tak lupa, ada juga yang mengadakan semacam charity konser kecil-kecilan di masing-masing kampus mereka, tentu saja masih dengan tujuan yang sama, yakni menggalang dana dan dukungan dari orang-orang terdekat di sekitar kehidupan kampus tempat mereka menimba cakrawala ilmu.

Yang terakhir ini mungkin yang menarik, juga di masjid-masjid, dan gereja-gereja yang ada di sekitar sini. Saya lihat sendiri dengan mata-kepala saya sendiri, banyak dari mereka yang menyalurkan uang hasil infaq jamaahnya untuk keperluan saudara-saudaranya yang sedang terkena musibah tersebut. Tak lupa juga, para kyai, ustadz, dan pastor turut juga melantunkan do’a, puja, serta puji untuk keselamatan saudara-saudaranya yang ada di lokasi bencana sekarang ini.

Melihat seluruh elemen dari masyarakat yang ada ikut tergerak dan bergerak bahu-membahu bersama—membantu saudara-saudaranya yang sedang terkena musibah ini. Kini membuat saya menjadi semakin yakin, bahwa Indonesia kita masih akan tetap baik-baik saja ke depannya. Masih akan tetap aman-aman saja ke depannya.

Menyaksikan sendiri fenomena ini semakin meyakinkan diri saya sekali lagi, bahwa masih banyak orang-orang baik yang peduli dengan nasib saudara sebangsanya. Orang-orang waras yang membantu dengan setulus hati tanpa memandang latar belakang siapa yang akan dan mau dibantunya. Orang-orang yang masih mau mengedepankan rasionalitas persatuan dan persaudaraan sebagai satu bangsa, tidak mudah goyah apalagi terpecah-pecah hanya karena urusan beda pilihan politik yang sedang memanas kini.

Yang terpenting dari Ke-Indonesiaan kita sekarang ini

 Melihat sekaligus menyikapi hal-hal kecil tapi penting yang telah saya sebutkan di atas. Mulai dari usaha penggalangan dana kecil-kecilan yang dilakukan oleh para mahasiswa di kota tempat saya tinggal. Hingga pada penyaluran dana infaq serta lantunan do’a-do’a dari jamaah di masjid serta gereja di sekitar saya untuk saudara-saudaranya yang sedang terkena musibah di Sulawesi Tengah dan Lombok sana.

Menyisiplah sebercak tanya di dalam benak: sebenarnya apa sih yang terpenting dari ke-Indonesiaan kita hari ini? Sekarang ini? Yang sudah mulai terkoyak-koyak di sana-sini ini?

Sebelumnya, mari kita lihat kenyataan yang terjadi di akar rumput dunia nyata masyarakat kita sekarang ini. Melihatnya dengan fikiran dan pandangan kita yang jernih. Maka akan tampaklah dengan gamblang. Bahwa sesungguhnya masyarakat kita tak sekejam dan seburuk apa yang tergambar di medsos hari ini.

Kita akan melihat bagaimana anak-anak muda, pastor, dan para kyai yang ada. Ada juga lho, yang waras dan tak tergerus oleh arus mainstream keparat yang ada. Jangan dulu dilihat pada takaran banyak dan sedikitnya dana yang mampu mereka peroleh/kumpulkan. Sudah barang tentu dana yang diperoleh oleh mereka-merak itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dana yang digelontorkan oleh pemerintah.

Tapi apakah benar, itu esensi yang sebenarnya penting dari gerakan yang muncul dari dalam masyarakat ini? Apakah hanya berhenti pada takaran banyak dan sedikitnya bantuan yang mampu/bisa mereka diberikan? Hanya itu?

Bukankah, takaran banyak dan sedikit itu sendiri masih bagitu absurd dan relatifnya? Sekali lagi, dan bukankah rasa ke-Indonesiaan kita itu muncul dan dipupuk dari empati bersama, atau barangkali rasa ke-ber-milikan bersama sebagai sebuah bangsa. Rasa yang muncul dari perasaan senasib dan sepenanggungan karena pernah sengsara bersama dahulu—merasakan pahitnya penjajahan yang datang dari bangsa-bangsa lain?

Dan bukankah jika kita yang mengaku sebagai sebuah bangsa kesatuan ini, sudah seharusnya bersatu-padu bergandengan tangan. Ikut dan turut merasakan jika salah satu bagian dari tubuh kita ada yang terkoyak tertimpa musibah, bencana, ataupun masalah. Seperti halnya yang sedang menimpa saudara-saudara kita yang ada di Sulawesi Tengah dan Lombok sana beberapa bulan lalu hingga dampaknya masih dirasakan sampai sekarang ini.

 Bukankah itu esensi sebenarnya dari Ke-Bhinekaan kita hari ini? Ke-Indonesiaan kita sekarang ini? Empati yang muncul dari hati nurani itu sendiri?

Mahasiswa Sejarah UGM. Tukang tidur yang banyak bermimpi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…